Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Spesial chapter (2)


__ADS_3

8 tahun kemudian.


Matahari mulai menggantung tinggi di langit. Meski hari masih terbilang pagi, namun teriknya yang kian memanas seolah siap melahap sesiapa saja yang di terpa sinarnya.


“Sayang.. Jangan main-main pisau, itu tajam. Tanganmu bisa luka”


“Tapi dede kan mau ngebantu Mami masak”


“Boleh sayang, tapi nanti ya kalau udah besar. Sekarang belum bisa”


“Terus aku bisanya apa Mami? Aku bosen”


Salwa tersenyum, melihat anaknya yang begitu menggemaskan.


“Mau bantu bunda beres-beres gak?”


Ia mengangguk, wajah lugu dari anak berusia 7 tahun tengah menunggu apa yang akan Ibunya perintahkan.


“Bantu bunda beresin mainan Dirga ya diluar”


“Tapi nanti kan nanti mau dipakai main lagi bunda, nanti diambil lagi”


“Iya sayang, nanti kalau mau main baru diambil lagi. Kan gak bagus kalau berantakan, mainan Dirga bisa rusak kalau dibiarin begitu. Dirga mau mainannya rusak?”


Dirga, anak kedua Salwa yang kini baru menginjak tujuh tahun itu, menggeleng. Ia tidak rela jika mainan yang selalu menemaninya selama ini menjadi rusak.


Ia melangkah keluar sesuai intruksi ibunya, mencoba merapikan beberapa mainannya yang tadinya ia tinggal karena merasa bosan.


Bel berbunyi, Salwa yang masih sibuk di dapur menoleh sejenak.


“Dirga sayang, bisa bantu Mami buka pintunya?”


“Iya Mami..” Sahut Dirga di susul dengan suara langkah kakinya yang cepak-cepak dilantai.


“Siapa sayang?”


Tidak ada jawaban dari pertanyaan Salwa, namun mendengar Dirga yang kegirangan, sudah bisa membuat Salwa menebak, siapa yang datang itu. Terlebih lagi setelah mendengar suara yang tidak asing.


“Kak Fariz..” Seru Dirga dengan senang. Seolah ia baru saja melihat remaja berusia 15 tahun itu, padahal baru kemarin mereka menghabiskan waktu bermain ditaman, bersama dengan Naura, adik Fariz.


“Dirga.. Selamat pagi sayang..”


“Ini bukan pagi lagi kak, ini sudah siang” Protes Dirga.


“Oh ya? Ini kan masih jam 10”


“Tapi matahari sudah diatas. Pagi itu kalau mataharinya masih disana” Tunjuk Dirga mengarah pada timur, dimana matahari terbit.


Fariz hanya tersenyum, ia tidak mampu mendebati anak berusia tujuh tahun itu. lebih tepatnya, ia sulit memberikan penjelasan yang bisa dimengerti oleh Dirga.


“Kamu sendiri?”


“Gak, ada Mami di dalam”


Fariz melangkah masuk. Rumah yang ia kunjungi saat ini, bukan lagi rumah yang asing baginya. Fariz tidak lagi sungkan untuk melangkah masuk, bahkan hingga ke dapur.

__ADS_1


“Selamat pagi Mami.. Aku datang” Seru Fariz sembari memberi ciuman manis di pipi Salwa.


“Selamat pagi sayang, kamu datang sendiri?” Tanya Salwa, mengingat Fariz yang jika datang di pagi hari, akan membawa Naura adiknya.


“He he he iya.. Mikayla ada?”


“Ada, diatas. Kayaknya belum bangun”


“Hah?? Belum bangun?”


Salwa tertawa kecil.


“Kamu ini, seperti tidak tahu kebiasaan Mikayla kalau lagi weekend aja”


Fariz hanya menghela nafas berat.


“Mau jalan?”


“Iya, Mami..”


“Yasudah, sana bangunin Mikayla. Kalau kamu mau nungguin dia bangun sendiri, kayaknya harus menunggu malam baru kalian bisa jalan”


“Yaudah, aku ke atas dulu Mami”


Salwa mengangguk menyetujui.


Fariz menapaki satu persatu anak tangga, menuju lantai dua dimana kamar Mikayla berada.


“Kayla, gue masuk” Kata Fariz meminta izin, namun meski tidak ada ada sahutan dari Mikayla, Fariz tetap melangkah masuk. Lebih tepatnya, ia tidak butuh persetujuan Mikayla.


