
Ada perasaan lega setelah Fauzi menyampaikan semua rencananya pada Ibunya Salwa. Sebelumnya yang dia khawatirkan dari rencannya adalah ketika orangtua Salwa marah karena dia yang akan meninggalkan putri mereka dan tidak memberi izin lagi untuk mnikahi putri mereka di masa yang akan datang. Namun mendengar jawaban positif dari Ibu Salwa membuat Fauzi memantapkan hati untuk melanjutkan apa yang sudah dia pikirkan.
Fauzi akhirnya menelfon Ibunya dan membicarakan masalah langkah apa yang akan dia ambil.
"Ibu.." Panggil Fauzi saat telfonnya terhubung.
"Iya kenapa nak? Tumben nelfon malam-malam begini??"
"Ibu, disitu ada Ayah??"
"Kamu tuh ya, nelfon Ibu tapi nyariin Ayah. Ibu berasa di PHPin, kenapa gak nelfon Ayahmu kalau kamu mau bicaranya sama dia.."
Selama Fauzi tidak tinggal bersama orangtuanya, orangtuanya sering sekali seperti ini. Fauzi sadar, bahwa itu adalah bentuk rindu dari orangtuanya.
"Bu bukannya gitu Bu.. Aku cuman mau nyampaiin sesuatu sama Ibu dan Ayah, jadi kalau Ayah ada dirumah kan aku bisa ngomongnya sekali saja.."
"Yasudah, tunggu Ibu panggil ayahmu dulu.."
Fauzi mendengar langkah kaki Ibunya dari seberang telfon.
"Kenapa Nak??" Tanya Ayahnya. Sepertinya Ayah dan ibunya sudah berada diruangan yang sama sekarang.
"Ayah, Ibu, Fauzi mau ngomong sesuatu.."
"Mau ngomong apa??"
"Fauzi mau mengakhiri hubungan Fauzi sama Salwa.."
"Haahh?? Kenapa???" Tanya Ayahnya terkejut.
"Kamu kenapa mau pisah sama mantu Ibu??" Ibunya lebih terkejut lagi.
"Kamu ada masalah apa Nak? Kalau ada masalah itu dibicarakan baik-baik, bukannya langsung mengakhiri hubungan seperti ini.."
"Iya, kamu ini sudah dewasa, kenapa main ambil keputusan begitu sih??"
"Kamu cari solusinya dulu baru ambil keputusan seperti ini..."
"Semua masalah itu bisa dibicarakan baik-baik Nak..."
Fauzi sudah tidak mendapat bagian untuk berbicara, orangtuanya sudah sibuk berceramah bahkan sebelum Fauzi menjelaskan alasannya.
__ADS_1
"Kamu ini, ganteng gak, pinter gak, kaya gak, buluk iyaa.. Udah dapet cewek sebaik dan secantik Salwa masih juga sok-sokan minta putus. Cermin yang Ibumu belikan disitu apa belum cukup besar???"
"Ck, aku ini sebenarnya anak Ayah apa bukan sih???" Gerutu Fauzi dalam hati.
"Ayah, itu anak kita. Kenapa dibilangin begitu..???"
"Ya habis anak kita itu gak tahu bersyukur sekali sih Bu.. Ibu ngidam apa waktu hamilin dia kenapa lahirnya jadi songong begini??"
"Lah Ayah lupa? Kan yang ngidam dulu itu Ayah..."
Lagi-lagi Ayah dan Ibunya berdebat tanpa memperdulikan Fauzi.
"Oh iya ya.. Dulu Ayah makan apa sampai anak kita begini???"
"Ayah kebanyakan makan micin dulu, makanya anak kita seperti ini..."
"Ayaahh Ibuuu.. Kalau Ayah sama Ibu masih seru-seruan berdebat yaudah Fauzi matiin dulu telfonnya, berasa kayak obat nyamuk aja deh kalau begini..."
"Ah iya iyaa.. Jadi kamu kenapa mau pisah sama Salwa nak?? Kalian ada masalah apa??" Tanya Ibunya mulai serius.
"Gak ada masalah besar kok Bu.. Mungkin karena kami sedang jarak jauh saat ini jadi hal-hal kecil selalu jadi masalah buat kami. Aku sama Salwa sering sekali berdebat dan bertengkar hanya masalah kecil. Mungkin karena kami terbiasa selalu dekat sebelumnya sehingga saat jauh begini kami jadi tidak bisa memahami satu sama lain.." Kata Fauzi berbohong, dia tidak ingin menceritakan semua kebenarannya karena itu akan menjadi nilai negatif bagi Salwa di mata orangtuanya.
"Tapi kalian kan sudah melewati satu tahun terakhir ini bersama-sama. Kenapa baru sekarang kalian mempermasalahkan ini??" Tanya Ayahnya yang mengingat mereka sudah melewati satu tahun pertamanya sebagai pasangan yang LDR.
"Nak perempuan itu memang seperti itu.."
"Iya, Ibumu juga selalu marah-marah kalau Ayah ada kerjaan diluar kota.. Itu tanda perempuan sedang rindu dan kita laki-laki harus peka dengan hal-hal seperti itu Nak.."
