Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Berakhir.


__ADS_3

Sasa berlari meninggalkan pesta yang dihuni oleh orang-orang elit kalangan atas. Sasa tidak lagi bisa menahan perasaan dan airmatanya, sehingga ia butuh tempat dimana tidak ada orang yang melihatnya agar dia bisa menumpahkan semua rasa sakit dan rasa sesak yang dia rasakan. Sasa sudah menahan diri semampunya saat berada di sekitar teman Faiq, untuk menjaga harga dirinya yang sedang tercoreng-coreng disana.


“Iya Sa, tempat ini emang gak cocok untuk kamu, disana bukan pesta yang cocok untuk orang sejenismu..” Gumam Sasa yang ditujukan untuk dirinya sendiri dan menyeka dengan kasar airmatanya.


Apa yang dikatakan teman-teman Faiq terus saja terngiang-ngiang ditelinganya, seolah memperjelas akan perbedaan status sosial yang mereka miliki. Hal yang semakin membuat Sasa merasa rendah diri.


Sasa kembali mengingat, dimana dia pernah merasakan hal yang sama dulunya. Dia yang merasa tidak pantas bersama Faiq karena Faiq adalah orang yang berada, sedang dia hanya perempuan yatim piatu yang harus berjuang dengan segenap tenaga untuk mendapat kehidupan yang lebih baik.


Faiq adalah anak yang lahir dengan sendok emas di mulutnya, dia tidak harus merasakan banyak kepahitan dalam mengarungi kehidupannya.


Walau begitu, saat Faiq memintanya untuk menjadi kekasihnya dulu, ia tetap bersedia setelah melewati banyak pertimbangan. Faiq yang pekerja keras waktu itu untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang arsitek, membuat Sasa percaya bahwa mereka sama-sama berjuang untuk masa depan mereka, membuat Sasa merasa tidak ada perbedaan status sosial yang jauh diantara mereka. Belum lagi, teman-teman Faiq yang dulu, tidak ada yang memandang seseorang dengan sesuka hatinya, bahkan ada yang sangat mendukung hubungannya bersama Faiq. Ya, dia adalah Fauzi.


Namun sekarang, Faiq telah bertransformasi menjadi laki-laki yang hebat, lingkungannya pun secara otomatis berubah. Faiq menjadi laki-laki golongan elit, yang pembicaraannya selalu menyangkut bisnis dan keuntungan. Ya, Sasa yang sekarang jelas lebih baik dari dia yang dulu. Dia adalah seorang yang cekatan di bidangnya, menjadi perawat yang bertutur lembut kepada pasien-pasien dengan pengorbanan yang luar biasa. Meski begitu, itu tetap saja tidak bisa jika di sandingkan dengan laki-laki sehebat Faiq.


Sasa terus berjalan, entah kemana langkahnya mengarah. Rasa sakit yang dia rasakan tidak lagi bisa membuatnya memiliki tujuan saat ini, dia hanya berjalan untuk menjauhi pesta yang di selenggarakan para kalangan elit disana.


Bukan hanya rasa sakit akibat harga diri yang dipandang remeh oleh teman-teman Faiq. Rasa sakit mengetahui satu kebohongan dari Faiq juga yang membuatnya semakin yakin untuk meninggalkan pesta itu. Bahkan sekarang, bukan hanya pesta itu yang ingin dia tinggalkan, tapi juga Faiq.


Semua yang dia lihat dan dengar malam ini, memberinya kesadaran bahwa dia bukanlah orang yang sepadan dengan Faiq, dan bukan orang yang pantas untuk Faiq. Untuk apa perasaan cinta itu, jika rasa tertekan juga mengiringi. Ketika ia memilih untuk hidup bersama Faiq di kemudian hari, itu bukan hanya menyangkut cinta saja yang mereka perjuangkan. Tapi status sosial dan pandangan orang-orang juga pasti akan mempengaruhinya.


“Sasa...”


Sasa menoleh, meski penglihatannya tidak begitu jelas akibat genangan airmata di pelupuk matanya, namun Sasa masih bisa mengenali suara laki-laki yang tidak lain adalah Faiq. Samar-samar ia melihat Faiq yang berlari menuju arahnya.


Sasa kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya, tanpa peduli dengan Faiq yang mengejarnya di belakang. Airmatanya terus mengalir meski sudah ia seka berkali-kali.


“Sasa...” Panggil Faiq dengan menggapai tangan Sasa.


