
Pertemuan mereka yang terjadi beberapa bulan lalu, kini membuat Sasa dan Faiq perlahan mulai akrab kembali. Meski tidak ada kata balikan yang resmi, namun cara mereka saling memahami dan mengerti satu sama lain, membuatnya keduanya terlihat seperti sepasang kekasih.
Semenjak pertemuan itu, Faiq yang mendapat nomor telfon Sasa sering kali menelfon Sasa dan menawarkan tumpangan saat ingin berangkat kerja ataupun pulang kerja. Namun sering kali Sasa menolak tawaran Faiq saat memintanya untuk mengantarnya, Sasa masih lebih memilih untuk berangkat bersama Azka. Tapi jika pulang kerja, Faiq sering kali sudah menunggu Sasa, membuat Sasa tidak punya pilihan lain untuk ikut pulang bersama Faiq.
Kegigihan Faiq yang memperlihatkan bagaimana dia masih sangat menginginkan hubungan mereka seperti yang sebelumnya. Perasaan cinta yang dia miliki sering kali ia katakan katakan pada Sasa, membuat Sasa yang awalnya ingin pelan-pelan saja memulai hidup baru dengan kehadiran Faiq yang menghilang beberapa tahun lalu, berubah haluan menjadi lebih cepat dari apa yang dia inginkan. Bagaimana tidak keduanya kembali akrab dan menjalani hari-hari seperti pasangan, jika Faiq terus-terusan memohon kepadanya, ditambah lagi dengan perasaan cinta yang sebelumnya memang masih bertengger di hatinya untuk Faiq.
Tidak sulit bagi keduanya kembali berinteraksi baik satu sama lain dan menjalani keseharian layaknya pasangan, toh keduanya memang masih mengubur perasaan yang sama, sehingga cukup dengan antusias dari salah satunya, perasaan mereka akhirnya kembali kepermukaan.
Hal yang membuat Sasa kembali kasmaran itu, jelas menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan bagi Azka, laki-laki yang juga menyimpan perasaan pada Sasa dan hanya bisa memendamnya dalam hati.
Ada rasa kecewa di hati Azka, dia yang begitu mencintai Sasa akhirnya harus mundur perlahan melihat keduanya yang kembali seperti sepasang kekasih dan sangat bahagia. Tidak ada lagi yang bisa Azka lakukan dan perjuangkan, ia hanya akan membuat keadaan Sasa menjadi buruk jika ia memaksakan kehendaknya pada Sasa demi terbalaskannya perasaannya. Ya, kebahagiaan Sasa saat ini adalah yang terpenting, meski ia tidak bisa menyembunyikan kecemburuannya.
“Sasa..” Panggil seorang wanita dengan tubuh yang lebih pendek dari Sasa, berlari kecil menghampiri Sasa.
Sasa berbalik, menatap temannya yang mulai ngos-ngosan mengejarnya. “Olla? Kenapa?”
Seorang perempuan berambut pendek yang dikenal dengan nama Olla itu, menyerahkan sebuah buku pada Sasa.
“Kamu satu arah kan sama Azka, sering pulang bareng juga. Aku titip ini dong buat Azka, aku udah nyari-nyari dia tadi tapi kata teman-teman yang lain Azka lagi ngejenguk temannya. Aku takutnya Azka udah mau pulang dan aku lagi ada kerjaan, jadi gak bisa ketemu dan ngembaliin bukunya”
“Oh oke..”
“Sip, thankyou ya..”
Sasa hanya tersenyum.
Olla kembali berlarian menuju dimana sebelumnya ia muncul dan meneriaki Sasa. Ya, sekarang adalah waktunya pergantian shift, dan Olla adalah teman yang menggantikan shift Sasa dan Azka. Takut tidak bisa bertemu dengan Azka sebelum Azka pulang, akkhirnya Olla berinisiatif untuk menitipkan buku yang dipinjamnya dari Azka beberapa hari yang lalu, pada Sasa.
Sasa yang sebelumnya sudah melangkahkan kakinya ingin keluar dari rumah sakit. Akhirnya mengurungkan niatnya, dan kembali duduk di koridor menunggu Azka. Sudah lama juga dia tidak pulang bersama, dikarenakan Faiq yang selalu datang untuk menjemputnya.
Lima menit berlalu, namun Azka belum juga muncul, membuat Sasa yang menunggu dengan gelisah akhirnya mencoba mengirim pesan singkat pada Azka.
“Azka, kamu dimana?” pesan singkat Sasa kirimkan, sebuah pertanyaan untuk mengetahui posisi laki-laki yang sedang ditungguinya sekarang.
