Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Curhat


__ADS_3

Pertemuan tak disengaja antara dia dan Karin, seperti sebuah takdir yang disusun untuknya agar dia bisa mengetahui hal yang seharusnya dia ketahui sedari awal, saat memutuskan untuk kembali menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya, yang ternyata sudah pernah mengucapkan Ijab kabul pada wanita lain sebelumnya.


Bagaikan sebuah boomerang yang dijatuhkan tepat di hatinya, hingga membuat Sasa merasakan sesak sejenak mengetahui fakta yang dituturkan Karin padanya. Ia tidak pernah menyangka, bahwa laki-laki yang begitu dia cintai beberapa tahun terakhir hingga saat ini, dulunya pernah menjadi suami oranglain.


Sasa berusaha menangani perasaannya sebisa yang dia lakukan. Ingin sekali rasanya dia menolak kebenaran yang dikatakan Karin, tapi fakta yang ada telah mengharuskannya untuk menyadarkan diri, bahwa laki-laki yang berada di sisinya saat ini adalah mantan suami dari perempuan cantik seperti Karin.


Terbesit dalam hati kecilnya, berharap Karin hanya sedang mengada-ngada saat ini, atau salah mengira orang. Meski itu adalah hal yang jelas-jelas tidak mungkin.


“Iya, Faiq adalah mantan suamiku dan hal itu ngebuat aku merasa kurang nyaman mengerjakan proyek yang sama dengan dia” Keluh Karin.


Keluhan Karin memberikan sakit tersendiri bagi Sasa. Perasaannya seolah mencuak ingin menghamburkan rasa sakit yang dia rasakan saat ini.


Meski ia masih sangat terkejut, namun Sasa berusaha terlihat baik-baik saja dan tengah mengatur suaranya agar tidak bergetar, juga ekspresinya agar terlihat biasa saja.


“Dia mantan suamimu. Ke-kenapa kalian bercerai??”


Karin menoleh menatap Sasa, dan Sasa dengan cepat memperlihatkan senyum manisnya, agar Karin tidak menangkap sesuatu yang aneh dari ekspresinya.


“A-aku gak ada maksud buat kamu mengingat kembali hal pahit itu. Ah, maafkan aku karena bertanya perihal masalah pribadimu” Sasa kembali menarik pertanyaannya, dia sendiri tanpa sadar bertanya seperti itu akibat rasa tidak percaya dan terkejut yang tiba-tiba dia dapatkan.


“Gak apa, jangan terlihat sungkan begitu. Kami juga sudah lama bercerai, jadi tidak ada lagi rasa sakit yang aku rasa saat kamu bertanya hal seperti itu..”


“Tetap saja aku merasa gak enak, aku seperti orang yang tidak sopan bertanya masalah pribadimu” Kata Sasa tersenyum dan mengalihkan pandangannya. “Kami berpisah karena tidak cocok, itu saja”


Melihat Karin yang tersenyum, Sasa hanya ikut tersenyum.


Masih begitu banyak yang ingin Sasa tanyakan, tentang mengapa mereka menikah dan seperti apa Faiq saat menjadi suami. Juga bagaimana bisa pernikahan itu berlangsung, sedang Faiq selalu mengatakan bahwa ia tidak pernah menggantikan dirinya dengan orang lain selama mereka tidak bersama.


Apa Faiq membohongiku? Apa baru sekarang lagi dia merasakan cinta ke aku, karena kita sudah bertemu lagi?


“Semoga kamu bisa bertemu dengan laki-laki yang baik” Kata Sasa masih mencoba memperlihatkan senyum keramahannya.


“Makasih Sa, aku juga berharap seperti ini. Untuk sek..”


Belum selesai Karin menyelesaikan kata-katanya, ponsel miliknya yang dia letakkan dalam tas, berdering.


Karin meminta maaf, dan meminta izin untuk mengangkat telfonnya sebentar, Sasa hanya mengangguk memberi izin. Sebuah tata krama Karin perlihatkan, dimana dia bahkan meminta izin pada lawan bicaranya untuk mengangkat telfon.


