
Masih sangat sulit bagi Faiq untuk rela melepas harapan dan cintanya pada Sasa, namun ia juga sadar akan apa yang terjadi sekarang sudah tidak bisa ditarik lagi. Ia menguatkan diri dan berusaha sebisanya untuk menjalani apa yang terjadi saat ini.
Kedua keluarga telah berbicara perihal lamaran Faiq yang telah di terima oleh Karin, dan pembicaraan mulai menjurus ke masalah pernikahan dan semua hal yang harus disiapkan. Tentu saja pernikahan ini akan menjadi pernikahan yang megah, mengingat keluarga yang akan terikat oleh pernikahan, bukanlah dari golongan orang biasa.
Namun pesta mewah yang hendak di selenggarakan berubah haluan menjadi pesta yang lebih sederhana. Faiq meminta agar pesta mereka tidak dibuat besar-besaran dan hanya mengingikan pesta sederhana yang hanya mengundang orang terdekat saja dan tidak sampai membawa awak media untuk ikut berperan mengabadikan momen mereka.
Alasan klasik yang Faiq katakan perihal pernikahan sederhana yang dia inginkan ialah, dia tidak ingin pernikahan mereka menjadi ajang pertemuan orang-orang elit dan para pebisnis besar, dia tidak ingin acara yang seharusnya dinikmati dengan baik itu, menjadi tempat transaksi orang-orang tertentu. Selain itu, Faiq juga mengatakan, jika keamanan adalah nomor satu, dan jelas itu akan sedikit sulit di kontrol jika mereka mengadakan pesta yang besar-besaran meskipun telah mengambil beberapa bodyguard penjaga.
Sebuah alasan yang dapat diterima oleh logika ke dua keluarga. Ayah Karin bahkan memuji Faiq atas pikirannya yang jauh dan sangat terperinci itu. Sayangnya pujian yang ditujukan pada Faiq atas pemikirannya yang matang itu, tidak akan berlaku jika mengetahui niat asli dari Faiq.
Bukan alasan klasik seperti itu yang menjadi dasar dari alasan Faiq untuk mengadakan pesta yang sederhana saja. Dia hanya tidak ingin awak media akan masuk dan memberitakan pernikahannya. Jauh di lubuk hati Faiq, ia masih menyimpan harapan pada Sasa, sehingga ia tidak ingin Sasa mengetahui tentang pernikahannya. Karena jelas saja, jika awak media memberitakan pernikahan mereka, Sasa berpeluang besar untuk mengetahui itu.
Hari pernikahan yang telah ditentukan tanggalnya itu semakin dekat, namun bukan perasaan senang yang menghampiri Karin, terlebih lagi Faiq, Karin merasakan perubahan pada Faiq. Laki-laki yang melamarnya tiba-tiba itu menjadi lebih diam dan bahkan tidak berkonsentrasi jika keduanya sibuk membahas masalah pernikahan mereka. Namun kegelisahan yang tengah menerpa Karin, berusaha Karin tepiskan dengan kembali berpositif thinking. “Ya, mungkin Faiq sedang merasa gugup atau was-was karena sebentar lagi akan menikah”
Karin masih berpositif thinking meski sebenarnya yang sedang menerpa calon suaminya itu adalah kebimbangan yang tidak ada habisnya. Semakin dekat tanggal pernikahannya, semakin kuat rasa kegelisahan memeluk Faiq. Setiap hari Faiq terus-terusan terbayang-bayang akan Sasa, dia tiada hentinya memikirkan wanita yang tinggal pada masa lalunya itu, dan hal itu membuatnya tidak fokus pada apa yang sedang dia jalani saat ini. Faiq sering kali mengabaikan apa yang Karin katakan, dan hanya fokus pada pikirannya saja yang tidak bisa melepas Sasa.
