
Aku berlarian kecil dengan masih menggunakan Jas Lab dikoridor mengejar asisten dosen untuk memeriksakan laporan sementaraku, ku tidak pernah mengira jurusan Farmasi akan sesibuk ini. Sempat terbesit dalam pikiranku, kenapa aku memilih jurusan ini dan bukannya yang lainnya saja, jurusan yang mungkin bisa lebih santai sedikit. Tapi aku kembali menyadarkan diriku, ini adalah sesuatu yang harus aku lewati agar aku bisa tampil keren nanti dalam membantu kesehatan masyarakat. Selain itu aku juga bersyukur, setidaknya dengan kuliahku yang super sibuk seperti ini aku jadi perlahan bisa melupakan permasalahan perasaanku pada Fauzi.
Aku duduk tersungkur di kursi panjang yang terletak dikoridor. Rasanya lelah sekali seharian kuliah, praktikum dan mengejar asisten. Praktikan dengan Asisten sudah seperti tikus dan kucing yang saling kerjar-kejaran dan sembunyi-bunyi. Yah bagaimanapun lelahnya aku sekarang, ada rasa puas yang kudapatkan setelah melihat tanda ACC di laporanku, setidaknya tenaga yang kugunakan berlarian tidak sia-sia.
"Salwa.." Kulihat Farhan berjalan menghampiriku.
"Oh kak Farhan.." Kataku memperbaiki dudukku yang tadinya selonjoran.
"Kayaknya capek banget.." Katanya sambil melepas jas Lab.
"Iya, habis kejar-kejaran sama Asisten.."
"Tapi bersyukur setidaknya laporanmu sudah ACC" kata Farhan melirik laporan yang kupegang.
"Hehehe iya.. Kakak habis praktikum?" Tanyaku melihatnya melipat dengan rapi jas Labnya yang baru saja dilepasnya.
"Gak, aku cuman habis pemeriksaan simplisiaku saja.."
Aku mengangguk-angguk saja karena aku belum banyak mengerti tentang simplisia, pelajaran seperti itu akan kutemukan semester depan.
"Oh iya, aku lupa bilang makasih sama kakak.."
"Makasih apa?"
"Karena sudah ngajarin aku hari itu.."
"Jadi gimana hasilnya?"
"Iya betul seperti itu, berkat kakak aku jadi bisa lulus respon pintu.."
"Syukurlah, kedepannya kalau kamu kesulitan sesuatu kamu bisa tanya sama aku.."
"Iya kak makasih.." Kataku tersenyum.
"Iya sama-sama Salwa.." Katanya sambil mengelus kepalaku.
Blusshhh... rasanya hatiku sedikit bergetar. Mungkin saja aku yang terlalu berlebihan menanggapi perlakuan Farhan terhadapku, dia sepertinya biasa saja karena terlihat tidak ada responnya yang istimewa. Mungkin baginya aku hanya adik kecilnya sekarang.
"Ka kak.. Jual alat lab dimana ya?" Tanyaku untuk meredakan perasaanku yang mulai tidak karuan.
"Hem alat Lab? Banyak kok kalau disini. Kamu mau beli apa?"
"Pipet tetes sama tabung reaksi.."
"Haha kenapa? Pecah?" Tawa Farhan seolah menggambarkan pengalamannya pada pipet tetes dan tabung reaksi miliknya.
"Iya kak.."
"Haha punyaku juga dulu begitu, sekali praktikum ada saja yang pecah.."
"Makanya aku mau beli lagi kak, aku juga kesusahan sendiri kalau alat Lab ku berkurang"
"Kapan kamu mau belinya?"
"Palingan akhir pekan, soalnya akhir pekan aja kuliahnya free.."
"Oke, nanti kabari aku saja"
"Kabari apa kak?"
"Nanti aku antar belinya.."
__ADS_1
"Ta tapi aku jadi ngerepotin kakak.."
"Gak kok, aku juga harus beli erlenmeyer dan beberapa peralatan lainnya.."
"Oh gitu.. makasih kak.."
"Oke, aku duluan ya bentar lagi kelasku mulai.."
"Oh oke kak.."
Farhan berlalu sambil berlari kecil.
.
.
.
Hari ini aku janjian dengan Farhan untuk keluar membeli alat praktikum, aku sudah berpakaian rapi dan sedang menunggu Farhan.
"Aku udah jalan, tunggu sebentar ya.." Pesan singkat yang dikirim Farhan.
"Iya kak.."
Aku perlahan mulai akrab lagi dengan Farhan, kecanggungan yang sebelumnya pernah kurasakan juga perlahan mulai berkurang. Mungkin karena Farhan akhir-akhir ini sering membantuku sehingga aku mulai terbiasa lagi dengan Farhan.
Farhan tiba, aku berlari kecil masuk dalam mobilnya.
"Kita gak langsung ke tempat beli alat Lab ya.." Katanya memasangkanku sabuk pengaman, ah aku mulai salah tingkah.
"Ki kita kemana dulu?"
"Kakak gak sibuk?" Tanyaku.
"Ya kalau aku sibuk, aku gak mungkin ngajak kamu jalan-jalan kan Salwa " Katanya tersenyum yang membuat matanya semakin mengecil.
