Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Kecewa..


__ADS_3

Hari sudah berganti, dan ini adalah hari yang sangat aku nantikan selama sebulan terakhir ini.


Satu notif masuk di ponselku dan dengan cepat aku membukanya berharap itu pesan dari Fauzi, tapi kembali lagi aku kecewa.


"Selamat ulang tahun Salwaku sayang.. Panjang umur dan sehat selalu. Semoga tahun ini Salwaku bisa jadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya dan apa yang menjadi keinginannya bisa terwujud. Tetap semangat dalam setiap aktifitasmu dan jadi Apoteker kesayangan masyarakat.. Uwuu Apoteker kesayangan masyarakat kayaknya terlalu berlebihan, Hahaha.. Pokoknya Wish U all the best sayang.." Pesan singkat yang dikirim Annisa yang aku harapkan ini adalah pesan yang dikirim Fauzi.


Perlahan airmataku menetes. Bukan seperti ini.. Bukan seperti ini yang aku inginkan, aku sudah sangat menunggu waktu ini tapi kenapa jadinya malah seperti ini. Apa aku salah menduga lagi??


"Ohahaha aku lupa, aku juga mendoakan dengan sangat-sangat berharap doaku kali ini bisa terwujud.. Semoga tahun ini nama Salwa bisa berubah jadi Ny. Fauzi.. Semoga hubungan kalian lancar.. Uwuuu"


Airmataku yang tadi menetes perlahan sekarang mengalir dengan deras setelah menerima pesan singkat kedua yang dikirimkan Annisa. Aku juga sangat berharap seperti apa yang diharapkan Annisa, bahkan hari ini adalah hari dimana Fauzi berjanji untuk itu tapi apa kenyataan yang aku terima sekarang? semuanya tidak sesuai dengan harapan dan ekspektasiku.


Aku masih menunggu, airmataku yang tadinya sempat mengalir dengan deras sekarang tidak lagi bahkan sudah kering tanpa meninggalkan jejak dipipiku. Mataku tidak sekalipun teralihkan dari ponselku, aku masih terus menunggu dan berharap. Jika dia tidak mengatakan kalimat lamaran malam ini seperti yang dia katakan setidaknya dia mengucapkan selamat ulangtahun untukku.


Perlahan mataku mulai sayu, karena bengkak setelah menangis dan malam yang sudah hampir berganti menjadi pagi membuatku mataku sudah tidak bisa lagi menatap layar dan menunggu lebih lama. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi dan masih saja tidak ada pesan atau panggilan masuk dari Fauzi. Hatiku sakit sekali setelah berharap tapi yang terjadi tidak sesuai harapan. Aku sudah menunggu sebulan dan sekarang aku sudah menunggu hingga hampir pagi tapi itu semua sia-sia sekarang.


.


.


.


.


"Selamat ulang tahun sayang.." Kata Ibu mengecup keningku.


Aku yang masih tertidur terjaga karena kehadiran Ibu dikamarku.


"Kamu gak masuk kerja hari ini??" Tanya Ibu yang melihatku masih tertidur sedang biasanya di jam begini aku sudah siap-siap.


"Gak Bu.." Jawabku dengan mata masih tertutup.


Aku tidak semangat berakifitas hari ini, rasanya ada beban yang berat sekali dan ada luka diperasaanku yang belum bisa aku tangani.


"Kenapa??"


Perlahan aku beranjak dan duduk lalu memeluk Ibu.


"Sayang.. Matamu kenapa? Kok sampai bengkak begini??"

__ADS_1


"Ah itu, Nina dan Annisa bergantian menelfon semalam dan ngebuat aku gak tidur sampai hampir pagi.." Jawabku berbohong pada Ibu, aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Ibu.


"Jangan bohong sayang.. Matamu tidak akan se bengkak ini jika hanya kurang tidur.."


"Gak Bu, aku beneran.."


"Semalam kamu nangis??" Tanya Ibu memotong perkataanku.


Ah aku lupa kalau seorang Ibu akan sangat peka pada anaknya.


"Bu..." Aku memeluk Ibu dengan erat dan kembali menangis menumpahkan sakitnya perasaanku.


"Kenapa sayang? Kamu kenapa?? Cerita sama Ibu.."


Aku akhirnya menceritakan semuanya pada Ibu tentang Fauzi yang mengatakan akan datang melamarku dihari ulangtahunku yang aku tunggu sampai jam tiga pagi tapi satupun pesannya tidak ada. Aku menceritakan sambil terisak-isak.


"Ya ampun sayang.. Kamu ini benar-benar..." Kata Ibu mencubit pipiku sambil tersenyum.


Aku bingung melihat respon ibu, kenapa begitu santai setelah aku menceritakan semuanya.


