Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Belajar dari Pertengkaran..


__ADS_3

Mataku semakin membengkak, hidungku memerah dan suaraku masih saja parau.


Aku melangkah sambil menekan-nekan mataku menuju pintu yang sedari tadi diketuk.


"Semoga gak terlalu keliatan bengkaknya" pikirku..



Pintu kembali diketuk..


"Ya siapa?" kataku sambil membuka pintu.



Aku terdiam sejenak, kulihat seseorang yang sangat kukenal berdiri mematung dengan ekspresi wajahnya yang sedang tidak baik sambil menunduk.



"Apa yang dia lakukan disini?" Pikirku.


Airmataku kembali mulai menggenang, perlahan menetes dipipiku.



"Maaf..." Katanya seketika aku membuka pintu.



Aku hanya terdiam, menatapnya dengan lekat.



"Maafkan aku, maafkan aku membuatmu menangis" Sambungnya lagi dan menunduk.



Aku berdiri diam saja melihatnya, airmataku semakin deras.



"Aku tidak cukup baik untuk bisa diandalkan, aku tidak cukup bisa membuatmu bahagia" Katanya dengan suara mulai serak, sepertinya ia akan menyusulku untuk menangis.



"Ozii... Huhuhuhu" Tangisku menjadi pecah.



Ia yang sedari tadi berdiri mematung menunduk seketika mengangkat wajahnya mendengarku menangis.



"Maafkan aku Salwa" katanya sambil menghampiri dan memelukku.



Aku hanya terus menangis, semakin keras suaraku menangis, kutumpahkan semua airmata yang sedari tadi menganggu dipelupuk mataku. Kutuangkan semua perasaanku dengan menangis sejadi-jadinya dipelukan Fauzi.



"Salwa maafkan aku"


"Maafkan aku.."


Berulang-ulang Fauzi meminta maaf, entah sudah berapa kali ia menyebutkan kata maaf setelah setibanya didepanku. semakin erat pelukannya, semakin aku menangis sejadi-jadinya.



"Iya.. aku salah, aku salah.. Maafkan aku, aku Salah" katanya berulang-ulang



"Tolong jangan menangis lagi" pintanya..



Perlahan aku tersedu-sedu, menahan tangisku, membuat nafasku menjadi sesak.



"Ah, tidak.. Kalau masih ingin menangis, menangis saja.. Jangan ditahan.." serunya kembali setelah ia melihatku sedikit kesusahan menahan tangisku.



"Huaaaaa... Ozii.. Huaaaaa" Aku kembali menangis sejadi-jadinya.



"Iya, aku disini.. Maafkan aku membuatmu seperti ini.." Pelukannya semakin erat dan airmatanya mulai menetes.



Aku tidak tau, berapa lama aku akan menangis dipelukannya. Baju kaos abu-abu muda yang dikenakan Fauzi menjadi basah karena airmataku. Aku tidak ingin melepas pelukanku dan terus ingin menangis saja dipelukan Fauzi.



Entah apa yang aku tangisi. Apakah rasa legaku karena melihat Fauzi sekarang ada didepanku, ataukah rasa haruku mengingat Fauzi yang tadinya marah tapi tiba-tiba saja muncul didepan rumahku dengan wajahnya yang penuh rasa bersalah dan meminta maaf berulang-ulang padaku, juga mungkin karena aku ikut sakit melihat Fauzi yang seperti orang bodoh datang kerumahku meminta maaf berkali-kali sedangkan pertengkaran ini karena keegoisanku, yang bahkan Fauzipun ikut menangis. Ah entahlah.. Intinya aku hanya ingin menangis, melepaskan semua sesakku yang sedari tadi, melepaskan semua sakitku dan pikiranku tentang rasa takutku akan kehilangan Fauzi. Aku hanya ingin terus menangis dipelukan Fauzi hingga perasaanku menjadi lega.



Selang beberapa waktu, Tangisku mulai mereda.. Pelukan Fauzi yang sedari tadi erat mulai merenggang.


"Maafkan salwa" kataku yang mulai berhenti menangis.



"Gak sayang, Salwa gak salah.. Aku yang salah sayang" katanya sambil mengelus-ngelus rambutku.



"Ozi gak marah lagi kan?" tanyaku dengan sedikit terisak-isak sambil mengangkat kepalaku menatapnya.


__ADS_1


Ia tersenyum.


"Emang aku boleh marah sama Salwa?"


tanyanya.



"Ya bolehlah, kalau aku salah ya kamu boleh marah" Kataku kembali meletakkan kepalaku di dadanya yang bidang dengan tanganku yang masih melingkar di pinggangnya.



"Gak.. Aku gak boleh marah sama Salwa, kalau aku marah, berarti rasa sayangku ke Salwa kalah sama amarahku. Dan aku gak suka itu" katanya dengan jemarinya yang sedari tadi mengelus-elus rambutku dengan lembut.



Aku melepas pelukanku, kutatap kembali Fauzi dengan sedikit mendongkak karena Fauzi yang lebih tinggi sekitar 15cm dariku.


Fauzi mengusap airmataku yang masih menetes perlahan-lahan. Lalu kembali ia memelukku.



"Tenangkan perasaanmu" katanya sambil meletakkan tangannya dikepalaku dan perlahan mengusap rambutku.



