Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Flashback : Story of Faiq & Karin (11)


__ADS_3

Waktu berlalu. Keduanya kini tinggal mandiri di rumah mereka sendiri, sebuah rumah yang terbilang lumayan besar untuk ditinggali oleh dua orang saja.


Karin memutuskan hekang dari pekerjaannya, dia ingin menikmati kehidupannya sebagai seorang istri dengan menyiapkan semua keperluan suaminya. Toh bukan hal sulit baginya jika kembali ingin bekerja, karena tidak mungkin Ayahnya melarang jika ia berniat kembali mengabdi pada perusahaan milik Ayahnya.


Jangankan masalah menyiapkan perlengkapan suaminya saat ingin bekerja, masalah memasak hingga bersih-bersih pun, Karin lakukan sendiri. Ia tidak mempekerjakan asisten rumah tangga, meski Faiq berulang kali menyarankan untuk mereka mengambil asisten rumah tangga. Hanya seorang tukang kebun yang mereka pekerjaan untuk merawat tanaman di sekitar rumah, yang datang dipagi hari saja dan sesekali di sore hari jika angin berhembus lebih kencang dari biasanya dan menggugurkan dedaunan tanaman yang ada di sekitar halaman rumah mereka.


Rumah tangga yang terlihat harmonis di mata orang lain, namun menyimpan luka bagi keduanya. Awal menikah, Faiq sangat perhatian pada Karin, dia bahkan tidak membiarkan Karin mencuci bajunya, sehingga setiap baju yang dia lepas, langsung ia cuci sendiri. Dia tidak membiarkan Karin mengurus barang-barangnya, sehingga Karin sebagai istri dia hanya melayani suaminya di perihal isi perut dan keadaan rumah yang bersih saja.


Setiap pagi sebelum berangkat kerja, Faiq akan pamit pada Karin dan memberikan kecupan manis di kening perempuan itu. sesekali ia mengirim pesan singkat pada istrinya, sekedar mengingatkan jika waktu makan siang sudah tiba.


Semuanya baik-baik saja bagi mereka dari segi keseharian, namun tidak jika berurusan perihal hubungan suami istri yang sebenarnya.


Hingga saat ini, Faiq sama sekali tidak pernah beranjak dari posisi tidurnya untuk mendekati Karin hingga menggaulinya. Setiap harinya, Faiq akan sibuk diruang kerjanya hingga larut malam dan akan kembali di kamar mereka saat ingin tidur saja. Ia selalu memperlihatkan dirinya yang kelelahan sehingga membuat Karin sungkan untuk bertanya perihal hubungan mereka sebagai suami istri yang hingga sampai saat ini belum mereka lakukan.


Benar saja, semenjak mereka selesai menikah, pekerjaan Faiq meningkat drastis. Meski pernikahan mereka terbilang tertutup, namun tetap saja menjadi informasi bagi khalayak masyarakat elit. Sehingga kekuatan perusahaan Faiq yang saat ini terbilang menguat setelah ada ikatan dengan keluarga Karin, membuat para pemain bisnis berlomba-lomba mengajukan proposal gabungan untuk turut ikut dalam proyek yang dia jalankan.


Pernah sekali Faiq mengatakan maaf pada Karin perihal dia yang belum juga beranjak mendekati istrinya itu untuk hubungan layaknya suami istrinya, dengan alasan akan pekerjaan yang benar tidak bisa ia tunda dan harus diselesaikan sehingga sering kali membuatnya kelelahan. Faiq selalu beralasan jika dia tidak ingin melakukan hal itu hanya karena itu adalah sebuah keharusan sebagai suami istri, Faiq mengatakan bahwa mereka harus menikmati sehingga membutuhkan waktu yang luang agar tak ada yang menghalangi mereka, entah dari keadaan luar atau pikiran masing-masing.


Selepas menikah, Faiq bahkan tidak mengambil cuti untuk menjalani bulan madu sebagaimana layaknya pasangan suami istri yang lainnya. Ketika ia di tegur perihal itu pada mertuanya, Faiq beralasan bahwa hal yang membuat mereka segera pindah ke rumah mereka sendiri adalah, agar mereka bisa saling menggauli tanpa perlu melakukan perjalanan bulan madu, mengingat pekerjaannya yang begitu banyak. Alasan masuk akal itu dapat diterima oleh orangtua Karin, bahwa Faiq mendapat pujian dengan pikirannya yang seperti itu dari Ayah dan Ibu mertuanya.


