Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Kebiasaan...


__ADS_3

Waktu berlalu. Beberapa waktu yang lalu tepatnya sekitar kurang lebih lima bulan yang lalu dari sekarang aku mengantar Fauzi ke bandara. Sudah hampir satu semester Fauzi menjalani hari-harinya sebagai mahasiswa disana. Sebulan pertama Fauzi disana dia tidak kembali dikarenakan sibuk dengan awal perkuliahannya. Meskipun Fauzi tidak bisa pualng untuk awal perkuliahannya tapi hampir setiap ada waktu Fauzi menghubungiku sekedar bertanya kabar sampai menceritakakn hal-hal baru yang dia rasakan selama menjadi mahasiswa baru. Terkadang Fauzi menelfon tengah malam ketika ia tidak sempat memberiku kabar seharian, alhasil karena lelah bukannya kami saling bercerita malah sama-sama tertidur meskipun telfon masih terhubung. Namun setelah berjalan tiga sampai empat bulan perkuliahannya Fauzi jadi rutin pulang setiap akhir pekan.


Sama halnya dengan Fauzi, Farhan juga mulai masuk kuliah. Sesekali Farhan datang menjemputku kesekolah seperti hari ini.


"Aku didepan.." Pesan teks yang dikirim oleh Farhan.


Aku bergegas keluar setelah mendapat pesan dari Farhan.


"Mau kemana? Mau jalan dulu atau langsung pulang?" Tanya Farhan sambil memasangkan sabuk pengamanku.


"Kamu gak kuliah.."


"Hem... kamu kebiasaan, kalau ditanya ya dijawab dulu sayang.."


Dulu aku selalu risih ketika Farhan memanggilku sayang, bahkan sesekali otakku impulsif menganggap Farhan adalah Fauzi ketika Farhan mengirim pesan dengan panggilan sayang. Tapi akhir-akhir ini aku mulai terbiasa seiring terbiasaku jalan keluar bersama Farhan. Mungkin karena tidak lagi harus sembunyi-sembunyi Farhan jadi lebih memperlihatkan perhatiannya.


"Ya aku tanya, kalau kamu ada kuliah ya langsung pulang aja.."


"Gak ada kok, cuman satu jam kuliah aja hari ini, perkenalan mata kuliah.."


"Oh ya udah.."


"Mau jalan dulu?"


"Boleh.."


Farhan mengendarai mobilnya entah kemana ia mau kemana? Berbeda dengan Fauzi yang selalu menurut kemana aku mau sehingga selalu bertanya ketempat mana yang ingin aku tuju, Farhan lebih sering menanyakan persetujuanku untuk pergi atau tidak, masalah spotnya Farhan yang menentukan.


"Fauzi ada ngabarin kamu pagi ini?"


"Gak ada, mungkin masih si.." Belum selesai ucapanku telfonku sudah berdering satu panggilan masuk dari Fauzi.


Farhan terdiam melihat panggilan masuk Fauzi, ia memberiku waktu untuk mengangkat telfon Fauzi.


"Halo"


"Kamu dimana sayang? Udah pulang sekolah.."


"Iya udah.."


"Sekarang lagi dimana?"


"Lagi dijalan pulang.."


"Kok bisa angkat telfonku, kamu gak bawa sepeda?"


"Ah itu.. aku gak, aku pulang ikut temen..."


"Temen siapa.."


"Ya temen sekelasku.. yaudah dulu ya, gak enak ngobrol sama kamu padahal ini lagi sama teman.."

__ADS_1


"Oh gitu.. yaudah kabari aku kalau sudah sampai.."


"Oke..."


"Hati-hati sayang.. aku matiin telfonnya.."


Perlahan aku sudah terbiasa berbohong hal kecil seperti ini pada Fauzi. LDRan seperti ini membuat aku semakin mudah berbohong saja pada Fauzi. Perkataan Fauzi untuk menjauhi Farhan kuiyakan pada saat Fauzi minta saja waktu itu, pada kenyataannya bukannya menjauh Farhan semakin lengket saja setelah aku dan Fauzi LDRan. Aku juga tidak tau kenapa, mungkin karena Fauzi tidak ada perlahan aku jadi nyaman ditemani Farhan, niatku yang dulunya selalu ingin berpisah dari Farhan hilang entah kemana. Aku selalu menikmati waktuku jalan berdua dengan Farhan, pulang sekolah dijemput dan jalan sebentar atau keluar bersama diakhir pekan.


Tentu saja selain menyembunyikan ini dari Fauzi aku juga menyembunyikan hal ini dari Ibu, karena Ibu sangat menyukai Fauzi jelas dia akan melarangku dengan Farhan kalau Ibu tahu hubunganku dengan Farhan yang sebenarnya, yang Ibu tahu Farhan adalah temanku dan teman Fauzi sehingga aku sering bilang pada Ibu bahwa Fauzi tau setiap kali aku jalan sama Farhan. Meskipun begitu Ibu sesekali menegurku. "Jangan sampai ada kesalahpahaman antara kalian bertiga nantinya, karena gak ada hubungan pertemanan antara laki-laki dan perempuan tanpa ada perasaan diantara salah satunya" Kata Ibu. Aku mengiyakan saja perkataan Ibu waktu itu.