Aku mulai tenang, nafasku yang sedari tadi tidak teratur hingga terasa sesak karena menangis mulai terasa lega dan normal. Yah, aku nyaman berada dipelukan Fauzi, detak jantung Fauzi membuatku lebih tenang.



"Udah?" Tanyanya..



Aku hanya mengangguk tapi memperat pelukanku dipinggangnya.



"Sana ganti baju, aku tungguin disini.."



"Hem?" kuangkat kepalaku menatapnya.


"untuk?" tanyaku bingung.



"Emang kamu mau pake baju tidur ke Gallerynya?" tanyanya lagi.



Aku terdiam sejenak sambil tetap menatapnya lalu kembali meletakkan kepalaku didadanya yang bidang.



"Gak.." Jawabku singkat.




"Mau begini saja.."Jawabku dengan nada sedikit manja



"Mau sampai kapan?"



Aku terdiam saja



"Ini udah kayak upacara aja berdiri terus" Tanyanya sambil terus memainkan rambutku.



"Emang upacara bisa sambil pelukan?" tanyaku tanpa melihat kearahnya.



Ia tertawa kecil..



"Kamu kalau kangen kan bisa tinggal bilang sayang, bukannya malah marah-marah gak jelas kayak tadi" Katanya dengan sedikit tertawa.



"siapa juga yang bilang kangen?" Jawabku dengan nada sedikit cuek tanpa melihatnya.



"Jadi gak kangen nih?" tanyanya menggodaku.



"Gak" Jawabku singkat



"Serius?"



"Iya"



"Beneran"


__ADS_1


"Iya.."



"Hemm..." Ia menghela nafas.


"Siapa sih ini yang katanya gak kangen tapi sedari tadi pelukannya gak mau dilepas, malah makin erat" Katanya menggodaku.



Kuangkat kepalaku menatapnya. Ia tersenyum.


Kulepas pelukanku, namun seketika ia kembali menarikku kedalam pelukannya.



"Peluk aja lagi, kalau Salwa gak kangen, biar aku aja yang kangen" Katanya sambil memelukku dengan erat dan mengecup rambutku.



Aku hanya terdiam dan kembali melingkarkan tanganku dipinggangnya.



"Maafkan aku sayang, maaf udah ngebuat kamu menangis. Padahal aku udah janji gak bakal ngebuat kamu nangis, maaf karena aku udah ingkar janji"



Aku hanya terdiam.



"Seharusnya aku bisa nenangin kamu kalau lagi kesal, bukannya malah balik marah" lanjutnya.


"Harusnya aku bisa lebih peka sama perasaanku kamu, harusnya aku lebih cepat ngerti maunya kamu" Sambungnya lagi.



Aku melepas pelukanku. Kutatapnya lekat..



"Gak.."Jawabku tersenyum.



Aku melangkah menuju sofa, yah kurasa kakiku mulai keram karena berdiri sejak tadi.


Fauzi mengikutiku dan duduk disampingku.


Kusandarkan kepalaku dipundaknya, kuraih tangannya dan ku genggam erat.



"Aku yang egois selama ini, selalu memaksa Ozi untuk menuruti semua keinginanku" jelasku.


"Harusnya aku bisa lebih memahami Ozi, bisa lebih mengerti dan ngasih kamu waktu buat pribadimu" Jelasku lagi sambil mengangkat kepalaku menatapnya.



Fauzi tersenyum. Aku balas tersenyum.



"Terimakasih sudah mau memahamiku" Katanya sambil balik menggenggam tanganku lebih erat.



Kembali kusandarkan kepalaku di bahunya.



"Aku jahat selama ini.."



"Ngomong apa sih kamu sayang.."



"Tapi nyatanya aku emang jahat, aku selalu maksain kamu buat nurutin kemauanku" jelasku



"Gak lah, itu juga bukan karena kamu maksa, tapi karena aku juga senang bisa nurutin maunya kamu.." jawabnya dengan tersenyum



Aku senang... selama setahun aku pacaran dengan Fauzi, ini adalah kali pertama kami bertengkar separah ini namun bisa cepat terselesaikan.


Aku mulai belajar sesuatu hal dari pertengkaran ini, bahwa selama ini aku terlalu mengekang Fauzi dan tidak memberinya waktu untuk pribadinya sendiri. Aku sedikit menyesal mengingat apa yang sudah kulakukan terhadap Fauzi selama ini.



Aku perlahan menyadari kesalahanku dan berniat untuk tidak lagi egois pada Fauzi. Aku tahu, tidak akan mudah bagiku untuk bisa terbiasa tidak berlaku semauku terhadap Fauzi, mengingat selama ini apa yang aku inginkan selalu Fauzi turuti. Tapi aku akan belajar dan berusaha untuk itu.. Karena akan ada pertengkaran seperti ini atau mungkin lebih para lagi jika aku tidak mencoba mengubah perilakuku. Aku sadar, Fauzi punya dunianya sendiri. Selain basket, Memotret adalah keinginan baru yang ingin Fauzi lakukan. Sebagai kekasih aku harusnya mendukungnya, bukannya malah menghalangi-halangi keinginan dan bakatnya.


.


.


.


.


Terimakasih..


Thankyou..


Khamsamida


Arigatto 🙏


😊😊

__ADS_1


__ADS_2