
Nina masih salah paham, dia berfikir jikalau Fauzi kembali kesini untukku padahal Fauzi kembali untuk menikah. Aku tidak bisa mengatakan pada Nina bahwa Fauzi akan menikah karena itu akan menimbulkan pertanyaan baru dari Nina tentang dari mana aku mengetahuinya. Aku tidak ingin Nina tahu kalau aku pernah bertemu dengan Fauzi disni.
"Aku yakin Wa, kak Fauzi pulang kesitu karena dia tahu kamu ada disana sekarang.."
"Udah deh Nina. Ekspektasimu terlalu tinggi untuk itu.."
"Ini bukan.."
"Udah ah, pasien udah mulai berdatangan. Aku harus balik kerja sekarang"
"Ta tapi.."
"Kabari aku kalau kamu udah balik oke??" Kataku memotong perkataan Nina. Aku tidak mau Nina terus-terusan membahas tentang Fauzi dan itu akan melukai perasaanku.
.
.
.
.
Hari ini sangat melelahkan, aku merasa sedikit menyesal karena sudah sempat merasa senang dengan banyaknya pasien hari ini. Yah aku bisa mengabaikan pikiranku tentang Fauzi karena di sibukkan dengan pekerjaan, tapi saking sibuknya juga itu aku sampai tidak sempat makan siang hari ini.
Aku menghempaskan tubuhku ketempat tidur, tubuhku serasa kaku karena terlalu lelah hari ini. Aku meraih ponselku yang sedari tadi siang tidak pernah aku cek karena terlalu sibuk dengan pekerjaan. Satu notifikasi pesan masuk dari Nina.
"Aku pulang besok, jadi lusa temani aku oke??" Pesan singkat yang dikirim Nina.
"Bisa akhir pekan aja gak? Lusa aku masih masuk kerja dan sibuk sekali.." Balasan pesan yang kukirimkan pada Nina.
Aku cukup lama menunggu balasan pesan Nina selanjutnya.
"Oke deh, kalau begitu aku balik kesana hari sabtu saja, jadi luangkan waktu hari minggumu buat aku.."
"Oke.."
Aku segera mencari kontak Annisa untuk mengatur jadwal dengannya.
"Nis, minggu ini ada waktu gak?" Tanyaku pada Annisa saat telfonku terhubung.
"Emh.. tergantung sih. Kenapa?"
"Tergantung gimana?"
"Minggu aku mau ngurus pemesanan obat buat Apotekku, sekalian ngebantu TTK buat stok opnameĀ bulan ini.."
"Jadi minggu ini kamu gak bisa keluar?"
"Ya kan aku udah bilang tergantung Salwa.."
"Tergantung apanya? Udah kayak jemuran aja digantung-gantung.."
"Bukan kayak jemuran, tapi kayak perasaanku ke diaa.. Eaaa.."
__ADS_1
"Baperan deh.."
"Hahaha, emang minggu kenapa?"
"Teman aku mau nikah dan mau ngedesain undangan. Kalau kamu gak sibuk aku mau kamu ketemu sama dia minggu ini.."
"Oke aku bisa.."
"Lah katanya kamu mau ngurus Apotek dulu minggu ini.."
"Itu bisa diurus minggu depannya lagi, oke minggu kabari aku.."
"Dasar.."
"Iyalah, rejeki gak boleh ditolakk beb.."
"Ya deh terserah kamu. Yaudah aku matiin dulu telfonnya.."
Aku memutuskan panggilan dengan Annisa.
Aku turut bahagia dengan pernikahan Nina ini. Setelah mereka cukup lama di jodohkan akhirnya sebentar lagi mereka akan meresmikan hubungan mereka dalam ikatan cinta yang Sah.
Ah aku lupa, tadi siang aku mendapatkan balasan pesan dari nomor yang tidak dikenal yang ternyata adalah pesan dari Fauzi. Aku kembali membuka pesan itu dan membacanya sekali lagi.
"Untuk apalagi Fauzi menghubungiku, untuk apa lagi kami bertemu. Itu hanya akan melukai perasaanku.." Pikirku.
Aku mengabaikan ponselku lalu kembali membuka pekerjaanku agar perhatianku bisa teralihkan lagi dari Fauzi.
Aku tidak tahu sejauh apa aku mampu bertahan dan sebisa apa aku menjadikan pekerjaanku untuk mengabaikan pikiranku tentang Fauzi, tapi aku akan tetap mencoba meski hanya sedikit kemungkinan yang ada. Kali ini aku harus benar-benar move on, Fauzi sudah akan menikah dan tidak ada lagi jalan untukku bisa bersamanya.
Tingtongg.. Satu notifikasi pesan masuk.
"Kenapa gak dibalas? Apa aku gak boleh sekedar bersilaturahmi?
Lagi Fauzi mengirimiku pesan. Arrgggg perasaanku benar-benar tidak karuan sekarang. Kenapa harus sekarang? Kenapa di saat Fauzi akan menikah baru dia menghubungiku. Aku sedang berusaha keras untuk mengikhlaskannya tapi kenapa dia terus-terusan menyiksaku seperti ini.
