Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Always Azka


__ADS_3

Sasa membuka matanya perlahan meski kepalanya terasa begitu berat, akibat menangis semalam sampai akhirnya terlelap.


Semalam, Sasa tidak pulang kerumahnya, dia memilih untuk cek in hotel untuk menghindari pertemuan dengan Faiq. Dia bisa menebak akan Faiq yang bisa saja muncul di rumahnya pagi ini. Meski Faiq yang berjalan meninggalkannya semalam, namun Sasa tetap berpikiran bahwa Faiq akan mengunjunginya.


Sebelum tidur, Sasa sudah mengirim pesan pada temannya untuk tukar shift agar ia tidak harus berangkat kerja pagi ini. Dia tidak mungkin datang bekerja dalam keadaan mata yang bengkak seperti sekarang.


Rasanya terlalu menyakitkan jika Sasa mengingat apa yang terjadi padanya tadi malam. Telinganya menerima konsumsi kata-kata buruk yang diajukan padanya. Harga diri yang tercoreng membuatnya tidak lagi bisa bertahan berada di pesta itu semalam.


Airmatanya kembali mengalir, tatkala ia menyadari bahwa ia sudah memutuskan hubungan dengan Faiq. sedikit rasa penyesalan menghampirinya, mengingat perasaan cinta yang dia miliki untuk Faiq, begitu besar. Namun harga diri yang tercoreng semalam, membuatnya benar-benar tidak bisa bertahan dengan Faiq lagi.


Perasaan yang dia miliki bertahun-tahun, tidak ia sangka-sangka akan berakhir seperti ini. Sakit? Jelas sangat sakit. Dia mempertahankan perasaannya, namun akhirnya berakhir karena kondisi yang benar tidak memungkinkan mereka untuk bersama.


“Aku tidak bisa mencintai dalam keadaan tertekan” Gumam Sasa dengan airmatanya yang kembali menetes.


Sasa meraih ponselnya yang semalam ia non aktifkan agar Faiq tidak menghubunginya. Dia bisa saja goyah seketika jika terus-terusan mendapat telfon dari Faiq, sedangkan untuk bisa kembali seperti sebelumnya, logikanya sudah tidak mengizinkan lagi.


Sangat disayangkan, bahwa hubungan tidak bisa berdiri hanya jika mengandalkan cinta sebagai pemopangnya. Perasaan tidak bisa menjadi satu-satunya sumber kekuatan dalam hubungan, status sosial dan orang sekitar juga turut ambil peran dalam membangun sebuah hubungan.


Tentu saja itu tidak bisa dijadikan patokan. Memang seharusnya tidak mendengarkan apa kata orang untuk membangun sebuah hubungan. Jelas, apa yang orang katakan seharusnya tidak mempengaruhi rasa cinta di hati. Sayangnya, hati hanya akan terluka jika berlaku egois untuk mengandalkan cinta. Terlebih lagi, telinga tidak akan cukup kuat untuk mengabaikan suara-suara sumbang yang berkomentar sesuai keinginan mereka.


Begitu banyak pesan yang masuk dari Faiq saat Sasa mengaktifkan ponselnya, puluhan panggilan tak terjawab pun mewarnai kotak panggilan di ponsel Sasa.


“Dia kerumah semalam” Gumam Sasa saat membuka pesan yang dikirim Faiq, bahwa ia tengah menunggu Sasa di depan rumahnya dan meminta untuk di bukakan pintu.


Sasa membaca puluhan pesan yang dikirim Faiq. Permintaan maaf, permohonan untuk balikan, hingga ajakan pergi dari kota ini pun ada. Pesan yang Faiq kirimkan, memperlihatkan bagaimana dia cukup frustasi semalam.


Sasa terus membuka satu persatu pesan masuk, hingga ia menemukan pesan terakhir yangg Faiq kirimkan.


“Aku tahu kamu lagi terluka sekarang. Maafkan aku sayang... Aku rasa, kamu butuh waktu untuk nenangin perasaanmu, aku gak akan ganggu kamu tapi aku akan terus mengawasimu. Aku cinta sama kamu Sa. Tentang dinding penghalang diantara kita, itu akan kuruntuhkan. Tunggu saja.. Hubungi aku kalau perasaanmu sudah baikan nanti, aku bakal nunggu kabarmu. Aku akan terus menunggu sampai perasaanmu menjadi baik dan kembali sama aku”


Tangis Sasa kembali pecah setelah membaca pesan terakhir yang Faiq kirim. Rasanya begitu sulit untuk mengakhiri hubungan pada seseorang yang masih sangat dicintai. Rasa sakit yang luar biasa kembali menyerangnya setelah ia menyadari, bahwa apa yang dia lakukan saat ini sangatlah bertolak belakang dengan apa yang dia rasakan. Sayangnya, dia tidak punya jalan lain untuk membuat rasa dan tindakan itu sejalan.


Bukan hanya pesan dari Faiq, tapi pesan lain juga masuk dari Azka.