Hanya dengan satu kali tarikan dari Faiq, tubuh Sasa yang terbilang kecil langsung berbalik menghadap Faiq.


“Kamu mau kemana? Katanya mau ke toilet”


“Aku mau pulang..”


“Sayang.. Maafin teman-temanku, mereka gak bermaksud kayak gitu”


“Kenapa kamu harus minta maaf atas nama teman-temanmu, apa yang mereka bilang itu benar”


“Gak, kata-kata mereka keterlaluan, mereka memandang orang-orang dari satu sudut saja”


“Itu hal wajar untuk kalian yang bermain di dunia bisnis. Duniamu memang seperti itu kan, segala sesuatu yang kamu lakukan, kamu harus mempertimbangkan keuntungan yang kamu dapat. Termasuk pasangan..”


“Gak seperti itu..”


“Tapi faktanya seperti itu Faiq. teman-temanmu menyadarkan aku, mereka ngebuat mataku terbuka lebar sampai menyadari bahwa aku bukan orang yang pantas buat kamu. Perbedaan status sosial kita terlalu jauh”


“Peduli apa sama kata teman-temanku, kita tidak seharusnya menjadikan kata-kata mereka sebagai patokan. Kita ini orang yang saling mencintai Sasa, jadi kenapa kita harus seperti ini hanya karena omongan orang-orang??”


“Cinta?? Apa gunanya cinta kalau lingkungan tidak mendukung?? Perasaan cintaku ini tidak ada apa-apanya dibandingkan harga diriku Faiq. Sebesar apapun rasa cinta yang aku miliki buat kamu, tetap tidak ada artinya jika logikaku sudah gak ngijinin aku buat melanjutkan ini semua. Kita sampai disini saja”


Kedua bola mata Faiq refleks melebar mendengar apa yang Sasa katakan.


“Kamu ini bicara apa sih, Sa?”

__ADS_1


“Aku udah gak bisa lagi mempertahankan hubungan kita, Faiq. kita adalah dua orang yang sangat berbeda, kamu dengan statusmu yang seperti itu, dan aku..”


“Dan kamu?? Kamu kenapa?? Apa bedanya aku sama kamu. Kenapa kamu jadi peduli dengan omongan orang, mereka memang seperti itu, menilai sesuatu semaunya. Kita gak akan bisa menutup mulut mereka agar berhenti berkomentar, maka dari itu tutup telinga dan abaikan kata-kata mereka. Kita ini saling mencintai, dan gak ada hubungannya sama mereka”


“Faiq, kedepannya kamu mau bagaimana sama aku dengan perasaan cintamu itu?”


“Aku mau hidup sama kamu, menikah sama kamu dan bahagia sama kamu”


“Itu tidak mungkin”


“Kenapa tidak mungkin? Kenapa tidak mungkin kalau kita saling mencintai”


“Menikah itu bukan hanya perihal saling mencintai saja. Saat aku menjadi istrimu nanti, mereka akan mencela aku dengan mengatakan kalau aku ini perempuan yang tidak tahu malu. Mereka akan menatapku dengan tatapannya yang menakutkan, aku akan tertekan. Dan kamu?? Kamu tidak mungkin meninggalkan apa yang kamu punya sekarang, sehingga sekarang atau berapa puluh tahun kedepannya, kalian akan tetap berhubungan karena seperti itulah dunia kalian. Aku tidak akan bahagia hanya karena kamu mencintaiku”


“Gak, aku bisa meninggalkan semuanya kalau seperti itu yang membuatmu bahagia”


“Apa kamu pernah hidup susah?? Apa kamu pernah merasa kelaparan?? Saat kamu tinggal di rumah Fauzi dulu, kamu terus-terusan mengeluh sama aku kan, kamu terus-terusan merasa lelah dan susah tidur. Itu di waktu kamu masih menikmati fasilitas yang Ayahmu berikan, apalagi sekarang saat kamu sudah punya segalanya dan hidup nyaman, apa kamu pikir kamu bisa melepaskan segalanya hanya untuk aku??”


Faiq terdiam sejenak.


“Lihat, sekarang kamu ragu kan??”


“Tapi Sa..”


“Sudahlah Faiq, aku sudah tidak tahan lagi. Bukan hanya karena status sosial kita, kamu juga udah gak jujur sama aku”


“Jujur? Tentang apa lagi? Aku sudah bilang semuanya”


Faiq sedikit tersentak, ia lupa perihal Alesha dan hanya fokus dengan apa yang dikatakan teman-temannya tadi perihal Sasa.