Tidak cukup lama buat Sasa menunggu balasan pesan dari Azka.
“Aku lagi jenguk temen, kenapa Sa?” Balasan pesan Azka.
“Aku lagi di koridor nungguin kamu. Olla nitip buku kamu ke aku”
“Ah maaf, kamu jadi menunggu”
“Gak apa, aku cuman mau mastiin kalau kamu masih di Rumah sakit”
“Iya, aku masih disini. Kamu sudah mau pulang?”
“Iya, tapi aku nungguin kamu. Jangan buru-buru, aku gak apa-apa”
“Maaf ya. Atau mau pulang bareng hari ini?”
“Ah iya, sudah lama sekali gak pulang sama Azka” Gumam Sasa.
“Iya, udah lama juga kita gak pulang bareng” Balasan pesan Sasa yang mengiyakan ajakan pulang bersama dari Azka.
“Yaudah, aku akan nyamperin kamu sekarang..”
“Jangan buru-buru, kalau kamu masih perlu sama temanmu, lanjutin aja. Aku gak apa-apa nungguin kamu disini”
“Gak kok, aku udah mau pulang juga”
“Oke, aku tunggu di koridor”
Azka tersenyum lebar, saat ajakan pulang bersamanya diterima oleh Sasa. Awalnya dia sedikit ragu-ragu untuk mengajak Sasa pulang bersama, mengingat Sasa sekarang sudah memiliki orang istimewa yang selalu siap mengantarnya pulang. Tapi dia yang sedikit memberanikan diri tadi, rupanya mendapat respon yang baik dari Sasa.
“Lu kenapa?” Tanya seorang yang berbaring dengan selang infus yang bertengger di punggung tangannya.
Rasa bahagia yang Azka rasakan akibat Sasa yang mengiyakan permintaannya, membuatnya tidak bisa menyembunyikan ekspresinya.
“Ah?? Gak apa-apa” Jawab Azka namun tidak menyurutkan senyumannya.
“Bahagia banget keliatan..”
Azka hanya tersenyum.
“Gue balik dulu ya, cepat sembuh Lu”
“Lah, tadi Lu masih cerita, ngapa tiba-tiba mau pulang?”
“Ada urusan mendadak” Kata Azka dan meraih tas yang tadi dibawanya. “Pokoknya cepat sembuh, gue balik dulu”
Azka berlari kecil keluar dari kamar Buegenvil nomor 13, kamar temannya yang sedang dirawat dan di jenguknya barusan. Dia tidak ingin membuat Sasa, perempuan yang masih bertahta di hatinya itu menunggu lebih lama. Rasa tidak sabarannya juga tidak mengizinkannya untuk menunda ataupun mengulur waktu untuk bisa bertemu dengan Sasa. Sudah lama sekali mereka tidak pulang bersama lagi seperti dulu, membuat Azka begitu merindukan momen-momen itu.
Azka melihat Sasa yang duduk sembari menyandarkan diri pada punggung kursi. Buku yang tengah di baca oleh Sasa sambil menunggunya, adalah buku yang dititpkan seorang teman untuknya.
“Maaf, aku lama”
“Gak kok” Jawab Sasa sembari mengangkat kepalanya, memandangi laki-laki yang berdiri didepannya. Senyum ramah tak lupa Sasa perlihatkan.
“Ayo pulang” Ajak Azka sedikit terburu-buru.
Sasa beranjak dari duduknya, menyerahkan buku yang sebelumnya ia pegang, kembali pada pemiliknya.
“Sudah lama sekali kita gak pulang bareng” Azka membuka obrolan, dia tidak ingin melewatkan kesempatan ini begitu saja tanpa obrolan diantara keduanya.
“He he he iya, padahal dulu setiap harinya pulang bareng”
__ADS_1
Keduanya melangkah beriringan keluar dari Rumah sakit. Rasa bahagia yang dimiliki Azka begitu menggebu-gebu, membuat senyum tidak lepas dari bibirnya dengan mata yang terus-terusan melirik Sasa.
“Sasa...”
Panggilan seseorang memutuskan obrolan Azka dan Sasa yang asyik membahas beberapa hal hari ini.
Sasa menoleh, dan melihat sosok Faiq yang mulai berjalan menghampirinya.
Melihat kehadiran Faiq disana, membuat rasa bahagia yang sedari tadi bertengger di perasaan Azka, lenyap seketika tanpa bekas. Rasa was-was menghampirinya, kekhawatirannya akan Sasa yang bisa saja mengubah niatnya pulang bersama, jadi batal akibat kehadiran Faiq.
“Sudah mau pulang?”
