Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Diary..


__ADS_3

Aku senang bisa menemani Fauzi saat sakit seperti ini, bisa menjaganya dan menyiapkan makanannya. Aku jadi teringat mimpi-mimpi Fauzi saat kami masih jadi pasangan, mungkin ini bagian dari mimpi kecilnya yang sekarang hanya sebagai mimpi saja.


Aku menyiapkan bubur untuk Fauzi agar bisa lebih mudah menelannya, karena saat demam tenggorokan akan terasa sangat pahit yang membuat nafsu makan jadi hilang.


Aku kembali ke kamar, Fauzi sedang tertidur.


"Buburnya bisa dingin kalau harus nungguin dia bangun, dia juga belum minum obat, lebih baik aku bangunin dia dulu.." Aku berinisiatif untuk membangunkannya, setidaknya dia harus minum obat dulu sebeum tidur kembali.


"Fauzi.. bangun sebentar..." Kataku sambil meletakkan bubur di meja samping tempat tidur.


Entah terlalu lelap atau suaraku yang terlalu pelan sampai Fauzi tidak terbangun.


"Ozii..bangun duluu..." Kataku berusaha membangunkannya. "Astagaa..." Suhu tubuh Fauzi semakin meningkat. "Ozii bangun.. Kita ke Rumah sakit sekarang..."


Fauzi mulai sadar.


"Aku baik-baik aja Salwa.."


"Apanya yang baik-baik, ini suhu tubuhmu semakin panas, kita harus kerumah sakit.." Kataku beranjak mengambil tasku.


"Gak usah, kamu disini aja nemenin aku.."


"Tapi..."


"Aku cuman butuh kamu nemenin aku disini..."


Aku akhirnya duduk, Fauzi bersih keras tidak ingin kerumah sakit.


"Kamu ada termometer?"


"Ada dikamar..."


"Bentar aku ambilin kompres dulu baru liat suhu tubuhmu.."

__ADS_1


"Kompresnya juga ada dikamar, aku sudah sempat pakai sebelum kamu kesini tadi.."


"Ka kalau gitu, aku izin masuk kamarmu.."


Fauzi hanya mengangguk.


Aku bergegas ke kamar Fauzi dan mengambil kompresnya, jika Fauzi tidak ingin ke Rumah sakit setidaknya aku melakukan sesutu untuk membantu menurunkan demamnya.


Aku merasa tidak enak karena harus masuk ke kamar anak laki-laki, tapi aku juga tidak mungkin meminta Fauzi yang lemah begitu untuk mengambil termometernya sendiri.


Termometer dia letakkan diatas meja samping tempat tidurnya beserta kompresnya, aku bergegas mengambilnya tapi sesuatu yang lain di kamar Fauzi mencuri perhatianku.


Ada sebuah mading di kamar Fauzi yang berisikan foto-fotoku dan foto-foto bersama Fauzi dari sejak kami SMA sampai saat terakhir sebelum aku dan Fauzi putus, beberapa bingkai juga tersusun rapi diatas meja dan lemari kaca yang berisikan foto-fotoku. Tanpa sadar airmataku menetes melihat itu semua. Sudah sangat lama aku putus dengan Fauzi tapi Fauzi masih menyimpan rapi bahkan masih memajang foto-fotoku di kamarnya. Aku berjalan mendekati foto yang diambil saat pelulusan Fauzi. Masih terlihat polos sekali wajahku dulu difoto itu, begitu juga dengan wajah Fauzi.


Brukkk... Sebuah buku terjatuh, aku tidak sengaja menyenggolnya saat ingin mengambil bingkai yang berisikan fotoku bersama Fauzi saat pelulusannya.


Aku membuka buku itu dan yang pertama kali kutemui dalam buku itu adalah fotoku yang diambil saat aku masih menjalani masa orientasi sekolah. "Kenapa foto ini ada di Fauzi?? Ah aku lupa kalau dia ketua osis, dia pasti ngambil foto ini dari album angkatanku" Tanyaku. Wajahku yang masih polos dengan name tag yang bergantung di leherku bertuliskan virus kecil. Melihat foto itu membuat kenanganku tentang masa-masa SMA jadi teringat lagi.


Karena penasaran akhirnya aku membuka lembar demi lembar buku itu.