Hal yang demikian membuat Sasa semakin bertanya-tanya perihal hal yang membuat mereka memutuskan untuk bercerai. Bagaimana bisa Faiq meninggalkan perempuan secantik Karin? Karin begitu ramah, friendable, cantik, pekerja keras dan memiliki etitut yang baik. Karin bisa di kategorikan sebagai perempuan yang nyaris sempurna di mata Sasa.


Setelah mengangkat telfonnya, Karin kembali dan pamit undur diri pada Sasa.


“Sa, maaf. Sepertinya aku harus mengakhiri pertemuan kita hari ini, aku sudah mendapat telfon dari teman yang ingin aku jenguk, saat aku selesai ketemu sama temanku nanti, mungkin kamu sudah bekerja”


“Kenapa minta maaf, tujuan awalmu kan memang untuk menjenguk temanmu..”


“Kalau begitu, aku permisi dulu. Kapan-kapan, ayo ketemu buat ngobrol lagi..”


Sasa hanya mengangguk mengiyakan permintaan Karin.


Karin berlalu meninggalkan Sasa yang hati dan pikirannya sedang berkecamuk tak jelas setelah di sajikan fakta yang tidak pernah ia duga-duga.

__ADS_1


.


.


.


.


Sasa pulang tanpa diantar oleh Faiq. Dia sendiri menghindari pertemuan dengan Faiq setelah mengetahui, bahwa laki-laki yang dicintainya itu ternyata pernah menjadi suami orang lain. Dia tidak akan bisa bersikap biasa saja di depan Faiq setiap kata-kata Karin terngiang-ngiang di telinganya.


Jelas saja Faiq tetap memaksa untuk mengantarnya pulang, namun Sasa yang berbohong dengan mengatakan bahwa ia lanjut malam hingga pagi, membuat Faiq mengurungkan niatnya untuk menjemput Sasa.


Sasa memilih untuk pulang bersama Azka, itu jauh lebih baik menurutnya sekarang dibandingkan pulang bersama Faiq.


“Sa, kamu baik-baik saja?” Tanya Azka memastikan kondisi Sasa yang terlihat murung.


Sasa hanya berbalik, menatap laki-laki disampingnya yang tengah menyetir sembari memperlihatkan senyumannya, di susul dengan anggukannya.


“Kamu yakin?” Tanya Azka sekali lagi. Azka yakin, bahwa jawaban yang diberikan Sasa barusan, bukanlah jawaban yang sebenarnya.


Sasa tidak lagi menjawab, airmatanya mulai menetes. Apa yang dikatakan Karin hari ini, terus saja terngiang-ngiang ditelinganya yang memberikan rasa sakit yang fantasis.


Azka tidak lagi bertanya, ia hanya fokus menyetir dan memberi Sasa waktu untuk menenangkan perasaannya.


Sekitar 15 menit berlalu, Faiq memarkir mobilnya.


“Ini dimana?” Tanya Sasa yang menyadari, bahwa tempat itu bukanlah halaman rumah miliknya.


“Ayo keluar” Ajak Azka tanpa menjawab pertanyaan Sasa.


Sasa menyapu sekitar dengan pandangannya. Tempat dimana kakinya berpijak saat ini adalah tempat yang jauh dari keramaian, namun pandangan masih bisa menangkap gemerlap lampu perkotaan. Ombak laut yang tetap ribut meski malam semakin larut, seolah sedang menyapa seseorang yang berkunjung melihatnya di malam yang terbilang cukup larut.


“Kenapa kita kesini??”


“Biar kamu bisa melampiaskan perasaanmu tanpa takut atau malu dilihat oleh orang lain”


Sasa berbalik menatap Azka dengan pencahayaan yang hanya di dapatkan dari sorot lampu mobil.


“Aku gak tahu apa masalahmu saat ini, aku gak tahu apa yang terjadi sama kamu, tapi kamu tidak seharusnya memendam itu sendiri, itu akan semakin melukai perasaanmu. Lampiaskan, teriakkan sebisamu, toh tidak akan ada orang yang mendengarnya disini”


“Tapi ada kamu”


“Aku?? Ah, anggap saja aku seperti batu karang. Jadi keluarkan semua perasaanmu”


Sasa tersenyum. Azka begitu mengerti akan kondisinya dan tahu apa yang harus dia lakukan.


