
Pagi mulai kembali setelah malam yang gelap berlalu. Meski masih malu-malu namun matahari sudah mulai menampakkan sinarnya dan menyapa para pemilik kehidupan yang bertengger di planet ke tiga dari susunan tatasurya ini.
Meski cahayanya mulai menyapu permukaan bumi bagian asia tenggara itu, namun ia belum mampu menembus hingga menyentuh permukaan tubuh laki-laki yang perlahan tersadar dari tidurnya semalaman.
Perlahan Faiq membuka matanya, kepalanya terasa berat membuatnya sedikit kesulitan bangkit dari tempat tidurnya.
Dengan tubuh yang serasa lemas dan tenggorokan yang serasa pahit, Faiq berusaha menyadarkan diri sebisanya.
“Oh, kamu sudah bangun??” Tanya Karin yang melangkah masuk ke dalam kamar menghampiri suaminya.
Faiq tidak menjawab, rasa sakit di kepalanya membuatnya sulit menyadarkan diri seutuhnya, sehingga ia masih belum bisa dengan cepat menanggapi pertanyaan Karin.
“Mau aku buka jendelanya?”
Faiq menggeleng. “Jangan..” Jawabnya dengan nada parau.
Faiq mengangkat kepalanya, penglihatannya menangkap sesuatu yang berbeda dari apa yang biasanya sering ia lihat ketika bangun tidur.
“Kamu lagi di kamar tamu” Kata Karin yang mengerti setelah melihat suaminya sedikit kebingungan menatap tempat sekitarnya.
Faiq kembali berusaha mengumpulkan kesadarannya yang sebagian masih melayang-layang. Kepala yang serasa nyut-nyutan membuat perasaannya menjadi buruk.
“Kamu kenapa sampai mabuk-mabukkan semalam, kan sudah lama kamu gak minum alkohol lagi”
“Aku juga gak tahu..”
Faiq menekan hidung diantara kedua matanya, rasa sakit dikepalanya terus-terusan membuatnya pusing.
“Gimana perasaanmu? Kamu baik-baik saja?” Tanya Karin memastikan keadaan suaminya.
Faiq mengangguk pelan, meski ekspresinya memperlihatkan kalau dia tidak sedang baik-baik saja sekarang.
“Tenggorokanku pahit” Keluh Faiq.
“Sebentar aku ambilkan air..” Karin berjalan dengan tergesa-gesa keluar dari kamar menuju dapur.
Faiq mengucek matanya, sekiranya itu bisa membantunya sadar lebih cepat. Rambutnya yang berantakan pun ia tarik pelan.
Perlahan Faiq berdiri, ia butuh ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Namun belum saja langkahnya sampai pada ambang pintu kamar mandi, ia menyadari sesuatu yang membuatnya terkejut hingga rasa kantuk hilang seketika.
Rasa sakit kepalanya pun hilang akibat rasa terkejut yang dia dapatkan.
Faiq memegang pelan baju kaos dengan ukuran besar yang dia gunakan. Meski semalam ia mabuk, namun ia masih bisa mengingat bahwa bukan pakaian itu yang dia gunakan semalam, meski celana masih sama.
“Ke-kenapa bajuku berubah? Siapa yang menggantinya?”
__ADS_1
Mata sayu kini telah hilang dan tergantikan oleh kelopak mata yang lebar melotot dengan ekspresi bingung.
“Ada apa?” Tanya Karin membuyarkan kebingunan Faiq yang sedari tadi terus terfokus pada baju yang dia gunakan.
“Ba-bajuku.. Perasaan semalam aku gak pake baju ini”
Karin tersentak, ia sempat lupa kalau semalam dia memberanikan diri mengganti pakaian Faiq, karena khawatir suaminya itu akan terganggu dan tidur tidak nyaman.
“I-itu.. Maafkan aku, aku ngeganti baju kamu”
“Kenapa??” Tanya Faiq dengan nada yang sedikit tinggi, membuat Karin terkejut.
“A-aku pikir, kamu gak nyaman kalau tidur pakai kemeja. Kemejamu juga bau alkohol”
Faiq menatap Karin tajam, membuat wanita yang baru saja kembali masuk membawa segelas air itu menjadi bingung dan terkejut.
“Kamu kenapa kelewatan batas sih sampai mengganti bajuku”
Kelewat batas? Bukankah itu hal wajar, aku kan istrinya.
“Kamu seharusnya tahu batasanmu. Hanya karena aku mabuk, bukan berarti kamu berhak mengganti bajuku seperti ini”
“Batasan? Kenapa diantara kita harus ada batasan? Kelewat batas apa yang kamu maksud? Aku hanya mengganti bajumu Faiq, dan itu wajar saja. Aku ini istrimu, lebih dari itupun tidak akan menjadi masalah”
“Hanya karena kamu istriku, bukan berarti kamu bisa nyentuh aku sesukamu”
“Ka-kamu ngomong apa sih? Kenapa aku gak bisa? Kamu itu suamiku, dan menyentuhmu itu bukan hal tidak boleh aku lakukan”
Tatapan tajam Faiq tidak lengser dari Karin, membuat Karin yang kebingungan perlahan diterpa rasa takut. Dia tidak pernah melihat Faiq seperti ini sebelumnya.
