
Sepertinya guru yang mengajar jam pertama sedang ada kendala sehingga 15 menit telah berlalu dari jam yang seharusnya pelajaran sudah dimulai. Karena waktu yang senggang itu juga yang membuat Nina jadi memiliki waktu yang banyak untuk mengintrogasi dan mengomeliku. Hm.. Mungkin Nina punya bakat untuk menjadi seorang yang ahli mengintrogasi nantinya, bakat alami yang terpendam rupanya.
Aku seperti menggali kuburanku sendiri karena secara tidak sadar mengatakan tentang aku dan Farhan yang jalan bukan untuk pertama kalinya itu. Harus bagaimana lagi, aku sudah keceplosan dan hanya bisa menjawab pertanyaan Nina.
"Gak? Gak apa maksudnya??" Tanya Nina dengan nadanya yang sedikit meninggi dan matanya yang bulat semakin membulat karena setengah melotot.ii-
"Ya.. ya bukan kemarin itu aku pertama kali ja jalan berdua sa sama kak Farhan.." Jawabku ragu-ragu.
"Jadi kamu udah pernah jalan berdua sama kak Farhan sebelumnya? Kapan? Kemana? Kok bisa?" Lagi-lagi Nina melontarkan pertanyaan yang beruntun.
"Udah lama, lagian itu juga karena maunya Fauzi kok"
"Maunya kak Fauzi? Kok bisa?"
"Ya aku juga gak tau, Fauzi tiba-tiba aja minta kak Farhan baut nemenin aku.."
"Kak Fauzi segitu percayanya sama kamu dan kamu malah..."
"Apa?" Tanyaku terkejut. Perkataan dan nada Nina barusan seolah sedang menuduhku melakukan hal-hal yang tidak benar.
"Kak Fauzi tau kalau kamu jalannya sama Kak Farhan?" Tanyanya lagi.
"Ya tau.. kan aku bilang.."
"Terus dia bilang apa?"
"Ya gak bilang apa-apa, cuman katanya aku bilang dulu sama dia kalau mau jalan sama kak Farhan"
"Bilang dulu??? Lah kamu ngomongnya sama kak Fauzi pas udah jalan sama kak Farhan gitu?" tanya Nina dengan mata melotot. Bola matanya nyaris seperti sudah mau keluar dari kelopak matanya.
"I.. iyaa.." Jawabku pelan-pelan.
"Ya ampun Salwa.." Katanya dengan menghela nafas panjang sambil menepuk jidatnya.
Nina merebahkan kepalanya di meja, dan aku mengikutinya.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanyaku.
Spontan ia mengangkat kepalanya membuatku terkejut.
"Kenapa??? Salwa, kamu tau gak..."
"Enggak.. kan kamu gak bilang.."
"Ya makanya pembicaraanku jangan dipotong dulu markonaahh.."
"Iya iya patonah, ya jangan ngegas juga lah.."Kataku sambil bersandar dikursi.
"Salwa, bukan dengan tanpa alasan kak Fauzi ngomong gitu ke kamu. Kak Fauzi minta kamu ngomong dulu ke dia sebelum jalan sama kak Farhan itu berarti dia merasa gak enak"
"Kenapa? Toh sebelumnya Fauzi sendiri yang minta kak Farhan buat nemenin aku" Jawabku membela diri.
"Ya itu kan lain ceritanya kalau kak Fauzi yang minta kak Farhan langsung. Lagian ini kamu juga bukannya bilang dulu baru pergi malah pergi dulu baru bilang"
"karena Fauzi pastinya gak keberatan kalau aku perginya sama kak Farhan"
"Lah.. kok malah jadi kamu yang mau jalan sama Fauzi?" Tanyaku bingung
"Jawab aja dulu.."Kata Nina mendesak.
"Ya.. ya mungkin enggak sih, aku percaya sama kamu sama Fauzi"
"Perasaanmu akan baik-baik saja begitu kalau semisal aku jalan sama kak Fauzi tapi kamu taunya dari oranglain bukannya dari aku dan dari kak Fauzi sendiri"
"Ya enggaklah.. kan setidaknya ngomong dulu sama aku.."
"Nah.. itu.." Kata Nina menekankan.
Aku terdiam sejenak, aku mulai kepikiran sama apa yang dikatakan Nina barusan.
"Salwa, mempercayai itu hal yang wajib dalam suatu hubungan. Aku tau kak Fauzi pasti sangat percaya sama kamu, dia pasti punya keyakinan besar dalam hatinya kalau kamu gak bakal suka sama orang lain selain dia apalagi kalau itu sahabatnya sendiri. Hanya saja, perasaan tidak enak itu pasti ada kalau kamu perginya tapi gak izin dulu.."