Tanpa aba-aba, Sasa berlari menuju pantai dan berteriak sepuasnya di tepi pantai. Dia mengeluarkan semua rasa sakit yang dia rasakan, melampiaskan semua perasaanya hingga tenggorokannya terasa sakit dengan suaranya yang mulai serak.


Azka tersenyum dan perlahan berjalan menghampiri Sasa dengan sebotol air di genggamannya.


“Kuat juga teriaknya..” Kata Azka sambil menyodorkan sebotol air pada Sasa.

__ADS_1


“Makasih..” Sasa meraih botol yang berisikan air mineral itu. Tenggorokannya serasa kering setelah berteriak mengeluarkan semuanya, sekencang yang dia bisa.


“Kamu cocok jadi supporter bola. Suaramu lumayan bisa memberikan suntikan semangat pada para pemain”


Candaan Azka berhasil membuat Sasa tertawa kecil.


“Azka, makasih ya”’


“Apa?”


“Karena kamu udah ngebawa aku kesini dan ngebuat aku bisa melampiaskan semuanya”


“Jadi bagaimana perasaanmu?” Tanya Azka sembari duduk diatas pasir di pinggir pantai.


“Sudah lebih baik” Jawab Sasa tersenyum dan menyusul duduk di samping Azka.


“Syukurlah..”


“Kalau gak ada kamu. Mungkin semalaman ini aku hanya akan menangis dalam kamar..”


Azka terdiam sejenak, kemudian menoleh menatap Azka.


“Tentang apa yang kamu rasakan dan apa yang ngebuat kamu kayak gini, apa bisa kamu cerita ke aku?”


Sasa terdiam sejenak sembari menunduk, hingga perlahan kembali mengangkat wajahnya, menatap ombak yang masih sibuk berkejar-kejaran.


“Kamu pasti tahu orang lagi sama aku kan sekarang?”


Aku tidak senang dia bercerita tentang orang itu, tapi jika itu bisa menenangkannya, maka kubiarkan telingaku mengonsumsi hal-hal yang berhubungan dengan laki-laki itu, hanya untuk malam ini, dan hanya karenamu.


“Iya, kenapa sama dia?”


“Dia sudah menikah, Ka”


“A-apa?? Sudah menikah?? Bukannya kalian udah balikan. Dia mantan pacarmu yang kamu ceritakan ke aku waktu itu kan?”


Sasa hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Azka.


“Terus, bagaimana ceritanya kamu bisa sama dia sekarang, kalau dia sudah menikah?”


“Dia sudah bercerai..”


Kening mulus milik Azka berkerut, terlihat jelas ia bingung dengan apa yang Sasa bicarakan.


Perlahan Sasa mulai bercerita perihal fakta yang baru dia temui hari ini. Semakin jauh Sasa membahas mengenai Faiq yang belum menikah, semakin deras juga airmatanya. Melihat Sasa yang menangis tersedu-sedu sambil menceritakan apa yang baru saja dia ketahui tentang laki-laki yang dicintainya, membuat Azka sedikit kesal. Ya, kesal ketika melihat wanita yang dicintai menangis karena orang lain, adalah hal yang wajar. Siapa orang yang tidak merasakan sakit jika orang yang dicintainya menangis karena orang lain.


“Jadi kamu mau bagaimana sekarang? Masih lanjut sama dia?”


“Aku gak tau, aku bingung sekarang” Keluh Sasa masih dengan airmatanya yang menetes.


Azka menarik Sasa ke dalam pelukannya, mencoba menenangkan wanita yang dicintainya itu.

__ADS_1


“Tenangkan saja pikiranmu sekarang, masalah itu nanti saja kamu pikirkan”


Tangis Sasa makin menjadi-jadi, tanpa sadar bahwa ia berada di pelukan Azka saat ini.


__ADS_2