
Hari ini sama seperti hari-hari biasanya. Dimana setiap bangun pagi, Fauzi akan bertanya perihal dirinya yang bertujuan untuk melatih ingatan istri tercintanya. Namun meski setiap hari, tetap saja sesekali istrinya itu lupa akan siapa dirinya dan juga status yang mengikat mereka, membuat Fauzi harus terus menjelaskan semuanya.
Tidak bosan dan tanpa rasa lelah Fauzi membimbing istrinya, apa yang dia lakukan saat ini untuk wanita yang dicintainya itu, adalah bukti ketulusan dan cinta yang sesungguhnya.
Seperti biasa, setelah selesai sarapan bersama, Fauzi akan membersihkan rumah dan beberapa pekerjaan lainnya. Semenjak istrinya tidak dalam keadaan sehat lagi, Fauzi yang mengambil alih semua pekerjaan rumah, termasuk masak dan bersih-bersih rumah. Sebelum Fauzi mengerjakan pekerjaan rumah, ia tak lupa bertanya pada Salwa, akan apa yang diinginkan istrinya itu. Fauzi tidak ingin Salwa merasa kesepian saat Fauzi sedang mengerjakan pekerjaan rumah. Dan sesuai dengan saran Fauzi, Salwa memilih untuk menonton televisi selagi suaminya sibuk dengan pekerjaannya.
Fauzi meninggalkan Salwa di ruang tengah dan mulai melakukan aktifitasnya. Hingga ia selesai, Fauzi kembali menghampiri sang istri yang sepertinya tengah asik menikmati siaran Tv, terlihat dari suara Tv yang volumenya sempat ia naikkan.
Fauzi kembali bergegas menghampiri istrinya di ruang tengah saat ia selesai mengerjakan pekerjaan rumah. Namun Salwa yang sebelumnya duduk manis di sofa menikmati layanan Tv, kini sudah tidak ada ditempat.
“Sayang.. Kamu dimana?” Panggil Fauzi.
Setiap kali Salwa tidak berada dalam pandangannya, Fauzi akan merasa khawatir. Dia sadar akan keadaan istrinya yang sering melakukan tindakan impulsif, sehingga sejenak saja ia tidak melihat Salwa ditempat yang sebelumnya ia tinggalkan, rasa khawatir akan menghampirinya.
Fauzi berjalan mencari keberadaan istrinya, dari di kamar, ruang tamu hingga dapur. Langkahnya begitu tergesa-gesa hingga sapu yang tadinya ia letakkan, tanpa sengaja menjadi seperti bola setelah ia tendang.
“Sayang...” Panggil Fauzi, sekiranya Salwa akan menyahuti panggilannya.
Langkahnya semakin ia percepat, hingga saat pandangannya menemukan sosok istrinya, ia berlari sebisanya menghampiri Salwa yang tengah melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya.
“Astagfirullah.. Sayang jangan lakukan ituu!!!!”
Fauzi berlari secepat yang dia bisa, menghampiri Salwa dan dengan cepat menarik tangan istrinya.
Entah apa lagi yang ada di pikiran Salwa, sedikit saja Fauzi terlambat menemuinya, mungkin tangannya sudah melepuh saat ini.
“Apa yang kamu lakukan?? Ini bahaya..!!!”
Fauzi memeriksa tangan Salwa yang hampir saja dia celupkan pada air mendidih. Rasa panas dari hawa air yang mendidih itu, sedikit terasa pada telapak tangan Salwa.
“Ini bahaya sayang, kamu gak boleh masukin tanganmu di air yang mendidih”
“Bahaya??”
Fauzi mengangguk. Sepertinya, Salwa kehilangan kesadaran dan kemampuannya untuk mengetahui hal sederhana yang seharusnya tidak lagi perlu dijelaskan padanya, bahwa itu adalahh hal yang berbahaya.
“Iya sayang, ini bahaya. Jadi kamu tidak boleh ngelakuin itu..”
Salwa menatap lekat Fauzi dengan memperlihatkan ekspresinya yang kebingungan.
