
Kami sedang menikmati masa-masa romantisme pengantin baru. Tiada waktu yang kami lalui tanpa saling menggoda satu sama lain, sesekali adu debat tiap ada perbedaan pendapat. Tapi seperti biasanya, tiap kali adu debat aku pasti berakhir sebagai pemenang karena Fauzi hanya akan menurutiku saja.
Beberapa hari yang lalu Nina dan Farhan mampir kerumah kami sekedar menjenguk kami. Kami seperti reuni kembali setelah sama-sama telah merubah status sebagai suami dan istri. Nina dan Farhan yang lebih dulu 9 bulan menikah dari kami sekarang sedang diberi amanah meski masih dalam perut Nina, usia kandungannya memasuki 7 bulan sudah membuat perutnya terlihat besar.
Aku sangat bahagia sekarang, rasa sakit yang pernah kurasakan seperti semuanya sudah tertebuskan dihari dimana Fauzi mengucapkan Ijab kabul untukku. Aku tahu kedepannya kami tidak akan selalu ada dalam masa-masa yang bahagia seperti saat ini, pasti akan ada masa sulit setelah menikah nantinya. Tapi ketika masa itu datang, setidaknya aku tidak menghadapinya sendiri, Fauzi akan ada disampingku dan menghadapinya bersama.
Aku kembali mengingat bagaimana hancurnya perasaanku saat aku mengira Fauzi akan menikah dengan orang lain satu tahun yang lalu.
Satu tahun yang lalu.
Aku berusaha sekali lagi menyibukkan diriku dengan pekerjaan agar bisa melupakan Fauzi. Entah berapa lama aku menangis setelah bertemu Fauzi bersama Annisa yang sedang sibuk mengatur desain undangan.
"Salwa Ibu masuk ya Nak.."
"Iya Bu.." Jawabku.
Ibu melangkah masuk sambil membawa bubur kacang ijo yang masih hangat.
"Kamu sudah beberapa hari ini selalu bawa pekerjaan pulang, apa waktunya gak cukup kalau dikerjakan di Rumah sakit saja?" Tanya Ibu yang khawatir melihatku terus-terusan bekerja.
"Pekerjaan ini gak mendesak sih Bu, sebenarnya waktunya cukup kalau sambil pelayanan sambil mengerjakan laporan ini juga di Rumah sakit, tapi aku mau kerjaan ini cepat selesai" Jelasku.
"Tapi sayang, kamu bisa kelelahan kalau terus-terusan bekerja seperti ini. Istirahat saja dulu.."
"Gak kok Bu, Salwa cuman ingin menyibukkan diri saja.."
"Hem.. Tapi kesehatanmu itu penting sayang.."
"Salwa akan berhenti kok Bu kalau Salwa rasa udah gak kuat lagi.."
"Yasudah, Ibu tahu kamu lebih mengerti kesehatanmu dari Ibu. Tapi ingat jangan memaksakan diri.."
"Iya Ibu.."
"Kalau begitu Ibu keluar dulu, makan buburnya selagi hangat.."
"Iya Bu, makasih.." Jawabku tersenyum.
Ibu melangkah keluar.
"Bu.." Panggilku. Ibu yang sudah didepan pintu menoleh.
"Kenapa sayang?"
Aku melangkah mendekati Ibu.
"Bu, kalau aku lanjut kuliah gimana?" Tanyaku.
Kulihat ekspresi Ibu yang kebingungan. "Kenapa tiba-tiba mau lanjut kuliah lagi? Bukannya kamu bilang kalau kamu butuh pengalaman kerja?" Kata Ibu menuntunku untuk duduk ditepi tempat tidur.
"Aku bukannya gak kepikiran untuk melanjutkan pendidikanku Bu"
"Iya Ibu tahu, tapi kenapa tiba-tiba lagi sekarang?"
"A aku, aku cuman mau lanjut kuliah lebih awal saja.."
"Ada yang kamu sembunyikan dari Ibu?" Tanya Ibu curiga.
__ADS_1
Aku menatap Ibu sejenak, kemudian mengalihkan pandanganku.
"Ga gak kok Bu.."
"Jangan bohong sama Ibu Salwa.."
Aku diam saja.
"Kamu sengaja mau menyibukkan diri untuk menghindari sesuatu?" Tanya Ibu.
"Ke kenapa Ibu bilang begitu??"
"Kamu sudah beberapa bulan kerja sayang dan baru satu minggu terakhir ini kamu ngebawa terus kerjaanmu pulang. Kamu bahkan tidak sekalipun hanya sekedar berbaring memainkan ponselmu seperti biasanya. Kamu menghindari sesuatu??"
Se jeli itu Ibu memperhatikanku.
"I itu..."
"Dan sekarang lagi kamu ingin melanjutkan kuliahmu secara tiba-tiba sedang baru kemarin kamu ngotot buat kerja dulu biar dapat pengalaman lebih banyak.."