Seperti biasa, Farhan selalu tau yang bagus. Kami menikmati waktu bersama, jalan berkeliling setelah makan siang sambil menikmati beberapa makanan kecil yang sempat kami beli tadi.


"Dulu aku cuman bisa ngebayangin aja jalan sama kamu seperti ini, tapi sekarang ini bukan lagi sekedar hal yang hanya bisa aku bayangkan.." Kata Farhan meraih tanganku.


"Segitu sukanya kamu sama aku.."


"Begitulah.."


"Sejak kapan?"


"Apanya?"


"Kamu suka sama aku?"


"Sejak kapan ya.. Sejak aku nembak kamu waktu itu.."


Aku berhenti..


"Masa iya, kamu naksir aku langsung nembak.."


Farhan tertawa kecil, lalu menarikku dan kembali jalan beriringan.


"Emang kalau udah suka harus nunggu beberapa waktu dulu gitu baru nembak.."


"Ya gak.. kan kamu bisa kenal aku lebih dulu gitu atau apalah.."


"Hem.. kupikir saling mengenal setelah jadian itu lebih baik..."


"Kok aku mikirnya gak gitu ya.."


"Haha ya karena kamu mikirnya gak gitu akhirnya aku ditolak.."


"Ya lagian kamu, kenal kagak datang-datang ngomong suka.. Ya aku mana nggeh waktu itu.."


"Hem.. terserahlah waktu itu seperti apa, yang jelas sekarang aku bisa jalan sama kamu sambil ngegandeng tangan kamu seperti sekarang ini.." Katanya tersenyum


Aku balas tersenyum.


"Aku gak tau kedepannya kita akan seperti apa, tapi bisa seperti ini saja udah ngebuat aku senang sekali Salwa.. aku tau, kamu punya mimpi kedepannya sama Fauzi, tapi aku akan berusaha sebisaku, aku yakin masalah jodoh itu ditangan Tuhan."


"Tapi.." Kata-kataku terpotong karena ponselku berdering.

__ADS_1


"Iya..?"


"Kamu udah dirumah?"


"Be belum.. ini aku lagi diluar.."


"Kamu kemana?"


"Gak cuman jalan aja sama temen.. Ini kamu kok nelfon terus, gak kuliah.."


"Kok kamu ngomongnya kayak gitu, bukannya senang kalau aku telfon.."


"Ya gak gitu, maksud aku kan karena biasanya kamu sibuk kuliah.."


"Aku nelfon kamu karena sekarang aku lagi gak kuliah sayang.."


"Yaudah entar malam aja nelfonnya, aku lagi diluar.."


"Taa.. tapi.."


"Udah ya.. entar malam baru nelfon.."


"Oh.. eh iya.. Yaudah hati-hati nanti kalau pulang, jangan kesorean.."


"Iyaa iyaa... Udah ya.." Kataku memutuskan telfon..


"Kamu kenapa?" Tanya Farhan kebingunan yang melihatku sedikit kesal.


"Gak tau juga, berasa kayak di Satpamin aja sama Fauzi, kemana-kemana ditanyain terus.."


"Ya karena kalian lagi LDRan jadinya dia kayak gitu.."


"Kok kamu malah ngebelain dia sih?"


"Eh bukannya ngebelain sayang.. kan aku.."


"Udah ah.. gak usah dibahas.."


"Iya iya udah gak usah dibahas lagi.. Ini mau lanjut jalan apa mau pulang, udah mau sore.."


"Masih mau jalan.."


"Ashiaap nona, aku ngikut maunya kamu saja.."


"Ishh.. apaan sih kamu..."


"Hehehe aku cuman gak mau kena marahnya kamu juga.. yaudah ayo jalan lagi.." Kata Farhan menggenggam tanganku.


Terkadang ada waktu dimana aku merasa aku bukan diriku sendiri. Aku yang biasanya kesal kalau tidak dikabari Fauzi berubah menjadi kesal kalau Fauzi terus menghubungiku. Terkadang aku merasa telfon Fauzi seperti suatu gangguan yang menghalangi-halangi aktifitasku, apalagi kalau sedang jalan sama Farhan, aku seperti lelah aharus mencari alasan tiap kali Fauzi menelfon dan bertanya aku dimana sedang apa dan sama siapa, aku merasa Fauzi terlalu introvert akhir-akhir ini.


Entahlah, aku merasa Fauzi yang mengaggu ataukah aku yang mulai berubah..

__ADS_1


__ADS_2