"Fauzi kan bilang dihari ulangtahunmu.. Dan hari ini sampai nanti jam dua belas malam itu masih hari ulangtahunmu. Mungkin Fauzi menyiapkannya hari ini, bukan berarti karena semalam adalah pergantian hari dan kamu langsung berfikiran Fauzi akan mengatakannya saat itu juga. Bisa saja Fauzi akan mengucapkannya siang ini, sore ini atau mungkin nanti malam dia ngajak aku dinner.."


Ah iya, kenapa aku tidak kepikiran seperti itu? Kenapa aku selalu beranggapan kalau Fauzi akan mengatakannya di tepat jam dua belas malam tadi. Mungkin karena aku sudah terlalu lama menunggu sampai aku benar-benar berfikir Fauzi akan mengatakannya di tepat pergantian hari.


"Gak Bu.. Aku mau berangkat kerja saja.."


"Kamu yakin?"


Aku mengangguk.


"Yasudah sana siap-siap, Ibu siapkan sarapanmu dulu.." Kata Ibu berlalu.


Aku memilih untuk berangkat bekerja hari ini karena jika aku berdiam dirumah itu akan membuatku menunggu lagi dan membuatku merasakan waktu yang berjalan sangat lamban. Pekerjaan akan membuatku lupa pada waktu sejenak.


.


.


.

__ADS_1


Ucapan selamat ulangtahun berturut-turut aku dapatkan dari teman-teman ditempat kerja tadi siang, bahkan beberapa pasien juga mengucapkan sambil mendoakan saat mendengar teman-teman yang lainnya mengucapkan saling bergantian. Aku bersyukur di kelilingi oleh orang-orang baik yang mendoakan hal-hal baik dihari ulangtahunku. Yah, sekuat apapun aku menyembunyikan rasa kecewa karena Fauzi yang tidak kunjung mengabariku, tetap saja akan ketahuan oleh beberapa teman yang cukup akrab denganku.


"Kak Salwa kok beda?" Tanya Izki.


"Iya, gak kayak kemarin cengar cengir terus.." Izka yang biasanya cuek ikut bertanya juga.


"Oh hehe, aku cuman ngantuk karena semalaman telfonan sama teman ngasih ucapan selamat" Jawabku berbohong.


Sementara bekerja aku sesekali mengecek ponselku dan masih sangat berharap akan ada notif dari Fauzi tapi tetap saja tidak ada. Aku bahkan berharap saat pulang bekerja tadi ada Fauzi menungguku diluar seperti sebelumnya saat dia menjemputku akan malam, tapi sekali lagi aku kecewa menyadari tidak ada Fauzi yang menunggu.


Aku sudah tidak tahu harus bagaimana lagi, sedari pagi sampai sore dan sampai malam ini aku menunggu Fauzi menghubungiku tapi sekalipun tidak ada.


"Bodohh bodohhhh... Salwa kamu bodoh sekali..." Kataku mengecam diriku sendiri.


Airmataku kembali mengalir, menangisi kekecewaanku yang membuat hatiku sangat terluka.


"Kenapa? Kenapa aku harus menunggu? Kenapa aku harus berharap dan kenapa aku dengan bodohnya percaya perkataan Fauzi..." Kataku terus-terusan menggerutu sambil sesekali menyeka airmataku.


"Kenapa aku harus menanggapi serius perkataan Fauzi waktu itu, jelas-jelas Fauzi mengatakan itu saat sakit dan saat kesadarannya hampir hilang karena mnegantuk.. Kenapa aku percaya perkataan Fauzi yang dia ucapkan setengah mengigau ituu..." Aku terus-terusan menyalahkan diriku.


Ya sepertinya aku memang salah menanggapi. Fauzi sedang sakit saat itu dan kesadarannya perlahan hilang karena sedang mengantuk. Ya hari itu Fauzi hanya mengigau dan setelah sadar dia lupa pada semua yang sudah dia katakan. Aku terlalu bodoh karena menanggapi serius perkataan Fauzi itu.


Sudah jam satu malam, dan setengah dari hatiku masih berharap dan menunggu. Ah kenapa aku masih saja bodoh, ini sudah pergantian hari dan hari ulangtahunku sudah lewat. Ya selama apapun aku menunggu, hasilnya akan tetap sama. Tidak akan ada kabar dari Fauzi.


Perlahan kesadaranku mulai hilang, aku bisa sakit jika seperti ini terus.


Tingtonggg..


Satu notifikasi pesan masuk tapi sudah tidak terdengar lagi olehku yang kesadaranku mulai hilang dan perlahan tertidur.


.


.


.


.


Up sampai tamatnya dilanjut besok ya..

__ADS_1


Hiks, kalau dipaksa malam ini bakalan banyak typo yang betebaran..


hikss maafkan diriku 😭😭


__ADS_2