Sialnya lagi, dibalik kegelisahan yang tengah menyelimutinya, Faiq tidak bisa melakukan apa-apa. Dia tidak mungkin membatalkan secara tiba-tiba pernikahan yang semakin hari semakin mendekati hari H, namun ia juga tidak bisa menepis bayangan mantan kekasihnya.
Sebuah perasaan yang bergejolak tak karuan, tak henti-hentinya bernaung di hati Faiq dengan segala kegelisahan yang mulai menekannya.
Hingga hari pernikahan tiba, Faiq masih saja diam dan tidak fokus. Ia tetap memperlihatkan senyumnya yang manis pada keluarga dan beberapa kerabat yang datang di pestanya, namun hanya sekedar senyum dengan pikiran yang melayang-layang entah kemana. Hari pernikahan yang hanya dihadiri kerabat dan keluarga itu tetap ramai dan megah.
Melihat Faiq yang seperti itu, membuat Karin ikut gelisah. Wanita yang kini tampil cantik dengan gaun pengantinnya dibuat khawatir dengan tingkah suaminya yang sangat berbeda dari yang dia kenal beberapa waktu terakhir ini. Namun dia tetap berusaha menutupi kekhawatirannya agar para tamu dan keluarganya tidak dibuat khawatir.
Meski Karin merasakan perubahan pada Faiq, namun dia tidak pernah berpikiran yang tidak-tidak pada laki-laki yang telah mengucapkan Ijab kabul untuknya itu. Karin selalu berpikiran bahwa yang membuat Faiq menjadi orang yang berbeda dari yang dia kenal sebelumnya, itu karena kegugupan dan kelelahan saat ia mengurus pernikahan mereka dan tetap sibuk pada pekerjaan kantornya.
Pesta yang awalnya Faiq minta sederhana itu tetap berlangsung megah, meski benar mereka tidak mengundang asal tamu selain keluarga dan kerabat dekat. Satu persatu tamu memberi mereka ucapan selamat, dan kedua mempelai dengan senyum ramah mengucapkan terimakasih. Sebuah senyum ramah yang menyimpan kegelisahan bagi Faiq dan kebingungan bagi yang tidak mengerti akan perubahan Faiq.
Karin tetap merasa bahagia, ia bahkan merasa menjadi wanita yang paling beruntung karena telah dipilih oleh Faiq, meski suasananya sedikit berbeda dikarenakan Faiq yang sering melamun akhir-akhir ini dan tidak fokus, namun dia dengan pikirannya yang selalu positif selalu beranggapan bahwa Faiq hanya kelelahan dan sedang banyak pikiran yang menyangkut pekerjaan dan perihal pernikahan mereka.
Satu persatu tamu beranjak, hingga akhirnya pesta yang digelar megah meski tidak begitu banyak tamu itu, selesai.
Karin baru saja selesai membersihkan make up-nya, meski ia merasa deg-degkan mengingat ini adalah malam yang pertama kali baginya tidur dengan oranglain, namun rasa bahagia membuat detak jantungnya bisa terkondisikan lebih baik.
__ADS_1
Belum selesai Karin menyelesaikan hingga merapikan rambutnya, engsel pintu terputar dan pintu terdorong masuk. Karin menoleh sejenak mengecek siapa yang datang menghampirinya, dan dengan sedikit memiringkan kepalanya Karin bisa melihat Faiq yang melangkah masuk dengan wajah lusuhnya.
Tak ada kata-kata yang Faiq ucapkan, ia hanya bergegas menuju kamar mandi dan berganti pakaian. Karin pun tidak mengatakan apa-apa. Ia memberi waktu pada suaminya itu untuk membersihkan tubuhnya setelah lelah berdiri dipelaminan seharian ini.
Ponsel Karin yang dia letakkan pada meja disamping tempat tidurnya bergetar. Ia bergegas dan mengecek ponselnya, beberapa pesan masuk, ucapan selamat akan Karin yang kini telah berstatuskan sebagai seorang istri.