Kemana suaminya yang selalu ramah dan perhatian itu? kenapa berubah hanya dalam satu malam menjadi orang yang berbicara dengan nada tinggi dan penuh emosi, bahkan untuk sesuatu yang seharusnya tidak membuatnya marah.
“Ka-kamu mungkin masih mabuk..”
Karin memberanikan kakinya melangkah pelan menghampiri suaminya dengan gelas ditangannya yang mulai tidak tenang akibat tangannya yang gemetar.
“Keluar!”
Jari telunjuk Faiq mengacung dengan tegap mengarah ke pintu, mengusir istri yang sebelumnya ia perlakukan dengan baik meski tidak pernah ia sentuh.
“Ke-kenapa? Kenapa kamu semarah itu sama aku padahal aku hanya mengganti bajumu. Aku melakukan lebih dari ini pun seharusnya kamu tidak marah, Faiq”
“Melakukan lebih? Kamu mau melakukan apa sama aku?? Mengganti bajuku itu sudah dibatas wajar dari tindakanmu, jadi jangan melangkah lebih jauh hanya karena aku bersikap baik”
Apa maksudnya ini? Apa dia tidak pernah berniat menyentuhku? Aku ini istrinya, dan seharusnya dia memiliki rencana lebih dari sekedar mengecup keningku di pagi hari sebelum berangkat kerja.
__ADS_1
Terkejut, bingung, takut dan sakit menyerang perasaan Karin secara bersamaan, membuat hatinya mulai sesak. Airmata Karin mulai menggenang di pelupuk matanya.
“Jangankan untuk menyentuh tubuhku, aku bahkan tidak pernah mengizinkanmu mengurus baju dan segala perlengkapan kerjaku”
Deg..
Apa lagi maksudnya ini? Aku selama ini tidak pernah menyentuh barang-barangnya, karena dia mengatakan tidak mau membuat pekerjaanku menjadi banyak. Bukankah itu bentuk perhatian dan cintanya sehingga tidak ingin membuatku kelelahan.
“Ti-tidak mengizinkan? Bu-bukannya karena kamu tidak mau aku repot sampai kamu menyiapkan semua barang-barangmu sendiri? Itukan yang kamu bilang dulu..”
“Ya, itu yang aku bilang, dan itu hanya alasan. Aku tidak membiarkanmu menyiapkan perlengkapanku, aku tidak mau kamu menyiapkan bajuku, aku tidak mau kamu mengurusiku. Aku hanya memberimu kelonggaran untuk makanku dan memberimu perhatian seperti apa yang Ayah dan Ibumu berikan sama kamu selama ini”
Airmata Karin tumpah tanpa kedipan dan tanpa aba-aba. Hatinya seolah diterpa ribuan jarum yang kemudian diberikan percikan asam. Pedih, sakit, menyesakkan yang tidak terbendung tengah berkuasa diperasaannya. Karin tidak tahu harus bagaimana menanganinya, ditambah lagi tatapan tajam Faiq yang tidak teralihkan dan ditujukan untuknya, semakin menambah sakit di hatinya.
“A-apa maksud kamu? Kenapa seperti ini Faiq?” Tanya Karin, kiranya jawaban Faiq bisa memberinya jawaban dari kebingungan bercampur rasa sakit yang sedari tadi menghantam hati dan pikirannya. “Apa selama ini kamu gak cinta sama aku??”
Faiq mengalihkan tatapan tajamnya yang sedari tadi ia arahkan pada Karin.
“Aku ini istrimu kan? Kenapa kamu memperlakukan aku seperti oranglain? Kenapa aku tidak bisa menyentuhmu? Tidak bisa melakukan tugas seorang istri untukmu? Kenapa aku tidak bisa seperti istri-istri pada umumnya buat kamu??”
Pertanyaan beruntun Karin lontarkan, airmatanya semakin deras dan emosinya mulai meluap.
“Aku tidak berpikiran seperti itu” Jawab Faiq dengan nada datar.
Berpikiran seperti apa maksudnya? Apa dia tidak melihatku sebagai istri?
“Ma-maksud kamu???”
Faiq mengangkat kepalanya, menatap Karin sejenak kemudian melangkah keluar dari kamar.
“Lain kali, jangan melebihi batas” Kata Faiq sembari berlalu meninggalkan Karin sendiri dikamar itu.
Apa yang barusan ia dengar kembali memberikan kejutan yang luarbiasa baginya. Karin tertegun dengan airmatanya yang masih deras menetes, emosional yang tadi memenuhinya terhenti sejenak, ekspresi datar terpasang di wajahnya.
“Apa yang baru aku dengar barusan? Tanpa penjelasan dan dia tetap memintaku untuk tidak melampaui batas? Aku ini apa baginya???”
Tangis Karin kembali pecah. Ia tidak lagi bisa menahan perasaan dan memopang tubuhnya. Karin jatuh tersungkur bersamaan jatuhnya gelas yang di pegangnya.
Baru semalam ia merasa senang akan apa yang dia dapatkan dari Faiq, dan pagi ini rasa senang itu hancur dan berubah menjadi pilu yang tak tertahankan baginya.
Airmatanya semakin deras mengalir. Wajahnya basah dipenuhi airmata dan pakaiannya basah akibat air yang wadahnya kini telah hancur berantakan berserakan dilantai sekitar Karin.
.
.
__ADS_1
.
Selamat menyambut hari Raya Idhul Fitri buat teman-teman yang merayakannya 😊