“Sasa, kamu baik-baik saja?”


Belum Sasa menekan replay, ponselnya sudah berdering dengan panggilan masuk dari Azka.


Sasa mengatur nafasnya sejenak sebelum mengangkat telfon Azka. Meski suaranya serak, namun Sasa berusaha agar suaranya terdengar biasa saja.


“Halo..”


“Halo.. Sasa.. Kamu baik-baik saja?”

__ADS_1


“I-iya..”


“Kamu dimana sekarang?? Biar aku antarkan sarapan”


Bagaimana bisa Azka tahu kalau aku tidak di rumah sekarang.


“A-aku..”


“Sudah, bilang saja. Aku tahu kamu gak dirumah sekarang dan gak masuk kerja. Semalam Olla menelfonku dan bilang kalau kamu izin gak masuk hari ini”


“A-aku, aku di hotel sekarang”


“Oke, share lokasimu, aku akan kesana”


“Ka-kamu gak kerja, Ka? Hari ini kita kan dapat shift pagi”


“Aku izin..”


“Kenapa?”


“Biar aku bisa nemenin kamu. Aku tahu, kamu butuh teman sekarang. Yasudah, matikan telfonnya dan cepat share lokasimu. Aku akan kesana kalau masakanku sudah selesai. Aku masak yang spesial buat kamu”


“Ma-makasih, Ka”


Sasa sangat bersyukur, disaat keadaannya yang seperti ini, masih ada orang yang mengkhawatirkannya.


Sasa beranjak, setidaknya dia harus membasuh wajahnya agar muka sembab dan mata bengkaknya bisa sedikit membaik sebelum dia turun ke loby untuk menunggu kedatangan Azka.


.


.


.


Sudah sekitar lima menit berlalu Sasa menunggu Azka di loby, namun yang ditunggu belum juga muncul. Ia mengarahkan pandangannya keluar hotel, namun sepertinya belum ada tanda-tanda akan kemunculan Azka.


Sasa yang menggunkan masker, berusaha menutupi wajah sembabnya agar tidak menarik perhatian orang sekitar yang berada di dekatnya.


Berlalu hingga sepuluh menit dan Azka belum juga datang, membuat Sasa membuka ponselnya. Namun belum saja ia membuka kontak Azka, panggilan Azka sudah lebih dulu masuk.


Sasa melangkah keluar setelah Azka memberitahu bahwa dia sudah berada di luar hotel menunggunya. Dan benar saja, saat Sasa tiba diluar, dia sudah melihat Azka yang berdiri disamping mobilnya sambil melambaikan tangannya ke arah Sasa.


“Kamu baik-baik saja?” Tanya Azka memastikan kondisi Sasa, melihat Sasa yang menggunakan masker dengan matanya yang jelas terlihat membengkak.

__ADS_1


Sasa hanya mengangguk.


“Mau makan di taman??”


Sekali lagi Sasa mengangguk, kemanapun Azka membawanya hari ini, Sasa hanya mengikut.


Jarak antara taman dengan hotel tempat dimana Sasa menginap malam ini tidak lah jauh, sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mereka tiba disana.


Sasa menikmati sarapan yang dibuat oleh Azka, khusus untuknya. Nasi goreng merah dengan omelet, sangat bisa di andalkan untuk menebus rasa lapar dan memperbaiki moodnya.


“Gimana, enak?”


Sasa mengangguk dengan tersenyum.


“Makan pelan-pelan”


Sasa hanya tersenyum dan kembali menyuap nasi goreng yang dibuat Azka untuknya.


Perasaan Sasa menjadi lebih baik setelah perutnya terisi. Azka yang duduk disampingnya juga sangat mampu mengubah perasan sedihnya menjadi lebih baik. Perhatian Azka memberikan semangat dan ketenangan tersendiri bagi Sasa.


“Sa..”


Azka siap memulai obrolan setelah Sasa menyelesaikan sarapannya.


“Hem??”


“Kamu kenapa?”


Sasa menoleh, menatap Azka sejenak.


“Aku gak kenapa-kenapa. Aku baik-baik saja” Jawab Sasa memperlihatkan senyumannya, meski matanya belum kembali normal dan masih terlihat sedikit bengkak.


“Apanya yang baik-baik saja kalau matamu sampai bengkak begitu. Ada masalah?”


Sasa terdiam sembari menunduk. Dia tidak tahu, apakah hal seperti ini bisa dia bicarakan pada Azka.


“Sa, kalau ada sesuatu yang memberatkanmu, cerita sama aku..”


Mendengar apa yang dikatakan Azka, Sasa kembali mengingat akan hal yang terjadi padanya semalam, dan membuat matanya mulai berkaca-kaca.


Perlahan Azka mendekat, mengangkat wajah Sasa yang mulai menunduk.


“Jangan memendamnya sendiri. Aku ada disini, tempatmu untuk berbagi”

__ADS_1


Sasa hanya menatap Azka, dengan airmata yang kembali mengalir dan perlahan semakin deras.


__ADS_2