
Pertemuan dengan Faiq yang secara tiba-tiba masih membuat Sasa belum sepenuhnya mempercayai apa yang baru saja terjadi, sesekali Sasa menepuk pelan pipinya dan memberi sengatan kecil dengan cubitan pada lengannya agar dia sadar, bahwa ini bukanlah mimpi.
Meski Fauzi menawarkan bantuan bahkan dengan sedikit memaksa untuk mengantar Sasa pulang, namun Sasa menolak. Sasa sendiri butuh waktu untuk memahami apa yang baru saja terjadi pada dirinya, sehingga ia menolak kebaikan hati Fauzi untuk mengantar pulang hingga ke depan rumahnya.
Sasa menyusuri jalan menuju rumah yang sudah tidak jauh lagi. Ia menghentikan taxi yang ditumpanginya tidak tepat di depan rumahnya, rasanya ia ingin menikmati udara sore itu untuk membantunya sadar akan apa yang baru saja terjadi padanya.
Dengan langkah yang sedikit lamban, tatapan yang kosong dan pikiran yang entah melayang kemana-mana, Sasa terus menyusuri jalan menuju rumahnya yang memakan waktu begitu lama meski jarak tempuhnya tidak lah jauh.
“Sasa..”
Panggilan seseorang membuyarkan lamunan Sasa, ia dengan cepat mengarahkan pandangannya dari arah sumber suara.
“Dari mana?”
Sasa tersenyum. “Dari nganter temen yang aku bilang kemarin” Jawabnya, sembari berjalan menghampiri laki-laki yang berdiri di pekarangan rumahnya dengan memegang beberapa kantong plastik. Ya, sebelumnya Sasa sudah bercerita pada laki-laki yang dikenalnya itu akan hari ini, juga temannya yang cukup mengenal permasalahan luar tentang kondisi Salwa mengingat ia pernah bertemu sekali dengan Fauzi saat Fauzi mengantar Salwa mengecek kesehatannya.
“Oh, jadi bagaimana pertemuannya? Lancar?”
Sasa mengangguk. “Iya” Jawabnya kemudian. Perhatian Sasa beralih pada kantong plastik yang dibawa lawan bicaranya, kemudian mengarahkan pandangannya ke dalam rumah yang dia ketahui milik laki-laki yang tengah berbincang dengannya saat ini.
“Kok ramai? Ada acara?” Tanya Sasa ingin melepas rasa penasarannya.
Seperti yang dia ketahui, laki-laki yang dia kenal dengan nama Azka itu, tinggal seorang diri dirumahnya. Dan hari ini, rumah itu terlihat ramai dan sedikit ribut terdengar hingga keluar, membuat Sasa bertanya.
“Ah itu.. Ibu, Ayah sama kakakku berkunjung, jadi ramai”
“Ngerayain sesuatu?”
__ADS_1
“Gak sih. Kebetulan aja mereka mampir, katanya kakakku mau ngebeli sesuatu yang gak ada disekitar rumahku disana, jadi kesini sekalian ngejenguk aku”
Sasa hanya tersenyum. Laki-laki yang dia kenal beberapa bulan terakhir saat ia pindah bekerja di Rumah sakit tempatnya bernaung saat ini, adalah orang yang pertama kali menyapanya saat itu, dan berakhir menjadi akrab seperti saat ini.
Azka, laki-laki berperawakan tinggi dengan kulit putih bersih itu, adalah orang pertama yang Sasa kenal saat ia memutuskan untuk bekerja di rumah sakit di daerah ini. Kepribadian Azka yang ramah membuat Sasa menjadi nyaman, sehingga keduanya sering berbagi cerita, entah hal-hal umum hingga beberapa hal pribadi. Sasa yang berlatar belakang yatim piatu, sangat terbantu akan kehadiran Azka saat ia pertama kali datang ke wilayah baru.
Hal yang membuat keduanya semakin akrab juga ialah, tempat tinggal mereka yang terbilang dekat. Hanya beberapa rumah saja yang memisahkan antara rumah yang Sasa tempati tinggal dengan rumah Azka. Mereka yang satu arah ketika ingin berangkat dan pulang kerja, membuat keduanya sering berangkat dan pulang bersama. Terlebih lagi, keduanya memiliki jadwal shift yang sama, sehingga mereka semakin sering bertemu.
