
Waktu akan terus berputar. Dunia tidak akan peduli dengan perasaaanmu dan akan terusĀ berlanjut sebagaimana mestinya. Kita yang pernah terluka, bersedih, tertawa dan bahagia pada akhirnya itu hanya akan menjadi bagian dari memori kita sendiri, dunia tidak akan peduli itu.
Sejauh apapun kita mencoba bertahan, akan ada waktu dimana kita harus merasakan yang namanya menyerah. Tapi semua kembali pada diri masing-masing, kau mau menyerah untuk selamanya atau menyerah hanya untuk sekedar rehat dari lukamu dan kembali bertempur melanjutkan hidupmu.
Semua rasa yang kamu rasakan hari ini adalah hasil dari pilihanmu dari beberapa waktu yang lalu. Kita punya beberapa pilihan, dan itu akan menentukan takdirmu di masa yang akan datang.
Aku berjuang melewati masa remajaku, aku yang menangis, terluka, tertawa dan bahagia semua sudah pernah terjadi padaku. Terkadang ada masa dimana aku mengalami dilema yang mendalam, ingin memilih tapi tidak mampu mengorbankan yang lainnya, itu bukti keserakahanku sebagai manusia.
Aku yang remaja itu, yang bimbang dan penuh keegoisan. Aku tidak bisa mengatakan kalau aku yang sekarang jauh lebih baik dari aku yang dulu, hanya saja aku sedang berusaha menjadi lebih baik dan berharap aku yang sekarang sudah berbeda dari aku yang dulu.
Masa remajaku yang aku lewati seperti umumnya anak remaja yang lainnya, bermain dengan cinta dan perasaan yang meciptakan drama melankolis yang terkesan memaksakan pemainnya untuk bersikap sesuai apa yang diinginkan dunia. Mengorbankan dua perasaan orang lain hanya untuk menjaga perasaanku sendiri, yang pada akhirnya tidak satupun dari mereka yang berada di sisiku sekarang. Akulah contoh dari ketamakan dan keegoisan, itu sudah menjadi pelajaran untukku agar kedepannya bisa lebih tegas mengambil tindakan.
Waktu berlalu, aku sudah bertransformasi dari gadis remaja yang egois menjadi seorang perempuan setengah dewasa yang lebih bisa mengendalikan emosi, perasaan dan keegoisan. Pelajaran dari pengalaman dan pelajaran dari teori yang ku realisasikan dalam kehidupanku sekarang. Dalam dunia yang kutekuni, aku diajarkan untuk lebih bisa mengendalikan emosi, menutupi perasaan pribadi dan seprofesional mungkin dalam memperlihatan ekspresi wajah, yah karena dunia pelayanan kesehatan butuh aku yang selalu terlihat baik didepan pasien.
Aku sudah melewati masa-masa kuliahku yang berat, dimana tubuhku kehilangan berat badan dan membuat daya tahan tubuh menjadi terganggu. Aku sering kali terkapar karena desakan tugasku yang memaksa untuk kuselesaikan, sering kali lupa makan dan sesekali berfikiran untuk ingin menyerah saja. Tapi sekali lagi aku bangkit, "Aku sudah melewati banyak luka didunia ini, aku harus menunjukkan padanya bahwa aku tidak mudah dilumpuhkan oleh desakan seperti ini. Yah aku kesusahan dulu agar bisa menikmati kehidupan yang baik kedepannya. Cerita susahku hari ini akan menjadi cerita lucu saat aku sukses nanti". Selain pemikiran pendorong seperti itu, semangat orangtuaku, dan teman-teman terdekat juga sangat mendorong semangatku untuk kembali berjuang juga tentang masa depan yang kuinginkan bersama orang yang kuharapkakn sampai hari ini.
Ada masa dimana aku menjadikan Fauzi sebagai motivasiku, aku harus bisa lebih baik sekarang karena aku berharap Fauzi akan kembali padaku suatu hari nanti dan aku tidak boleh terlihat buruk saat itu. Aku harus bisa menyeimbangi Fauzi nantinya.
Aku menyelesaikan tiga tahun pendidikan diplomaku dan melanjutkan pendidikanku satu setengah tahun untuk meraih gelar sarjanaku. Seperti belum puas atau mungkin terlanjur candu dengan pendidikanku yang mulai kurasakan nikmatnya, aku melanjutkan pendidikanku untuk meraih gelar profesi Apotekerku. Jujur saja aku masih ada niat untuk melanjutkan pendidikanku meraih gelar magister atau setidaknya menekuni salah satu bidang khusus Farmasi tapi aku memilih untuk rehat sejenak dan memulai dunia kerja. Aku butuh pengalaman kerja untuk mempermudahku dalam melanjutkan pendidikanku nanti.
"Wa, bisa tolong gantiin aku di PIO (Pelayanan Informasi Obat) dulu? Aku mau keluar sebentar.."
"Oh oke.." Aku yang sedang sibuk mengerjakan Formularium harus beranjak dari depan komputer.
Aku kembali ke Mamuju dan mulai bekerja di salah satu Rumah sakit di daerahku. Sudah sekitar setengah tahun aku bekerja disini, menjalani hari-hariku sebagai petugas pelayanan kesehatan masyarakat.