“Kamu kenapa ngelakuin itu tadi??” Tanya Fauzi, berusaha mencari tahu penyebab istrinya yang hampir saja membuat tangan kanannya terluka.
“Itu.. Di airnya ada balon-balon..” Tunjuk Salwa pada panci sebagai wadah dari air yang mendidih.
“Sayang, itu bukan balon. Gelembung itu tanda bahwa airnya sedang mendidih. Saat kamu mematikan airnya, gelembung-gelembung itu akan hilang..”
“Jadi aku gak bisa ambil balonnya?”
“Bukan balon sayang, itu gelembung..”
Salwa kembali menatap air yang tengah mendidih itu. Melihat Salwa yang terlalu fokus memandangi gelembung dari air yang mendidih, Fauzi mematikan kompor, sehingga gelembung-gelembung pada air itu perlahan hilang.
“Hilang...” Kata Salwa dan berbalik menatap Fauzi.
“Iya, gelembungnya hilang”
Salwa kembali menatap air itu, ia memperlihatkan ekspresinya yang antusias, dan itu membuat perasaan Fauzi mendapat serangan rasa sakit. Apa yang istrinya itu perlihatkan saat ini, memberinya fakta bahwa keadaan istrinya semakin memburuk.
“Sayang..” Fauzi meletakkan kedua tangannya di bahu milik istrinya yang lebih pendek darinya. “Yang kamu lakukan tadi itu berbahaya, jadi jangan lakukan itu lagi. Kalau kamu memasukkan tanganmu dalam air mendidih, tanganmu akan luka dan rasanya pasti sakit. Jadi jangan seperti itu lagi, karena itu berbahaya”
Salwa menatap Fauzi, kemudian perlahan tersenyum dan mengangguk. Fauzi balas tersenyum, dan meraih istrinya menarik kedalam pelukannya. Pelukan yang semakin erat dengan airmatanya yang menetes, menyadari akan kondisi istrinya saat ini.
Fauzi menyeka airmatanya sebelum ia melepas pelukannya.
“Sekarang, waktunya untuk mandi..”
Fauzi memperlihatkan senyum terbaik pada istrinya, ia berusaha menyembunyikan luka yang baru saja telah mengiris-ngiris perasaannya.
.
__ADS_1
.
.
.
Fauzi duduk termenung di ruang tengah. Tidak sekali ini dia mendapati istrinya melakukan hal yang membahayakan dirinya, namun tetap saja itu menjadi hal yang sangat membuatnya kepikiran.
Salwa saat ini tengah tertidur. Kesehatan psikisnya yang terganggu, juga mengganggu waktu yang dia miliki, seperti tidur di waktu yang tidak sewajarnya. Namun Fauzi tidak menghalangi istrinya tiap kali dia merasa mengantuk dan ingin tertidur, baginya itu lebih aman daripada istrinya melakukan hal-hal yang tidak terduga.
Tv yang menyala menyiarkan berita hari ini, namun Tv itu hanya menyala tanpa seseorang yang menontonnya. Meski Fauzi duduk di sofa depan tv, namun pandangannya tidak terarah dan juga pikirannya yang sedang kacau, membuatnya tidak bisa fokus pada layar berukuran 43 inch itu.
Suara bel membuyarkan lamunan Fauzi, ia beranjak dari duduknya dan mematikan Tv sebelum berjalan keluar membuka pintu untuk seseorang yang memencet bel dari luar.
Senyum manis Ibu dan Ayah mertuanya menyapa dari balik pintu, membuat Fauzi mengubah dengan cepat ekspresinya dan memberikan senyum balasan pada kedua orangtua istrinya itu.
“Ibu, Ayah.. Ayo masuk..”
Fauzi mempersilahkan mertuanya untuk duduk, ia memperlakukan ramah kedua orangtua Salwa yang sudah seperti orangtua kandungnya sendiri.
“Kamu baik-baik saja nak?”
“Iya, Bu” Jawab Fauzi tersenyum.
“Syukurlah..”
