Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Diantar pulang..


__ADS_3

Setelah tujuh tahun, baru sekarang lagi aku bercerita dengan Fauzi cukup lama. Aku senang bisa mengobrol seperti ini lagi dengan Fauzi mengingat perasaanku yang masih sangat menyukainya, tapi disisi lain ada kebingungan dan kekhawatiran. Aku bingung dengan sikap dan percakapan Fauzi dengan Annisa tadi, bukankah Fauzi juga akan menikah atau mungkin saja sudah menikah karena beberapa waktu yang lalu dia juga sedang mendesain undangannya dengan Annisa. Aku juga khawatir,  bagaimana bisa aku bertahan pada perasaanku untuk mengabaikan Fauzi kalau dia terus-terusan seperti ini, bagaimana jika nanti aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa Fauzi sudah menjadi suami oranglain.


Sejenak aku mengesampingkan pikiran-pikiran itu dan menikmati saja waktu yang kupunya sekarang untuk sekedar mengobrol dengan Fauzi. Masalah tentang bagaimana nanti aku menangani perasaanku biar nanti saja aku pikirkan, sekarang nikmati saja momen yang disediakan.


Farhan menghampiriku dan Fauzi, meminta kami untuk ikut mengambil gambar bersama dengan mereka di pelaminan. Setelah beberapa foto yang diambil kami berempat akhirnya aku turun dan memanggil Annisa untuk ikut berfoto bersama kami juga.


"Gue ganteng kan make baju kayak gini?" Tanya Farhan menyombongkan diri.


"Ck, ganteng Lu cuman naik setingkat doang, belum bisa nyampe di level cakepya gue" Balas Fauzi dengan lebih menyombongkan diri lagi.


Jika seseorang yang tidak mengenal mereka mendengar percakapannya yang seperti ini, orang-orang itu akan berfikir betapa narsisnya dua orang ini. Sedangkakn bagi kami yang terbiasa mendengar perdebatan Fauzi dan Farhan yang seperti ini, seperti sudah menjadi hiburan tersendiri


"Lu gak minat make baju kayak gini juga??"


"Haha iya nih, kak Fauzi jangan mau kalah.." Tambah Nina.


"Sstt tenang saja, sepertinya Fauzi juga bentar lagi nyusul deh. Tadi dia sempat ngebahas undangan sama aku" Tambah Annisa.


Aku diam saja, aku tidak tahu harus menanggapi bagaimana jika ingin ikut masuk dengan obrolan mereka, selain itu aku juga masih sangat bingung bagaimana mereka bisa berbicara seperti itu pada Fauzi yang jelas-jelas sudah punya calon istri.


"Ha ha ha.. Nanti juga gue bakalan nikah kalau udah ketemu jodohnya" Jawab Fauzi tertawa kecil.


Mendengar jawaban Fauzi, Farhan dan Nina spontan melihatku.


"A apa??" Tanyaku bingung.


Annisa yang tidak tahu hubunganku dengan Fauzi juga terlihat bingung.


"Ada yang nganggur ngapa masih mau nyari.." Kata Farhan sesekali melirikku.


"Iya nih kak Fauzi, kayak udah move on seratus persen aja.." Tambah Nina.


"Diambil orang ntar nyesel.."


"Fauzi sama Salwa???" Tanya Annisa dengan sorot matanya yang memperlihatkan kebingunan.


"Ha ha ha.. Gak ada apa-apa Annisa, mereka cuman bercanda.." Jawabku agar Annisa tidak lanjut salah paham.


Aku tidak tahu apa yang akan ada dipikiran Annisa jika dia mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Farhan dan Nina. Dia yang mengatur undangan pernikahan Fauzi akan salah paham terhadapku nantinya.


"Ha ha ha.. Gue belum maju aja udah di tolak.." Kata Fauzi tertawa ringan.


"Ha ha ha kok ngenes banget ya kesannya.." Timpal Nina.

__ADS_1


"Ha ha yang sabar broo.."


Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan, bagaimana bisa mereka berkata seperti itu pada orang yang sudah memiliki calon istri.


Acara siang ini sudah selesai dan akan dilanjut malam nanti. Aku dan Annisa yang awalnya janjian pulang bareng pada akhirnya tidak jadi karena Annisa baru mendapat telfon dari seseorang untuk menggunakan jasanya mendesain sebuah undangan lagi.


"Niatnya mau nebeng pulang sama Annisa, ujung-ujungnya malah nyari taxi.. Ck naik taxi pake baju rempong begini pasti susah banget.." Gerutuku kesal.


