
Aku tersadar, kepalaku berat sekali dan penglihatanku masih sedikit kabur.
"Uhuukkk.." Tenggorokanku rasanya kering sekali.
"Oh, kamu sudah bangun?"
Siapa itu? Aku berusaha melihatnya dengan jelas. Seorang perempuan dengan postur tubuh yang hampir sama denganku, rambutnya sebahu, wajahnya kecil dengan matanya yang bulat terlihat mungil sekali sedang menulis sesuatu disalah satu meja diruangan ini.
Ia berjalan menghampiriku, mengambil termometer dan mengecek suhu tubuhku.
"Demamnya sudah turun.."
"Uhuukk.." Rasanya tenggorokanku sakit dan rasa yang tidak enak lainnya.
"Minum dulu.." Katanya sambil membantuku duduk dan mengarahkan segelas air hangat.
Aku tidak mengenalnya dan belum pernah melihatnya. Dia siapa? Kenapa ada disini? Apa dia mengenalku?
"Bagaimana? Tenggorokanmu sudah agak mendingan?" Tanyanya. Aku hanya mengangguk.
"Mau makan sesuatu? Nanti aku pesankan.."
Aku menggeleng, nafsu makanku hilang dan tenggorokanku terasa pahit sekali.
"Ka kamu siapa?" Tanyaku.
"Aku? Ah, haha iya ya aku belum memperkenalkan diri, kamu pasti bingung.." Katanya dengan tertawa kecil. "Aku Sasa, pacarnya Faiq" Katanya mengajukan tangannya.
"Sa Salwa.." Aku menyalaminya.
"Oh, tanganmu masih sedikit hangat. Kamu harus makan dulu baru minum obat.."
"Aku tidak apa, aku juga sedang tidak lapar.."
"Tapi kamu harus minum obat.."
"Nanti saja.."
"Ah oke, aku juga gak bisa maksa kamu.."
"Kamu pacarnya Faiq? Faiq siapa?"
"Kamu tidak tahu Faiq? dia temannya Fauzi. Hem, kalau kamu liat semalam ada anak laki-laki yang cungkring kering tak berdaging, ada ginsulnya dan terlihat sedikit bodoh itulah Faiq" Jelasnya.
Dia menggambarkan pacarnya dengan buruk.
"Di dia yang tinggal sama Fauzi dirumah ini?"
"Iyaps betul, tapi jelasnya sih bukan tinggal tapi numpang. Dia lagi marahan sama orangtuanya jadi untuk sementara tinggal disini dulu. Ya anak muda istilahnya sekarang dia lagi minggat.."
"Oh iya, semalam aku ketemu sama dia.. Ka kamu kenapa bisa ada disini?"
"Semalam Faiq menjemputku, kamu pingsan dan Fauzi gak tahu harus bagaimana. Dia mau membawamu ke rumah sakit tapi pakaianmu basah semua.."
"Ah iya pakaianku.." Aku memeriksa pakaianku dan sudah berubah menjadi piyama. "I ini..."
"Tenang saja aku kok yang menggantinya., haha Fauzi tidak mungkin membantumu berganti pakaian"
"I itu.." Rasanya aku sedikit malu mengetahui dia mengganti pakaianku.
"Ah itu maaf, soalnya gak mungkin kami membiarkanmu menggunakan baju yang basah sampai pagi.. Maaf kalau aku tidak sopan mengganti paka.."
"Gak.." Aku memotong perkataanya "Harusnya a aku yang minta maaf karena sudah merepotkanmu.."
__ADS_1
"Hehe santai saja, kita sama-sama perempuan" Katanya tersenyum manis sekali "Semalam Fauzi mau membawamu ke Rumah sakit tapi aku melarangnya, aku alumni sekolah menengah kejuruan kesehatan dan sekarang sedang melanjutkan kuliahku di jurusan yang sama, ya meskipun aku belum lulus tapi aku tahu sedikit beberapa penanganan seperti ini. Kamu hanya demam karena terlalu lama kedinginan, suhu tubuhmu juga perlahan turun saat di kompres ya meski sekarang masih agak hangat. Tapi setelah minum obat suhu tubuhmu akan turun lagi" Jelasnya.
"Maaf merepotkanmu dan terimakasih sudah merawatku.."
"Haha tidak apa, lagian aku disini gak membantu banyak semua Fauzi kok yang kerjakan.."
Aku menatapnya bingung.
"Itu.." Dia menunjuk beberapa lembar kertas yang berserakan diatas meja "Semalam aku disini cuman ngerjain laporan saja, hehe. Kuliah jurusan kesehatan sangat banyak laporan yang harus dikerjakan dan harus ditulis tangan, jadi semalam aku disini hanya berjaga untuk memastikan kamu baik-baik saja sambil mengerjakan laporanku, sisanya Fauzi semua yang lakukan" Jelasnya. "Fauzi mengganti kompresmu dengan rutin dan mengecek suhu tubuhmu secara berkala, memperbaiki selimutmu untuk memastikan kamu tidak kedinginan. Dia pacarable banget, jadi iri.. Haha" Tambahnya dengan tertawa. Aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Tapi tetap saja aku harus makasih.."
"Sudah sudah, tidak usah sungkan.."
"Jadi sekarang Fauzi mana.."
"Ke kampus, dia ada kuliah pagi hari ini" Dia meraih ponselnya mengecek waktu. "Hem, sebentar lagi dia pulang.."
"Kamu? Kamu gak kuliah?"
"Gak, aku cuman harus nyelesaiin laporanku hari ini dan memeriksakannya ke asisten nanti sore.."
"Oh maaf, aku jadi menganggumu.."
