
Sasa terjebak dalam ajakan Azika, kakak perempuan Azka. Dia tidak bisa menghindar apalagi menolak. Tangan Azika sudah terlanjur melingkar di lengan Sasa, dan menariknya masuk kedalam rumah.
Kecanggungan tengah menerpa Sasa, ia bingung harus berekspresi seperti apa dan harus bagaimana menanggapi situasi ini, meski dia sudah cukup lama mengenal Azka, namun ini adalah kali pertama ia menginjakkan kakinya masuk kerumah Azka, yang semakin membuatnya kikuk.
Sasa hanya menunduk ketika langkahnya terus dituntun oleh Azika masuk kedalam rumah, rasanya begitu malu untuk memandang penghuni lain dalam rumah itu saat ini.
“Azka sudah balik Ika?” Tanya Ibunya tanpa menoleh dan tetap sibuk memotong beberapa sayur yang akan mereka masak hari ini.
Sasa mengangkat wajahnya mendengar suara perempuan beribawa dan keibuan, sejenak ada rasa rindu menghampirinya akan sosok seorang ibu.
“Sudah Ma, cuman kecantol depan pagar gara-gara ngobrol sama cewek”
Ibunya menoleh, dan sedikit terkejut mendapati Sasa yang sudah bergabung bersama mereka.
“Ini temennya Azka, Ma. Yang tadi ngobrol sama Azka diluar sampai Azka lupa masuk”
Sasa memperlihatkan senyum manisnya meski ia sedikit canggung. Bagaimana tidak, ia tetiba di seret masuk tanpa tahu apa-apa dan tanpa persiapan apa-apa.
“Ah cantiknya, namanya siapa Nak?”
“Sasa, Bu”
“Eh Sasa toh, hehe aku ngajak dia masuk tadi, tapi aku gak tahu namanya” Azika tersenyum nyengir mengingat kelakuannya barusan.
“Kamu ini gimana sih Ika? Gak sopan seperti itu”
“Ya aku greget aja, Ma. Si Azka cuman ngobrol, gak diajak masuk padahal kita lagi kumpul”
“Maafkan Ika yang Nak, dia memang seperti itu”
Sasa hanya mengangguk tersenyum, meski ia masih sangat merasa tak nyaman tiba-tiba turut bergabung saja.
“Kamu pacarnya Azka??”
“Eh?” Sasa terkejut mendapat pertanyaan yang begitu tiba-tiba dan sedikit sensitif itu.
“Bukan, Ma” Jawab Azka yang seketika ikut berbaur dengan mereka setelah kembali dari menyimpan hodie yang tadi ia kenakan saat keluar.
“Terus?”
“Temen kerja, Ma. Aku satu tempat kerja sama dia, dan rumahnya juga di daerah sini. Ujung sana”
__ADS_1
“Oh, Mama kira pacar kamu Ka..”
“Kode tu Ka” Celetuk Azika.
“Apa sih? Kalian ngebuat Sasa gak nyaman kalau nanya-nanya hal kayak gini” Kata Azka dengan sedikit kesal.
Sasa balik menatap Azka yang terlihat tidak nyaman dengan pertanyaan yang Ibunya lontarkan pada Sasa, juga jelas sekali merasa tidak enak karena telah membawa Sasa ikut berbaur dengan keluarganya yang belum Sasa kenali.
Sisi lain dari Azka pun yang baru Sasa lihat hari ini adalah, Azka yang tampak seperti anak kecil jika bersama Ibu dan kakaknya. Karena selama ini image yang Azka perlihatkan pada Sasa, adalah dia yang laki-laki dewasa dengan pemikiran luas dan sangat beribawa.
“Maaf ya Nak, kalau kamu jadi merasa tak nyaman..”
“Ti-tidak apa kok Bu”
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Sasa dapat berbaur dengan keluarga Azka. Keluarga Azka yang rukun dan hangat sangat memberikan kenyaman bagi Sasa. Ibunya yang sangat keibuan membuat Sasa merasakan diri sebagai seorang anak, juga Ayah Azka yang tidak beda jauh jahilnya dengan kakak perempuan Azka. Dan satu lagi, anak laki-laki berkisar 10 tahun yang dia ketahui adalah keponakan Azka, sangat manis dan lucu.
Waktu berlalu, dan malam mulai datang. Acara kumpul-kumpul keluarga Azka yang tetiba menarik Sasa kedalamnya, akhirnya berakhir. Orangtua dan kakak perempuan Azka akhirnya pamit untuk pulang.
“Nak, kalau kamu butuh sesuatu, hubungi saja Azka untuk membantumu..”
“Iya, Bu” Jawab Sasa dengan memperlihatkan senyumnya yang manis.
“Sasa anak orang Yah, gimana caranya asal mau dibawa saja” tegur Azika yang tengah menggendong putranya yang sudah tertidur.
“Ayah kan hanya menawarkan..”
“Iya iya.. Sudah sana kalian balik. Ini udah malam, gak kasian sama Revano yang udah ketiduran”
“Ya pokoknya kalau bosan disini, Sasa ikut saja sama Azka”
“Iya Pak..” Jawab Sasa tersenyum.
