
Faiq yang sebelumnya selalu ikut berpesta bersama Jazz dan teman-temannya yang lain, malam ini memilih untuk tidak ikut dan jalan sendiri menuju sebuah bar yang tidak cukup jauh dari tempat tinggalnya. Dia hanya akan membuat teman-temannya khawatir jika ikut dengan perasaan yang sedang kalut seperti ini.
Bar yang dia kunjungi tidak begitu ramai, membuatnya bisa lebih menenangkan perasaannya.
Faiq melangkah masuk dan langsung menuju meja bartender. Seseorang dengan usia yang terbilang cukup tua berdiri disana dan langsung menyapa Faiq dengan hangat. Dilihat dari usianya, sepertinya dia bukan seseorang yang bekerja di Bar itu, melainkan seorang pemilik atau mungkin Ayah dari pemilik bar tersebut yang tengah turun langsung mengontrol Barnya.
“Bitte gib mir ein glas wein” Kata Faiq yang memesan segelas wine pada bartender yang sedari tadi memperlihatkan senyum tanda keramahannya.
Sekilas Faiq berpikir, apakah dia sedang di Bar atau di cafe, melihat keramahan yang bartendernya perlihatkan.
“Hier ist ihr wein, sir” Kata Bartender itu yang menyerahkan dengan ramah wine yang dipesan oleh Faiq.
“Thanks..”
Faiq meneguk winee itu dengan sekali tegukan, ia sadar akan dirinya yang bisa saja kehilangan kesadaran disana karena mabuk, namun dia tidak peduli. Dia butuh sesuatu untuk menenangkan pikirannya, dan yang dipilihnya itu adalah anggur. Ia akan menelfon Jazz untuk menjemputnya ketika ia tidak bisa pulang dengan mengendarai.
“Kamu terlihat masih sangat muda, apa kamu seorang pelajar?” Tanya bartender itu masih menggunakan bahasa yang sama dengan sebelumnya.
“Iya” Jawab Faiq singkat dengan bahasa yang sama
“Aku tidak melihat garis wajah penduduk disini di wajahmu. Apa kamu orang dari luar?” Tanyanya lagi yang melihat wajah Asia milik Faiq yang sangat berbeda dengan ciri khas wajah eropa.
“Kamu benar, aku berasal dari Indonesia”
“Jadi kamu kesini untuk menempuh pendidikan? Atau sedang berlibur”
“Aku pelajar”
Meski hanya menjawab dengan singkat, namun Faiq tetap merespon pertanyaan diajukan untuknya.
“Kau terlihat sedang tidak baik-baik sekarang..”
Faiq berbalik menatap bartender itu. Wajah ramah penuh senyuman masih bartender itu perlihatkan padanya.
“Kamu benar, sesuatu sedang menganggu pikiranku. Dan aku butuh alkohol untuk membantuku menenangkan perasaanku”
“Ini cara yang menurut beberapa orang tepat. Tapi ini tidak benar” Katanya sembari tetap menuangkan Wine ke gelas Faiq setiap kali Faiq memintanya.
“Kenapa? Faktanya alkohol memang bisa menenangkan perasaan” sanggah Faiq.
“Sebenarnya itu tidak membuatmu tenang. Alkohol hanya membuatmu lupa pada masalah atau sesuatu yang mengganggu pikiranmu. Alkohol yang menurutmu bisa menenangkanmu itu sebenarnya hanya mengambil alih pikiranmu, sehingga kesadaranmu hilang dan kau melupakan masalahmu. Apa kamu pikir itu bisa disebut menenangkan pikiran?”
Faiq terdiam saja, ia masih berusaha mencerna kata-kata dari laki-laki tua tak dikenal yang sedang mengobrol dengannya sembari mencari tahu apa maksud orang tersebut mengatakan hal yang seperti itu padanya.
“Dia hanya membuatmu lupa, sehingga kau merasa nyaman karena tidak mengingat apa yang menjadi bebanmu, dan itu hanya berlaku sementara. Sementara hasil yang bisa kau temui dari mabuk yang disebabkan oleh alkohol, bisa membuatmu mendapatkan masalah baru karena kesadaranmu diambil alih”
“Lalu menurutmu, apa yang bisa dilakukan untuk menenangkan pikiran yang bisa lebih hebat dari alkohol” Tanya Faiq kembali pada lawan bicaranya yang seolah tidak membenarkan tindakannya saat ini yang mencoba menenangkan pikirannya dengan alkohol.