"Tidak apa, sedikit lagi selesai. Aku juga butuh waktu untuk meregangnkan otot-otorku.. Heeemmmmm" Katanya sambil mengangkat kedua tangannya berusaha meregangkan otot-ototnya yang sepertinya sedikit kaku.
"Sa, aku bisa masuk?" Kudengar suara Fauzi dari balik pintu.
"Ya masuk aja, Lu ngapain pake izin segala" Serunya dengan nada yang sedikit tinggi.
"Ya gak, setidaknya gue izin dulu.." Kata Fauzi melangkah masuk.
"Eleh.. yang punya rumah juga elu, ngapa pake harus izin segala.."
"Ck.. Waspadaan Lu patut diacungi jempol" Katanya menaikkan jempolnya.
"Salwa, bagaimana perasaannmu?" Tanya Fauzi penuh perhatian, Fauzi benar-benar kembali seperti sebelumnya.
"Aku sudah baikan.." Jawabku tersenyum.
"Ini aku bawakan bubur ayam, kamu makan dulu.."
"Lah gue?" Celetuk Sasa.
"Nih, Faiq bilang Lu doyan nasi kuning jadi gue beliin nasi kuning.."
"Elah, Lu ngapa jadi beliin nasi kuning, kenapa gak sama aja sama punya Salwa.."
"Lah pacar Lu bilangnya Lu doyannya sama nasi kuning.."
"Bukan doyan, tapi karena yang jualan nasi kuning yang paling deket dari Kosan gue.."
"Ya mana gue tahu, jadi Lu mau makan bubur juga? Gue beliin.."
"Gak gak.. Maksud gue daripada Lu capek-capek beli di dua tempat kan bisa makanannya disamain saja sama Salwa, jadi Lu gak perlu repot-repot"
"Gak repot, penjual bubur sama nasi kuningnya juga sampingan.."
"Ck, nyesel gue udah merasa ngerepotin Lu, lagian Salwa ini demam bukannya sakit masalah pencernaan pake Lu ngasih makan bubur ke dia.."
"Lah kenapa? Salwa doyan makan bubur ayam.."
"Oh doyan? Hehe gue kiranya Lu beliin dia bubur karena dia lagi sakit.."
__ADS_1
"Gak sakit juga Salwa doyannya makan bubur ayam.. Yaudah makan gih, gue ambilin air dulu.." Kata Fauzi berlalu.
Mendengar percakapan Fauzi dan Sasa, sepertinya mereka cukup akrab, sesekali aku ingin tertawa melihatnya.
Fauzi sudah kembali, Fauzi yang sempat hilang sudah kembali lagi. Fauzi yang memperhatikanku dengan baik, bersikap hangat terhadapku dan memberiku rasa aman berada didekatnya.
Fauzi kembali membawa dua gelas air.
"Faiq kemana?" Tanya Sasa.
"Masih dikampus, masih ada yang harus dia selesaiin katanya"
"Habis makan gue balik dulu deh, udah kucel begini gue.."
"Lah ngapa mau balik sih?"
"Lu gak liat gue kucel bau amis kayak gini?"
"Lu mau ninggalin gue berdua sama Salwa disni.."
"Ck, iya iya gue balik kalau Faiq sudah disini.. Nyusahin Lu.."
"Pacar Lu juga nyusahin, jadi Lu tanggung jawab.."
"Kebanyakan main sama Faiq Lu, jadi itung-itungan begini kan sekarang.."
"Udah udah... makan gih, Lu makan sambil ngomel bisa keselek.."
"Ck..." Sasa hanya mendengus kesal.
"Setelah makan kamu harus minum obat, biar perasaanmu bisa membaik.. Nanti aku kompres lagi" Kata Fauzi penuh perhatian.
"Apaan Lu mau kompres lagi, badannya udah gak panas geblek cuman anget-anget dikit doang, abis minum obat suhu tubuhnya bakalan normal. Gue jadi kasian sama Salwa, punya pacar perhatian tapi gebleknya lumayan tinggi.."
"Ya kan gue gak tau Sa.." Jawab Fauzi melas.
"Beliin madu aja, itu bagus.."
"Oke.. kalau gitu gue beli dulu.. Sayang aku tinggal sebentar ya.." Kata Fauzi berlalu.
Aku hanya mengangguk sambil tersnyum.
"Salwa maaf, maaf kalau cara bicaraku sedikit kasar pada Fauzi.. Aku gak.."
"Gak apa, aku tahu kalian berbicara seperti itu karena sudah sangat akrab"
Sasa tersenyum kecil. "Aku banyak hutang budi sama Fauzi, dari dia yang membantu Faiq sampai dia yang ngasih aku support terus buat hubungank sama Faiq padahal hubungan kalian juga sempat merenggang.."
"Jangan dipikirkan, Fauzi tidak pernah memikirkan hal-hal seperti hutang budi seseorang sama dia.."
Sasa tersenyum manis, mendekatiku lalu memelukku. "Kalau ada sesuatu kamu bisa cerita sama aku juga, aku juga mau melepas sedikit beban Fauzi melalui pacar kesayangannya"
Aku balas pelukan Sasa "Iya.." Jawabku tersenyum.
Ternyata dibalik sisi ceria dan ribut Sasa, ada sisi lembutnya yang manis seperti ini.
"Tapi.." Sasa melepas pelukannya. "Pacarmu itu memang kadang-kadang sedikit gebek kok.."
"Haha bukan kadang-kadang sih, Ozi emang kayak gitu apalagi tingkat pelupanya dia luarbiasa.."
"Haha iya ya, Fauzi pelupa.."
Suara tawa kami memenuhi ruangan.
__ADS_1