"Bu.." Perlahan airmataku mulai menetes.
Ibu meraih dan memelukku. "Kalau ada sesuatu ceritakan pada Ibu Nak.."
"Bu, seminggu yang lalu aku ketemu Fauzi dirumah sakit, dia sedang sama perempuan lain.."
"Lalu kenapa sayang? Fauzi sudah bukan milikmu lagi, dan lagi meskipun kamu masih miliknya tidak seharusnya kan kamu melarang Fauzi berteman dengan orang lain.."
"Dia bukan teman Fauzi Bu.."
"Lalu?"
"Menikah?" Tanya Ibu terkejut melepas pelukannya. "Siapa yang bilang sayang?"
"Perempuan yang datang sama Fauzi itu Bu.."
"Kamu yakin??"
Aku hanya mengangguk.
"Itu bisa saja temannya sayang.."
"Bu, perempuan itu manggil Ibu Fauzi dengan panggilan Mama, dan lagi Fauzi memperlakukan perempuan itu dengan baik sekali Bu..."
Ibu terdiam sejenak, Ibu seperti kehabisan kata-kata.
"Dan lagi..."
"Dan lagi apa sayang??"
"Kemarin aku nemenin Annisa buat ketemu sama kliennya yang mesen desain undangan, dan klien Annisa itu adalah Fauzi.."
Ibu terlihat kaget mendengar penjelasanku. Perlahan Ibu meraih dan memelukku kembali.
"Ibu tidak tahu harus berkata apa sayang, Ibu juga tidak punya solusi untukmu kali ini. Tapi Ibu sangat yakin kalau bukan Fauzi yang akan menikah dengan perempuan itu.."
"Bu, aku ingin kuliah saja. Kalau aku gak disini, aku gak akan ketemu sama Fauzi dan kalau aku sibuk kuliah aku akan lebih mudah buat ngelupain Fauzi Bu.."
__ADS_1
"Sayang dengarkan Ibu, sebelum ada kejelasan kita tidak tahu apakah yang menikah itu benar Fauzi atau bukan sayang, jadi selama itu tetaplah bekerja disini untuk sementara" Bujuk Ibu.
"Bu, Ibu sengaja mau ngebuat aku ngeliat mereka menikah? Dekat-dekat ini atau lebih lama lagi Fauzi tetap akan menikah Bu. Sekarangpun aku sudah gak bisa nahan perasaanku, jadi bagaimana nanti ketika Fauzi sudah menikah.."
"Sayang, sebentar lagi oke? Setidaknya sampai kamu cukup satu tahun bekerja disini. Ibu masih ingin kamu tinggal sama Ibu disini.."
"Tapi Bu.."
"Ibu janji akan melindungimu, Ibu janji kamu akan baik-baik saja meskipun nanti benar Fauzi menikah"
"Bu.."
"Kali ini saja sayang, tolong tinggal lebih lama sama Ibu disini. Ibu masih belum puas, kamu ninggalin Ibu selama 6 tahun kuliah, jadi sekarang tinggal sebentar lagi ya??" Bujuk Ibu.
Aku jadi tidak tega melihat Ibu yang sudah memohon padaku. Aku tahu betul bagaimana perasaan Ibu, sudah 6 tahun aku tidak tinggal bersama Ibu dan sekarang baru beberapa bulan aku tinggal dirumah dan sudah berniat mau pergi lagi jelas itu membuat Ibu sedih.
Perlahan aku mengangguk mengiyakan permintaan Ibu.
"Makasih sayang.. Ibu gak akan ngebuat kamu kepikiran terus sama Fauzi.."
"Kenapa Ibu bilang makasih? Aku yang harusnya minta maaf sama Ibu.." Kataku memeluk Ibu dengan erat. Airmataku menetes lebih deras.
Aku memutuskan untuk tetap tinggal bersama Ibu setidaknya sampai masa kerjaku di Rumah sakit sampai satu tahun. Harusnya aku juga berfikir tentang karir dan imageku, apa kata staff di Rumah sakit jika aku yang baru saja masuk tapi sudah mengundurkan diri lagi.
.
.
.
Aku baru saja selesai berpakaian dan sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja.
Ting tonggg..
Satu notifikasi pesan masuk.
"Ah untung saja ada pesan masuk, kalau tidak mungkin saja aku lupa ngebawa ponselku hari ini.."
Aku melangkah, mengambil ponselku yang sedang ku charger. Aku membuka satu pesan yang dikirim dari nomor yang tidak dikenal.
"Hari ini kamu kerja? Bisa keluar denganku sebentar?"
"Siapa??" Gumamku.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Maaf seharian kemarin tidak Up. Niatnya pulang kerja mau Up, tapi pas sampai rumah kucingku meninggal 😭 jadi gak bisa fokus ngereview episodenya buat Up..
Maaf 🙏