“Bangun weii..”


Mikayla mengerjap, berusaha membuka matanya setelah menyadari seseorang berada dalam kamar. Mikayla menatap Fariz sejenak dengan matanya yang begitu sayu karena masih mengantuk. Bukannya ia beranjak bangun melihat kehadiran Fariz di kamarnya, Mikayla malah memutar badannya dan kembali melanjutkan tidur.


“Kayla bangun, Lu mau ngebo sampai jam berapa hah? Cewek kok males banget”


“Apaan sih Riz..”


“Bangun, temenenin gue..”


“Kemana?” Tanya Mikayla dengan nada parau. Matanya masih saja tertutup.


“Ke suatu tempat” Fariz menarik tangan Mikayla, membuat gadis berpipi tembem itu beranjak dari pembaringannya dengan matanya yang belum juga terbuka.


“Ntar sore aja, gue masih ngantuk”


“Ck.. Keburu tokonya tutup. Hari ini cuman buka sampai jam satu siang kan?”


“Ya mana gue tahu, emang gue penjaga tokonya” Kata Mikayla dan kembali merebahkan tubuhnya.


“Gue liat di story Lu, katanya tutup jam satu”


Mata yang tadinya terpejam, seketika membelalak dengan lebar saat Mikayla menyadari sesuatu.


“Di story gue? Maksud Lu toko...”

__ADS_1


“Iya.. Toko itu.. Sebelum gue berubah pikiran, cepetan mandi..”


Senyum merekah berhias di bibir Mikayla, namun tidak butuh waktu lama, senyum itu surut seketika.


“Lu cuman ngajakin gue kesana? Kalau cuman pergi gue juga bisa. Isi dompet gue sekarat Fariz, bisa di marahin Mami kalau gue minta duit cuman nambah koleksi BT21 doang” Keluh Mikayla memperlihatkan wajah masamnya.


“Gue gak bakalan ngajakin Lu kesana kalau cuman buat jalan-jalan markonah. Gue beliin, sebagai ucapan makasih gue karena Lu udah teriak paling kenceng di lomba gue kemarin. Ya meskipun teriak-teriak emang hobby Lu, tapi gue akui semangat gue selalu membara-bara tiap tanding kalau Lu..”


Belum Fariz menyelesaikan ucapannya, Mikayla sudah beranjak dari ranjangnya, dan mendekati Fariz yang sedari tadi membangunkannya.


“Ya ya.. Gue bakalan lebih rajin lagi teriaknya kalau dapat hadiah dari Lu” Kata Mikayla mencium pipi kanan Fariz dengan kuat.


“Aisshhh.. Jorok Lu, Lu belum mandi.. ah gak, Lu bahkan belum cuci muka dan..”


Mikayla hanya tertawa melihat Fariz yang mati-matian membersihkan pipi dari ciumannya, sembari berlari kecil menuju kamar mandi.


“Tapi... Pake batas ya... Gue gak bilang Lu bisa belanja sepuasnya..” Teriak Fariz.


“Ashiaap kakak Fariz.. Tunggu adek Kayla mandi dulu ya..” Kata Mikayla tersenyum.


“Ck, Lu manggil gue kakak tiap kali Lu seneng doang” Gerutu Fariz dengan masih membersihkan pipinya.


Tangannya yang sedari menyeka pipinya dengan kuat, perlahan menjadi pelan dan hanya meraba lembut pipi dimana Kayla meletakkan ciumannya tadi.


Senyum penuh arti terlukis di wajah Fariz. “Seperti anak kecil, tapi gue suka Lu kayak gitu. Kadang **** rasanya, tapi gue berharap ada waktu dimana Lu bisa ngeliat gue lebih dari ini”


Fariz menoleh, dan mendapati cermin seukuran badan yang berada di dalam kamar milik Mikayla. Jelas sekali ia melihat wajahnya tengah merona sekarang, membuatnya sadar akan apa yang tengah ia rasakan.


.


.


.


~Fariz~





~Mikayla~





☆☆☆☆☆☆


Sekali lagi, makasih karena udah baca sampai disini.. Makasih udah nemenin Lina di cerita "Dear, Jodohku!".. Lina berharap, kalian terhibur dan merasa nyaman membaca tulisan yang masih kurang baik ini..


Sehat-sehat selalu kalian, dan.. selamat bertemu di karya Lina selanjutnya..

__ADS_1


Hehe tetap stay ya, Lina masih mau Up sesuatu disini 😁


__ADS_2