Waktu yang berjalan dengan keakraban diantara mereka, membuat perasaan yang awalnya hanya menganggap Sasa sebagai teman, mulai berformulasi menjadi perasaan cinta yang sedikit sulit di bendung oleh Azka. Namun dia tidak berani melangkah lebih maju untuk memperkuat hubungan keduanya, mengingat Sasa yang pernah bercerita pada Azka tentang perasaannya yang masih sangat mencintai cinta pertamanya.
Azka berpikir, bahwa hubungan yang dia miliki bersama Sasa saat ini sudah cukup, dibandingkan ia melangkah maju dan menyatakan cinta pada Sasa, yang bisa saja berakhir dengan penolakan karena Sasa yang masih menyimpan cinta untuk cinta pertamanya. Jika penolakan itu terjadi, bisa saja terjadi kecanggungan diantara mereka atau hal buruk yang mungkin terjadi adalah Sasa yang bisa menghindar dari dirinya. Hal itulah yang membuat Azka memilih diam, dengan perlahan menunjukkan ketulusannya tanpa mengutarakan perasaannya. Ia berharap, suatu hari nanti Sasa bisa merasakan ketulusan dan perasaannya meski ia tidak mengutarakannya.
“Azka, ada tamu??” Tanya perempuan yang wajahnya sangat mirip dengan Azka. Ya, dia adalah kakak perempuan Azka. Ibarat kata, perempuan itu adalah Azka versi rambut panjang, saking miripnya wajah yang dimiliki oleh keduanya.
Azka berbalik mendengar pertanyaan kakaknya yang tiba-tiba saja muncul di belakangnya. Sasa pun sedikit memiringkan kepalanya karena penglihatannya yang terhalang oleh tubuh Azka yang tinggi, untuk melihat wajah seseorang yang menegur lawan bicaranya saat ini.
“Ya kamu beli garemnya lama banget, makanya mbak niatnya mau nyusulin tadi”
Azka menunduk dan melihat kantong kresek berisi garam yang dibelinya tadi, tapi belum ia serahkan pada kakaknya akibat bertemu dengan Sasa dan mulai mengobrol dengan melupakan tujuan awalnya untuk menyerahkan garam yang di bawanya itu pada kakak perempuannya.
“Aku lupa mbak..”
“Ya iya, gimana kamu gak lupa kalau keasyikan ngobrol sama cewek diluar”
“Ck..” Azka mendengus kesal sembari melangkah beberapa langkah menyerahkan kantong kresek yang berisi garam pada kakaknya.
Sasa hanya tersenyum, memperlihatkan keramahannya tatkala pandangan dari perempuan yang ia ketahui adalah kakak Azka, sedang menyorotinya. Azikapun turut berbalas senyum.
__ADS_1
“Temennya gak diajak masuk Ka?”
“Eh?”
Azka yang baru saja berbalik setelah meyerahkan garam yang dibawahnya, kembali menoleh menatap kakaknya.
“Itu temennya apa gak diajak masuk?”
“Ah iya”, Azka berbalik menatap Sasa. “Sa, ayo masuk dulu..”
“Eh gak usah, kalian kan lagi quality time”
“Ah gak, gak.. Sini masuk dulu..” Ajak Azika.
“Gak usah kak, aku balik aja..”
Azika yang sedari tadi berdiri didepan pintu beranjak menghampiri Sasa.
“Udah.. Ayo masuk dulu, kapan lagi kan kita bisa ketemu”
Azika menarik pelan lengan Sasa, mengajak Sasa bergabung dengan mereka meski sedikit memaksa.
“Ta-tapi…” Sasa hanya berbalik menatap Azka, sedang Azka hanya tersenyum canggung bingung harus bagaimana sedang kakaknya terus-terusan menarik Sasa masuk kedalam rumahnya.
Sebelumnya, Sasa tidak pernah masuk kedalam rumah Azka, mereka hanya akan mengobrol diluar rumah atau memilih ke cafe jika sedang ingin membahas sesuatu, mengingat Azka tinggal seorang diri dirumahnya. Begitupun Azka yang batas bertamu hanya sampai didepan rumah Sasa, terkecuali jika sedang berkumpul bersama yang lain, barulah Azka melangkahkan kakinya masuk kerumah Sasa.
Berbeda dengan Azka yang sebelumnya pernah masuk ke rumah Sasa saat mereka dan teman-teman lainnya sedang merayakan acara pindah rumah Sasa. Bagi Sasa, ini adalah kali pertama dia menginjakkan kakinya masuk ke rumah Azka, dimana keluarga Azka sedang berkumpul disana.
__ADS_1