
Waktu berlalu dengan cepat, namun tidak bagi Fauzi yang setiap harinya harus menanggung rindu pada Salwa.
Perkuliahan yang rumit, skripsi yang membingungkan dan segala hal yang terasa sulit di dunia perkuliahan telah berakhir. Waktu lima tahun terasa begitu singkat sampai tanpa terasa mereka yang dulunya masih tertawa bahagia menggunakan seragam putih abu-abu sekarang sudah menggunakan jas kerja ataupun seragam kerja yang lainnya.
Hari ini Fauzi harus mewakili teman teamnya untuk bertemu dengan klien dari perusahaan lain untuk membicarakan kerjasama mereka selanjutnya secara tertutup sebelum akhirnya nanti dibahas dalam rapat.
Fauzi sudah duduk menunggu disebuah cafe outdoor dengan secangkir caramel macchiato didepannya. Ini adalah pertemuan pertamanya untuk saling negoisasi sehingga belum ada pembahasan-pembahasan lebih dalam mengenai perusahaan ataupun keuntungan yang akan didapatkan. Hari ini mereka hanya akan membahas kulit-kulit luarnya saja dari kontrak kerja sama itu.
"Kak Fauzi..."
Fauzi menoleh mendengar seseorang menyebut namanya.
"Nina.."
Nina melangkah dan duduk dikursi depan Fauzi.
"Ka kamu yang dari perwakilan perusahaan Mitra jaya??" Tanya Fauzi yang melihat tanda pengenal yang digunakan Nina.
"Iya kak.. Wah kita akan membicarakan proposal kerja sama perusahaan bareng-bareng nih.." Kata Nina penuh semangat.
"Hehe sepertinya begitu.."
Nina mulai membuka berkas-berkasnya begitu juga Fauzi.
"Aku gak nyangka banget kalau bakal ketemu kakak disini dan lagi dalam keadaan sebagai partner kerja.."
"Aku juga gak nyangka. Gimana kabarmu??"
"Baik-baik aja kak, kalau kakak gimana??" Tanya Nina kembali.
"Ya seperti yang kamu lihat.."
Mereka mulai membahas masalah pekerjaan yang harus mereka diskusikan hari ini. Fauzi dengan baik menjelaskan tiap-tiap ada pertanyaan dari Nina begitu juga Nina sebaliknya. Fauzi dan Nina mengesampingkan masalah pribadi mereka masing-masing yang sudah saling mengenal dan dengan profesional membahas pekerjaan mereka seolah sebelumnya mereka bukanlah orang yang saling mengenal.
"Hem.. Kayaknya cukup sampai disini dulu pak Fauzi yang bisa saya jabarkan, saya berharap kedepannya ada panggilan bertemu lagi dari pihak perusahaan anda.." Kata Nina dengan profesional.
"Baiklah, saya akan membicarakan ini dengan pihak perusahaan dan akan menghubungi PT. Atmajaya setelahnya"
Fauzi dan Nina menutup obrolan mereka perihal pekerjaan dan mulai berbicara santai selayaknya seorang kenalan.
"Kak Fauzi udah berapa lama kerja disitu?? Jadi ini bakalan kerja disini terus gak balik-balik ke Mamuju?" Tanya Nina.
"Baru sih, kalau masalah bertahan disini atau bakalan balik aku juga gak tau nantinya.."
"Ka kakak pernah ketemu Salwa??" Tanya Nina ragu-ragu.
Fauzi menggeleng sambil tersenyum.
Nina yang tahu bagaimana kondisi Salwa dan Fauzi sebelumnya mencoba menjaga bicaranya yang menyangkut tentang Salwa. Nina tidak ingin Fauzi menjadi merasa tidak nyaman jika dia membahasnya.
__ADS_1
"Kamu pernah ketemu sama Salwa?" Tanya Fauzi.
"Iya, sesekali kalau aku balik ke Mamuju aku pasti ketemuan dulu sama Salwa"
"Bagaimana keadaan dia?"
"Baik-baik saja kak.."
"Syukurlah.." Kata Fauzi tersenyum. Nina mulai menangkap ekspresi Fauzi yang terlihat jelas kalau dia masih mengkhawatirkan Salwa.
"Ma maaf kalau aku nanyain ini kak.. Ka kakak masih suka sama Salwa.." Tanya Nina ragu-ragu.
"Menurutmu?" Fauzi bertanya ulang sambil menatap Nina dan tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.
"He he kayaknya masih ya?? Tadi kakak nanyain kabar Salwa bukan sekedar basa-basi ngebahas Salwa kan? Itu karena kakak khawatir kan??" Tanya Nina butuh kejelasan.
"Ya begitulah.." Jawab Fauzi.
"Jadi kakak bener-bener mas.."
Kata-kata Nina terhenti karena ponselnya berdering.
"Ah maaf, sebentar kak.." Kata Nina izin mengangkat telfonnya. Fauzi tersenyum mempersilahkan.
Nina beranjak beberapa langkah menjawab telfonnya.
"Maaf maaf agak lama.." Kata Nina berbalik ketempatnya.
"Gak apa.." Jawab Fauzi.
"Farhan gak tahu jalan kesini, malah nyasar di jalan besar disana.." Keluh Nina yang memberitahu bahwa yang menelfonnya tadi adalah Farhan yang sedang tersesat.
"Fa Farhan??" Tanya Fauzi memastikan.