Ibu mertuanya menyodorkan rantang yang berisi beberapa laku dan makanan ringan.
“Ibu, kenapa repot-repot begini..”
“Tidak Nak, kami tahu kamu sangat sibuk mengurus rumah dan juga Salwa. Setidaknya, saat kami datang seperti ini, kesibukanmu di bagian dapur bisa sedikit berkurang” Jelas Ayah Salwa penuh pengertian.
“Makasih Ibu, Ayah..”
Sepasang suami istri yang tengah bertamu ke rumah anaknya, hanya tersenyum sembari mengangguk mendapat ucapan terimakasih dari menantu kesayangannya.
“Oh ya, Salwa mana? Kenapa gak keliatan”
“Tidur? Sore-sore begini?” Tanya mertuanya memastikan jawaban Fauzi.
Fauzi mengangguk mengiyakan. “Akhir-akhir ini, Salwa tidak bisa mengenali waktu, jadi dia sering kali tidur di waktu yang tidak tepat”
Ibu dan Ayah Salwa menghembuskan nafas sedih mendengar keadaan putri mereka yang semakin hari semakin buruk.
“Maafkan anak Ibu, Nak. Kondisinya yang seperti ini, pasti dia menyusahkanmu”
“Tidak, Bu. Aku sama sekali tidak merasa di susahkan, aku baik-baik saja menemani Salwa melewati masa istirahatnya dari pekerjaan-pekerjaan yang selama ini memusingkannya. Aku sama sekali tidak merasa repot atau apapun itu”
“Bukan seperti itu nak Fauzi” Ayah Salwa ikut angkat bicara. “Meskipun kamu bilang tidak merasa disusahkan, tapi tetap saja kalau keadaan Salwa saat ini memang merepotkan. Kamu yang dulunya tidak harus bersih-bersih rumah, sekarang harus melakukan itu, ditambah lagi kamu harus ekstra dalam menjaga Salwa..”
“Tidak Ayah, sampai saat ini aku masih bisa menjaga Salwa sekaligus mengurus hal lainnya”
Ayah dan Ibu Salwa sangat bersyukur, memiliki menantu yang sangat baik dan perhatian pada istrinya. Putri semata wayang mereka sangat beruntung, karena hidup dari tulang rusuk seorang laki-laki yang luarbiasa.
“Nak, kamu layak mendapatkan kebahagiaan dan rasa nyaman. Ibu sama sekali tidak bermaksud menganggapmu kurang bisa mengurus Salwa, sama sekali Ibu tidak bermaksud begitu. Hanya saja, Ibu tidak mau kamu memendam sesuatu dalam perasaanmu hanya karena kamu merasa ini adalah tanggung jawabmu. Seandainya sedikit saja kamu merasakan bahwa Salwa adalah beban dalam hidupmu, kamu bisa mengembalikan Salwa pada kami. Keadaannya yang seperti ini, bukan tanggunganmu saja, jadi jangan merasa sungkan untuk mengembalikan Salwa”
“Ibu ini bicara apa???” Tanpa sadar, nada bicara Fauzi sedikit meninggi. “Aku sama sekali tidak pernah menganggap putri Ibu sebagai beban. Apa yang aku lakukan buat Salwa selama ini, bukan karena aku merasa, itu adalah tanggung jawabku. Semua yang kulakukan itu karena aku senang dan bahagia, bisa menjadi orang yang diandalkan oleh wanita yang kucintai. Aku ingin menjadi orang yang bisa Salwa andalkan, yang bisa menjadi tempat Salwa bersandar. Aku ingin pelukanku adalah kehangatan bagi Salwa, dan aku adalah rumahnya. Aku memintanya pada Ibu dan Ayah dulu secara baik-baik, dan aku menjemputnya dalam keadaannya yang baik-baik, jadi bagaimana bisa aku mengembalikkan dia dalam keadaan seperti. Tidak, bagaiamana bisa aku mengembalikan belahan jiwaku”
Ayah dan Ibu Salwa tidak bisa memungkiri rasa haru yang dia rasakan mendengar menantunya berbicara dengan lantang tentang perasaan yang dia miliki untuk putri mereka. Rasa bersyukur dan terimakasih yang luarbiasa mereka rasakan karena telah mendapat anugrah berupa seorang anak laki-laki yang memiliki ketulusan luar biasa pada putri mereka.