Aku memilih kembali, aku bisa bekerja sambil menemani Ibu dirumah. Sudah cukup waktu yang aku gunakan selama kuliah untuk meninggalkan Ibu dirumah, aku tidak ingin lagi menghabiskan waktu di daerah orang dan meninggalkan Ibu sendirian.
"Udah ada yang siap?" Tanyaku pada adik-adik TTK yang sedang sibuk memberi etiket pada obat pasien rawat jalan.
"Ini kak.." Jawabnya sambil memberiku beberapa obat beserta resepnya.
__ADS_1
Namanya juga pelayanan, sangat banyak permasalahan yang aku hadapi, mulai dari pasien yang merasa lebih mengerti obat menurut pengalamannya daripada kami atau pasien yang terburu-buru dalam meminum obat meski tidak sesuai waktu minumnya. Tapi dibandingkan itu, aku sering sekali kesusahan ketika bertemu pasien asli pedalaman dimana dia tidak terlalu mengerti penjelasanku menggunakan bahasa indonesia.
"De'uwissengi nak, ma bahasa ogi bawanni" Keluh pasien *Bahasa bugis*
Aku yang aslinya bukan dari daerah sini tidak mengerti dengan bahasa masyarakat sekitar sini dan juga tidak bisa memberikan pelayanan menggunakan bahasa daerah seperti yang pasien inginkan. Terkadang aku harus mencari teman dengan suku yang sama dengan pasien untuk membantuku dalam memberikan penjelasan obatnya. Tapi bagaimanapun sulitnya ini, aku tetap menikmati profesiku.
"Wah lihat, pasien ini kelahiran 2001 dan resepnya dari poly obgyn, obatnya penguat kandungan. Namanya sudah pake Nyonya.. " Seru Izki salah satu TTK yang bertugas mengerjakan etiketing pada obat.
"Elah, anak sekarang mah gak kaget kalau umur belasan tahun tapi sudah mau lahiran" Jawab Izka ketus.
"Ya tapi kan dia ini masih terlalu mudah buat lahiran.."
"Ya kenapa? kalau emang udah waktunya dia mau lahiran, bilang aja kalau kamu yang lahiran 90-an iri karena belum nikah-nikah sampai sekarang, heleh gimana mau nikah kalau pacar aja gak punya" Sindir Izka masih tetap fokus mengerjakan pekerjaannya.
Dua anak kembar yang pertama kali kusapa saat bekerja disini sering sekali berdebat hanya karena masalah sepele, tapi itu juga sudah menjadi hiburanku saat bekerja setidaknya lelahku bisa sedikit teratasi. Wajah mereka benar-benar mirip tapi sifatnya sangat berbeda.
"Sudah sudah jangan berdebat, resepnya sudah selesai belum?" Tanyaku sambil melerai mereka.
Aku menyerahkan obat pada pasien sambil menjelaskan dengan bahasa yang sopan dan mudah dimengerti oleh pasien juga tidak lupa senyum manis agar pasien bisa lebih nyaman. Ada yang bilang, senyuman dari seorang Farmasi juga bagian dari obat yang bisa menyembuhkan pasien.. Eaaa Eaaa.. :D
"Haha kenapa bertanya begitu?"
"Hehehe enggak, aku cuman kepo aja kak. Kakak punya pacar?"
Aku menggeleng sambil tersenyum.
"Kenapa? Kakak kan cantik, pekerjaan juga bagus.." Tanya Izki.
"Aku yakin pasti banyak kan yang ngedekatin kakak" Celetuk Izka.
"Haha Izka sotta deh.." Jawabku sambil tertawa.
__ADS_1
"Gak kok, aku pernah ngeliat kakak nolak perawat dari ICU.."
"Eh??" Aku terkejut, kenapa bisa anak ini melihatku waktu itu.
"Jadi kenapa kakak gak pacaran?" Tanya Izki berulang-ulang.
"Jodoh itu sudah ada yang atur Izki, walaupun aku pacaran sekarang kalau dia bukan jodohku nanti juga bakalan putus lagi, jadi ya lebih baik aku sendiri saja dulu sampai jodohnya datang. Berbeda sama yang memang sudah punya pacar apalagi yang pacarannya udah lama, mereka bukan lagi nungguin jodohnya datang tapi memperjuangkan orang yang sedang bersamanya sekarang"
"Kakak lagi nungguin orang?" Tanya Izka dengan sorot matanya yang dalam
"Maksudnya?"
"Kakak bicaranya seperti orang yang lagi nungguin seseorang makanya lagi gak mau pacaran"
Aku terdiam.
"Hehehe ngasal aja kamu.. Udah-udah kalau gak ada resep masuk kalian lihat sisa stok obat gih, ampra yang stoknya tinggal sedikit" Kataku untuk mengalihkan pembahasan.
Aku berbohong jika aku mengatakan aku tidak sedang menunggu seseorang, karena pada kenyataannya hari ini aku masih sendiri dan menolak oranglain masuk dalam kehidupanku itu karena aku sedang menunggu. Menunggu dia yang masih aku harapakan akan datang menjemputku sebagai tulang rusuknya.
.
.
.
.
Seperti waktu yang menjawab penantianku, tapi dia yang aku tunggu sekarang sepertinya bukan lagi orang bisa aku miliki karena dia yang telah dimiliki orang lain.
.
__ADS_1
.
Next.. Fauzi comeback gaess...