Karin tersenyum sembari membalas satu persatu pesan yang masuk dalam ponselnya, hingga Faiq keluar Karin masih asyik bermain dengan ponselnya.
Faiq hanya melirik Karin sejenak, kemudian mengambil posisi duduk pada sofa, duduk selojoran merengangkan otot-otot tubuhnya yang serasa kaku akibat berdiri terlalu lama hari ini.
Karin menyadari keberadaan Faiq yang telah selesai berganti pakaian, ia meillirik suaminya yang duduk selonjoran sambil memejamkan mata. Garis wajahnya jelas terlihat kalau laki-laki itu tengah kelelahan dan memiliki beban pikiran yang berat saat ini.
Perempuan yang kini sudah berstatuskan istri itu, berjalan pelan menghampiri suaminya yang terlihat tidak memiliki semangat malam ini.
“Kamu kenapa?” Tanya Karin membuka obrolan diantara keduanya.
Perlahan Faiq membuka matanya, dan memperbaiki posisi duduknya saat ia menyadari keberadaan perempuan yang kini telah menjadi istrinya.
“Kamu beneran gak apa-apa kan? Kamu baik-baik saja kan?” Tanya Karin memastikan kondisi suaminya itu.
Faiq hanya mengangguk sembari tersenyum, meski jelas terlihat kalau senyum yang dia miliki tidak terlihat baik.
“Kalau ada apa-apa, bilang sama aku. Sebelumnya kan kamu juga sering cerita-cerita sama aku”
“Iya..”
Keduanya kembali terdiam, Karin tidak tahu lagi harus membahas apa dan bertanya apa lagi untuk memecah keheningan diantara mereka.
“Karin..”
“Iya..” Jawab Karin cepat. Ia merasa bersyukur, setidaknya suaminya itu mulai angkat bicara setelah beberapa hari yang lalu dia lebih banyak diam.
“Aku ingin kita tinggal dirumah yang berbeda dari orangtua kita. Apa bisa begitu?”
__ADS_1
“Maksudmu, kamu mau punya rumah sendiri?”
Faiq mengangguk mengiyakan pertanyaan Karin. “Aku ingin kita memiliki rumah sendiri”
“Ya kalau kamu maunya begitu, besok kita akan cari rumah untk kita. Perusahaanmu bergerak di bidang properti kan? Pasti kamu tahu beberapa rumah yang bagus untuk kita”
“Iya, aku tahu beberapa rumah yang cocok untuk kita. Kita bisa tinggal disana dan hidup mandiri tanpa bantuan orangtua”
Karin hanya mengangguk, setuju dengan apa yang suaminya itu inginkan.
Faiq kembali mengubah posisi duduknya, duduk selonjoran dan perlahan menutup matanya.
“Kamu ngantuk?”
Faiq hanya mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan Karin.
“Terus kenapa tetap duduk disitu? Kenapa tidak pindah ketempat tidur?”
Perlahan Faiq membuka matanya, mengangkat tubuhnya dengan malas agar posisi duduknya sedikit tegas. Faiq melirik tempat tidur yang cukup luas di depannya itu.
“Maafkan aku, hari ini aku benar-benar lelah..”
“Gak apa..” Jawab Karin tersenyum penuh pengertian.
Dengan sangat lemas, Faiq berusaha berdiri berjalan menuju tempat tidur yang sangat dekat itu.
“Mau aku bantu?” Tawar Karin saat melihat Faiq yang berjalan begitu lunglai.
“Tidak apa, aku bisa..”
Faiq merebahkan dirinya pada tempat tidur, berada ditepi ranjang dan perlahan menarik selimut menutupi dirinya.
Meski terbesit sedikit perasaan tak enak di hati Karin yang melihat Faiq tidur tepat di tepi ranjang, namun Karin terus mencoba berpikir baik pada suaminya itu. “Mungkin saja dia tidak ada lagi tenaga untuk memposisikan tubuhnya lebih ketengah ranjang”.
__ADS_1