Ibu Salwa beranjak dari duduknya, airmatanya mulai tumpah saat ia menghampiri menantunya yang kini matanya telah berkaca-kaca, dan memberikan pelukan seorang Ibu.
“Maafkan Ibu nak, Ibu tidak seharusnya berbicara seperti itu tadi. Terimakasih karena sudah mencintai putri Ibu dengan luarbiasa seperti ini”
Mata yang tadinya berkaca-kaca akibat air bening yang menggenang di pelupuk matanya, kini tumpah dan membasahi pipinya. Ayah Salwa yang melihat istri dan menantunya pun harus mengusap airmata di pelupuk matanya yang belum sempat tumpah.
“Maafkan aku juga, Bu. Aku sudah berbicara dengan nada tinggi sama Ibu tadi”
“Tidak, Nak” Ibu Salwa melepas pelukannya dan kembali duduk pada tempatnya semula sembari menyeka airmatanya. “Ibu tahu perasaanmu, nada bicaramu itu juga karena kamu refleks saat mendengar perkataan Ibu tadi”
__ADS_1
Fauzi menyeka airmatanya yang sempat tumpah.
“Aku mengerti maksud Ibu. Ibu juga ingin bisa merawat Salwa dan selalu berada di samping Salwa. Maaf karena aku egois, mau menjadi satu-satunya yang ada disamping Salwa. Ibu bisa tinggal disini bersamaku dan Salwa, asal jangan membawa Salwa, apalagi memintaku untuk mengembalikannya pada Ibu. Aku tidak bisa, Bu”
“Iya, Nak. Maafkan Ibu karena sudah berkata seperti itu tadi. Ibu tidak akan seperti itu lagi”
Suasana haru menyelimuti obrolan mereka. Ayah Salwa hanya terdiam dengan sesekali menyeka matanya, saat mendengar dan menyaksikan suasana haru yang melibatkan istri dan menantunya.
Suasana yang sedikit emosional tadi akhirnya berlalu. Mereka mulai mengobrol dengan perasaan yang lebih tenang dan dengan obrolan yang lebih santai.
Hardware pintu terdengar terputar yang disusul dengan suara yang dihasilkan oleh gesekan pada engsel pintu yang terdorong.
Fauzi dengan cepat memutar tubuhnya, dia menyadari kalau istrinya sudah terbangun.
“Kamu ngobrol sama siapa sayang?” Tanya Salwa yang muncul dari balik tembok.
“Sama Ayah dan Ibu. Bagaimana tidurmu, apa nye..”
Belum selesai pertanyaan Fauzi, ia melihat istrinya yang berdiri mematung dengan bajunya yang sudah basah.
Fauzi dengan cepat beranjak dari duduknya, menghampiri istrinya dan tanpa aba-aba melepas kaos abu-abu yang dia gunakan untuk membersihkan kaki dan lantai dimana urin istrinya sudah merembes disana.
Fauzi yang sisa menggunakan kaos singlet, berbalik menatap Ayah dan Ibu mertuanya yang terlihat terkejut melihat kondisi putri mereka.
“Ayah, Ibu, aku pamit kebelakang sebentar” kata Fauzi dan dengan cepat membawa Salwa ke dalam dengan menggendongnya.
Tak ada jawaban yang Ibu dan Ayah mertuanya berikan, hanya sebuah anggukan sebagai tanda memberi izin kepada menantunya itu untuk membawa putri mereka yang dalam keadaan basah akibat buang air kecil ditempat.
Airmata kedua orangtua itu tidak lagi bisa ia bendung. Dengan mata kepalanya ia melihat, bagaimana putrinya yang tidak sadar akan tempat dan tanpa sadar buang air kecil begitu saja. Hal yang memperlihatkan, bagaimana buruknya kondisi putri mereka saat ini.
