
Sedih, takut, kecewa, semua bercampur menjadi satu, bahkan ada beberapa perasaann yang Fauzi tidak bisa jelaskan seperti apa rasanya. Meski gejolak pilu masih bermain ria dipikirannya, namun kelegaan juga turut ambil andil saat Fauzi melihat istrinya dalam keadaan baik-baik saja dari fisiknya.
Perlahan Fauzi menjelaskan daerah itu. Fauzi tidak ingin istrinya terus-terusan menganggap asing wilayah itu dan terus merasa tersesat di daerah yang tidak jauh dari rumahnya. Fauzi sedikit memaksa Salwa untuk bisa mengingat tempat itu. Meski awalnya Salwa sedikit sulit mencerna dengan ingatannya yang kabur entah kemana, tapi perlahan Salwa mulai bisa mengingat kembali wilayah itu.
“Ah iya ya.. Ini kan jalan yang selalu aku lewati setiap hari, kenapa sekarang jadi lupa?” Salwa menggaruk kecil kepalanya yang tak gatal, sebuah gerakan impulsif ketika kita dipertemukan sesuatu yang membingungkan.
“Jadi sekarang sudah ingat kan sayang? Kamu gak lagi tersesat sekarang, kita berada disekitar rumah kita” Jelas Fauzi sembari menunjuk kearah rumahnya.
“Iya, itu rumah kita..” pandangan mata Salwa tidak lepas dari arah yang ditunjuk Fauzi.
Fauzi tersenyum, meski istrinya sudah bisa lepas dari pikiran bahwa ia tersesat, namun tetap saja Fauzi khawatir akan kondisinya.
“Ja-jadi sekarang.. Astaga sayang, kita harus jemput Mikayla. Aku mau jemput Mikayla tadi..” Salwa menyadari tujuan awalnya dan penyebabnya berada di tempat itu.
“Mikayla ikut sama Farhan sayang, tadi Farhan nelfon aku” Kata Fauzi berbohong. Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya, bahwa dia yang meminta Farhan untuk membawa Mikayla.
“Kenapa? Mikayla kan gak pernah pulang kemanapun sebelum kerumah kalau dari sekolah. Aku selalu ngajarin Mikayla buat gak main pake baju sekolahnya”
“Biarkan untuk sekali ini saja sayang. Sekarang kita ke Rumah sakit dulu”
“Ke Rumah sakit? Ngapain? Aku kan udah gak kerja disana..”
“Bukannya dokter minta kamu untuk cek kesehatan lagi??”
“Dokter bilang, aku datangnya dua minggu kedepan. Lagian aku periksanya bukan di Rumah sakit, tapi di klinik”
“Cek lebih awal kan gak masalah sayang..”
“Tapi..”
“Ayo aku antar..”
Fauzi menarik pelan pergelangan tangan istrinya, mengajak Salwa dengan sedikit memaksa untuk memeriksa kesehatannya. Fauzi tidak ingin menunda atau menunggu hingga dua minggu untuk memeriksa kesehatan Salwa. Yang terjadi hari ini, benar-benar membuatnya khawatir.
Sepanjang perjalanan, Fauzi terus mengajak Salwa berbicara, membahas tentang masalalu mereka. Fauzi mengungkit semua hal yang pernah mereka lalui bersama.
Melihat respon Salwa yang masih menanggapi cerita Fauzi, membuat Fauzi merasa senang, meski kekhawatiran masih berbaur di perasaannya.
Fauzi menyiapkan hatinya untuk kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan dia dengarkan hari ini. Sesekali ia menolak kenyataan dan ingin putar balik saja kembali ke rumah. Tapi sekali lagi ia menyadarkan diri, bahwa ini adalah hal yang harus dihadapinya.
Fauzi dan Salwa tiba di klinik. Salwa yang sudah diketahui sebagai pasien kontrol di klinik itu, langsung saja diarahkan pada dokter yang menangani sebelumnya.
Seperti sebelumnya, dokter itu tidak melakukan pemeriksaan khusus. Dokter itu hanya memberi Salwa kenyamanan dalam bercerita, membuat Salwa menuturkan apa yang terjadi padanya dengan santai.
Sesekali dokter itu melirik Fauzi, seolah bertanya melalui tatapannya tentang kebenaran hal yang Salwa ceritakan. Dan Fauzi yang paham dengan apa yang dimaksud oleh dokter itu hanya mengangguk membenarkan apa yang Salwa utarakan. Fauzi mengerti, bahwa ada hal yang disembunyikan dari istrinya sekarang sehingga ia hanya mengikuti alur yang dilakukan dokter.
Hingga Salwa mulai bercerita tentang apa yang terjadi padanya hari ini, Salwa yang bercerita dengan tersenyum ramah dan santai, seolah yang terjadi padanya hanyalah sebuah lupa sementara yang tidak berakibat fatal. Dokter itu kembali melirik Fauzi, dan Fauzi sekali lagi mengangguk lemas membenarkan apa yang Salwa katakan.
__ADS_1
“Jadi Ibu tersesat sewaktu ingin menjemput putri Ibu?”
“He he iya..” Salwa tertawa kecil. “Sepertinya saya memikirkan hal lain sepanjang perjalanan, sampai saya merasa tersesat”
Fauzi hanya menunduk dengan hati yang tak terjabarkan rasanya mendengarkan jawaban Salwa, yang seolah apa yang baru saja terjadi padanya adalah hal biasa.