Tulisan dilembar pertama buku itu terasa romantis sekali. Aku membuka lembar-lembar buku tapi tidak banyak tulisan didalamnya, hanya beberapa lembar saja.


Aku duduk dan membaca buku itu lembar demi lembar dengan serius.


"Apa aku laki-laki yang pantas untuk mencintaimu? Apa boleh? Apakah aku tidak akan melukaimu jika aku memintamu menjadi pujaan hati?"


Ditiap lembarnya hanya ada beberapa kata saja.


"Aku ragu, apa boleh mengatakan ini sekarang? Tapi jujur saja, membiarkanmu sendiri saat ini adalah caraku untuk memberikan peluang laki-laki lain untuk memilikimu, dan aku tidak ingin itu.."


Ditiap lembar yang bertuliskan kata-kata itu selalu disertai tanggal saat menulisnya. wakti dia menulis lembar yang sedang aku baca ini waktu sekitar 7 hari sebelum dia mengatakan perasaannya padaku.


Aku tersenyum kecil setelah membuka lembar berikutnya, di tanggal yang tertera adalah waktu dimana dia mengungkapkan perasaannya padaku, ada dua lembar tulisan di tanggal yang sama.

__ADS_1


"Aku akan mengatakannya..


Aku akan mengatakannya..


Aku akan mengatakanya..


Aku tidak bisa hanya memandangnya dari jauh saja sekarang..."


Aku membuka lembar selanjutnya masih di tanggal yang sama.


"Apa aku terlihat bodoh? Dia menatapku dengan tatapannya yang aneh. Memalukan tapi aku lega karena sudah mengatakannya.."


Apa aku menatapnya aneh waktu itu? Aku kan cuman bingung saja" Pikirku.


"Ah terserah, aku sudah mengatakannya dan rasanya lega. Hanya saja kenapa jantungku terus-terusan berdetak tidak karuan. Aku takut dia akan nolak aku, rasanya mau jadi orang egois satu kali ini saja. Aku mungkin tidak bisa menerima penolakan sekarang..."


Pffftttt aku berusaha menahan tawaku. Disini dia menuliskan kalau dia tidak siap menerima penolakan sedangkan saat dia mengungkapkan perasaannya padaku, dia mengatakan kalau dia siap menerima apapun jawabanku termasuk jika aku menolak.


Aku kembali membuka lembaran berikutnya namun sebelumnya aku mengecek ada beberapa lembar lagi yang masih terisi tulisan-tulisan tangan Fauzi.


"Terimaksih, aku tidak akan memberimu waktu-waktu yang sulit saat bersamaku dan aku tidak akan membiarkanmu menangis karenaku juga selain itu karena tangis haru dan bahagia. Hari ini aku memintamu untuk menjadi pacarku dan akan ada hari aku akan memintamu menjadi istriku"


Ah iya, melihat tanggalnya,ini adalah hari dimana aku menjawab dan menerima perasaan Fauzi hari itu. Aku terharu membaca tiap-tiap tulisan tangan Fauzi.


Aku membuka lembaran selanjutnya, hanya ada satu kalimat yang tertulis. "Aku bahagia karena rasa cintaku" Tulisan itu berulang-ulang dilembar selanjutnya meski tanggalnya berubah-ubah.


Aku mencoba mengingat kejadian-kejadian apa saja yang terjadi saat Fauzi menuliskan kata-kata ini berdasarkan tanggal yang dia tulis, tapi aku tidak cukup bisa mengingatnya.


Ada sekitar puluhan lembar yang bertuliskan kalimat yang sama sampai akhirnya aku kembali menemukan lembar dengan tulisan yang berbeda.


"Maafkan aku, aku telah melanggar janji untuk tidak membuatmu menangis. Hari ini, membayangkan wajahmu yang penuh airmata saja itu sangat melukai hatiku. Tolong untuk memberiku kesempatan untuk menjelaskan semuanya, hanya kamu dan aku tidak memiliki perempuan lain.."


Ini adalah hari dimana aku melihat Fauzi dengan perempuan lain yang tak lain itu adalah Fira.

__ADS_1


Aku semakin penasaran dengan apa saja yang ditulis Fauzi pada bukunya itu, yang aku tahu semua tulisan itu berhubungan denganku dan memang ditulis karena aku. Aku terus-terusan membuka lembaran kertas itu dan membacanya untuk memuaskan rasa penasaranku.


__ADS_2