Laki-laki tua itu tertawa kecil dengan masih memperlihatkan keramahannya.
“Kau harus melawan dan menyelesaikan masalahmu, bukan dengan melarikan diri dan membenarkan bahwa alkohol itu adalah cara paling benar untuk mengatasinya”
Faiq terdiam, dan kembali meneguk wine dalam gelasnya hingga habis.
“Kamu tidak mengerti” Kata Faiq dan kembali menyodorkan gelasnya meminta untuk di isi wine hingga penuh.
Laki-laki itu tetap mengisi gelap Faiq hingga penuh meski ia sedang memberi wejangan tentang alkohol yang tidak akan membantu dalam menyelesaikan masalah. Ya, pelayanannya sebagai bartender tetaplah harus dia lakukan.
“Aku mengatakan hal ini bukannya karena aku tidak pernah merasakan di posisimu sehingga mudah saja memberimu wejangan. Justru karena aku pernah sepertimu, sehingga aku bisa memberitahumu hal seperti ini”
Faiq mengangkat kepalanya, memandangi laki-laki tua dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya.
“Seberat apa masalah yang pernah kau lalui dan tidak melampiaskan perasaanmu pada alkohol?”
__ADS_1
“Sebenarnya bukan mengenai masalah apa yang kulalui yang bisa aku lewati tanpa alkohol. Melainkan menjadikan alkohol pelarian dari masalahku dan malah menambah masalah yang lebih buruk lagi”
“Maksudmu? Aku tidak mengerti..”
Ya, kata-kata dari laki-laki tua itu benar terdengar sedikit ambigu, sehingga wajar saja jika Faiq tidak mengerti.
Laki-laki tua itu menghela nafas sejenak, kemudian perlahan bercerita tentang kisahnya, sekiranya itu bisa membantu anak muda yang duduk didepannya dengan sebotol wine yang sudah diminumnya, bisa mengambil pelajaran dari kisah yang akan dia ceritakan.
“Aku pernah sepertimu, aku bermaksud menenangkan pikiranku dengan alkohol. Orangtuaku tidak merestui hubungan yang kupunya dengan kekasih hatiku. Yang aku pikirkan saat itu, hanyalah bagaimana caranya agar aku bisa melupakan semua penolakan Ayahku pada wanita yang aku cintai”
Faiq dengan kesadarannya yang sedikit melemah akibat alkohol yang sudah lumayan banyak diminumnya itu, tersentak tatkala lelaki tua itu bercerita kisah yang hampir sama dengan kisahnya.
“Aku marah pada Ayahku” laki-laki tua itu melanjutkan ceritanya. “Aku marah karena dia yang tidak merestui hubungan kami. Untuk melampiaskan amarahku, aku datang ke sebuah bar dan meneguk banyak alkohol disana hingga kesadaranku hilang”
Faiq berhenti meneguk wine-nya dan mulai fokus mendengar cerita laki-laki tua yang bahkan namanyapun tidak ia ketahui.
“Sebenarnya aku tidak tahu apa yang kekasihku itu katakan pada Ayahku, aku juga tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, yang aku tahu Ayahku merestui hubungan kami setelah kekasihku datang dan berbicara pada Ayahku”
“Lalu apa masalahnya? Kalian sudah mendapatkan restu bukan”
“Ya, dan masalahnya ada pada alkohol yang sudah aku teguk dan membuatku mabuk. Saat ayahku memutuskan untuk merestui hubungan kami, dia terus-terusan menelfonku dan memintaku pulang untuk memberitahuku akan restu yang sudah dia berikan pada kamu. tapi karena aku sedang mabuk jadi aku tidak menjawab panggilannya. Aku bahkan lupa dimana aku menyimpan ponselku. Hingga akhirnya ketika aku sadar, yang ku temui adalah hal yang paling menyakitkan”
Dahi Faiq berkerut, memperlihatkan dia yang bingung juga penasaran dengan kelanjutan cerita laki-laki tua yang tidak ia kenali namun sudah bercerita hal layaknya seorang teman.
“Saat aku sadar, aku mendengar suara isak tangis yang cukup gaduh dari luar ruangan yang aku tempati. Aku berjalan keluar dengan kesadaranku yang belum sepenuhnya terkumpul, dan yang kutemui adalah foto kekasihku yang tersenyum manis dengan bunga Lily putih yang tertata rapi di sekitar fotonya itu”
Faiq terkejut. Kesadarannya yang perlahan menghilang sebelumnya, kembali berkumpul dan memenuhinya. Bunga Lily putih yang diletakkan disekitar foto seseorang menandakan bahwa orang tersebut telah berpulang.
