Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
U make me cry.


__ADS_3

"Aku sudah memikirkannya beberapa kali dan aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita"


Mataku berkaca-kaca, perlahan airmataku menetes. Aku seperti ditimpah bom waktu di pagi hari.


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba? Kenapa bercanda buruk seperti ini?"


Sekitar seminggu yang lalu adalah kali terakhir aku bertemu dengan Farhan, hari dimana juga Nina melihatnya bersama dengan perempuan lain yang di klaim Nina itu adalah pacarnya. Aku sempat kepikiran waktu itu, tapi pada akhirnya pikiran itu hanya berlalu begitu saja tanpa arti, karena yang terpenting bagiku sekarang adalah bisa kembali bersama Fauzi dan menjalani hubungan kami dengan baik-baik saja. Tapi entah kenapa dan ada apa hari ini sampai Fauzi mengirimiku pesan seperti itu, pesan yang membuatku menahan nafas sejenak membacanya.


AkuĀ  langsung menelfonnya, aku ingin memastikan dan menanyakan tentang pesan yang dikirimnya ini. Dari lubuk hatiku, aku berharap Fauzi hanya bercanda. Ya aku akan marah kalau tahu Fauzi hanya bercanda, tapi itu lebih baik dari pada harus menjadikan ini sebagai sebuah kenyataan.


Panggilanku tidak bisa tersambung, Fauzi lagi-lagi memblokir panggilanku. Aku harus bagaimana? Aku butuh penjelasan Fauzi tentang pesan yang dikirimnya.


"Kenapa nomorku di blok lagi?" Aku mengiriminya pesan singkat berharap pesan itu masih sampai.


Pesanku terkirim, centang dua yang menandakan pesan itu terkirim. Syukurlah, setidaknya dia tidak memblok pesanku. Tanda centang dua tadi sudah berubah warna menjadi biru, dia sudah membacanya.


"Maaf, aku cuman gak mau berdebat lagi sama kamu.." balasan pesan Fauzi beberapa saat setelahnya


"Maksud kamu ngirim pesan kayak gitu apa?"


Aku hanya bisa berkomunikasi dengan Fauzi menggunakan pesan teks saja.


"Aku sudah gak bisa mempertahankan hubungan kita lagi, aku sudah sampai pada batasku"


"Kamu ngomong apa sih? Sampai batas apanya? Kenapa tiba-tiba seperti ini? Kamu lagi ngeprank aku kan?" Tanyaku bertubi-tubi. Aku punya ratusan pertanyaan yang butuh jawaban sekarang.


"Aku benar-benar ingin putus Salwa, aku sudah tidak tahan lagi sama perasaanku"


"Tidak tahan apanya? Apa yang sudah aku lakukan sampai kamu gak tahan lagi? Kita sudah baik-baik saja sekarang kenapa tiba-tiba seperti ini lagi?" Aku sudah seperti perempuan yang membuang harga diriku dengan bertanya seperti ini.


"Aku selalu memberimu kesempatan, dan selalu juga kamu tidak menggunakkannya.."


"Kesempatan apa? Aku gak ngerti maksud kamu" Aku benar-benar bingung dan tidak mengerti dengan apa yang Fauzi maksud.


"Apa sesulit itu untuk jujur sama aku Salwa? Kenapa kamu harus nyembunyiin kalau kamu ketemu sama Farhan seminggu yang lalu?"


Di dia tahu? Darimana dia tahu tentang itu? Dan lagi kenapa baru sekarang dia membahasnya?

__ADS_1


"Itu.. Aku cuman gak mau kamu salah paham lagi Ozi.."


"Kamu gak menjawab telfonku hari itu, kamu sengaja menyembunyikannya.."


"Aku gak bermaksud menyembunyikannya, aku berniat akan ceritain semuanya ke kamu, aku cuman cari waktu yang pas saja buat cerita"


"Bukannya aku sudah bilang untuk cerita semuanya ke aku? Hari itu aku selalu tanya sama kamu, apa ada hal yang mau kamu bilang sama aku? Aku selalu selalu menanyaimu berharap kamu akan jujur sama aku.."


"Aku beneran gak bermaksud nyembunyiin semuanya dari kamu Ozi.."


"Aku menunggu selama seminggu Salwa, aku selalu berharap kamu akan jujur sama aku, aku berharap kamu akan cerita semuanya sama aku"


"Maafin aku Ozi, aku benar-benar gak bermaksud buat nyembunyiin ini semua sama kamu.."