Sasa mengangguk.
“Ayo aku antar..”
Sasa berbalik menatap Azka yang berdiri tepat di sampingnya, tatapan Faiq pun mengikuti tatapan Sasa yang di arahkan pada Faiq.
“Aku dari tadi nungguin kamu. Kamu agak telat keluar hari ini”
Ya, Sasa yang menunggu Azka tadi membuatnya keluar sedikit telat dari biasanya.
Sasa sedikit bingung. Disisi lain, dia sudah mengiyakan ajakan pulang bersama dari Azka, namun mengingat Faiq yang sudah menunggunya sedari tadi, rasanya dia tidak sampai hati kalau membuat laki-laki itu pulang tanpanya.
Setelah berpikir sejenak, Sasa akhirnya memutuskan untuk pulang bersama Faiq.
“Engg Ka, maaf kayaknya aku gak bisa pulang bareng sama kamu hari ini” Kata Sasa dengan perasaan tak enaknya pada Azka.
“Tadi kan kamu bilang kalau mau pulang bareng aku” Azka sedikit memperlihatkan, bagaimana dia menuntut perkataan Sasa yang disepakati bersama tadi.
“I-iya, maaf. Aku gak tahu kalau Faiq udah nungguin aku dari tadi. Ki-kita pulang barengnya kapan-kapan saja ya..”
Tidak ada jawaban dari Azka. Jelas saja dia merasa kecewa, karena sebelumnya sudah merasa sangat senang karena akan pulang bersama Sasa.
“Aku bener-bener minta maaf, Ka”
Azka tidak ada pilihan lain, selain mundur dan mengalah. Ia sadar akan dirinya, yang jelas tidak bisa dibandingkan dengan laki-laki hebat yang tengah menjemput Sasa, juga sadar bahwa laki-laki itu adalah orang yang begitu di sayangi Sasa sebelumnya. Azka sama sekali tidak bisa melarang, menghadang apalagi memaksa Sasa untuk tetap pulang bersamanya.
Perlahan Azka mengangguk, mengiyakan permintaan Sasa. Toh, dia hanya akan terlihat buruk di mata Sasa jika memaksakan kehendaknya untuk pulang bersama wanita yang dicintainya.
“Maafin aku..”
“Gak apa-apa, kita masih bisa pulang bareng besok-besok” Kata Azka mencoba tersenyum, menutupi perasaan sakit yang sebenarnya tengah melanda perasaanya.
Sasa balas tersenyum setelah mendapat senyuman dari Azka.
“Kalau gitu aku duluan dulu”
Azka hanya tersenyum sambil mengangguk.
Azka mengantar Sasa dengan pandangannya, ada rasa tak ikhlas melepaskan Sasa. Namun dia juga sadar, akan ketidak adaan haknya untuk menahan Sasa pergi bersama laki-laki yang dicintainya, dan memaksa Sasa untuk ikut dengannya.
Seperti biasa, Faiq tidak akan membuat kecepatan mobilnya meninggi jika sedang bersama Sasa. Selain karena tidak ingin membahayakan keselamatan wanita dicintainya itu, juga untuk mengulur waktu agar dia memiliki waktu yang lebih lama bersama Sasa.
“Dia siapa?” Tanya Faiq membuka obrolan.
“Siapa??” Tanya Sasa ulang, meski sangat jelas kalau yang di maksud oleh Faiq adalah laki-laki yang beriring bersamanya jalan keluar dari Rumah sakit.
“Ya laki-laki yang bareng kamu tadi”
“Oh dia. Dia temen kerja”
“Kayaknya dia suka sama kamu” Kata Faiq yang membaca dengan jelas gerak gerik Azka tadi.
“Ha ha, jangan ngasal. Dia itu temen kerjaku, dan kita memang sering pulang bareng”
“Oh gitu. Kalian sering pulang bareng dan kerja di tempat yang sama?”
“Iyaps, betul..”
Faiq terdiam sejenak, dan fokus menyetir.
“Kayaknya aku cemburu” Faiq kembali angkat bicara setelah terdiam beberapa saat.
“Cemburu? Kenapa?”
“Ya karena kamu keliatan akrab banget sama dia. Dia bisa ngeliat kamu lebih lama, dan selalu bisa ada di sekitarmu”
Sasa hanya tersenyum menanggapi perkataan Faiq.
“Hey, aku serius” Kata Faiq yang melihat respon Sasa seolah tidak percaya dengan apa yang dia katakan. “Aku beneran cemburu” Ulangnya dengan nada yang terdengar sedikit lucu ditelinga Sasa.