Aku berdiri sejenak didepan gedung dimana acara resepsi pernikahan Nina dan Farhan berlangsung, aku sedang berusaha menghubungi taxi online.


"Mau pulang?" Tanya Fauzi yang mengejutkanku.


"Iya.."


"Mau ikut sama aku?" Tanya Fauzi menawarkan tumpangan.


"Gak usah kak, aku naik taxi saja.." Jawabku.


"Naik taxi dengan bajumu yang seperti itu?"


Aku menunduk memperhatikan gaunku yang lebar dan sedikit mengembang karena menggunakan bawahan organza.


"Ta tapi kita beda arah, aku bakal ngerepotin kakak.."


"Ta tapi.."


"Udah ayo.." Kata Fauzi menggandeng dan menarikku.


Aku akhirnya ikut saja dengan Fauzi. Tangannya yang besar dan hangat, sudah lama sekali aku tidak merasakan genggaman tangan Fauzi menggenggam tanganku, padahal dulunya tangan ini yang hampir setiap hari membawaku kemana-kemana.


Tidak banyak yang aku bahas dengan Fauzi sepanjang perjalanan, aku hanya menjawab sekedarnya jika ada pertanyaan dari Fauzi dan sekedar tersenyum merespon cerita Fauzi.


"Nanti malam mau aku jemput?" Kata Fauzi ketika aku sampai dirumah.


"I itu.."


"Jangan berfikiran kalau kamu bakal ngerepotin aku, kan yang nawarin aku.."


Aku terdiam sejenak.


"Kalau gak mau gak apa kok.."


"Mau kok.." Jawabku cepat. Fauzi sampai terkejut melihatku.

__ADS_1


"Aissshhh Salwa.. Kenapa begini lagi sih? Sumpah bikin malu banget.." Batinku kesal sambil menahan malu.


"Ha  ha  ha" Fauzi tertawa canggung. "Oke nanti malam aku jemput.."


"I iyaa.." Aku mengalihkan pandanganku. "Ya yaudah aku masuk dulu kak.." Kataku membuka pintu mobil tapi..


Shhiiitt aku lupa kalau sabuk pengamanku belum terlepas. Sekali lagi aku malu sekali rasanya.


Fauzi mendekatiku, membantuku melepas sabuk pengamanku. "Kenapa terburu-buru sekali sampai lupa melepas sabuk pengamannya dulu.."


Aku menahan nafasku, suara jantungku bisa saja terdengar oleh Fauzi sekarang.


"He he he maaf.." Jawabku dengan nafasku yang tertahan.


"Kenapa minta maaf, kamu kan gak salah.."


"I itu.. aku"


"Kayaknya kamu kelelahan.."


Aku hanya tersenyum karena tidak tahu harus berkata apa lagi, semakin aku bicara semakin salah-salah saja apa yang aku katakan.


Aku bergegas turun dari mobil Fauzi.


"Makasih udah nganterin aku pulang.."


"Oke.. Aku balik dulu" Kata Fauzi tersenyum.


"Hati-hati kak.." jawabku balas tersenyum.


Fauzi berlalu.


Aku masuk ke kamar, aku masih seperti tidak sadar dengan apa saja yang baru terjadi. Aku memandangi tanganku yang tadi di genggam Fauzi, entah mengapa senang sekali rasanya. Jantungku tidak bisa berdetak dengan normal, aku terus memegangi dadaku mencoba menenangkan jantungku tapi bukannya semakin normal, detak jantungku malah makin kencang saja.


Aku kembali mengingat saat Fauzi membantuku melepas sabuk pengamanku. Blusssshhhhh, rasanya pipiku mulai panas seperti terbakar karena darahku yang serasa mengalir semua ke kepalaku.


"Huffttt tenanglah Salwa.. tenangg...." Kataku menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan.


Aku berjalan kedepan cermin, pipiku benar-benar memerah nyaris seperti udang rebus. Aku tidak perlu blush on untuk memberi warna pada pipiku nanti malam, saat aku berangkat dengan Fauzi nanti, pipiku akan otomatis merona.


Aku seperti remaja yang sedang jatuh cinta saja, ck apa aku lupa dengan umurku yang sudah bukan remaja lagi sekarang? Kasmaran di usia seperti ini rasanya sedikit memalukan.


Ah sudah-sudah, semakin aku mengingat kejadian tadi aku tidak akan beranjak membersihkan diri dan menenangkan pikiran.

__ADS_1


Aku beranjak membersihkan diri sambil terus-terusan menepuk pipiku yang masih saja terasa panas.


__ADS_2