
Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah setelah sepekan aku harus cuti karena keadaanku yang tidak bisa mengikuti pelajaran pasca kecelakaan kemarin. Aku yang biasanya berangkat menggunakan sepeda sekarang harus diantar jemput, selain untuk memulihkan kesehatanku juga untuk menghindari Farhan.
Aku menceritakan pada Ibu tentang keputusanku dan meminta tolong pada Ibu untuk menjemputku lebih awal disekolah untuk menghindari Farhan. Aku tahu betul Farhan itu seperti apa, dia tidak akan menyerah secepat itu dan tidak akan mundur hanya karena aku memutuskannya secara sepihak. Jadi aku meminta pertolongan pada Ibu untuk menjemputku sehingga Farhan tidak akan bisa menghampiriku ketika melihat Ibu menjemputku.
Sudah dua hari semenjak aku memutuskan Farhan, dan sejak itu juga aku belum pernah bertemu dengan Farhan. Ibu selalu menjemputku lebih awal agar Farhan tidak sempat menemuiku. Aku selalu melihat mobil Farhan terparkir di pinggir jalan tapi sampai sekarang Farhan tidak pernah menghampiriku. Ya dia pasti jaga jarak denganku selagi aku bersama Ibu, dia tidak akan berani untuk datang menghampiriku ketika ada Ibu.
Tidak lama lagi aku akan menghadapi Ujian Nasional, aku mempersiapkannya dengan baik, aku berusaha keras mengabaikan permasalahanku dengan Farhan dan berusaha fokus pada persiapanku menghadapi Ujian Nasional, Fauzi juga sangat rajin mengabariku dan memberiku semangat untuk menghadapi Ujian.
Beberapa waktu yang lalu Farhan mengirmiku pesan.
"Kamu sepertinya butuh waktu untuk fokus pada Ujian Nasionalmu, aku gak akan ngeganggu kamu selama itu.. Semangat Uijannya.." Pesan yang dikirim Farhan menggunakan nomor yang lain karena sampai sekarang nomornya masih masuk dalam blacklist di ponselku.
.
.
.
Waktu berlalu, hari ini adalah hari terakhir aku Ujian Nasional. Sebelumnya aku sangat bekerja keras mempersiapkan Ujian ini, belajar dan mengikuti pelajaran tambahan. Aku nyaris tidak memiliki waktu istirahat karena harus belajar terus. Aku harus bisa mengatur waktuku untuk mengikuti Les tambahan mata pelajaran dengan belajar sendiri unutk mengulang-ngulang kembali mata pelajaran yang sudah dijelaskan Bapak Ibu guru disekolah.
Seperti yang dikatakan Fauzi, waktu-waktu mempersiapkan dan waktu ujian benar-benar terasa cepat sampai aku sendiri tidak menyadarinya. Bahkan hari ini hari terakhir Ujian masih seperti mimpi saking cepatnya.
Semenjak pesan terakhir yang dikirimkan Farhan waktu itu, Farhan tidak pernah lagi mengirimiku pesan dan tidak pernah lagi aku melihat mobil Farhan terparkir di seberang jalan depan sekolah. Apalagi Ibu selalu rutin mengantar dan menjemputku lebih awal sepulang sekolah.
Aku selalu diantar dan dijemput Ibu setelah mengalami kecelakaan, namun karena hari ini hari terakhir Ujian aku dan teman-temanku memutuskan untuk merayakan hari terakhir ujian dengan makan-makan bersama di Cafe. Untuk pertama kalinya setelah kecelakaan itu aku tidak dijemput Ibu. Aku sudah mengabari Ibu agar Ibu tidak harus menjemputku dan juga meyakinkan Ibu kalau aku akan baik-baik saja.
"Hiksss... Terharunya.." Seru Nina sesampainya kami di sebuah Cafe Outdoor.
"Hikss iya, akhirnya beban kita lepas semua.." tambahku.
"Lepas apanya, kalau hasilnya belum keluar ya belum lepas" Celetuk Anya sambil bersandar.
"Ngerusak suasana aja.. Ya setidaknya lega karena habis ujiannya dulu.."Tegur Cheesaa.
"Tau nih si Anya.." Tambah Nina..
"Ya aku cuman ngingetin aja gaess.." Bela Anya
"Udah, udah.. Pesen makanan gih, keburu ubanan kita disini tapi gak makan-makan" Pungkasku.
"Hehe, Selfiee dulu beb.." Kata Chesaa sambil mengangkat ponselnya dengan camera yang sudah siap memotret disana. Ya bagaimanapun sibuknya kami, kalau kamera sudah siap kalem mode otomatis on. Ckreekkk...
"Instastory atau langsung post yaa..?" Kata Chesaa sambil memilih-milih foto yang diperkirakan bagus.
"Elahh Chess, gituan aja pake bimbang.. Instastory plus post, moment kayak gini harus diabadikan di sosial media" Jelas Anya..
"Haha jawaban yang betul sekali Nak.." Tambahku
"Ck.. ini jadi pesan makan gak? Laparr.." Keluh Nina.
Kami sibuk memilih menu makanan apa yang akan kami makan untuk sekedar merayakan hari terakhir ujian Nasional hari ini.