“Terus, kenapa?” Tanya Sasa, berbalik menatap Faiq yang tengah menyetir dengan ekspresi ngambeknya yang sangat lucu.
“Ya-yaa.. Ya tidak apa-apa”
“Ya kalau tidak apa-apa berarti ya sudah..”
Sasa masih tersenyum, namun sudah memalingkan pandangannya menatap jalan raya yang ramai dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Jika ia lanjut menatap Faiq, mungkin saja tawanya akan lepas.
“Sebenarnya sih apa-apa” Gumam Faiq kecil, namun masih bisa terdengar oleh Sasa.
Sasa berbalik menatap Faiq, mengerutkan dahinya seolah bertanya maksud dari apa yang baru saja Faiq katakan.
“Iya, sebenarnya ini apa-apa” Jelas Faiq, meski masih belum berani berbalik menatap Sasa yang sedang menatapnya saat ini. “Aku cemburu, cemburu sekali..”
__ADS_1
Sasa tertawa kecil, dan kembali mengalihkan pandangannya. “Memangnya kamu ada hak untuk cemburu? Kita kan gak ada apa-apa” Jelas Sasa masih dengan senyumannya yang diikuti oleh tawa kecilnya.
Mendengar jawaban Sasa, Faiq langsung mengarahkan mobilnya ke tepi jalan, berhenti disana dan memperbaiki posisi duduknya mengarah pada Sasa.
“Ma-maksud kamu? Gak ada apa-apa?? Ja-jadi kita beberapa bulan terakhir ini...?”..
Meski tidak ada pernyataan resmi balikan dari keduanya, namun apa yang mereka jalani saat ini memperlihatkan bagaimana keduanya sudah seperti pasangan. Sehingga otomatis saja Faiq beranggapan bahwa mereka telah kembali seperti sebelumnya.
“Ya apa?? Kamu ngejemput aku, ya aku ikut sama kamu. Kamu ngajak aku jalan, karena waktuku renggang jadi ya aku iyakan dan kita jalan-jalan. Kamu ngajak aku makan, karena aku mahluk hidup yang butuh makan, ya kita makan”
Faiq hanya menatap Sasa dengan memperlihatkan ekspresinya yang kecewa. Jelas sekali terlihat bagi Sasa bahwa Faiq menginginkan hubungan yang lebih diantara mereka.
“Memangnya kamu pikir diantara kita ada apa?” Tanya Sasa masih dengan sedikit tertawa. Sasa tahu betul apa yang ada di pikiran Faiq, tapi entah kenapa rasanya menyenangkan sekali baginya melihat ekspresi Faiq yang memelas kecewa seperti saat ini, sehingga membuat Sasa terus-terusan menggoda Faiq.
“Ya-yaa.. Aku kira kita udah balik seperti dulu. Kupikir, karena kita sudah seperti ini sekarang, jadi kita sudah kembali seperti sebelumnya”
“Memangnya kita yang seperti dulu itu, bagaimana?”
Faiq kembali berbalik menatap Sasa.
Dia emang gak ngerti atau gak peka? Atau emang sengaja?
“Ya, kita yang punya hubungan spesial. Ki-kita yang pa-pacaran..”
Faiq sedikit ragu-ragu mengungkapkan apa yang saat ini menurutnya terjadi diantara mereka. Meski begitu, ia mengumpulkan semua keberaniannya dan mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.
“Pacaran?”
Faiq hanya mengangguk, tidak berani menatap Sasa. Rasanya begitu malu, menyadari bahwa hanya dia yang berpikiran tentang hubungan mereka, sedangkan Sasa masih beranggapan bahwa yang mereka jalani beberapa bulan terakhir ini hanya rutinitas biasa.
“Kamu kan gak pernah nembak aku lagi. Kamu juga gak ngajak aku balikan” Jelas Sasa menatap Faiq sambil tersenyum.
Spontan Faiq berbalik menatap Sasa. Entah lari kemana rasa malunya tadi, sekarang dia terang-terangan menatap Sasa dengan sedikit terkejut yang disusul dengan senyum yang mulai mengembang di bibirnya. Tanpa sadar, Faiq mengeluarkan tawa kecilnya.
“Kenapa ketawa? Apa ada yang salah dari yang aku bilang? Ada yang lucu?” Tanya Sasa masih dengan senyumnya yang memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
Faiq masih tersenyum di selingi tawa kecilnya. Dia mengalihkan pandangannya dari Sasa, sedikit mengelus dahinya.
“Tentang apa yang aku lakuin sama kamu selama ini, apa belum cukup untuk membuktikan kalau aku mau kembali seperti kita yang dulu? Apa kata-kata romantis, gombalan, perhatian dan semua kelakuanku masih belum bisa membuktikan kalau aku sedang memerankan diri sebagai kekasihmu?”
