
Fauzi duduk tersungkur di ruang tunggu sembari menunggu obat Salwa selesai disiapkan.
Karena permintaan Ibu mertuanya, juga karena rekomendasi dari dokter, Fauzi memindahkan cek rutin Salwa di Rumah sakit. Ya, hanya tempat pemeriksaannya saja yang berbeda, dokter yang menanganinya adalah dokter yang sama dengan di klinik.
Setelah di periksa dan mendapatkan resep obat, Fauzi bersegera menebus obatnya ke bagian Instalasi Farmasi di rumah sakit itu, sedang Salwa sudah kembali lebih dulu bersama Ibunya. Ini adalah kali pertama Ibunya ikut menemani putrinya untuk periksa.
Perasaan kalut tidak ada henti-hentinya bertengger di perasaannya, makin hari kondisi istrinya semakin buruk dan semakin banyak obat juga yang harus di konsumsinya.
Banyak hal yang menjadi beban pikiran Fauzi. Pikirannya bukan hanya sekedar bermain di sekitar istri kesayangannya yang sedang sakit itu, tapi juga pada putrinya. Bagaimana Fauzi bisa terus-terusan menahan emosi Salwa yang semakin hari semakin sering meledak-ledak itu. Fauzi sangat tidak ingin, Mikayla akan mendapati Ibunya dalam keadaan marah, Fauzi khawatir akan rasa takut mikayla yang bisa saja menjadi-jadi pada ibunya.
Selain masalah internal itu, pekerjaan juga mengambil andil untuk menjadi hal yang menjadi beban pikiran Fauzi. dia adalah seorang direktur, dimana keadaan perusahaan berada di pundaknya, segala hal membutuhkan tanda tangannya sehingga sebisanya ia harus tetap berada dikantor setiap harinya, minimal empat sampai lima jam. Fauzi sangat berpikir untuk resign, namun beberapa proyek sudah dia mulai, dan itu bukan hal yang mudah di pindahtangankan begitu saja.
“Fauzi..”
Sapaan seseorang membuyarkan lamunan Fauzi. Laki-laki dengan ribuan kalut di pikirannya itu, perlahan mengangkat kepalanya.
“Kamu ngapain disini?” Tanyanya lagi.
“Eh? Apa kabar?”
Fauzi tidak memberi jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan untuk dia sebelumnya, dan balik bertanya sambil memperlihatkan senyumnya yang terlihat jelas sangat di paksakan itu.
“Aku baik, dan kamu bagaimana? Dan apa yang kamu lakukan disini?”
Belum Fauzi menjawab, panggilan yang ditujukan untuk resep atas nama istrinya itu disebut, membuat Fauzi hanya tersenyum sejenak kemudian berjalan menghampiri loket penerimaan obat.
Fauzi terdiam sejenak tatkala ia mendapatkan informasi pelayanan obat dari Apoteker yang sedang bertugas. Ia teringat akan istrinya yang dulu sangat handal dalam melakukan hal seperti ini, sangat profesional dengan pekerjaannya. Bahkan ingatan Fauzi sempat bermain pada waktu dimana dia untuk pertama kalinya melihat Salwa lagi setelah 6 tahun lamanya waktu itu. Keadaan istrinya saat ini, jelas tidak akan bisa melakukan hal seperti ini lagi.
Fauzi tersenyum dan mengucapkan terimakasih atas pelayanan yang telah diberikan Apoteker padanya, kemudian kembali menuju kursi sebelumnya dengan Sasa, wanita yang tadi menyapanya, sudah duduk menunggunya disana.
Langkah kaki yang setengah sempoyongan itu, membuat Sasa mengambil kesimpulan akan sesuatu yang tidak baik terjadi pada teman mantan kekasihnya itu.
“Ah, lama gak ketemu. Bagaimana kabarmu?” tanya Fauzi memulai kembali obrolan mereka.
“Aku baik, kamu kan sudah bertanya ini tadi”
“Ohaha iya, aku lupa” Kata Fauzi tersenyum sembari menggaruk pelan kepalanya yang tidak gatal itu.
“Kamu sendiri bagaimana?”
“Aku juga baik-baik saja”
“Aku tidak percaya...”
Fauzi mengangkat kepalanya, menjurus menatap Sasa yang sudah lebih dulu menatapnya dengan sorot mata penuh tanda tanya.
“Yah, karena aku ada disini dan ngambil obat, jelas tidak semuanya baik-baik saja kan?” senyum simpul penuh teka teki terus berhias di bibir Fauzi.
“Salwa sakit?” tanya Sasa, mengingat nama Salwa disebut tadi.
__ADS_1
Fauzi hanya mengangguk. Melihat Sasa menggunakan baju dinas, jelas dia adalah perawat yang bekerja di Rumah sakit itu. Tidak ada gunanya dia menyembunyikan kebenaran tentang Salwa, toh tidak satu dua kali dia akan ke Rumah sakit itu untuk mengecek keadaann Salwa dengan rutin. Dan lagi, Sasa adalah perawat disana. Meski identitas dan segala dokumen pasien di rahasiakan, namun tetap saja ada kemungkinan Sasa bisa mengakses itu.
“Salwa sakit apa?”
