
Prolog
Setelah menjalin cinta puluhan tahun, Salwa dan Fauzi akhirnya dipertemukan dalam takdir yang mengikat keduanya sebagai pasangan suami istri. Begitu berliku kisah cinta mereka, tidak hanya sekedar hadirnya orang ketiga dalam hubungan mereka, juga tentang putusnya komunikasi selama bertahun-tahun. Tapi cinta diantara keduanya membuat mereka bisa melalui itu dan berakhir bersatu dalam ikatan cinta yang halal.
Namun, duka tidak hanya selesai ketika mereka telah bersatu. Berselang beberapa tahun dari penikahan mereka, hubungan mereka kembali di guncang badai dengan kehadiran penghapus di otak Salwa. Tanpa diduga, Salwa yang mengira dirinya selama ini hanya mengalami pikun biasa, rupanya sedang menderita Alzheimer dan sekali lagi cinta mereka diuji.
Pada akhirnya, sebuah mukjizat datang menghampiri Salwa. Penyakit yang disebutkan tidak dapat disembuhkan itu, rupanya tidak berlaku pada Salwa. Salwa dinyatakan sembuh total dan akhirnya menjalani hidup normal seperti sedia kala. Dari pernikahan Salwa bersama Fauzi, mereka di karuniai seorang putri yang kini menginjak usia remaja bernama Mikayla, dan seorang putra yang duduk di sekolah dasar bernama Dirga.
Tidak berbeda jauh dengan hubungan pernikahan Fauzi dan Salwa. Hubungan pernikahan Nina dan Farhan pun memiliki lika likunya sendiri, meski begitu hidup Nina dan Farhan tidak sesulit dengan hubungan Fauzi dan Salwa. Fariz, putra pertama Nina dan Farhan kini juga telah tumbuh dewasa. Dikarenakan persahabatan Nina dan Salwa, juga Fauzi dan Farhan, membuat Mikayla dan Fariz juga memiliki hubungan yang sangat akrab.
******
Waktu menunjukkan pukul 07:14. Seperti biasa, setelah bangun dari subuh hari, Salwa akhirnya berhasil menyiapkan sarapan untuk suami tercinta dan juga kedua buah hatinya.
Fauzi turun dari lantai dua, di susul oleh Dirga yang sudah lengkap dengan seragam sekolahnya. Tidak lupa, bedak bayi nampak masih berhamburan di wajahnya. Ya ulah siapa lagi kalau bukan ulah Ayahnya. Meski di tegur berkali-kali oleh Salwa, Fauzi masih saja asal mengusap bedak ke wajah putranya tanpa tahu meratakannya.
“Selamat pagi sayang” Sapa Fauzi pada Salwa sembari memberi kecupan manis pada istrinya.
“Pagi sayang”
__ADS_1
Fauzi dan Dirga sudah mengambil posisi duduk di depan meja makan, siap menyantap sarapan mereka pagi ini.
“Good morning Mami, Papi, Dirgaa...” Sapaan Mikayla membuat semuanya berbalik menatap Mikayla.
Ya, Mikayla adalah seorang gadis yang periang, tentunya sifat seperti itu di turunkan dari Ibunya, mengingat Salwa adalah gadis periang semasa ia remaja dulu.
Ciuman manis Mikayla mendarat lembut di pipi Ibunya, disusul di pipi Ayahnya hingga yang terakhir...
“Kenapa bedak Dirga setiap pagi seperti ini sih?” Keluh Mikayla sembari merapikan bedak sang adik agar merata di wajahnya yang berpipi chubby itu.
“Papimu tuh, setiap hari sudah Mami tegur, tapi tetap aja dia ngebuat bedak Dirga blepotan”
Fauzi memang bertugas mengurus Dirga setiap paginya sembari Salwa menyiapkan segala perlengkapan mereka. Semuanya dilakukan dengan baik, kecuali perihal bedak Dirga. Bagi Fauzi, bedak itu berantakan atau tidak, tidak akan berpengaruh besar. Toh bedak berhambur di wajah untuk anak seusia Dirga, adalah hal yang sering ditemukan.
“Ya kan gak apa. Bedak berantakan seusia Dirga tuh keliatan lucu Kayla”
“Lucu apanya? Yang ada..”
“Seengaknya kan Dirga tetap harum” Potong Fauzi.
__ADS_1
“Tapi Pi..”
“Sudah sudah.. Kalian kapan sarapannya kalau berdebat terus” Salwa mencoba melerai perdebatan yang terjadi antara putri dan suminya itu.
Tidak hari ini saja, hampir setiap hari kegaduhan terjadi di rumah mereka. Tapi kegaduhan yang seperti itu adalah tanda betapa harmonisnya keluarga mereka.
“Hari ini aku gak berangkat sama Papi” Kayla kembali membuka percakapan setelah acara berdebatnya dengan sang Ayah selesai.
“Kenapa?”
“Fariz ngejemput aku pagi ini”
“Hem sayang, kamu bakal ngerepotin Fariz kalau dia harus ngejemput kamu dulu baru ke sekolah” Tegur Salwa, mengingat arah rumah mereka dengan rumah Fariz berlawanan.
"Kan bukan aku yang minta Mi, Fariz yang nawarin tumpangannya buat Kayla"
"Tetap saja..."
Belum Salwa menyelesaikan kalimatnya, suara bel yang ditekan dari luar, menyentuh indra pendengar mereka.
__ADS_1
"Itu pasti Fariz" Mikayla langsung beranjak dari duduknya. "Aku berangkat dulu Mi, Pi" Sekali lagi Mikayla memberikan kecupan manis di pipi kedua orangtuanya. Tentunya, Dirga juga mendapatkan kecupan yang sama.
Dengan berlari kecil, Mikayla menghampiri Fariz.