"Iya, aku juga minta maaf karena sudah tidak bisa bertahan lagi sama hubungan kita. Maaf karena harus mengakhirinya.."


"Kamu serius? Kamu serius mau mutusin aku?" Tanyaku sekali untuk memastikan keputusan Fauzi.


"Iya, maaf.."


"Kamu jahat Ozi, kamu bilang kamu udah ngerancang masa depan sama aku, tapi kenapa sekarang seperti ini.."


"Aku juga kecewa karena pada akhirnya masa depanku tak sesuai dengan apa yang aku rencanakan. hanya saja kurasa itu lebih baik dari pada tinggal bersamamu yang sepertinya udah gak niat buat jujur lagi sama aku.."


"Ozi, aku gak bermaksud seperti itu.."


"Maafkan aku Salwa, kalau kamu memang diciptakan dari tulang rusukku, pada akhirnya nanti aku akan tetap kembali mencarimu.."


"Semudah itu kamu ngomongnya? Kamu pikir setelah kita berakhir disini kita masih bisa menjalin hubungan lebih baik kedepannya"


"Kedepannya kita akan menjadi baik atau tidak, itu gak akan ngebuat keputusanku berubah saat ini.."


"Ozi, kenapa setega ini sama aku sekarang? Kenapa seperti ini Ozi?"


"Maaf Salwa, aku sudah memikirkannya dari jauh-jauh hari dan aku rasa ini keputusan terbaiknya.."


"Kamu bilang mau bangun pagi ngeliatnya aku, maunya setiap saat bisa ngeliat aku, maunya ada aku terus. Tapi kenapa sekarang seperti ini. Kamu sengaja cuman ngebuat aku senang saja.."

__ADS_1


"Aku sudah berusaha untuk jadi yang terbaik buat kamu agar semua itu bisa terwujud. Tapi aku benar-benar minta maaf Salwa karena harus menyerah seperti sekarang. Kedepannya aku berharap kamu punya kehidupan yang lebih baik dan bisa lebih bahagia. Aku yakin takdir kita sudah diatur seperti ini"


"Jangan bicara omong kosong Fauzi, bukan takdir kita yang diatur seperti ini tapi kamu yang sudah mengaturnya seperti ini.." Emosiku mulai meluap-luap.


"Maaf..."


"Aku gak mau maafmu Ozi, aku mau kamu.." Airmataku mulai menetes. Aku tahu ini salahku tapi aku benar-benar tidak menerima keputusan Fauzi yang tiba-tiba seperti ini.


Pesan terkahir yang kukirim masih centang satu, kenapa lagi ini?


"Ozi.. apalagi ini?"


Pesanku masih centang satu. Apa Fauzi memblokir pesanku juga sekarang? Apa Fauzi segitunya ingin memutuskan hubunganku denganku? Aku hanya bisa menangis.


.


.


.


Entah berapa lama aku menagis, mataku mulai membengkak. Aku menceritakan semuanya pada Ibu dan Ibu berusaha menenangkanku, tak ada satu kalimatpun dari Ibu yang membela keadaanku atau membela keadaan Fauzi. Ibu seperti tidak ingin berpihak di salah satu antara kami dan jelas saja Ibu berfikir kalau hal seperti ini memiliki kemungkinan besar terjadi mengingat apa yang sudah terjadi selama ini.


"Bu, aku akan kesana. Aku akan menyusul Fauzi kesana, mungkin saja Ozi akan berubah pikiran Bu.."


"Sayang disana jauh, kamu bisa makin terluka kalau mendengar hal ini langsung dari Fauzi"


"Tapi Bu, perasaanku gak akan tenang kalau seperti ini terus"


"Sayang, kamu harus berusaha menerima kenyataanya. Semua sudah tidak bisa kamu kembalikan seperti yang dulu. Ibu tidak akan menyalahkanmu apalagi menyalahkan Fauzi, keperrgian Fauzi itu adalah hal yang wajar. Kamu akan cukup dewasa nantinya setelah melalui ini semua.."


"Tapi Bu.."


Ibu meraih dan memelukku.


"Maafkan Ibu sayang, Ibu juga tidak bisa berbuat sesuatu untuk menenangkanmu saat ini.."


Cukup lama aku merengek pada Ibu, meminta Ibu agar mengiizinkanku menyusul Fauzi seperti yang kulakukan sebelumnya, dan akhirnya Ibu mengizinkan.

__ADS_1


__ADS_2