__ADS_1
Aku hanya terdiam.
"Seperti hal yang aku contohin tadi, kalau semisal kak Fauzi izin dulu sama kamu buat jalan sama aku kamu pasti gak curiga, gak mikir macem-macem karena kamu tau gak akan ada apa-apa antara aku dan kak Fauzi, dan lagi kak Fauzi perginya dengan minta izin dulu ke kamu yang menandakan kalau dia gak nyembunyiin aku dibelakang kamu. Tapi kalau semisal aku jalan sama kak Fauzi tanpa bilang sama kamu dulu pastinya kamu ngerasa aneh kan? ngerasa kalau kak Fauzi nyembunyiin sesuatu dari kamu kan??" Jelas Nina panjang lebar.
"Tapi Fauzi gak keberatan kok kemarin.." Jawabku pelan.
"Bukan gak keberatan, dia cuman gak mau kamu marah atau kamu sampai ngerasa dicurigai, kak Fauzi cuman gak mau ngebuat kamu jadi merasa gak nyaman, dia cuman ngejaga perasaan kamu aja"
Apa benar seperti itu?? Mungkin saja benar, Fauzi hanya menjaga perasaanku.
"Lagian, kamu juga bukan orang yang bisa ditegur kaya gitu sama kak Fauzi, yang ada juga kamu bakalan marah kalau kak Fauzi negur. Ckk.. kamu kan tipe yang maunya diturutin terus dan si kak Fauzi itu tipe cowok yang sangat mudah jadi budak cinta.. ck ckc ck kalian emang pasangan saling melengkapi.. udah bisa dikasi penghargaan oscar nih.." Kata Nina meledek.
"Udah pintar ngatain aku nih sekarang??" tanyaku dengan nada ketus.
"Kamu sih, minta dikatain dulu emang baru nyadar.. suka heran deh aku sama orang model kalian-kalian ini. suka gak mau ngomong jujur sama permasalahannya, cuman untuk saling ngejaga perasaan padahal hapal betul kan kalau itu hasilnya gak baik" Jelas Nina tanpa menfilter ucapanya yang pedas tapi benar sekali itu.
"Aku gak suka yaa kalau kamu ngomongnya suka benar kaya gitu.." Kataku bercanda.
"Hahaha.. aku mah mana peduli kamu suka dengarnya apa gak, yang penting kamu dengar kan.. Hahaha" Katanya dengan tertawa.
"Hem.. Nina banget ini mah..."
Seperti itulah Nina, dia suka bicara terus terang tanpa disaring dan tanpa mengurangi satu katapun. Dia orang yang suka ngomong sesuai fakta dan ceplas ceplos. Ya Nina yang seperti itulah yang suka menyadarkanku jik ada hal yang salah aku lakukan. Omongannya seperti Obat, pahit tapi untuk kebaikan kita sendiri. Aku selalu bersyukur memiliki teman seperti Nina, setidaknya dia bukan tipe orang yang seperti gula didepannya tapi empedu dibelakang.
"Eh tunggu... kamu kok jadinya ngedukung aku sama Fauzi sih? Bukannya dulu kamu yang paling membara-bara ngeship aku sama kak Farhan?" Tanyaku mengingat dulu Nina adalah teman yang sangat menyayangkan aku yang menolak Farhan melihat dari fisik, keperibadian dan status sosial Farhan.
"Itu kan dulu.. Sebagaimananya aku ngeliat keuntungan apa yang ada, aku tetap mempertimbangkan perasaan orang lain lah.. Lagian kak Fauzi juga gak kurang satu apapun kok. Dia baik dan sayang banget sama kamu, keliatan aja dari caranya dia memperlakukan kamu. Andaikan waktu itu kamu milih kak Farhan, mungkin saja kak Farhan gak punya cukup kesabaran buat ngadepin kamu yang banyak maunya ini"
Aku jadi mengingat perkataan Farhan, ya mungkin saja aku tidak akan sebahagia ini jika dengannya. Kak Farhanpun menyadarai bagaimana cara Fauzi memperlakukanku untuk membuatku bahagia.
"Kak Farhan itu orang baik, dia juga mungkin bisa membuatmu bahagia. Tapi ingat, sekarang kamu udah milih kak Fauzi, jadi jangan mencoba membuat pilihanmu ke kak Fauzi itu menjadi pilihan yang salah" Jelas Nina.
"Iya,, Aku salah.. hemm.. makasih Nina, beneran deh mulut yang pedas ini fungsinya luarbiasa menyadarkan juga.. hahaha"
"Ya ketawain aja terus mulut yang pedas namun penuh manfaat ini.." Katanya membanggakan diri.
__ADS_1
Aku benar-benar tersadarkan akan satu kesalahan pagi ini.