“Kamu bilang, kamu gak pernah cinta sama perempuan lain selain aku, tapi nyatanya?? Aku pikir kamu sudah jujur tentang semuanya Faiq, tapi ternyata gak. Kalau temanmu gak bilang masalah Alesha, kamu pasti gak bakal cerita sama aku”


“Bukan begitu, Sa. Hubunganku dengan Alesha itu hanya dasar bisnis, tidak lebih” Jelas Faiq. Dia tidak mungkin mengatakan kalau dia menggunakan Alesha sebagai umpan untuk mendapatkan sebuah persetujuan, apalagi bercerita perihal hal kotor yang dia gunakan dalam memanfaatkan Alesha.


“Bisnis juga?? Apa setiap bisnismu itu butuh perempuan dan hubungan palsu? Pernikahanmu karena bisnis, dan kamu pacaran karena bisnis juga? Jadi bagaimana kedepannya? Apakah saat kita sudah menikah, kamu harus menyelipkan perempuan lain dengan alasan bisnis?”


“Gak, Sa. Aku udah gak seperti itu lagi sekarang”


“Terserah apa katamu, duniamu memang berbeda dengan duniaku. Apa yang kamu lakukan di hidupmu, terlalu menakutkan bagiku. Aku gak akan bisa hidup hanya karena kamu mencintaiku, tapi tertekan dengan banyak hal”


“Sa, sekarang kamu hanya sedang marah jadi bicara seperti ini”


“Gak, Faiq. Sekarang aku dalam keadaan sadar, kita memang harus berakhir. Aku gak bisa ngelanjutin hubungan ini sama kamu”


“Gak, aku gak mau pisah. Kamu bilang, kamu cinta sama aku tapi kenapa kamu seperti ini?”


“Tidak ada artinya perasaan cintaku, Faiq. itu hanya akan semakin menyakitiku kalau aku memaksa untuk melanjutkannya. Kita sampai disini saja”


“Gak, aku gak mau..”


Sasa tidak peduli dengan apa yang dikatakan Faiq, ia meneruskan langkahnya.


“Sa, kamu gak bisa lakuin ini sama aku..”

__ADS_1


Faiq masih berusaha mengejar Sasa, ia meraih pergelangan tangan Sasa dan menggenggamnya dengan kuat.


“Kamu nyakitin aku, Faiq” Kata Sasa dengan airmatanya yang kembali tumpah dengan deras. “Perasaan cintamu itu menyakitku, apa yang ada di hidupmu itu bukan sesuatu yang bisa aku masuki. Aku gak akan kuat menjalani hidup sama kamu dengan perasaan tertekan”


Sasa menunduk menyeka airmatanya yang semakin deras.


“Ku mohon, kita selesaikan saja ini. Aku takut hidupku akan menjadi berat lagi kalau aku melanjutkan hidup sama kamu. Aku gak bisa kayak gini”


Airmata Faiq perlahan menetes, ia berdiri mematung memandangi wajah wanita yang dicintainya dengan penuh airmata. Rasanya sakit sekali melihat Sasa menangis tersedu-sedu seperti itu. Faiq jelas melihat, bagaimana Sasa ketakutan saat ini.


“Apa kehadiranku sangat menyakitimu, Sa? Apa hidupku sangat berbeda jauh dengan hidupmu sampai kamu takut masuk kedalam duniaku??”


Sekarang tidak hanya airmata Sasa yang mengalir deras, dua bola mata Faiq pun kini telah banjir.


“Apa perasaan cintaku tidak cukup untuk membuatmu tenang? Aku tidak mau pisah dari kamu Sa, aku mencintaimu. Tidak bisa kah kamu menahan sedikit saja tekanan dari apa yang ada di kehidupanku? Tidak mau kah kamu berjuang melewatinya bersama-sama?”


Sasa menggeleng. Sasa yang hidup sedari kecil tanpa orangtua, sangat merasakan bagaimana pahitnya kehidupan. Dia yang kini bangkit dengan segenap kemampuannya, memiliki rasa khawatir sendiri untuk bisa bersama Faiq.


