Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
3 am


__ADS_3

Hari-hari Fauzi semakin terasa kelam setelah hasil tes MRI Salwa keluar dan benar ditemukan sebuah plak dari protein yang telah menganggu sel-sel pada otak Salwa. Seusaha Fauzi menolak kenyataan, namun tak ada yang bisa dia lakukan selain menyadarkan diri, bahwa inilah yang benar terjadi saat ini.


Semakin hari, keadaan Salwa semakin jauh dari kata baik. Hal-hal yang awalnya hanya sesuatu yang sekedar dia lupakan, kini berfomulasi semakin menjadi-jadi. Delusi yang terjadi lebih sering dari sebelumnya, kemampuan daya ingatnya semakin menurun dan kemampuan verbal yang perlahan mulai terganggu.


Hal itu sama sekali tidak mengurangi rasa cinta Fauzi pada istrinya. Fauzi tetap sabar mengarahkan istrinya untuk melakukan kegiatan sehari-hari seperti biasanya. Hanya saja, dia tidak bisa sepenuhnya mengontrol istrinya 24 jam penuh, mengingat ia masih memiliki tanggung jawab pada pekerjaannya.


Mikayla jadi lebih sering Fauzi titipkan pada Afifah, dengan alasan Mikayla yang sering kesepian tinggal dirumah sendirian. Alasan klasik Fauzi yang cukup masuk akal bagi Afifah, toh Ayah dan Ibunya juga sangat senang jika Mikayla berkunjung dirumahnya. Sedang Salwa, perlahan mulai melupakan dirinya sebagai seorang Ibu. Jika pun ingatannya tersentuh akan statusnya sebagai orangtua, itu tidak akan bertahan lama dan hanya berlalu begitu saja.


Namun meski begitu, Salwa masih sangat menyayangi Mikayla. Jika Mikayla terjangkau dalam pandangannya, dia akan tetap mengurusi Mikayla seperti biasanya.


Hampir tiap malam, Fauzi ditemani airmatanya sebelum terlelap. Memandangi istrinya yang tidur dengan tenang, namun menyimpan keambiguan dalam kepalanya. Tidak ada yang bisa Fauzi lakukan, berulang kali dia meminta dokter itu mencari jalan untuk menyembuhkan Salwa, namun hasil yang sama selalu dia peroleh, sebuah hasil yang menyatakan bahwa benar tak ada jalan bagi Salwa untuk bisa sembuh.


Hanya obat-obatan, yang bukan untuk menyembuhkan, namun hanya memperlambat perkembangan Alzheimer dan membantunya untuk tetap bisa aktif dalam melakukan kegiatan sehari-hari.


Fauzi terjaga setelah sedikit terkejut akan mimpi yang seketika ia lupakan ketika terbangun. Namun belum saja Fauzi mengumpulkan kesadarannya, ia kembali dibuat terkejut akan ketidakberadaan Salwa disampingnya.


Fauzi dengan cepat beranjak dari tempat tidurnya.


“Salwa..” panggilnya.


Sunyi, tak ada jawaban dari panggilan Fauzi.


Fauzi melangkah mengecek kamar mandi, kemungkinan besar keberadaan istrinya adalah di kamar mandi, mengingat waktu masih menunjukkan pukul 3 pagi. Seharusnya tidak ada yang bisa Salwa lakukan di waktu sepagi ini, sehingga kemungkinan terbesar keberadaannya adalah di kamar mandi.


Namun kemungkinan yang Fauzi pikirkan terbantahkan setelah ia tidak menemukan Salwa disana. Fauzi memutar haluan, keluar dari kamar dan menuju dapur. Mungkin saja Salwa sedang haus sehingga harus melegakan tenggorokannya dengann segelas air.


Fauzi mempercepat langkahnya, dengan tidak sabaran ia segera ingin menjangkau Salwa dalam pandangannya. Namun lagi, Fauzi tidak menemukan Salwa disana. Kekhawatiran mulai merasukinya, kesadarannya terkumpul penuh dengan kegelisahan yang menghampirinya.


Fauzi berlari kecil menuju kamar Mikayla, mungkin saja putri semata wayangnya itu tengah rewel sehingga Salwa harus beranjak dari kamarnya menuju kamar putri mereka untuk menenangkannya.


Fauzi semakin khawatir, semakin gelisah tatkala ia tidak menemukan Salwa berada dalam kamar Mikayla. Pukul tiga pagi, Fauzi mengelilingi rumahnya untuk mencari keberadaan istrinya, hingga ia mencari di seluruh sudut rumahya, namun tetap saja dia tidak menemukan Salwa.


Fauzi melangkah kembali menuju kamarnya, sekiranya Salwa sudah ada disana, meski itu adalah kemungkinan yang sangat sulit diterima oleh nalar, namun ia berharap lebih seperti itu. Namun belum sampai langkah kakinya, ia mendapati sesuatu yang semakin membuatnya gelisah khawatir tak menentu.


Pintu rumah mereka tidak tertutup dengan rapat, sedang jelas sekali Fauzi mengingat, bahwa ia menutup semua pintu dan jendela rumah sebelum tidur semalam. Kunci yang masih bertengger, telah terputar arah.