Sasa hanya menggeleng dengan senyum manis yang tidak lepas dari bibirnya.
Faiq kembali tertawa kecil, sedikit tidak percaya bahwa Sasa masih membutuhkan pernyataan cinta yang jelas darinya. Di pikiran Faiq, karena mereka sudah bukan remaja lagi, jadi pernyataan cinta bukanlah hal yang menjadi acuan agar mereka bisa menjalani hubungan spesial. Toh beberapa bulan terakhir ini, mereka sudah melakukan semuanya bersama-sama, tidak ada bedanya dari sepasang kekasih.
Pikiran Faiq yang demikian tidak ada bedanya dengan Sasa. Sasa sendiripun sudah menganggap bahwa mereka sudah kembali seperti sebelumnya. Hanya saja, setelah melihat tingka Faiq tadi, ia jadi ingin bermain-main sedikit dengan Faiq hingga berakhir keterusan, yang membuatnya jadi rindu mendengar pernyataan cinta dari laki-laki yang menghuni hatinya beberapa tahun terakhir ini.
“Jadi kamu mau pernyataan cinta dari aku?” Tanya Faiq dengan tawa kecilnya yang tidak bisa dia hentikan.
“Ya, aku bukannya bilang kalau aku mau. Aku gak akan maksa kamu ngebuat pernyataan cinta ke aku. Itu kan perasaanmu”
“Menggemaskan sekali” Gumam Faiq
“Maksudku, jadi aku harus menyatakan cinta dulu? Aku harus nembak kamu lagi?”
“Yaah.. Gimana ya.. Aku kan butuh kepastian”
Sasa terlihat begitu menggemaskan saat ini, membuat Faiq harus menahan diri agar tidak berhambur memeluknya.
“Ekheemm...” Faiq berdehem sejenak.
Laki-laki dengan kemeja biru langit yang dikenakannya itu kembali memperbaiki posisi duduknya. Tawa kecilnya tidak lagi terdengar. Perlahan ia berbalik dan menatap Sasa dengan wajah serius, meski kehangatan tetap terlihat di ekspresinya.
Faiq meraih tangan Sasa, dan menggenggam pelan tangan itu.
“Sa, aku masih mencintaimu dan sangat mencintaimu. Jadi, maukah kamu jadi kekasihku??” Pernyataan cinta yang Faiq ucapkan dengan tatapan mata serius dan tidak beralih itu, memperlihatkan kesungguhannya untuk meminta Sasa kembali menjadi wanita dengan status sebagai pasangannya.
Sasa tidak langsung menjawab. Dia terdiam sejenak, menatap lekat kedalam bola mata hitam pekat milik Faiq.
Tak ada suara yang Sasa keluarkan, hanya anggukan kecil dengan senyuman manis, yang dia berikan sebagai jawaban dari permintaan Faiq.
Faiq tersenyum lebar mendapat jawaban dari Sasa, jawaban yang sesuai dengan apa yang dia inginkan.
“Makasih Sa, aku mencintaimu..” Kata Faiq beranjak dari duduknya dan memeluk Sasa.
“Aku juga..” Balas Sasa.
Tidak cukup lama Faiq membenamkan tubuh Sasa dalam pelukannya. Berada dalam mobil, jelas untuk berpelukan itu bukan posisi yang normal dan nyaman.
“Hem.. Aku gak jadi nganter kamu pulang sekarang” Kata Faiq, kembali pada posisi siap menyetir.
“Kenapa?” Tanya Sasa bingung.
“Kita makan, dan jalan-jalan. Aku mau kita merayakan hari jadian kita ini”
“Apaan sih, kayak anak remaja aja” Tegur Sasa dengan senyum malu-malunya.
“Siapa duluan yang berkelakuan kayak anak remaja, pake minta di tembak segala..”
“Ya kan, aku cuman minta ke pastian”
“Sama, aku juga cuman mau merayakan kebahagiaanku hari ini. Karena wanitaku telah kembali..” Kata Faiq menoleh, menatap Sasa dengan penuh cinta.
Sasa hanya tersenyum mendengar ucapan Faiq.
Ya, tak ada yang bisa membendung rasa bahagia dari kedua insan yang tengah berbunga-bunga saat ini. Keduanya meresapi dengan baik rasa bahagia yang mereka ciptakan satu sama lain. Angin yang berdesir siang itu, seolah sedang memberi selamat kepada dua mahluk Tuhan yang tengah diselimuti perasaan bahagia.
__ADS_1