
Sudah empat hari berlalu dari kejadian dimana Salwa selalu merasa kebingungan di tengah-tengah kegiatannya. Malam yang begitu panjang bagi Fauzi waktu itu, akhirnya terlewatkan dengan kekhawatirannya yang perlahan sirna saat ini.
Hari itu adalah kali terakhir Fauzi mendapati Salwa dengan kondisi yang sedikit membingungkan. Hal-hal aneh sebelumnya yang terjadi pada Salwa, sudah tidak terjadi lagi empat hari belakang ini. Salwa kembali normal seperti sebelumnya.
Salwa bangun pagi seperti biasanya, menyiapkan baju yang akan digunakan Fauzi berangkat kerja, memasak dan mengurus Mikayla seperti biasanya. Salwa yang kembali seperti sebelumnya membuat Fauzi merasa lega. Kekhawatiran yang sempat melandanya hingga membuatnya tak bisa tidur semalaman itu, akhirnya hanya menjadi kekhawatiran yang tak berarti.
Meski Salwa sudah kembali seperti sebelumnya, namun Fauzi tetap menyarankan agar Salwa menuruti permintaan dokter untuk tetap kembali memeriksakan kesehatannya.
Hari ini, Fauzi harus menemui seorang klien lebih awal, sehingga Fauzi harus berangkat kerja lebih cepat dari hari-hari biasanya.
Salwa sudah mulai berkutit di dapur sedari subuh, menyiapkan sarapan dan bekal suaminya lebih awal, mengingat semalam suaminya itu menyampaikan bahwa ia akan berangkat lebih awal pagi ini. Hingga segala urusan dapur telah selesai, Salwa kembali ke kamar dan membantu suaminya bersiap diri sebelum berangkat kerja.
“Maaf sayang, aku jadi ngerepotin kamu pagi-pagi begini” Kata Fauzi merasa bersalah karena membuat istrinya bangun lebih awal untuk menyiapkan kebutuhannya.
“Sudah tugasku sayang..” Jawab Salwa tersenyum sambil merapikan dasi yang melingkar di leher Fauzi dengan sebagian bersembunyi dibalik kerah kemeja putih yang Fauzi gunakan.
Fauzi akhirnya pamit dan berangkat satu jam lebih awal dari waktu ia berangkat kerja di hari biasanya.
.
.
.
Beberapa bulan yang lalu, Fauzi sebagai direktur di perusahaan mengirim sebuah proposal kerjasama pada perusahaan lain yang bergerak pada bidang yang sama dengan perusahan yang menaunginya saat ini. Ya, Ayah Farhan yang memiliki usaha yang terbilang maju, mempercayakan salah satu anak perusahaannya pada Fauzi. Jelas bukan karena Fauzi adalah sahabat dari anaknya sehingga ia mempercayakan Fauzi pada posisi sebagai direktur, melainkan karena kinerja Fauzi yang memuaskan dan dapat dipercaya, juga keprofesionalannya dalam bekerja.
Mengingat perusahaan yang dituju saat ini termasuk perusahaan besar, sehingga Fauzi turun tangan langsung dalam mengirim proposal hingga pengadaan pertemuan.
Seminggu yang lalu Fauzi mengirim proposalnya, dan baru kemarin lusa Fauzi mendapat respon sekaligus ajakan pertemuan untuk membahas bagian kecil dari kerjasama itu, sebelum akhirnya akan dibahas dalam rapat untuk pembicaraan yang lebih menjurus pada hasil, dan segala hal yang menyangkut tentang kerjasama tersebut.
Fauzi sudah tiba di tempat dimana sebelumnya mereka sepakati untuk mengadakan pertemuan. Pihak perusahaan yang akan datang bertemu dengan Fauzi pun adalah seorang direktur, membuat Fauzi tidak ingin membuatnya menunggu hingga datang lebih awal satu jam dari jam 8 yang disepakati sebelumnya.
__ADS_1
Fauzi bersandar pada punggung kursi sembari memainkan ponselnya, mengirim pesan pada kekasih hatinya dan menanyakan, apakah putri mereka satu-satunya itu sudah berangkat ke sekolah atau masih sibuk membuat Ibunya dalam mengurusinya. Senyuman tidak lepas dari bibir Fauzi tatkala Salwa mengiriminya pesan gambar yang menampilkan Mikayla sedang cemberut karena Ayahnya yang kerap ia panggil Papi, sudah berangkat lebih dulu pagi ini.
“Sepertinya ada sesuatu yang membahagiakan di ponselmu, sampai kamu senyum-senyum begitu”
Teguran seseorang menyadarkan Fauzi dan mengalihkan perhatiannya dari ponselnya.
Seorang wanita bermata bulat, dengan bulumata lentik kini duduk didepan Fauzi. Ia tersenyum menatap Fauzi dengan bibir kecilnya yang dihiasi dengan warna lipstik nude.
