
Seperti yang dokter katakan, semakin hari Salwa semakin sulit melakukan kegiatannya. Semakin sering Salwa melupakan hal-hal tertentu dan semakin sulit ia menyusun sesuatu.
Apotek yang dulunya dibuka setiap hari, juga sudah tidak pernah di buka lagi akhir-akhir ini. Bahkan Fauzi tidak lagi mengizinkan Salwa untuk menjemput Mikayla. Jelas awalnya Salwa menolak dan terus mempertanyakan alasan Fauzi yang melarangnya menjemput Mikayla. Namun Fauzi menjelaskan dan mengingatkan Salwa tentang dia yang tersesat tempo hari. Hal yang harus Fauzi ingatkan setiap harinya, karena sesekali Salwa lupa jika ia pernah tersesat.
Fauzi masih harus bekerja. Meski sangat tidak ingin meninggalkan istrinya sendiri, namun dia juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Ada tanggung jawab yang harus dia selesaikan. Fauzi sendiri juga masih berpikir berkali-kali untuk mengatakan hal ini pada Ayah dan Ibunya ataupun pada Ayah dan Ibu mertuanya. Ia masih berharap, apa yang dikatakan dokter tentang istrinya yang tidak bisa disembuhkan itu adalah salah. Toh akhir-akhir ini, meski ada beberapa perubahan pada Salwa, namun itu tidak begitu signifikan, membuat Fauzi sedikit memiliki harapan.
Di akhir pekan seperti ini, biasanya Fauzi dan Salwa akan membawa Mikayla berkunjung ke rumah orangtua mereka, namun dengan kondisi Salwa yang seperti ini, Fauzi akhirnya absen untuk berkunjung. Ia tidak ingin, hal-hal aneh yang biasa terjadi pada Salwa, dia lakukan dirumah orangtua mereka. Pagi tadi, Fauzi hanya mengantar Mikayla main kerumah orangtuanya, karena terus-terusan merajuk untuk bertemu neneknya dan Naila yang sampai sekarang masih ada disana. Alasan klasik yang Fauzi berikan pada keluarganya, ia mengatakan ingin menghabiskan waktu berdua dengan Salwa sehingga tidak bisa ikut meramaikan rumah orangtuanya hari ini. Dan orangtuanya cukup mengerti itu.
Fauzi tengah asyik memperhatikan istrinya yang sedang berlagak bak koki handal dari sebuah resto ternama. Fauzi sendiri tidak yakin akan apa yang istrinya itu masak, namun ia sangat menikmati senyuman istrinya yang sangat senang melakukan hal-hal layaknya chef pagi ini. Ya, meski Salwa sesekali menjadi orang yang kebingungan, namun ia masih bisa berkhayal hal-hal yang masuk akal.
Suara ketukan pintu dari luar, membuat Salwa dan Fauzi beralih fokus.
“Biar aku yang buka pintunya..” kata Fauzi menahan istrinya.
Fauzi bergegas membuka pintu, entah siapa yang bertamu pagi-pagi di akhir pekan begini.
Wajah Farhan dan Nina muncul dari balik pintu. Salwa yang sebelumnya di tahan oleh Fauzi pun ternyata ikut mengekor di belakang suaminya.
“Kalian sudah datang?” Sapa Salwa dari balik punggung Fauzi.
“Oh, kalian janjian?” tanya Fauzi yang tidak tahu akan kedatangan Farhan dan Nina pagi ini.
Keduanya mengambil posisi duduk seperti biasanya, mulai mengobrol dan saling melempar candaan. Namun Fauzi masih sangat wanti-wanti, takut akan hal aneh yang bisa saja tiba-tiba Salwa katakan.
“Ck, tuan rumah ini, masa ada tamu gak disiapin minum” tegur Farhan dengan candaannya.
“Ah ha ha iya ya.. Aku lupa. Sebentar, aku buat minum dulu..”
Salwa berlalu, Fauzi hanya tersenyum mengiringi langkah istrinya yang terlihat begitu riang karena kedatangan Farhan dan Nina dirumahnya hari ini.
“Ada apa?” Tanya Farhan, membuat perhatian Fauzi yang sedari tadi mengekori istrinya dengan pandangannya.
“Apa?” tanya Fauzi tak mengerti dengan pertanyaan Farhan.
__ADS_1
“Jujur saja kak, sebenarnya apa yang terjadi?”
Dahi Fauzi berkerut, gerakan refleks mengenai dia yang kebingungan dengan pertanyaan Nina.
“Pagi ini Salwa nelfon aku, minta aku sama Farhan untuk berkunjung. Dan dia bilang, mumpung kita belum punya anak jadi bisa sering-sering berkumpul. Ini maksudnya apa?”
