Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Berakhir..


__ADS_3

Aku berusaha menjelaskan semuanya pada Fauzi.


"O Ozi.. Aku milih kamu, se sekarang aku sedang berusaha memperbaikinya.." Kataku meraih tangannya tapi dengan cepat Fauzi menarik tangannya kembali. "Ozi.. Maafkan aku.." Aku mulai menangis.


"Kenapa seperti ini sama aku Salwa? Kurang apa aku selama ini, aku selalu berusaha memberikan yang terbaik buat kamu, aku sudah berusaha semaksimal yang aku bisa.." Airmata Fauzi yang sedari tadi ia seka kembali menetes lagi, emosinya mulai memuncak.


Aku hanya terus menangis.


"Kalau ada hal yang kamu rasa kurang dari aku harusnya kamu bilang, aku bisa berusaha untuk menjadi apa yang kamu mau, aku bisa melakukannya.. Kenapa?.. Kenapa harus begini??" Nada suara Fauzi mulai meninggi.


"Maaf, Maafkan aku Ozi..." Suaraku mulai bergetar.


"Apa rasa cintaku kurang selama ini? Apa aku kurang memberimu perhatian? Aku kurang apa Salwa??" Fauzi terus-terusan menghujaniku dengan pertanyaan yang penuh emosi.


Aku tidak menjawab satupun dari pertanyaan Fauzi, hanya airmataku yang terus menetes.


"Aku sudah pernah bilang, jika ada seseorang yang kamu sukai selain aku kamu bisa bilang.. Aku akan berusaha menjadi lebih baik dari orang itu dan membuatmu tetap suka padaku saja.."


"Gak, bu bukan begitu..."


"Apa terlalu lama? Apa aku terlalu lama jauh darimu sampai kamu seperti ini? Aku sudah berusaha Salwa, aku berusaha pulang setiap minggunya untuk bisa ketemu kamu, aku selalu meluangkan waktu untuk selalu mengabarimu. Aku selalu berusaha selalu ada agar kamu gak kesepian disini.."


"Maaf Ozi, aku.. aku sedang memperbaiki semuanya, aku sudah melepas salah satunya dan yang kulepas itu.."


"Aku..." Katanya memotong perkataanku


"Gak.. Bu bukan kamu.."


"Lalu siapa? Dia? Kamu seperti tadi tidak mungkin melepas dia. Cukup lama Salwa, cukup lama kamu kuberi waktu memilih harusnya saat ini hanya ada aku atau dia, harusnya sekarang tinggal salah satu diantara kami.."


"A aku.."


"Kenapa harus dia?" Tanyanya memotong perkataanku "Kenapa harus dia? Kenapa harus Farhan Salwa?"


"I itu.."


"Kamu ngebuat aku kehilangan dua orang sekaligus, kekasihku dan.. dan sahabatku.." Kata Fauzi dengan suaranya yang bergetar.


Fauzi meluapkan semua emosinya.


"Ozi.. maafkan aku.." Tidak ada yang bisa aku katakan selain permintaan maaf.


Fauzi kembali menyeka airmatanya, matanya semakin sembab dan hidungnya yang mulai memerah.


"Ozi.. maafkan aku, aku akan memperbaiki semuanya..."


Fauzi diam saja tidak menanggapiku, tiap aku berusaha mendekatinya Fauzi menghindar, tiap aku berhasil memegang tangannya Fauzi dengan cepat menarik tangannya lagi.

__ADS_1


"Fauzi.. Aku salah, maafkan aku.. Jangan seperti ini.." Rengekku sambil terus menangis tapi tetap saja Fauzi tidak meresponku.


"Uhukk... Fa.. Uhukkk.." Karena terlalu lama menangis aku sampai kesulitan mengambil nafas dan terbatuk-batuk.


"Sebaiknya kamu pulang.." Kata Fauzi tanpa melihat kearahku.


"Gak. Maafkan aku, tolong maafkan aku.."


"Hari sudah sore, angin disini juga semakin kencang.. Kamu bisa sakit.."


Dalam keadaan marahpun Fauzi masih sempat memperhatikanku dan memikirkan kesehatanku.


"Gak, aku mau sama kamu disini.. aku mau disini sampai kamu maafin aku.. Aku.."


"Ayo kuantar.." Kata Fauzi beranjak..


"Ozi.."


Fauzi tidak menghiraukanku, hanya berjalan menuju mobilnya, aku mengikutinya sambil menyeka airmataku.


Fauzi mengantarku pulang, aku terus-terusan meminta maaf tapi Fauzi tidak menghiraukanku. Fauzi terus fokus menyetir sambil sesekali menyeka airmatanya yang terkadang masih menetes. Sepanjang perjalanan pulang tak satupun kata yang keluar dari mulut Fauzi, dia terus berdiam meski aku merengek-rengek minta maaf padanya.