Fauzi terdiam sejenak. Fauzi selalu merasakan sakit yang luarbiasa setiap kali dia harus menjawab pertanyaan tentang pertanyaan penyakit yang tengah di derita oleh istrinya.
“Alzheimer” Jawab Fauzi singkat.
“A-apa kamu bilang?? Alzheimer??” Sasa bertanya ulang untuk memastikan apa yang baru saja Fauzi katakan.
Fauzi mengangguk memperjelas kebenaran yang baru ia katakan.
Mata Sasa setengah terbelalak. Penyakit yang lebih sering terjadi di bagian eropa dibanding dengan di Asia itu, membuat Sasa setengah tidak percaya.
Bagaimana bisa, perempuan cantik dengan penuh keceriaan itu, menderita penyakit yang perlahan akan menelan satu persatu kemampuannya hingga berakhir tanpa kesembuhan.
Fauzi perlahan bercerita, bagaimana awal mula penyakit itu menyerang istrinya, hingga kondisi yang terjadi saat ini pada wanita belahan jiwanya itu. Jelas saja airmata mengiringi Fauzi dari tiap-tiap hal yang dia ceritakan tentang istrinya. beberapa pasang mata sempat tertuju padanya, namun orang-orang cukup maklum akan pemandangan seperti yang di sajikan Fauzi, mengingat ini adalah rumah sakit yang berarti orang-orang yang ada disana tengah berjuang melawan sakit yang dideritanya atau melawan sakit melihat orang yang mereka cintai menderita penyakit tertentu.
Sasa mendengarkan dengan baik, airmatanya pun tidak diam saja, perlahan menetes namun dengan cepat ia seka.
“Aku turut prihatin akan apa yang terjadi pada Salwa. Semoga kamu diberi kekuatan”
Fauzi mengangguk, menyeka airmatanya dan berusaha tersenyum pada Sasa.
“Makasih Sa..”
Sasa hanya mengangguk.
“Sa, kamu gak lagi bertugas kan??”
Sasa menunduk melihat dirinya yang masih menggunakan seragam kerjanya.
“Tidak, aku lepas dinas hari ini. Tadinya aku mau pulang, tapi karena ngelihat kamu disini, aku jadi singgah dulu”
“Oh syukurlah. Sudah berapa lama kerja disini? Aku gak pernah lihat kamu di sekitar sini sebelumnya”
“Iya, aku baru disini. Baru beberapa minggu. Wajar juga kalau kita tidak pernah ketemu, selain kamu yang sibuk pada pekerjaanmu dan Salwa, aku juga yang tidak selalu keluar setelah pulang kerja”
“Ah iya, kamu pasti kelelahan setiap pulang kerja”
“Tidak juga, aku hanya malas saja..”
“Oh ya, bagaimana dengan Faiq?”
Sasa hanya tersenyum simpul, kemudian perlahan menggeleng.
“Ka-kalian belum pernah ketemu setelah kejadian itu??”
Sasa hanya mengangguk.
__ADS_1
“Faiq tidak mengabarimu juga??”
“Ya, kurasa Faiq kesusahan dan akan dalam masalah kalau ngehubungi aku”
“Jadi sekarang kamu? Sudah punya?”
Sasa tersenyum. “Aku jadi perempuan bodoh beberapa tahun terakhir ini”
Dahi Fauzi berkerut, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Sasa.
“Aku gak pernah memulai hubungan yang baru dengan oranglain. Aku cuman sibuk dengan pekerjaanku beberapa tahun terakhir ini”
“Kamu mengalihkan perasaanmu?”
Sasa tersenyum. Seperti biasa, Fauzi selalu bisa menebak dengan benar.
“Kamu sendiri? Pernah ketemu sama Faiq?”
Fauzipun hanya menggeleng. “Aku tidak tahu apa yang terjadi sama anak itu. Dia pergi tanpa permisi dan tanpa kabar setelahnya. Bahkan dia berhenti kuliah tanpa alasan”
“Kita sama saja kalau begitu”
Sasa tertawa kecil, menyadari keduanya yang sama sekali lost kontak dengan orang yang dulunya setiap hari mereka temui.
“Sasa..”
Panggilan seseorang membuat Fauzi dan Sasa menoleh kearah yang sama dari sumber suara.
Terlihat seorang laki-laki dengan postur tubuh yang bagus, alis yang tebal dan senyum yang manis, menghampiri keduanya.
“Aku kira kamu sudah pulang. Aku sempat ketempatmu tadi, tapi teman-temanmu bilang kamu sudah pulang”
“Belum, aku ketemu sama teman lamaku, jadi singgah menyapa sebentar”
Laki-laki itu menoleh menatap Fauzi, kemudian tersenyum memperlihatkan keramahannya, Fauzi balas tersenyum.
“Jadi masih mau tinggal dulu?” tanyanya lagi.
Sasa balik melihat Fauzi.
“Ah, kurasa aku juga harus pulang. Salwa pasti sudah menungguku..”
“Kapan-kapan hubungi aku, aku juga mau ketemu sama Salwa”
Fauzi hanya tersenyum dengan anggukannya.
“Kalau perlu bantuan, kamu juga bisa menghubungiku”
“Iya, makasih Sasa”
__ADS_1
Sasa beranjak, dan berlalu setelah permisi bersama laki-laki yang berjalan bersamanya saat ini