“A-apa yang terjadi dengannya?”
“Ya, dia meninggal. Hatiku sangat hancur saat mengetahui itu, dan yang lebih membuat perasaanku hancur adalah, saat aku tahu kalau kepergiannya itu karena aku”
“karena kamu??”
Faiq tercengang mendengar cerita yang menurutnya sangat memilukan itu.
“Kau tahu nak, andaikan aku tidak mabuk malam itu hal seperti kepergian kekasihku itu mungkin saja tidak terjadi. Aku mungkin masih bisa menjawab panggilan Ayahku saat dia menelfonku, sehingga kekasihku tidak harus berlari untuk mencariku. Aku tahu takdir itu di tangan Tuhan, tapi jika saja sekiranya aku tidak meneguk alkohol malam itu, pasti lain lagi ceritanya”
Faiq terdiam, cerita yang baru saja di dengarnya memiliki pelajaran penting untuknya.
Faiq sempat berpikir untuk berhenti meneguk wine yang tersisa setengah gelas itu, namun dia kembali meneguknya hingga habis.
“Sekarang aku tahu, kalau alkohol ini bukan penyelamat yang bisa melepaskanku dari pikiran-pikiran yang sedang mengangguku sekarang. Tapi aku masih tidak tahu harus berbuat apa untuk menyelesaikan masalahku, dan lagi aku tidak tahu cara apa yang bisa aku gunakan untuk menenangkan pikiranku selain meneguk alkohol ini hingga lupa dengan semuanya”
“Apa seberat itu masalahmu??”
Faiq hanya mengangguk.
“Aku juga sama sepertimu, Ayahku tidak merestuiku dengan wanita yang kusukai. Di Indonesia, hal lumrah ketika kita menemukan orangtua yang tidak merestui hubungan anaknya hanya karena menurutnya pilihan anaknya itu tidak pantas bergabung dengan keluarganya” Faiq perlahan mulai bercerita.
Entah pengaruh alkohol atau karena terlanjur larut dalam cerita laki-laki tua itu, Faiq akhirnya bercerita tentang beban yang dia rasakan.
“Aku seorang mahasiswa jurusan arsitek di Indonesia, aku sangat menyukai hari-hariku dalam mendesain atau membuat sketsa. Aku bahkan menerima surat yang menginginkan desainku untuk digunakan, tapi pada akhirnya itu berlalu begitu saja”
“Lalu apa yang kamu lakukan disini jika kamu menyukai kehidupanmu disana?”
“Seperti yang kukatakan sebelumnya, Ayahku tidak menyukai kekasihku dan meminta aku untuk mengakhiri hubunganku dengannya. Tentu saja aku menolak dan tetap mempertahankan perasaanku, tapi pada akhirnya aku tidak bisa berbuat apa-apa dalam hal melawan kehendak Ayahku. Ayahku seorang pengusaha yang hebat, dia memberiku sesuatu yang tidak bisa aku langgar untuk tetap menjaga orang-orang yang aku cintai disana”
“Sepertinya Ayahmu lebih kejam daripada Ayahku dulu”
“Ya begitulah. Ayahku mengirimku kesini agar aku memiliki jarak menemui kekasihku itu, dan agar aku bisa melupakan dia. Tapi sampai saat ini aku bercerita denganmu, aku masih sangat mencintainya, rasanya aku ingin di buat mati karena rinduku. Aku disini saat ini juga, karena aku tengah merindukannya dan tidak bisa menahannya hingga aku lampiaskan pada alkohol. Tapi bukan hanya karena rinduku saja sampai aku meneguk alkohol ini, tapi setiap ada masalah aku pasti meneguk alkohol. Kurasa alkohol bisa membuatku sedikit tenang”
“Hanya karena Ayahmu ingin kamu menjauh dari kekasihmu, dia sampai mengirimmu kesini? Bukankah Asia dan Eropa terlalu jauh hanya untuk memisahkan kalian?”