Hingga saat ini, berlandaskan kedua alasan itu lah yang membuat Faiq masih saja belum melakukan tugasnya sebagai suami. Karin pun tidak bisa menuntut banyak akan hal itu, dikarenakan Faiq yang terlihat sangat sibuk dan kelelahan, juga alasan bahwa hal yang demikian harus di nikmati dengan baik, sehingga Karin tetap sabar menunggu hari, dimana suaminya tidak akan sibuk.


Sesekali terbesit di pikiran Karin untuk membahas hal ini pada Ibu atau Ayahnya, namun kembali ia tarik pikiran itu saat ia sadar bahwa apa yang terjadi diantara mereka saat ini adalah masalah dalam rumah tangganya yang sangat intern, sehingga tidak baik untuk bercerita pada orang, termasuk orangtuanya. Karin juga tidak ingin membebani orangtuanya dengan hal ini.


.


.


.


.


Malam ini tidak seperti biasanya, dimana Faiq selalu pulang tepat waktu dan berada di rumah sebelum jam makan malam. Namun malam ini, hingga waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, Faiq belum juga pulang.


Karin sudah menunggu dengan gelisah, berkali-kali ia menelfon ke nomor Faiq, namun tidak ada jawaban. Karin semakin khawatir tatkala ia menelfon sekretaris Faiq dan mendapat jawaban bahwa Faiq sudah keluar dari kantor sedari siang dan tidak pernah kembali lagi.


Karin sempat menelfon Ayah mertuanya, sekiranya Faiq pulang kerumahnya untuk mengurus sesuatu dan lupa mengabarinya, namun lagi ia tidak mendapatkan informasi tentang Faiq disana. Ayah mertuanya sempat khawatir, tapi Karin dengan cepat menepis ke khawatiran mertuanya.


“Ada apa? Kenapa nyari Faiq malam-malam begini nak? Apa Faiq belum pulang?”


“Iya Ayah. Tapi jangan khawatir, ini aku yang ngelarang Faiq pulang cepat”


“Kenapa? Ada apa? Kenapa kamu ngelarang Faiq pulang cepat. Kalian baik-baik saja?”

__ADS_1


“Iya, kami baik-baik saja Ayah. Jangan khawatir, aku hanya lagi nyiapin surprise buat Faiq, jadi aku ngelarang dia buat pulang cepat malam ini. Tapi aku gak tahu dia perginya kemana”


“Astaga nak, kamu ngebuat Ayah khawatir”


“Maaf Ayah..”


“Yasudah, kamu tunggu saja. Faiq pasti cepat kembali”


“Iya Ayah..”


Karin berusaha menyembunyikan suaranya yang khawatir, ia berusaha terdengar baik-baik saja agar mertuanya tidak khawatir dan tidak mengetahui keadaan mereka saat ini.


Tidak puas dengan menelfon Faiq berkali-kali, Karin berjalan keluar rumahnya, menunggu dengan gelisah di teras rumah di malam yang semakin larut.


Cukup lama Karin menunggu di luar rumah dengan ponsel yang tidak henti-hentinya memanggil ke nomor Faiq. Karin duduk sembari memeluk lututnya, hawa dingin desiran angin malam tidak lagi ia rasakan, hanya gelisah dan kekhawatiran yang tengah memenuhi hatinya saat ini.


Karin menoleh, tatkala ia mendengar sebuah mobil taxi berhenti tepat depan rumahnya.


Dengan lunglai, Faiq keluar dari mobil sambil berusaha menegakkan tubuhnya. Laki-laki yang sedari tadi membuat istrinya khawatir itu, berjalan sempoyongan memasuki halaman rumah. Karin dengan cepat menghampiri suaminya, memapah Faiq yang sangat sulit memijakkan kakinya dengan tegap.


“Faiq, kamu dari mana? Kenapa seperti ini?”


Karin dengan susah payah memopang tubuh suaminya yang jauh lebih berat dari bobot tubuhnya.