Keadaan Salwa yang memburuk, membuat kemampuannya dalam menjalani kehidupan sehari-hari semakin menurun. Sebelumnya, ia hanya tidak bisa mengenal waktu atau kesulitan memulai sesuatu yang dia inginkan. Tapi hari ini, Salwa bahkan tidak lagi bisa merasakan bahwa dia ingin buang air kecil, sehingga ia buang air kecil dimana saja dia berdiri.
Hal yang lebih umum disebut ngompol itu, biasanya terjadi pada bayi, anak kecil dan lansia. Namun kini, usia Salwa yang tidak tergolong dalam itu, juga mengalami ngompol, yang memperjelas bahwa keadaannya semakin buruk.
Fauzi dengan cepat menggendong istrinya menuju kamar mandi yang terletak dalam kamar mereka. Memandikan istrinya dan membersihkan tubuhnya, ia memperlakukan istri seperti bagaimana anak kecil yang diurusi saat ngompol di celana.
Airmatanya menetes, dia tidak lagi bisa menahan sakit dihatinya melihat apa yang terjadi pada istrinya saat ini. Ia menyadari akan semakin buruknya keadaan Ibu dari anaknya, yang membuatnya tidak lagi bisa memperlihatkan ketegaran yang sebelumnya selalu ia perlihatkan pada wanita yang sangat dicintainya.
“Sayang kamu kenapa? Kok nangis?” Tanya Salwa sembari membelai wajah suaminya yang sibuk membalurkan sabun ke tubuhnya.
Fauzi mengangkat kepalanya, menatap istrinya dengan mata yang sembab dan airmata yang masih saja menetes.
“Aku gak apa-apa sayang..”
“Gak apa-apa kok nangis??”
“Aku menangis karena bahagia, bahagia karena bisa mencintaimu..”
Perlahan Salwa tersenyum setelah mendengar kata-kata suaminya yang berbohong untuk menutupi perasaannya.
“Aku juga cinta sama kamu” Kata Salwa dengan memberikan kecupan manis di pipi suaminya.
Fauzi kembali menggendong istrinya dari kamar mandi, memberi pakaian yang bersih dan mengikat rambut istrinya hingga terlihat lebih rapi. Tak lupa, ia memberikan polesan bedak juga lipstik, agar wajah istrinya terlihat lebih fresh. Dia tidak ingin memperlihatkan wajah kusam istrinya pada Ayah dan Ibu mertuanya. Dia ingin, agar istrinya tetap terlihat cantik dan tetap terlihat baik-baik saja di depan orangtunya. Agar sepasang suami istri yang tengah menunggu diluar itu, tidak begitu khawatir melihat kondisi putri mereka.
“Kamu cantik..” Puji Fauzi sebelum kembali mengajak istrinya keluar untuk bertemu orangtua mereka diluar.
“Iya?” Tanya Salwa tersenyum.
“Iya sayang...” Fauzi memberi kecupan manis di kening istrinya.
“Aku cantik, karena aku istrimu. Aku mencintaimu suamiku..”
Airmata Fauzi kembali menggenang mendengar pertanyaan tulus dari istrinya.
“Makasih sayang, aku juga mencintaimu”
Ya, apapun yang terjadi padamu saat ini, itu tidak masalah. Apapun yang tidak bisa kamu lakukan, biar aku yang lakukan. Aku akan menjadi suami, ayah, ibu, teman dan juga gurumu, yang membantumu melewati semua ini. Aku akan menjadi pemopangmu, aku akan menjadi ingatanmu dan menjadi mulut untukmu agar bisa menyampaikan apa yang ingin kamu katakan.
Semuanya tidak apa-apa. Asal kamu mencintaiku, itu sudah lebih dari cukup sayang.
__ADS_1
Aku tidak lagi peduli dengan ingatanmu yang perlaha hilang mengenaiku, sesekali kamu mengingatku pun, sudah menjadi anugrah yang luar biasa untukmu.
Aku mencintaimu, Istriku.