Fauzi tercengang mendengar apa yang dikatakan Nina. Rupanya Nina dan Farhan bukannya datang seperti biasanya.
Fauzi menunduk, dan bingung harus menjawab apa pertanyaan Nina.
“Aku sampai harus ngebawa Fariz main ke rumah orangtuaku, agar Salwa gak bingung. Jadi tolong bilang kak, apa yang terjadi??”
“Gue udah nebak-nebak ada yang aneh, saat Lu minta gue ngejemput Mikayla juga” Tambah Farhan.
Fauzi diam sejenak, ia tidak tahu seperti apa caranya untuk mengatakan keadaan Salwa yang sebenarnya pada Farhan dan Nina.
“Salwa sakit. Aku juga gak tahu penyakit ini seperti apa, yang jelas Salwa menjadi orang yang perlahan kesusahan menjalankan kehidupan sehari-harinya”
“Maksud Lu kayak gimana Zi?”
“I-itu sejak kapan kak?”
“Aku gak tahu pastinya sejak kapan Nin, yang paling aku sadari perubahannya, saat Salwa tersesat dijalan saat mau ngejemput Mikayla. Beberapa hari yang lalu saat aku minta Farhan ngebawa Mikayla juga, waktu itu Salwa tersesat sampai aku gak bisa ngejemput Mikayla”
“Tersesat? Tersesat dimana?”
“Dijalan saat mau jemput Mikayla”
“Dia mutar arah? Ngambil jalan yang jauh?”
Fauzi menggeleng. “Dia lewat jalan biasanya, tapi merasa tersesat di tempat itu. Dia bingung dengan tempat yang setiap harinya dia lalui”
Nina dan Farhan terkejut. Mereka tidak pernah menyangka, hal seperti ini akan terjadi. Mereka bahkan tidak bisa membayangkan dan sedikit tidak percaya dengan apa yang dituturkan fauzi.
__ADS_1
“Lu udah ngebawa Salwa periksa?”
Fauzi mengangguk. “Awalnya Gue bingung Han, dokter itu gak meriksa seperti biasanya, dia cuman nanya hal-hal sepele sama Salwa, tapi Salwa kesulitan menjawab. Sampai akhirnya dia minta Salwa untuk melakukan tes MRI”
“Hasilnya sudah keluar?”
Fauzi kembali menggeleng. “Sampel darah Salwa juga diambil, dan katanya ada protein tertentu yang ada di darahnya”
“Jadi??”
Fauzi menunduk dalam, kembali ia merasakan sakit yang sama saat pertama kali dia tahu keadaan istrinya beberapa hari yang lalu.
“Kata dokter, kemungkinan Salwa Alzheimer..”
“APA???”
Nina yang tidak mengerti banyak, hanya menoleh melihat reaksi suaminya yang begitu terkejut. Berbeda dengan Farhan yang berprofesi sama dengan Salwa, ia tahu betul penyakit seperti apa Alzheimer itu.
“I-itu sudah pasti?”
Fauzi hanya terdiam. “Gue masih nunggu hasil tes MRI Salwa keluar, dan itu yang akan menentukan. Tapi dari gejala-gejalanya, sepertinya itu benar Han”
Mata Fauzi mulai berkaca-kaca. Perasaan sakit kembali menyerangnya tatkala ia bercerita dan menyadari apa yang tengah terjadi pada istrinya.
“Hari ini Salwa bisa saja nyebutin hal-hal yang aneh dan gak masuk akal, atau mungkin tindakan-tindakan aneh, jadi aku berharap kalian bisa memakluminya”
Farhan dan Nina cukup syok dengan fakta yang baru saja Fauzi katakan. Perasaan merekapun mulai di serang dengan rasa sakit dan khawatir. Bagi Farhan dan Nina, Salwa bukanlah oranglain lagi.
“Kakak sudah bilang sama orangtu..”
Belum Nina menyelesaikan perkataannya, Salwa sudah kembali dari dalam membawa sebuah nampan yang berisi empat gelas teh. Nina tidak lagi melanjutkan ucapannya, ia menoleh menatap Fauzi dan Fauzi memberitahu melalui isyarat untuk tidak melanjutkan pembahasan mereka sebelumnya.
Salwa dengan senyum yang berhias di bibirnya, namun seketika ekspresinya berubah.
__ADS_1
“Loh, kalian datengnya barengan??” tanya Salwa pada Nina dan Farhan dengan ekspresinya yang kebingungan.
Salwa yang demikian membuat Nina dan Farhan menyadari, akan perubahan yang terjadi pada Salwa, sekaligus memperjelas kondisi Salwa saat ini.