__ADS_1
Ya beginilah perempuan, memilih menu makanan saja membutuhkan waktu cukup lama yang bisa digunakan para lelaki untuk mendaki gunung tertinggi di Indonesia. Tapi memang untuk momen seperti ini rasanya tidak afdol kalau hanya sekedar makan biasa saja.
"Salwa.."
Seseorang memanggilku, aku menoleh diikuti teman-teman yang lainnya.
"Kak Farhan.." Seru Anya dan Cheesa serentak.
"Kok ada disini? Sini gabung kak.." Ajak Nina.
"Hehe kebetulan lewat aja sih.." Jawab Farhan tersenyum ramah seperti biasanya. "Bisa pinjam Salwa sebentar gak?"
"Eh? Kenapa?" Tanya Cheesa kebingungan.
"Hehe ada pesan yang harus disampein.." Jawab Farhan.
"Owalah.. kalian jangan lupa siapa seseorang yang mendalangi kedatangan Farhan kesini.." Kata Nina mulai ribut dengan kesalahpahamannya.
"Oh.. Haha aku ngerti, udah sana dibawah saja Salwanya kak..." Kata Cheesa sambil menarikku.
Ah mereka pasti mengira Farhan datang kesini karena Fauzi yang memintanya.
"Aku pinjem Salwa sebentar ya.."
"Ashiap kak, mau dibawa juga gak apa kita masih bisa kok kumpul diwaktu yang lain.."
"Hem bener.." kata Anya menambahkan.
Aku lengah, aku kira Farhan tidak akan datang menemuiku mengingat akhir-akhir ini dia tidak pernah menghubungi juga aku tidak pernah lagi melihat mobil Farhan terparkir diseberang jalan depan sekolahku.
"Ada apa?" Tanyaku setelah kami jauh dari keramaian.
"Aku kangen.." Jawab Farhan.
"Kakak tau dari mana aku ada disini?"
"Instastory Cheesaa.."
Ah iya aku lupa, tadi Cheesa mengupload foto di Instastorynya dan lokasinya tercantum.
"Kakak kenapa kesini?"
"Karena aku kangen sama kamu Salwa, aku mau ngeliat kamu dan aku mau nyelesaiin kesalahpahaman diantara kita.."
"Kesalahpahaman? Kesalahpahaman apa?"
"Kamu sudah Ujian sekarang, aku tau kemarin kamu seperti itu karena stres dengan ujian kan. Sekarang kamu pasti sudah bisa berfikiran lebih jernih lagi.."
"Maksud kakak?"
"Tentangg hubungan kita yang sempat renggang, aku mau memperbaikinya.."
__ADS_1
"Bukan renggang kak, tapi berakhir. Kita udah.."
"Gak.. kamu gak bisa memutuskan hal seperti ini secara sepihak.."
"Kak, aku minta maaf karena sudah jahat seperti ini ke kakak. Tapi aku benar-benar udah gak bisa dengan hubungan kita yang seperti ini.."
"Salwa jangan seperti ini, bukannya kamu bilang kalau kamu sayang sama aku? Kenapa sekarang begini..."
"Kak, perasaanku yang seperti itu juga hanya kesalahpahaman. Aku benar-benar.."
"Kamu jahat Salwa.." Kata Farhan memotong pembicaraanku.
"Iya.." Jawabku dengan nada rendah tanpa melihat wajah Farhan yang sedari tadi menatapku. "Aku jahat kak, jadi tolong jadikan itu sebagai alasan buat ngebenci aku dan lepas dari aku.." Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya dengan tajam.
"Kamu pikir semudah itu? Coba posisikan dirimu di posisiku Salwa.."
"Aku benar-benar minta maaf kak.."
"Gak, aku gak mau.. tolong jangan seperti ini ke aku.."
"Mungkin gak ada lagi yang harus kita bicarakan, maafkan aku kak.." Kataku berbalik melangkah tapi..
Farhan menahan dan menarikku kedalam pelukannya.
"Tolong kembali seperti Salwa yang sebelumnya.." Kata Farhan mempererat pelukannya.
"Apa yang kakak lakukan, lepaskan aku kakk.." Kataku sambil mencoba melepaskan pelukan Farhan. Tapi seperti biasanya pelukan Farhan terlalu kuat untuk bisa kulepaskan.
"Salwa, tolong kembali seperti yang sebelumnya.."
"Kak lepasin aku.. nanti ada yang melihat.."
"Aku tidak peduli.. Aku ingin kamu kembali seperti Salwa yang sebelumnya.."
"Aku yang sebelumnya? Bukannya aku yang sebelumnya memang Salwa yang seperti ini, Salwa yang akan menolak kakak.."
"Gak, bukan yang itu.."
"Kak lepasin aku.." Aku terus berusaha melepaskan diri dari pelukan Farhan.
"Salwa, aku masih sayang sama kamu aku masih cinta Salwa.."
"Tapi kak.."
Bbuukkk...
Aku menoleh..
Buket bunga dengan campuran berbagai jenis bunga terjatuh dilantai membuat susunannya dan beberapa kelopak bunganya rusak.
"Fa Fauzi....??"
__ADS_1