Keluarga Azka berlalu, Sasa mengantar mereka dengan pandangannya.
“Sa, maaf untuk hari ini..”
Azka mengungkapkan rasa tak enak hatinya, ketika keluarganya telah berlalu. Azka benar-benar merasa tak enak karena membuat Sasa tiba-tiba bergabung dengan keluarganya
Sasa berbalik menatap Azka, yang benar-benar terlihat sungkan padanya.
“Tidak apa Ka” Sasa tersenyum. “Aku malah terimakasih karena udah diajak ikut sama acara keluargamu”
__ADS_1
“Aku tahuu kamu risih dan ngerasa gak enak tadi”
“Ya, awalnya seperti itu. Tapi lama-lama aku jadi menikmati. Aku benar-benar makasih, aku udah lama banget gak ngerasain kekeluargaan seperti ini”
Senyum manis yang tadinya selalu Sasa perlihatkan, berubah menjadi senyuman yang mengandung makna kesedihan sendiri. Ya, Sasa yang sudah tidak memiliki orangtua, jelas merasa terharu setelah merasakan kekeluargaan yang diberikan oleh keluarga Azka tadi. Sasa dulunya hanya tinggal bersama pamannya, namun setelah pamannya memiliki anak ia memutuskan untuk hidup mandiri dan tidak ingin menyusahkan pamannya lagi.
“Karena keluargamu juga, aku jadi melupakan sejenak hal yang terjadi sama aku siang tadi”
Sasa kembali mengingat akan dirinya yang tiba-tiba bertemu dengan Faiq, yang membuatnya terus berusaha menyadarkan dirinya bahwa pertemuan itu bukanlah mimpi.
“Tadi siang? Memangnya apa yang terjadi? Bukannya siang tadi kamu nemenin temanmu?”
“Iya, tapi aku gak nyangka hal lainnya malah terjadi”
Azka menatap Sasa dengan kebingungan, tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh perempuan dengan mata bulat yang mengambil posisi duduk didepannya itu.
“Kamu ingat cinta pertamaku yang pernah aku ceritain sama kamu??”
Ada perasaan tak enak yang mulai menghampiri Azka. Meski Sasa belum bercerita, namun ia sudah bisa menebak hal-hal yang kemungkinan akan Sasa ceritakan.
“Iya, kenapa sama dia?”
“Aku ketemu sama dia hari ini”
Deg.. Hal yang Azka perkirakan ternyata benar. Semenjak Sasa pernah bercerita perihal Faiq, Azka selalu berharap agar Faiq tidak akan muncul lagi di hadapan Sasa sampai nanti wanita yang akhir-akhir ini menghuni hatinya itu, bisa merasakan ketulusan yang selama ini dia berikan. Azka berharap banyak Sasa akan bisa melupakan Faiq dan berbalik merasakan ketulusannya, namun hari ini sepertinya harapan yang dia miliki itu telah runtuh. Sasa telah bertemu kembali dengan laki-laki yang dia cintai selama ini.
“Ke-ketemu dia? Dimana? Kok bisa?”
“Ya, takdir benar-benar rahasia Tuhan. Ternyata, orang yang akan ngegantiin posisi temenku itu adalah Faiq. Aku juga sangat terkejut tadi, aku sampai harus menyadarkan diriku terus kalau ini bukan mimpi”
“Ja-jadi? Kalian?”
“Ya kami ngebahas beberapa hal. Aku jadi tahu alasan dia yang tiba-tiba ngehilang waktu itu” Kata Sasa memperlihatkan senyumannya. Ya, Sasa merasa sedikit lega setelah mengetahui alasan Faiq yang meninggalkannya.
Selama ini, Sasa selalu bingung setiap kali ingatannya menyentuh akan Faiq yang meninggalkannya tanpa pamit dan tanpa alasan, juga tanpa kabar setelahnya. Tapi hari ini, semua kebingungannya itu terjawab dan lagi, perasaan cinta yang dia miliki pada Faiq hingga hari ini, masih saja terbalas. Laki-laki yang dicintainya itu masih membiarkan dirinya bertahta dalam hatinya, masih sama seperti dulu.
Melihat senyum Sasa, Azka semakin menyadari kemungkinan perasaannya yang bisa dirasakan Sasa semakin kecil. Ia semakin tidak memiliki ruang di hati Sasa, ia semakin tidak bisa menggapai wanita yang dicintainya itu.
Azka berusaha memperlihatkan senyumnya dan menyembunyikan luka yang baru saja ia dapatkan. Rasa putus asa dan kecewa juga ia sembunyikan dalam-dalam, tidak ingin Sasa yang mulai asyik bercerita padanya tentang hari ini, merasa tak nyaman jika ia menampakkan apa yang dia rasakan.
Sasa mulai larut bercerita tentang apa yang terjadi siang ini, senyum manis sesekali ikut berbaur dalam ceritanya tatkala Sasa merasakan kebahagiaan saat mengingat apa yang terjadi siang tadi. Sedang Azka, hanya mendengarkan cerita Sasa dan menanggapi seolah perasaannya baik-baik saja sekarang.
__ADS_1