“Ibu punya anak berapa?”
“Masih satu dok..”
“Perempuan atau laki-laki?”
“Perempuan”
“Putri Ibu umur berapa sekarang?”
“Ya?” Respon cepat Salwa, namun tidak menanggapi dengan baik pertanyaan dokter.
“Putri Ibu sekarang umur berapa?” Dokter itu mengulangi sekali lagi pertanyaannya.
“Ngg....”..
Salwa berpikir sejenak.
“3 tahun? 4 tahun?” Salwa terlihat ragu-ragu, yang menandakan ia tidak mengingat usia Mikayla sekarang.
“Semisal putri Ibu lahir tahun 2014, jadi sekarang usia putri Ibu berapa?”
“2014?? Enggg...”
Salwa berpikir cukup lama untuk pertanyaan yang sangat mudah.
“Ah, mungkin karena aku syok saat tersesat tadi. Aku sampai bingung hitung-hitungan” Jawab Salwa dengan menggaruk pelan kepalanya. “Sayang, usia anak kita berapa sekarang??”
Dibanding berpikir atau berusaha mengingat, Salwa lebih memilih bertanya pada Fauzi.
“6 tahun” Jawab Fauzi, sedikit menahan suaranya.
“Ah iya, putri kami berusia 6 tahun”
Dokter hanya menatap Salwa dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya. Ia ingin Salwa tetap merasa nyaman meski ia bertanya hal-hal sepele.
“Ibu jalan kaki saat menjemput putri Ibu?”
Salwa mengangguk.
“Jadi Ibu tahu, ketika lampu lalu lintas berubah warna, Ibu tidak boleh menyebrang?”
__ADS_1
Salwa menatap sejenak dokter itu setelah mendapat pertanyaan yang entah mengapa menurutnya aneh, atau mungkin akan menjadi sukar lagi baginya.
Perlahan Salwa kembali mengangguk.
“Apa Ibu tahu, lampu warna apa agar Ibu bisa berjalan melintasi jalan?”
“Tentu. Kenapa tanya hal ini dok?”
“Tidak apa-apa, saya hanya ingin tahu. Jadi apa Ibu bisa memberitahu saya, lampu warna apa agar Ibu bisa melintasi jalan?”
“Lampu?” Salwa menatap dokter itu dengan mulai kebingungan. “Lampu apa?”
Tidak berselang satu menit dari dokter itu bertanya mengenai lampu lalu lintas pada Salwa, namun hanya dengan waktu sebentar itu Salwa sudah melupakan akan apa yang dokter itu tanyakan sebelumnya.
Fauzi tidak tahan lagi melihat istrinya, airmatanya mulai berkaca-kaca. Jelas sekali bagi Fauzi, bahwa sedang ada masalah pada diri istrinya sekarang.
Dokter itu menghela napas. Tidak lagi lanjut menghujani Salwa dengan pertanyaan.
“Ibu, apa ibu bersedia untuk melakukan pemeriksaan lanjut. Kami bermaksud memeriksa Ibu menggunakan MRI”
Fauzi menggeleng, memberi tanda bahwa tidak akan mudah membuat Salwa mau melakukan MRI. Salwa sebagai anak kesehatan jelas tahu, bahwa orang-orang yang melakukan MRI atau CT-Scan, hanyalah orang-orang yang memiliki penyakit yang terbilang parah, sedang dirinya saat ini merasa bahwa dia baik-baik saja. Namun dokter hanya tersenyum menanggapi reaksi Fauzi. Ya, dokter lebih mengenal Salwa saat ini dibandingkan Fauzi, suaminya.
“Ke-kenapa? Apa terjadi sesuatu yang buruk sama saya?”
“Ah tidak. Jangan khawatir, ini hanya pemeriksaan umum. Kami juga bermaksud mengambil sampel darah Ibu..”
“Ke-kenapa sampai darahku juga?”
“Pada pertemuan sebelumnya kan kita sudah bahas, kalau Ibu kemungkinan mengalami penurunan gula darah, kami juga bermaksud untuk mengecek kadar gula darah Ibu saat ini..”
Salwa terdiam sejenak, membuat Fauzi hanya menunduk. Fauzi yakin, istrinya akan menolak melakukan itu. Fauzi sendiri bingung dengan apa yang dilakukan oleh dokter. Fauzi yang tahu bahwa dokter itu mengetahui profesi istrinya, merasa bingung dengan apa yang dokter itu minta untuk istrinya lakukan.
“Jadi, apa Ibu bersedia untuk melakukan MRI dan pengambilan sampel darah..”
Fauzi masih menunduk, dengan meyakini bahwa istrinya tidak akan mengiyakan melakukan dua hal tersebut, jika tidak diberi penjelasan lanjut mengenai apa yang terjadi pada dirinya.
“Iya”
Spontan Fauzi berbalik menatap Salwa. Jawaban yang sangat tidak di duga-duga oleh Fauzi. bagaimana bisa istrinya mengiyakan hal seperti ini tanpa memperoleh penjelasan lebih lanjut tentang dirinya.
Tatapannya dia alihkan dari Salwa dan berbalik menatap dokter yang duduk tepat di depan istrinya itu. Seolah bertanya, mengapa hal seperti ini bisa terjadi. Dan dokter itu hanya tersenyum menanggapi tatapan Fauzi.
.
.
.
__ADS_1
.