Faiq tidak menjawab pertanyaan Karin, dia yang sudah tidak sadar lagi hanya berusaha berjalan masuk kedalam rumah dengan bantuan istrinya.


“Pelan-pelan...”


Karin sudah berusaha menuntun suaminya itu agar bisa berjalan lebih baik, namun tetap saja tenaganya yang tidak seberapa itu tidak mampu memopang tubuh suaminya yang jauh lebih berat darinya. Faiq terjatuh ke lantai saat kakinya tersandung, Karin dengan cepat menghampiri suaminya meski sebelumnya mereka jatuh bersamaan karena ia ikut terdorong saat suaminya terjatuh.


“Kamu gak apa-apa?”


“Heng??” Faiq berbalik menatap Karin, perlahan tersenyum dengan kesadarannya yang belum juga kembali.


“Ah istrikuu...” Kata Faiq merengek.


“Kamu ini kenapa? Kamu kan sudah lama gak minum-minum begini lagi Faiq”


“Ah... istriku....” Faiq terus merengek tidak jelas pada Karin. “Aku cintaaaaa.......”


Kesadaran yang sudah hilang itu membuat Faiq berkelakuan tidak seperti biasanya. Ia memandangi lekat wajah Karin, membuat Karin kebingungan melihatnya.


“Ayo bangun.. Kamu jangan tidur dis...”

__ADS_1


Belum selesai Karin menyelesaikan kalimatanya, tangan Faiq sudah menyusup ke balik rambutnya dan hanya dengan satu kali tarikan ia berhasil membuat Karin kehilangan keseimbangannya.


“Aku mencintaimu Sa...” Bisik Faiq sebelum ia mendaratkan bibirnya pada bibir wanita yang sekarang berada dalam genggamannya.


Karin sangat terkejut mendapat perlakuan yang demikian dari Faiq. Ini adalah kali pertama ia mendapat ciuman selain di kening dari Faiq.


Faiq tidak melepaskan ciumannya, malah semakin ganas saja dia merajalela di bibir Karin, sesekali ia melepas ciumannya untuk mengambil nafas, namun dengan cepat kembali mendaratkan ciumannya.


Karin sedikit kewalahan dibuatnya. Jantungnya berdetak kencang tak karuan mendapat ciuman panas dari Faiq. Ia bahkan lupa, bahwa bukan nama miliknya yang di sebut oleh Faiq sebelum ciuman panas itu mendarat di bibirnya.


Ada gemuruh dalam hati Karin yang semakin lama semakin sulit ia bendung akibat perasaan yang serasa mau meledak keluar. Perasaannya campur aduk, mulai dari dia yang terkejut, bingung, senang, juga terharu karena suami yang selama ini tidak pernah menyentuhnya lebih dari yang sewajarnya, akhirnya melangkah melampaui batasnya malam ini.


Tidak puas dengan menciumi bibir Karin dengan panas, perlahan Faiq mengarahkan bibirnya menuju leher Karin dengan tangannya yang menggenggam erat pinggang perempuan yang ada didepannya saat ini. Namun belum saja ia memberikan kecupan disana, kesadarannya sudah lebih dulu hilang hingga ia jatuh tak sadarkan diri di lantai.


Karin terdiam sejenak, berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Ini adalah sentuhan pertama yang ia dapatkan dari suaminya, pipinya terasa panas dan jelas sudah memerah saat ini. Perlahan airmata haru menetes, tatkala ia berhasil menyadarkan diri bahwa inilah yang selama ini dia harapkan dari suaminya.


Bukan waktu yang sebentar Karin menunggu momen ini. Terhitung sudah 3 bulan lebih dia harus sabar dan menanti hal yang harusnya dari awal bisa ia rasakan sebagai seorang istri. Yang membuat Karin bertahan dan sabar selama ini, karena ia melihat Faiq yang cukup memanjakannya dengan tidak ingin merepotkannya melakukan hal-hal berat seperti mencuci bajunya, juga kelembutan Faiq setiap akan berangkat dan pulang kerja yang selalu tak lupa memberikan kecupan hangat di keningnya.