"Ya, aku tahu akan susah kalau membahas hal ini pada Ibu dan Ayah yang sangat menyukai Salwa" Gumam Fauzi dalam hati. "Bu, Yah, aku punya alasan sendiri, lagi pula ini untuk sementara saja"
"Hem.. Ya kalau itu sudah keputusanmu nak, Ibu memang sangat menyukai Salwa, tapi Ibu tidak akan memaksamu bertahan`karena yang tahu keadaan hatimu itu kamu sendiri.." Kata Ibunya penuh pengertian.
"Bu.. Kita akan kehilangan calon menantu idaman.." Keluh Ayahnya.
"Kan aku bilang sementara Ayah.. Aku bakal ngebuat Salwa jadi mantu Ayah kok suatu hari nanti..."
"Maksud kamu apa sih Zi?" Tanya Ayahnya mulai bingung.
"Kan aku bilang sementara saja, saat ini hubunganku dengan Salwa memang tidak baik jadi aku akan mengakhirinya. Aku akan datang ngejemput Salwa kalau sudah tiba waktunya nanti.."
"Kamu mau mempermainkan Salwa??" Tanya Ayahnya dengan nada serius dan sedikit tegas.
__ADS_1
"Bu bukan mempermainkan Ayah.. Aku hanya ingin menenangkan perasaanku sejenak. Jika aku memaksa mempertahankan hubungan kami yang sekarang, akan semakin banyak masalah-masalah kecil yang kemudian berformula menjadi masalah besar dan itu akan membuat kami menjadi kesal satu sama lain. Aku tidak mau itu terjadi.." Jelas Fauzi. Alasan klasik seperti itu yang membantu Fauzi untuk menutupi kebenaran yang ada.
"Ada benarnya juga yang kamu bilang Nak.. Tapi kamu tahu kan resiko yang harus kamu tanggung kalau mengambil jalan ini. Salwa bisa saja membencimu dan lagi dia bisa saja menemukan laki-laki lain saat kalian tidak bersama nanti.."
"Iya, aku sudah memikirkan itu Bu.."
"Selain Salwa, orangtua Salwa bisa ikut membencimu juga. Kamu tahu, Salwa itu putri tunggal mereka, saat mereka tahu kamu meninggalkan putri mereka dengan alasan ringan seperti ini, itu bisa saja membuat mereka jadi tidak suka denganmu.."
"Aku sudah bicara dengan Ibunya Salwa bu, dan dia mengerti.."
"Yasudahlah.. Ayah akan setuju dengan apa saja yang akan kamu lakukan, Ayah tahu kamu sudah cukup dewasa untuk mengambil tindakan itu.."
"Makasih Yah..."
"Tapi Ayah tetap kepikiran, menantu idaman kita Bu.. Sebentar lagi dia sudah bukan jadi calon menantu kitaa..." Keluh Ayah Fauzi...
"Ayaaahhhh... ck tenang saja, aku bakal ngebuat Salwa jadi menantu Ayah. Akan kuminta Salwa di orangtuanya khusus buat ngejadiin putri mereka sebagai menantu Ayah.."
"Gak usah asal ngomong kamu.. Emang kamu pikir orangtuanya akan dengan mudah ngasih putri mereka ke laki-laki kayak kamu yang jelas-jelas mau meninggalkan putri mereka??" Sindir Ayahnya.
"Ayah sudah deh, Fauzi kan sudah bilang kalau dia sudah membicarakan hal ini sama Ibunya salwa.." Bela Ibunya
"Ya tetep saja Bu, kita ini seperti akan kehilangan putri kita.."
"Putri apaan? Itu masih putrinya orang Yah" Tegur Fauzi "Sana bikin sendiri kalau mau punya anak perempuan, jangan ngaku-ngakuin anak oranglain sebagai putri Ayah, Fauzi masih gak masalah kok kalau punya adik perempuan di usia begini" Kata fauzi setengah kesal karena sedari tadi Ayahnya terus-terusan merengek setengah menyindir
"Bu.. Ini kode Bu.. Anak kita minta adik perempuan.."
"Kamu beneran kepengen punya adik perempuan Zi??" Tanya Ibunya.
"Terserah Ibulah mikirnya aku kepengen apa.." Kata Fauzi mulai kesal.
"Yaudah ayo Bu.."
"Yasudah Ibu matiin dulu telfonnya ya Nak.."
"Tunggu kabar baiknya ya Nak.." Seru Ayahnya yang sepertinya sudah berada jauh dari ponselnya.
Fauzi mengakhiri panggilannya.
"Ya Allah, aku ini punya kesalahan apa sih sebelum dilahirkan ke dunia.. Orangtuaku kok rasanya aneh sekali.." Gerutu Fauzi.
__ADS_1
Fauzi berbalik dan melihat Foto kedua ornagtuanya yang dia letakkan di meja.
"Meski begitu, Fauzi sangat sayang sama kalian Bu, Yah.. Fauzi bahagia lahir sebagai putra kalian, andaikan ada kehidupan setelah ini, Fauzi masih tetap akan memilih terlahir sebagai putra kalian.." Kata Fauzi memeluk Foto kedua orangtuanya.