
Aku mengerti jika Fauzi masih belum bisa memberiku perilakunya yang hangat yang seperti dulu, tapi aku sangat bersyukur meski sikapnya sangat dingin Fauzi masih sangat perhatian padaku.
Fauzi menyuapiku tanpa menatapku dan sama sekali tak berkata satu katapun.
"Zi, ini.."
Temannya yang tadi entah kemana perginya kembali membawa paper bag yang dibungkus dengan kantong plastik dengan sedikit basah.
"Yo, makasih ya Ri.."
"Yaps.. Gue ke kamar duluan.." Katanya berjalan jinjit-jinjit karena kakinya yang basah.
Fauzi masih terus menyuapiku sampai selesai.
"Pakai ini, kamu bisa masuk angin kalau pakai baju yang basah sampai pagi" Katanya sambil menyerahkan paper bag yang tadi dibawa temannya. "Aku kedalam dulu menyiapkan kamar untukmu, malam ini kamu nginap disini dulu, hujan diluar deras dan mungkin saja penerbangan akan ditunda karena cuaca sedang tidak baik. Aku akan menelfon Ibu.." Kata Fauzi dengan sikapnya masih dingin.
"Ma makasih.."
Fauzi melangkah masuk meninggalkanku sendiri di ruang tamu, aku menunggunya sampai selesai menyiapkan kamar. Tidak lama dia kembali keluar.
"Aku sudah menyiapkan kamar, masuk dan istirahat. Besok pagi aku akan mengantarmu ke bandara"
"Gak.. aku gak mau pulang"
"Lalu kamu mau apa?"
"Ozi.. maafkan aku, aku tahu aku salah aku janji gak akan mengulanginya lagi.." Aku lagi-lagi tidak bisa menahan airmataku.
"Sudahlah Salwa, aku tidak mau membahasnya lagi.."
"Aku kesini mau minta maaf Ozi, aku mau memperbaiki semuanya.."
"Apa yang mau kamu perbaiki Salwa? Semuanya sudah terlanjur hancur, perasaanku dan cintaku semuanya sudah berantakan"
Aku berdiri berjalan mendekati Fauzi, selimut yang aku gunakan jatuh dilantai.
"Sekali ini saja, tolong sekali ini saja maafkan aku.."
Fauzi diam saja, matanya mulai berkaca-kaca.
"Tolong beri aku kesempatan sekali lagi"
"Sudah malam, tidurlah.." Fauzi mengalihkan pembicaraan.
"Ozi.. Aku harus bagaimana agar kamu bisa maafin aku?"
__ADS_1
"Tidak ada.."
"Katakan saja, aku akan melakukan apapun asal kamu maafin aku.."
Fauzi menoleh, menatapku dengan tajam. Semenjak aku disini, ini kali pertama Fauzi menatapku.
"Pergi dan jangan bahas ini lagi sama aku.."
"O Ozi.."
"Aku mau tenang Salwa, aku sedang berusaha memperbaiki perasaanku jadi tolong jangan datang untuk mencampur aduk perasaanku lagi.."
"Ozi aku hanya..."
"Aku sendiri tidak tahan Salwa" Katanya memotong pembicaraanku, nadanya mulai meninggi. "Aku sendiri tidak tahan dengan rasa kecewaku, aku tidak kuat menahan sakitnya perasaanku. Aku tidak tau harus bagaimana lagi.." Matanya yang sedari tadi berkaca-kaca kini menumpahkan airmata yang sedari tadi tertahan dikelopak matanya.
"Aku akan berubah menjadi lebih baik lagi, aku gak akan ngecewain kamu lagi.."
"Kamu juga tahu Salwa, aku sangat mencintaimu, aku sangat menyayangimu apapun yang kamu mau aku akan selalu berusaha agar bisa memenuhinya. Aku bahagia melakukan apa yang membuatmu bahagia, tapi kenapa melakukan ini padaku? Aku kurang apa Salwa?" Emosi Fauzi pecah. Dia yang sedari tadi berdiri tegak jatuh tersungkur dilantai dengan airmatanya terus menetes meski ia seka berkali-kali.
"Fauzi maafkan aku.." Kataku menghampiri dan memeluknya. Fauzi tidak menghindariku seperti sebelumnya, dia membiarkan aku memeluknya.
"Sangat sulit juga bagiku kehilangan kamu, sangat sulit bagiku mengacuhkan dan mengabaikanmu tapi perasaanku yang hancur, hatiku yang sakit benar-benar tidak bisa menerima perlakuanmu terhadapku" Katanya dengan suaranya yang mulai serak.
"Maafkan aku Ozi, aku tidak akan mengulanginya lagi.." Kataku mempererat pelukanku, pakaianku yang basah membuat pakaian Fauzi basah juga.
"Tidak.. aku tidak merusaknya lagi, jadi tolong beri aku kepercayaanmu sekali.." Aku melepas pelukanku sejenak, memegangi kedua pipi Fauzi untuk meyakinkannya dan kembali memeluknya. "Aku gak mau kehilanganmu Fauzi, aku mau selalu menjadi Salwa yang memilikimu"
"Jangan seperti ini lagi.." Kata Fauzi berbaik memelukku.