Dengan susah payah Karin membawa suaminya yang sudah tidak sadarkan diri itu ketempat yang lebih layak untuk istirahat, ia harus mengumpulkan semua tenaganya agar laki-laki yang kini tergeletak tak berdaya itu bisa istirahat dengan nyaman ditempat yang nyaman pula.


“Kenapa kamu seperti ini lagi? Ada apa?” Tanya Karin pada Faiq yang sudah tertidur lelap sembari merapikan rambut suaminya yang berantakan tak karuan menutupi separuh wajahnya.


“Kamu kan sudah lama gak minum alkohol, kenapa sekarang tiba-tiba minum lagi? Kalau ada masalah kan, kamu bisa cerita sama aku..”


Karin duduk ditepi ranjang sembari mengelus pelan wajah suaminya. Sebelumnya, ia tidak pernah berani melakukan hal seperti ini pada Faiq, meski Faiq masih tertidur lelap. Namun kali ini, Karin tidak lagi tahan untuk tidak menyentuh suaminya itu. Apa yang baru dia alami tadi, membuatnya selangkah lebih berani mendekati suaminya.


Karin mengeluarkan selimut dari lemari, mengingat saat ini ia membawa suaminya ke kamar tamu karena ia tidak lagi mampu membawa suaminya yang memiliki bobot tubuh lebih berat darinya ke kamar tidur mereka.


Karin kembali meletakkan selimutnya di sofa, ia tidak mungkin menyelimuti suaminya yang masih tertidur itu dengan sepatu yang masih menempel di kakinya. Dengan telaten Karin melepas sepatu suaminya, dan berjalan kedapur menyiapkan air hangat untuk membilas kaki suaminya. Namun belum ia beranjak, Karin kembali menoleh menyadari bahwa bukan hanya kaki Faiq yang butuh di basuh saat ini, wajah dan tubuh yang sangat berbau alkohol itu pun perlu di basuh.


Karin memalingkan wajahnya saat matanya tertuju pada tubuh Faiq. Dia tidak mungkin membiarkan suaminya itu tidur tanpa membersihkan tubuhnya, sedang jelas sekali Faiq saat ini sangat berbau alkohol juga tengah berkeringat. Namun, ia juga merasa malu jika harus membasuh tubuh Faiq, sedang dia sama sekali belum pernah melihat tubuh suaminya itu tanpa pakaian.


Karin kembali menoleh menatap suaminya, dan membuat wajahnya seketika panas dan memerah.


“Ck Karin.. Mikirin apa sih???” Ia menepuk-nepuk pelan pipinya sendiri, mencoba menyadarkan diri dan membuang jauh-jauh pikiran yang hinggap di kepalanya.


Setelah beberapa saat, Karin kembali dengan handuk dan air hangat. Awalnya dia sangat ragu untuk membasuh tubuh Faiq, namun suaminya bisa saja terbangun tengah malam akibat tidak nyaman jika ia membiarkannya tetap terlelap dengan keringat dan bau alkohol pada tubuhnya, juga dengan kemeja yang terbilang cukup ketat.


Dengan telaten Karin membasuh wajah hingga tubuh suaminya, berusaha sepelan mungkin agar suaminya itu tidak terganggu dan terjaga, meski ia tak mudah bagi Faiq terjaga saat ini mengingat ia tertidur akibat mabuk.


Wajahnya terus memerah, belum lagi ketika ingatannya mengenai ciuman tadi hinggap di kepalanya. Karin terus mencoba menyadarkan dirinya, dan berusaha menghapus bayang-bayang kejadian yang tadinya membuat jantungnya berdetak cepat sampai rasanya ingin lepas dari tempatnya. Hingga Karin selesai menyeka tubuh suaminya, ia terfokus pada bagian tubuh yang lebih kebawa.


Karin berpikir sejenak dan bingung harus bagaiamana, ia masih mampu menahan jika itu mengganti baju suaminya, namun untuk hal yang lebih dari itu, rasanya ia belum sanggup.

__ADS_1


Karin dengan cepat mengambil selimut yang sebelumnya ia letakkan di sofa dan dengan cepat menutupi tubuh suaminya, dia tidak ingin lagi pusing memikirkan hal-hal yang sulit ia lakukan dan membuatnya dilema.


__ADS_2