__ADS_1
“Ya seperti yang kamu pahami, jelas bukan hanya karena alasan itu saja sampai Ayahku mengirimku kesini. Selain untuk menjauhkanku dari kekasihku, Ayahku juga mengirimku disini untuk belajar bisnis. Dia ingin aku melanjutkan apa yang sudah dia bangun saat ini, menjadi pengusaha sepertinya”
“Bukankah kamu seorang mahasiswa arsitek sebelumnya? Dan kau bahagia dengan dirimu sebagai calon arsitektur”
“Ya, tapi seperti yang aku bilang sebelumnya. Ayahku memintaku menekuni dunia bisnis dan akan menggantikannya menjalankan perusahaan yang sudah dibangunnya. Dan lagi, aku tidak memiliki kemampuan untuk menolak”
Laki-laki tua itu terdiam sejenak, hingga menghembuskan nafas yang cukup panjang.
“Kehidupanku lebih sulit bukan??”
“Ya, kurasa seperti itu”
“Maka dari itu, aku ingin membuat diriku bahagia disini dengan melakukan apapun yang aku mau dan aku senangi”
“Bukankah itu kamu sedang menyia-nyiakan hidupmu?”
“Ya begitulah. Seperti ini caraku balas dendam pada Ayahku. Putra yang dia impi-impikan menjadi penerusnya, sekarang sedang bermain-main. Dia tidak akan bisa menjadikanku penerus jika aku seperti ini, itu seperti saja dengan dia menghancurkan apa yang sudah dia buat selama ini”
“Aku rasa, cara balas dendammu salah”
“Maksudmu? Sekarang aku tengah menikmati hidupku dengan melakukan apapun yang aku mau, bersenang-senang dan berfoya-foya menghabiskan semuanya bersama teman-temanku disini”
“Apa dengan melakukan itu, kamu bahagia?”
“Tentu saja”
“Lalu apa yang kamu lakukan disini dengan meneguk alkohol dan bercerita hal menyakitkan seperti ini padaku? Bukankah kau akan bahagia jika bersenang-senang bersama teman-temanmu? Lalu mengapa tidak pergi bersamanya sekarang?”
Faiq terdiam mendengar apa yang dikatakan laki-laki tua itu. Dia tidak bisa menyangkal kebenaran yang dia katakan.
Ya, apa yang aku lakukan disini kalau benar aku bahagia jika bersama teman-temanku? Kenapa aku disini sendiri dan melampiaskan perasaanku dengan meneguk alkohol sendirian hingga bercerita mengenai hal pribadiku pada orang asing, yang bahkan Jazz pun tidak pernah mendengar hal ini dariku.
“Nak, kau masih muda dan bisa melakukan balas dendam yang tidak merugikan dirimu seperti ini, kamu bisa melakukan hal yang lebih baik dari ini. Balas dendamlah dengan cara yang keren”
Faiq tidak mengerti dengan apa yang dikatakan laki-laki itu. Dahinya berkerut meminta penjelasan lebih dari apa yang dikatakannya.
“Balas dendam keren seperti apa yang kamu maksud?”
Laki-laki tua yang sedari tadi ia temani mengobrol itu tersenyum sejenak.
“Jadilah lebih baik..”
Faiq masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan lawan bicaranya itu.
“Kau memiliki dua pilihan. Kembali menekuni hobimu sebagai seorang arsitek, atau melanjutkan pendidikanmu yang sekarang dengan sungguh-sungguh sampai nanti kau bisa sukses dan membungkam mulut Ayahmu dengan apa yang kamu miliki. Saat kamu sukses dan bisa melampui Ayahmu, jangankan untuk bisa membuatmu melakukan apa yang kamu sukai, kamu bahkan bisa menentukan apa yang ingin kamu lakukan selanjutnya, termasuk kembali menemukan wanita yang kamu cintai itu”
“Bagaimana bisa aku kembali pada wanita itu, sedang Ayahku tidak merestui itu”
“Ayahmu hanya ingin kau menjadi orang yang sukes, dan saat sukses nanti apa kamu pikir Ayahmu akan bisa melarangmu melakukan sesuatu yang kamu sukai?”
Faiq terdiam, apa yang dikatakan laki-laki tua itu benar adanya. Dia benar-benar bisa menjadi apa yang dia inginkan jika dia menjadi orang yang sukses.
“Jalani hidupmu dengan baik, kamu masih muda dan masih memiliki banyak kesempatan untuk menjadi apa yang kamu inginkan, jangan sia-siakan hidupmu”
Faiq menatap lekat lawan bicaranya yang diapun tidak tahu namanya. Seseorang yang tidak dikenalinya, namun memberinya banyak pelajaran penting.
.
.
.
.
__ADS_1
.