Ada perasaan lega dan haru yang tidak bisa aku gambarkan, aku seperti mendapatkan kembali apa yang sedang berusaha aku perjuangkan.
"Iya aku janji Ozi.." Tangisku pecah.
"Aku sangat mencintaimu Salwa, aku sangat menyayangimu.." Fauzi mempererat pelukannya.
Aku yang tadinya kedinginan seketika tidak merasakan dingin itu lagi.
"Aku juga.. Aku juga.."
Cukup lama aku memeluk Fauzi dan Fauzi memelukku untuk meluapkan perasaan kami yang sama-sama berkecamuk tidak jelas. Tangis yang tadinya pecah perlahan mereda, detak jantung yang sedari tadi tak beraturan perlahan mulai teratur seiring perasaan yang menjadi lebih tenang.
Aku melepas pelukanku, menatap Fauzi dengan lekat.
"Ozi, sekarang sama Salwa lagi kan? Kembali menjadi milik Salwa kan? Ozi tetap sama Salwa kan?" Tanyaku beruntun untuk memastikannya lagi.
__ADS_1
"Semarah apapun aku, sekecewa apapun aku, aku tidak akan bisa kehilanganmu..." Jawabnya.
Aku terharu mendengarnya.
"Ja Jadi ki kita tidak pu putus kan? Yang kemarin itu tidak jadi kan??" Tanyaku terbata-bataku dengan suara yang mulai parau dan mataku kembali berkaca-kaca.
Fauzi menarikku kedalam pelukannya.
"Maaf karena sudah mengatakan putus, maaf karena terbawa emosi hari itu, aku akan tetap menjadi Fauzi yang milikmu.."
"Ozii.... huhu" Tangisku kembali pecah, tapi bukan lagi tangis dari airmata yang menyakitkan hati, bukan lagi tangis akan takut kehilangan tapi tangis yang tidak bisa kubendung karena bahagia dan perasaan lega.
"Hey.. kenapa menangis lagi.." Tanya Fauzi meski suaranya masih sedikit parau.
"Aku mau menangis saja.. Hu hu hu uh.. Aku sayang sama Ozi, Ozi masih tetap sama aku, aku gak mau kehilangan Ozi hu hu hu" Rasanya aku tidak bisa berhenti menangis.
"Aku juga tidak mau kehilangan kamu Salwa, perasaanku kemarin terlalu sakit sampai aku tidak bisa mengendalikan perasaanku dan berfikir jernih" Fauzi mempererat pelukannya.
"Maafkan Salwa yang kemarin, aku tidak akan seperti itu lagi, aku janji. Aku gak mau kehilangan Fauzi lagi, hu hu hu" Aku meluapkan semua perasaan legaku dengan menangis sejadi-jadinya.
"Sudah sudah, jangan menangis lagi.." Kata Fauzi melepas pelukannya dan membantu menyeka airmataku yang membasahi semua pipiku.
"Ozi..."
"Aku disini Salwa, aku tidak akan..." Fauzi menghentikan ucapannya, ia menyentuh pipiku lalu tangannya berpindah memeriksa dahiku. "Salwa badanmu panas.." Kata Fauzi terkejut.
"Ah aku?" Aku memegang dahiku. "Tidak, tidak panas.."
"Badanmu panas Salwa.." Fauzi menuntun tanganku memegang dahiku sekali lagi lalu mengarahkan tanganku memegang dahinya untuk membandingkan suhu tubuhku. Sepertinya suhu tubuhku benar lebih tinggi dibandingkan suhu tubuh Fauzi.
"Aku hanya demam saja, ini tidak.."
"Apanya yang demam saja, astaga kenapa aku lupa kalau bajumu masih basah, kamu pasti kedinginan.." Kata Fauzi dengan cepat meraih minyak kayu putih lalu lagi membalurkannya ketangan dan kakiku.
"Sekarang ganti bajumu dan istirahat, aku sudah menyiapkan kamar untukmu, aku akan tidur dikamar sebelah jadi jika butuh sesuatu panggil aku.."
"Aku tidak apa-apa, badanku hanya panas sebentar dan..." Penglihatanku sedikit kabur, aku berusaha memperjelas penglihatanku, mataku kukedipkan "Dan sebentar lagi suhu tu tubuhku pasti turun" Lanjutku.
"Sudah, jangan bicara lagi. Kekamar ganti baju terus istirahat, kubuatkan teh hijau yang hangat lagi nanti kuantar ke kamarmu..."
Farhan meraih piper bag dan memberikannya padaku, membantuku berdiri tapi..
BRUUKKK...
"Hey Salwaa..."
__ADS_1
Penglihatanku mulai tidak jelas, suara Fauzi juga samar-samar sampai akhirnya aku sudah tidak bisa mendengar suara Fauzi lagi, kesadaranku hilang.