Sekali lagi aku mengabaikan pesan Fauzi, aku tidak boleh meresponnya karena aku tidak yakin akan bisa menahannya setelah aku mencoba membalas satu kali pesanĀ Fauzi saat ini.
Aku membuka-buka ponselku, masih ada beberapa foto Fauzi dan beberapa foto kami bersama tersimpan. Ya meskipun aku berganti ponsel beberapa kali setelah putus dengan Fauzi tapi aku tidak pernah mengganti memori dan nomor telfonku.
.
.
.
Hari ini adalah hari dimana aku berjanji untuk mengantar Nina bertemu dengan Annisa agar bisa saling diskusi membahas tentang desain undangan pernikahan Nina dan Farhan.
Seminggu yang lalu Fauzi mengirimiku pesan dan aku mengabaikannya saja. Aku sangat senang menerima pesan dari Fauzi, tapi aku sadar kalau sudah tidak seharusnya lagi aku mempertahankan perasaanku pada Fauzi yang sebentar lagi juga akan menikah. Bagaimana mungkin aku terus-terusan menjaga perasaanku untuk orang yang sudah menjadi milik oranglain.
Aku tidak yakin akan terus bisa bertahan dengan perasaan kalau Fauzi terus-terusan mengubungiku seperti ini, akhirnya aku memutuskan untuk mengganti nomor telfonku dan juga mengganti memori cardku. Awalnya aku berniat untuk menghapus semua foto-foto Fauzi dan foto-foto yang berhubungan dengan Fauzi. Tapi pada akhirnya aku tidak sanggup untuk menghapusnya sehingga aku memilih untuk mengganti memori card yang baru dan menyimpan memori card yang lama.
Aku duduk disebuah cafe bersama Nina tempat aku dan Annisa janjian untuk bertemu.
__ADS_1
"Wa?" Panggil Nina
"Hem?" Jawabku tanpa menoleh ke Nina dan masih fokus memainkan ponselku.
"Cantik gak?" Tanya Nina sambil memperlihatkan beberapa foto prewedding.
"Cantik, kamu mau foto kayak gitu..?" Tanyaku.
Nina menggangguk.
"Yaudah sekalian aja nanti kita cari team photography-nya.."
"Iya deh, aku mau nuntasin semuanya hari ini biar nanti gak serba kepepet" Jelas Nina.
Aku hanya menanggapi Nina dengan tersenyum.
Sekitar sepuluh menit aku dan Nina menunggu Annisa, akhirnya Annisa datang.
Nina dan Annisa mulai sibuk membahas tentang desain undangannya, aku hanya duduk menemani mereka sambil memainkan ponselku dan sesekali ikut memberi saran pada Nina ketika dia bingung untuk memilih diantara beberapa pilihan desain yang sudah di sediakan oleh Annisa.
"Nanti mau masang foto gak di undangannya?" Tanya Annisa pada Nina.
"Rencananya sih gitu, tapi aku belum nemu team photography. Rencana sih baru mau nyari ntar.." Jawab Nina.
"Hem, aku ada rekomendasi.."
Annisa memperlihatkan beberapa foto prawedding pada Nina, aku tidak menghiraukannya dan hanya sibuk dengan ponselku. Toh aku tidak perlu untuk ikut nimbrung dalam pembahasan mereka karena memang itu seharusnya hanya dibahas oleh Nina dan Annisa saja.
"Wah baguss.." Respon Nina setelah melihat beberapa foto itu.
"Kalau kamu suka, aku bisa langsung ngehubungi orangnya.."
"Boleh deh, soalnya aku juga gak punya cukup waktu buat nyari lagi. Cara pengambilan fotonya ini juga bagus kok.."
"Iya, aku juga suka sekali dengan cara Fauzi ngambil gambar.."
"Si siapa?" Tanya Nina memperjelas. Perhatianku dari ponselku juga jadi teralihkan ke perkataan Annisa.
"Fauzi. Oh iya aku lupa, kalau kamu teman sekelas Salwa berarti harusnya kamu juga kenal sama Fauzi, soalnya hari itu Salwa bilang kalau Fauzi itu kakak kelasnya.."
Nina menatapku. Ah aku ketahuan berbohong pada Nina, baru seminggu yang lalu aku bilang sama Nina kalau aku tidak pernah ketemu sama Fauzi dan hari ini Annisa memperjelas kalau aku pernah ketemu sama Fauzi.
"Kamu bilang kamu gak pernah ketemu sama kak Fauzi" Tanya Nina menatapku tajam.
"I itu.. Aku lupa kalau aku pernah ketemu sama kak fauzi, soalnya ketemunya cuman sebentar.."
"Gak mungkin kamu lupa.."
"Aku akhir-akhir ini sibuk jadi aku lupa kalau aku pernahh ketemu sama Fauzi.."
"Hem.. Wajar sih kalau Salwa lupa soalnya hari itu memang Salwa ketemu sama Fauzi sebentar sekali.." Jelas Annisa.
"Oh gitu..."
__ADS_1
Hufftt penjelasan Annisa barusan menyelematkan dari Nina.
Nina akhirnya kembali membahas masalah undangannya dengan Annisa.