Fauzi masih tidak ingin berpikir yang tidak-tidak, tapi dia yang tidak menemui keberadaan istrinya bahkan setelah ia mengelilingi rumahnya, semakin memperkuat kemungkinan bahwa istrinya tidak berada dalam rumah dan sedang berada diluar saat ini, entah kemana dan apa yang dia lakukan di luar di pagi buta begini.


Fauzi berlari keluar, menyapu sekitarnya dengan pandangannya, sekiranya ia bisa segera menemukan istrinya. Panggilan berulang-ulang ia lakukan, namun tidak mendapat jawaban sama sekali.


Di remang-remang dari lampu jalan yang menyinari, Fauzi berusaha mencari Salwa. Berlari kecil tanpa tujuan, menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tetap saja dia tidak menemukan keberadaan Salwa. Titik-titik keringat yang keluar entah hasil dari lelah berlari atau kegelisahan, mulai tampak pada dahi Fauzi yang mulus dan mulai membasahi rambut di sekitarnya. Jika saja ada orang yang melihat, mungkin orang itu akan berpikir bahwa Fauzi sedang tidak waras saat ini.

__ADS_1


Kegelisahan bercampur takut, membuat langkah Fauzi semakin cepat. Tak ada rasa lelah yang menghampirinya, hanya kekhawatiran yang terus bertahta di perasaannya. Sudah sekitar 15 menit ia berlarian mencari Salwa, namun belum juga ia menemukannya.


Fauzi berhenti tepat dibawah lampu yang remang-remang. Airmatanya menetes, rasa putus asa nyaris membuatnya ingin menyerah, namun cintanya pada Salwa tidak akan mampu membuat rasa putus asa itu berkembang lebih dari apa yang dia rasakan saat ini.


“Fauzi..”


Panggilan yang samar-samar namun tertangkap baik oleh indra pendengaran Fauzi itu, refleks membuatnya berbalik.


Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat Salwa dengan piyama tanpa alas kaki dengan dompet di tangannya. Tanpa aba-aba, Fauzi berlari menghampiri istrinya, berhambur memeluk Salwa melepaskan segala kegelisahannya.


“Kamu dari mana sayang?? Ngapain kamu keluar subuh-subuh begini??”


Airmata Fauzi makin deras. Ia mendekap istrinya dengan kuat.


“A-aku. A-ku mau beli susu”


Fauzi menyeka airmatanya sebelum ia melepas pelukannya. Cengkramannya sedikit kuat menekan bahu Salwa.


“Susu apa? Kenapa subuh-subuh begini??”


“Susu untuk Mikayla, nanti malam dia bisa rewel kalau gak minum susu sebelum tidur”


Fauzi menatap istrinya lekat. Apalagi yang tengah istrinya bicarakan saat ini.


“kelamaan kalau harus nunggu pagi. Malam ini kan Mikayla harus tidur”


Tidak satu kali Fauzi memperjelas bahwa putri mereka itu sudah tidur, namun tetap saja Salwa berpikiran untuk menidurkan putrinya seolah-olah Mikayla masih terjaga sekarang.


“Ya ta-tapi kenapa sekarang? Kenapa subuh-subuh begini??”


“Subuh??” Tanya Salwa memperjelas.


Fauzi terdiam sejenak, apakah istrinya sudah tidak bisa mengenali waktu sekarang?


“Aku gak dapat susunya” Katanya dengan sedikit cemberut.


Salwa mengalihkan pembicaraan sebelumnya.


“Kenapa sekarang tokonya tutup cepat sekali?” keluhnya.


“Cepat??”

__ADS_1


“Iya, masa baru jam delapan begini, semua toko sudah tutup. Dan lagi, kenapa gak ada orang? Padahal ini kan belum larut”


 


Deggg....


Fakta apa lagi ini?? Apalagi yang sedang ada dalam pikiran istrinya sekarang.


“Sayang, ini bukan jam delapan malam” kata Fauzi meluruskan. Airmatanya sudah menetes, ia tidak bisa lagi menahannya. “Sekarang jam tiga subuh sayang, bukan malam”


Salwa terdiam, menunduk sejenak kemudian perlahan mengangkat kepalanya menatap Fauzi dengan airmata yang mulai membasahi pipinya.


“Ini subuh?” tanya Salwa memperjelas.


Fauzi hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan istrinya.


“Bukan jam 8 malam?”


Fauzi memeluk istrinya. “Bukan sayang, ini subuh. Dan gak ada toko yang buka di jam begini”


“Ta-tapi..”


“Ayo kita pulang..”


“Su-susu Mikayla bagaimana??”


“Aku yang beli, nanti aku beli. Sekarang ayo kita pulang..”


Salwa menurut saja ketika Fauzi mengarahkannya berjalan kembali.


Tak ada suara di malam yang menjelang pagi itu. Hanya dua insan dengan perasaan yang berbeda, bergandengan berjalan kembali menuju rumah mereka. Insan yang tengah kebingungan dengan waktu dan Insan lainnya yang tengah di deru perasaan pilu, akan keadaan yang baru saja di sajikan untuknya.


Berhenti bercanda padaku. Apa kau senang mencabik-cabik hatiku melalui penghapus yang kau hadirkan di kepala istriku? Sungguh, aku benci pada dunia yang memberikan hal ini padaku


.


.


.


.

__ADS_1


.


huhuhu.. maafkan aku karena telat Up :'(


__ADS_2