Sasa sadar, tekanan hidup yang akan dia hadapi jika memilih hidup sama Faiq akan sangat berat. Bukan hanya Faiq yang sudah dua kali ia dapati tak jujur, dan juga cara Faiq menjalani hubungan hanya karena bisnis. Tapi juga, lingkungan Faiq yang jelas berbeda darinya dan apa yang dia lihat tadi bahwa orang-orang disekitar Faiq sangat mudah memandang orang lain dengan remeh jika mereka tidak berada dalam level yang sama. Bukan hanya teman, bahkan Sasa merasakan itu dari tatapan Ayah Faiq tadi..


“Aku gak bisa, aku gak siap. Aku takut sama kehidupanmu”


Faiq masih berharap, Sasa akan merubah keputusannya dan masih berusaha berjuang bersamanya. Namun sepertinya, Sasa sudah tidak bisa lagi mempertimbangkan ajakannya dan itu menyadarkannya bahwa dunia mereka memang sangat berbeda.


“Aku mencintaimu Sa, tapi kalau itu menyakitimu.. Aku.. Aku...”


Faiq tidak melanjutkan ucapannya, ia berbalik dan berjalan menjauh dari Sasa.


Perasaan kedua insan yang sama remuknya, mereka yang saat ini saling menyakiti satu sama lain meski mereka memiliki perasaan yang sama. Status sosial yang terlampau jauh benar-benar telah memisahkan mereka. Cinta yang keduanya junjung setinggi langit selama bertahun-tahun, rupanya tidak bisa menembus perbedaan kehidupan yang signifikan diantara mereka. Menyerah, seolah menjadi pilihan yang terbaik bagi mereka.


Faiq yang berjalan meninggalkan Sasa lebih dulu, terhenti. Dia kembali berpikir, apakah ini akhir dari kisah cintanya? Perasaannya sangat tidak mengizinkannya untuk melanjutkan langkahnya menjauh dari Sasa, meski logikanya memilih untuk meninggalkan Sasa demi melepas perempuan yang dicintainya itu dari tekanan akibat status sosial yang terlampau jauh.


Sejenak Faiq berpikir, ia tidak mau menyiksa Sasa dengan menahan perempuan itu di sisinya, tapi perasaan cinta yang masih menggebu-gebu membuatnya menjadi sedikit egois dan menginginkan Sasa kembali.


“Gak, aku akan menyesal kalau melepas Sasa, aku akan menyesal. Harusnya aku berusaha membuatnya nyaman, bukan malah menyerah dan membiarkannya pergi. Gak, aku gak bisa melepas Sasa”


Faiq berbalik, dan kembali berlari menuju tempat dimana dia meninggalkan Sasa sebelumnya, namun saat tiba disana dia tidak lagi menemui sosok wanita yang di carinya.


Faiq beberapa kali memanggil Sasa, berteriak sembari berjalan disekitar sana dengan harapan ia masih bisa mendapatkan Sasa disana.


Tidak ada sahutan dari panggilannya, dan tidak ada satu orangpun disana. Membuat Faiq merubah haluannya, berlari kembali menuju gedung tempat diadakannya pesta dimana mobilnya terparkir disana.


Dengan buru-buru, Faiq membawa mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi. Sesekali ia menoleh ke kanan dan kekiri, kiranya ia bisa mendapatkan sosok Sasa disudut jalan.


Faiq membuat laju mobilnya semakin tinggi, dia tidak sabar untuk bisa tiba di rumah Sasa dan kembali menemui Sasa untuk meminta pada perempuan yang dicintainya itu untuk kembali melanjutkan hubungan mereka.


“Aku akan berusaha meruntuhkan semua yang menjadi ketakutanmu Sa, aku akan membuatmu merasa nyaman hidup sama aku dan tanpa takut dengan kehidupanku”


Mobil yang melaju dengan cepat, membuat Faiq tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk bisa tiba dirumah Sasa. Dengan buru-buru Faiq melangkahkan kakinya memasuki halaman rumah Sasa dan mengetuk daun pintu itu berkali-kali, namun tidak ada jawaban dari Sasa.


Tidak mendapat respon meski sudah mengetuk berkali-kali, membuat Faiq meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Sasa. Tapi semuanya sama saja, Faiq pun tidak mendapat balasan dari panggilannya. Bahkan nomor Sasa tidak lagi aktif sekarang.


Rasa frustasi menghampiri Faiq, ia duduk tersungkur di depan pintu rumah Sasa, dengan airmata yang mengalir deras. Ia mengutuk dirinya sendiri, dan rambut yang tak bersalah pun menjadi sasaran Faiq untuk melepaskan perasaannya.

__ADS_1


__ADS_2