Wajah yang tak asing, namun tidak cukup familiar untuk membuat Fauzi bisa mengingatnya.
“Haiss.. Dari tatapanmu, sepertinya kamu gak ingat sama aku..”
Fauzi hanya tersenyum simpul, tidak mengelak dengan apa yang dikatakan oleh perempuan yang sedang duduk di depannya, dengan tatapan yang tak teralihkan.
“Maaf..”
“Kenapa minta maaf? Sudah sepuluh tahun lebih, jadi wajar saja kalau udah lupa sama aku” Katanya dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya.
“Sudah pesan makan?”
“Belum”
“Gimana kalau kita sarapan dulu? Aku belum sarapan..” Katanya sembari meraih daftar menu yang tersedia diatas meja.
Fauzi hanya menatapnya.
Sadar akan tatapan Fauzi yang tidak lepas darinya, perempuan itu angkat bicara “Hei.. Kenapa menatapku seperti itu. Aku tahu kalau kamu sudah lupa sama aku, tapi tatapan itu ngebuat aku seperti orang yang benar-benar asing..”
“Ah tidak, bukan begitu maksudku..”
“Oh iya.. Aku lupa memperkenalkan diri dan sibuk saja berbicara. Ha ha ha jadi wajar saja kamu kebingungan. Tenang, aku orang yang ada janji ketemu sama kamu kok, bukan orang yang asal duduk saja di depanmu” Jelasnya.
__ADS_1
Fauzi hanya tersenyum. Tidak banyak yang dikatakan Fauzi, selain pikirannya yang berusaha mengingat perempuan yang sedang duduk di depannya itu, sebelumnya ia juga kebingungan memastikan, apakah perempuan itu benar adalah orang yang memiliki janji untuk bertemu dengannya. Dan akhirnya perempuan itu menjawab pertanyaan yang hanya Fauzi sampaiakn melalui tatapannya.
“Aku Karin, direktur perusahaan yang menerima proposal kerjasama dari perusahaanmu” Katanya sambil mengulurkan tangannya
Fauzi meraih dan menyalami tangan yang putih bersih dengan gelang emas putih yang menghias pergelangan tangannya menambah kesan feminim.
“Fauzi. Sebelumnya terimakasih karena sudah menerima proposalnya dan merespon serta bersedia melakukan pertemuan ini..”
“Bahasanya tidak usah kaku begitu, santai saja..” Tegurnya. Ya Bahasa Fauzi memang sedikit formal, mengingat pertemuan yang sedang berlangsung ini adalah bagian dari pekerjaannya.
Fauzi hanya tersenyum menanggapi.
“Aku gak banyak menanggapi proposal-proposal seperti itu, tapi karena aku melihat namamu juga perusahaanmu, aku jadi tertarik untuk melakukan kerjasama ini”
“Bukan perusahaanku” Kata Fauzi memperjelas anggapan keliru dari wanita yang terus-terusan berbicara santai dengannya, meski pertemuan mereka saat ini adalah pertemuan antar rekan kerja. “Perusahaan itu milik orang tua seorang teman, dan mempercayakannya pada saya”
“Fauzi... Fauzi... Kenapa kaku seperti ini sih?” Tawa kecil nan renyah menyertai perkataannya. “Aku tahu kita sedang dalam pertemuan rekan kerja, tapi kan aku bukannya orang yang benar-benar tidak kamu kenal sampai harus berbicara formal begitu. Ha ha kemana sifat humorismu itu? Apa itu hanya berlaku kalau kamu lagi kumpul dengan Farhan dan teman-temanmu yang lain, hem??”
Dia mengenal Farhan??
Fauzi berusaha keras mengingat wanita yang ada didepannya, namun memorinya tentang perempuan itu sepertinya tertimbun jauh sehingga sedikitpun Fauzi tidak bisa membangkitkan ingatan itu.
“Ah sudah sudah.. Ayo sarapan dulu, aku gak bisa kerja kalau perutku dalam keadaan kosong”
Wanita itu menyodorkan buku menu pada Fauzi. Fauzi sebenarnya tidak sedang lapar, masakan istrinya pagi ini cukup nikmat meski dibuat pagi-pagi buta, sehingga membuatnya makan dengan lahap dan kekenyangan. Namun demi menghargai rekan yang sekarang sedang duduk didepannya itu, akhirnya Fauzi kembali memesan makanan ringan.
“Melihatmu yang gak ingat sama aku, bahkan saat aku sudah memperkenalkan diri, membuat aku sadar kalau kehadiranku dalam hidupmu sebelumnya benar-benar tidak berkesan” Ucapnya lirih dengan penuh kekecewaan.
“Maaf..”
Tidak kata lain yang bisa Fauzi katakan selain kata maaf, benar ingatannya tidak bisa menggali siapa sebenarnya wanita yang ada di depannya saat ini.
__ADS_1