Tiba didepan rumahku.


"Sudah sampai.." Kata Fauzi, itu adalah kata pertama yang ia katakan sejak kami bersama dalam mobil. Perjalanan cukup jauh sehingga memakan waktu cukup lama, tapi selama itu tak satu kalipun Fauzi bersuara.


"Ozi.. maafkan aku.. Aku akan memperbaiki semuanya, aku gak akan mengulanginya lagi.."


"Ozi.. "


"Kamu tidak mau turun?" Tanyanya menatapku dengan tatapannya yang sedikit tajam.


"Gak, aku gak akan turun sebelum kamu maafin aku.. Aku janji, aku gak akan seperti ini lagi.."


Fauzi meraih ponselnya, menekan beberapa nomor dan memanggil seseorang.


"Selamat sore, apa saya bisa menggunakan jasa driver?"


Apa? Fauzi menelfon jasa driver?


"Ah iya, nanti saya share lokasinya.."


"Fauzi.. kamu kenapa nelfon jasa driver?" Tanyaku bingung.


"Kamu gak mau keluar dari mobilku, aku akan pulang naik taxi biar jasa driver yang membawa pulang mobilku.."


JLEBB.. Fauzi sampai segitunya, aku belum pernah melihat sikap dingin Fauzi seperti kepadaku sebelumnya. Airmataku menetes, terkejut dan rasanya sakit sekali diperlakukan dingin oleh Fauzi yang sebelumnya memperlakukanku dengan hangat.

__ADS_1


"O.. Ozi kamu.."


"Terserah kamu, mau tinggal disitu terserah. Jasa driver akan datang menjemput mobilku, kamu mau keluar atau tetap tinggal didalam sampai jasa driver datang terserah kamu.." Kata Fauzi bergegas keluar dari mobilnya, aku menahannya.


"Aku keluar.." Kataku sambil menyeka airmataku, rasaya sakit sekali mendapat perlakuan dingin seperti ini dari Fauzi.


Aku keluar dari mobil Fauzi, sekalipun Fauzi menatapku tidak pernah. Airmatanya yang sedari tadi menetes meskipun sudah ia seka berkali-kali sekarang sudah kering tanpa meninggalkan bekas. Seiring dengan berhentinya Fauzi menangis sikap Fauzi menjadi dingin dan betul-betul mengabaikanku. Aku nyaris tidak mengenali Fauzi dengan sikapnya yang seperti ini.


Aku memberi jarak antara posisiku dengan mobil Fauzi. Aku sangat berharap Fauzi mengatakan sesuatu atau setidaknya sekedar menatapku sebelum dia berlalu.


"Salwa.."


"Iya.." Jawabku dengan cepat dan penuh antusias.


"Sebelumnya aku minta maaf, kata-kataku tadi buruk dan nada bicaraku sedikit tinggi. Maaf sudah membuatmu terkejut dengan suaraku yang meninggi, juga maaf dengan sikapku yang seperti ini.."


"Syukurlah, sepertinya dia mulai kembali seperti Fauzi yang sebelumnya" Gumamku dengan perasaan sedikit lega.


"Mungkin ini kali terakkhir aku bersikap seperti ini padamu.."


"Tidak apa Ozi, aku mengerti kalau kamu marah sama aku.."


"Makasih karena sudah mengerti.. "


"Ozi.. aku.."


"Kurasa.." Dia memotong pembicaraanku "Aku udah gak bisa menjadi Fauzi yang memilikimu lagi.."


"Ma maksud kamu?"


"Aku sudah tidak bisa melanjutkan hubungan ini sama kamu, kita sampai disini saja.."


"Ki kitaa..."


"KIta putus.. Maaf karena aku harus mengatakan hal ini.."


JLEEEBBB... Hatiku sakit sekali mendengarnya.. Apa yang barusan dikatakan Fauzi? Putus?


"Pu putus??" Tanyaku ulang untuk memastikan apa yang dikatakan Fauzi tadi.


"Maaf aku sudah gak bisa melanjutkan hubungan ini lagi.."


"Fa.. Fauzi.. G gakk.. aku.." Aku sangat terkejut, melanjutkan kata-kataku pun rasanya terasa seulit.


"Terimakasih untuk semuanya, aku pulang dulu..' Kata Fauzi dan langsung melaju dengan mobilnya meninggalkanku tanpa memberiku kesempatan berkata-kata lagi.


"Fa Fauziii...." Aku masih berusaha memanggilnya. "FAUZZIIII...." Panggilku dengan sekerasnya suara yang kupunya.

__ADS_1


Sendi-sendi kakiku terasa lemas, aku tiddak bisa lagi memopang tubuhku sendiri. Aku terjatuh berlutu dipinggir jalan.


"Fauziii.. Huhuhuhu" Tangisku pun pecah.


__ADS_2