"Iya Farhan. Loh Farhan gak pernah cerita sama kakak mengenai aku dan dia??" Tanya Nina.
Semenjak kejadian dimana Fauzi memergoki Farhan dan Salwa waktu itu, Farhan mengganti nomor ponselnya dan tidak pernah sekalipun berbagi kabar dengan Fauzi. Farhan yang sangat merasa bersalah waktu itu sampai sekarang tidak memberanikan dirinya untk sekedar bertegur sapa dengan Fauzi.
"Sepertinya Nina tidak tahu apa-apa tentang masalah ini.." Gumam Fauzi dalam hati.
"Aku kira Farhan akan ngeceritain semuanya sama kakak.." Lanjut Nina.
"He he aku kan sibuk, mungkin Farhan ngerasa gak enak kalau mau ngeganggu aku dengan cerita seperti ini toh cepat atau lambat aku juga bakalan tahu kan" Kata Fauzi berusaha menutupi kesenggangan pertemanannya dengan Farhan.
"Hemm.. Bisa jadi, apalagi Farhan masih sibuk kuliah sekarang.."
"Ohh.. Farhan masih kuliah??" Tanya Fauzi dalam hati. "He he ditambah itu lagi kan, Farhan juga pasti sibuk sama kuliahnya.."
"Aduh.. Farhan ini mana sih, aku mau ada janji belanja sama temanku tapi dia belum datang juga. Kan mumpung kakak ada disini setidaknya dia punya teman ngobrol selagi nunggu aku belanja.." Gerutu Nina sambil melirik jam tangannya. "Eh tapi kakak gak ada kegiatan lain kan? Jangan sampai aku ngarepnya Farhan bisa cerita sama kakak disini tapi kakak ada kesibukan lain.."
__ADS_1
"Gak kok, panggil aja Farhan kesini, udah lama juga aku gak ngobrol-ngobrol sama dia.."
"Hem.. Kayaknya dia mas.."
"Ninaa.." Panggil Farhan yang memotong perkataan Nina.
"Ck, kamu dari mana saja sih sayang? Kok datangnya lama banget, kan aku udah bilang mau belanja sama teman.."
"Jadi aku kamu tinggal sendiri??" Tanya Farhan yang tidak peduli dengan Fauzi karena berfikiran itu hanya mitra kerja Nina.
"Ini kamu bisa ngobrol dulu disini sama kak Fauzi sambil nungguin aku belanja.."
"Fa fauzi???" Mata Farhan membelalak terkejut dan berbalik menatap Fauzi.
"Ck, kamu kok kaget begitu, kayak gak pernah ngeliat kak Fauzi aja.." Tegur Nina.
"Ha ha wajarlah Farhan kalau terkejut ngeliat aku disini Nina, kamu juga tadi terkejut kan pas tau kalau aku yang jadi mitra kerja kamu, lagian aku gak pernah ngomong sama Farhan masalah pekerjaanku.." Kata Fauzi masih berusaha menyembunyikan permasalahan hubungannya dengan Farhan.
"Oh ha ha iya ya.. Yaudah kamu disini aja dulu sama kak Fauzi, aku temuin temenku dulu oke.." Kata Nina beranjak dari duduknya.
"Ta tapi.."
"Udahlah Han, Lu disini aja dulu ngobrol sama gue, emang Lu mau jadi pembawa belanjaannya Nina? Tau kan kalau cewek-cewek itu belanja kayak apa, kamu bisa kecapean kalau mau ngekorin dia.." Kata Fauzi sambil memberi kode pada Farhan mengatakan bahwa Nina tidak tahu tentang permasalahan hubungan mereka.
"Tuh bener kata kak Fauzi. Yaudah aku belanja dulu, nanti aku kesini lagi kalau udah belanja.." Kata Nina berjalan pergi.
Farhan masih diam mematung. Farhan bingung harus seperti apa.
"Lu gak mau duduk? Betah amat berdiri.." Tegur Fauzi.
Farhan perlahan duduk. Farhan tidak mengeluarkan satu katapun.
"Gimana kabar Lu?" Tanya Fauzi membuka percakapan.
"Baik.." Jawab Farhan singkat dan terus-terus memperlihatkan gerak geriknya yang canggung.
"Udahlah Han, Lu mau sampai kapan kayak ulat bulu begitu bergerak-gerak kecil gak jelas.." Fauzi berusaha membawa suasana santai dalam percakapan mereka, namun Farhan yang masih saja merasa tidak enak hati pada Fauzi belum bisa bersikap biasa saja. "Hem Lu mau minum apa? Masa iya kita cuman numpang duduk-duduk doang di cafe orang.." Tanya Fauzi.
"Lu mau apa? Biar gue yang stor list pemesannya.." Tanya Farhan. Ini kalimat pertama yang Farhan ucapkan pada Fauzi dari beberapa pertanyaan Fauzi tadi.
"Jangan kabur Lu, jangan Lu bilang mau stor list pemesanan tapi Lu malah kabur.."
"Mau kemana juga gue Zi, bisa ketabok Nina gue kalau dia balik sini guenya udah gak ada.." Jelas Farhan.
"Gue mau caramel macchiato lagi.." Kata Fauzi.
"Gak hot chocolate? Bukannya Lu sukanya itu?"
"Gue udah bukan anak SMA lagi yang bnyeruputnya coklat panas.." Kata Fauzi dengan nada bercanda untuk mencairkan suasana.
__ADS_1