"Hehe iya juga ya.." Jawabku nyengir.
Mobil melaju, selama perjalanan Farhan menjelaskan beberapa tempat yang dia perkirakan penting untuk aku tahu. Farhan benar-benar membawaku berkeliling, kami singgah dibeberapa tempat wisata sekedar mengambil gambar bersama sekaligus Farhan memperkenalkan tempat itu. Sepertinya dia cukup sering jalan-jalan sehingga banyak tahu tentang beberapa tempat di wilayah ini.
"Kakak sering jalan?" Tanyaku.
"Dulunya sih sebelum kuliahnya menjadi sibuk.." Jawabnya.
"Sebelum kuliahnya menjadi sibuk? Lah aku dari awal kuliah sudah sibuk"
"Haha maksudku sebelum kuliah, kamu tahu kan kalau aku kesini sebelum perkuliahan semester baru dimulai. Nah waktu-waktu kosong itu aku gunakan untuk jalan-jalan biar lebih mengenal tempat ini. Sekaligus buat move on dari kamu Hahaha.."
"Eh?"
"Iya.. Emang kamu pikir move on itu mudah, waktu itu aku jalan-jalan semauku kesana kemari biar bisa lupa sama kamu, dan hasil yang kudapat dari jalan-jalanku ya ini bisa tahu beberapa tempat"
"Oh hehehe.." Aku sedikit canggung Farhan membahas itu.
"Haha sudah, gak usah canggung begitu. Semua itu sudah berlalu, aku udah gak kepikiran itu lagi kok. Tapi dibanding jalan-jalan, ada cara move on yang lebih ampuh lagi.."
"Apa kak?"
"Kesibukan kuliah.." Jawabnya menatapku sambil tersenyum. "Praktikum, laporan, ujian teori, hem benar-benar buat perhatian kita bisa teralihkan, benar-benar ampuh ngebantu kita buat move on.."
Untuk pernyataan Farhan yang satu ini sepertinya tidak bisa dipungkiri, kesibukan kuliah benar-benar membutuhkan pikiran yang ekstra sampai-sampai kita bisa mengabaikan permasalahan dan pikiran yang lain.
__ADS_1
Setelah puas berkeliling dan singgah di beberapa tempat, Farhan akhirnya mengantarku ke tujuan utama, yaitu tempat untuk membeli beberapa alat sederhana buat praktikum.
"Mau langsung pulang?" Tanya Farhan setelah kami selesai membeli beberapa alat Lab.
"Aku tergantung kakak aja.."
Farhan melihat jam.
"Emh.. Sudah sore, mau sekalian makan dulu baru pulang?"
"Boleh.." Jawabku tersenyum.
.
.
Kami tiba disebuah rumah makan.
"Kak makasih" Kataku sambil menunggu pesanan makanan datang.
Farhan yang sibuk dengan ponselnya kembai fokus padaku.
"Makasih buat apa?"
"Ya buat semuanya, kakak udah nganterin aku beli kebutuhanku, kakak udah ngebawa aku jalan-jalan dan memperkenalkan beberapa tempat, dan sekarang nemenin aku makan.."
"Kalau kamu bilang makasih berarti aku juga harus bilang makasih Salwa.."
"Kok gitu.."
"Hari ini kita sedang mutualisme, kamu mendapat keuntungan dari aku, dan aku juga sebaliknya seperti itu"
"Tapi kan yang ditemani itu aku, juga aku kan yang dapat pengalaman baru dari jalan-jalan tadi.."
"Hem.. gak juga. Aku juga kan butuh membeli beberapa peralatan Lab, jadi bukan sekedar ngantar kamu saja. Masalah ngebawa kamu jalan-jalan ya aku juga dapat keuntungan dari itu, setidaknya aku bisa keluar refreshing untuk melepaskan sakitnya kepalaku dari tugas-tugas yang menumpuk dan bersyukurnya karena ada kamu yang nemenin. Kalau tentang makan, ya karena aku mahluk hidup Salwa butuh makan biar gak mati. Haha"
Aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Sudah, gak usah berpikiran macam-macam seperti itu dan berhenti merasa sungkan sama aku Salwa" Katanya tersenyum
"Iya kak, meski begitu aku tetap harus makasih.."
"Jauh dari orangtua seperti ini, kita butuh teman setidaknya biar kita bisa merasa baik-baik saja disini. Cukup aku saja yang bingung saat pertama kali datang kesini, kamu jangan" Katanya dengan tersenyum. "Udah ah, jangan bahas hal-hal masalah budi begini.." Katanya sambil meminum segelas air didepannya.
"Iya kak"
Meskipun Farhan mengatakan kalau ini adalah simbiosis mutualisme dan memintaku untuk tidak beranggapan kalau aku menyusahkannya tapi tetap saja aku yang mengambil banyak keuntungan dan tertolong.
.
.
.
.
"Salwa kamu dimana? Tenang.. coba lihat sekelilingmu apa yang bisa kamu lihat? Beritahu aku..!!"
"Ka kak.. Hu hu hu aku takut kak.."
"Kamu dimana??? aku kesitu sekarang..."
__ADS_1