
Farhan yang sedari tadi tidak mengerti kenapa aku menangis semakin bingung ketika aku kembali menangis lagi. Aku cengeng sekali hari ini, aku merusak moodku sendiri dan membuat orang-orang sekitar bingung dengan kondisiku.
"Salwa kamu kenapa??" Tanya Farhan kebingungan.
Aku hanya terus menangis, aku tidak sanggup menjelaskan pada Farhan tentang apa yang aku rasa dan apa yang membuatku seperti ini.
"Salwa.. aku ada salah-salah kata??"
Aku menggeleng..
"La lalu?? kamu??"
Aku menyodorkan ponselku ke Farhan, memperlihatkan pesan teks yang dikirim Fauzi sebelum aku tampil tadi.
"Sayang.. aku minta maaf, aku gak bisa datang hari ini buat ngeliat kamu tampil.. aku benar-benar minta maaf sayang. Temanku tiba-tiba menghubungiku untuk melakukan pemotretan prawedding terakhir hari ini. Aku benar-benar minta maaf gak bisa nyemangatin kamu bahkan saat Ayah Ibumu juga gak ada.. Maaf sayang" Isi pesan teks yang dikirm Fauzi
"Fauzi beneran gak datang hari ini??" Tanya Farhan terkejut.
Aku menggeleng..
"Dan Ayah Ibumu juga tidak bisa datang??"
Aku menggeleng lagi..
"Fauzi gak datang meskipun dia tau kalau Ayah sama Ibumu gak bisa datang?? Fauzi benar-benar.."
Sepertinya Farhan cukup mengerti perasaanku. Farhan terlihat cukup kesal.
"Fauzi kelewatan, apa sepenting itu pemotretannya? Apa gak bisa ditunda dulu pemotretannya?" Fauzi terdengar benar-benar kesal.
Aku hanya menangis.
"Fauzi cuman ngirim satu pesan itu?"
Aku mengangguk
"Gak ada pesan lainnya? sudah ditelfon?"
Aku menggeleng.
Farhan mengeluarkan ponsel dari sakunya, mencoba menghubungi Fauzi, tapi nomor Fauzi tidak bisa dihubungi.
"Serius ini anak kemana??" Tanya Farhan dengan kesal dan kembali mencoba menghubungi Fauzi.
"Gak usah kak, buat apa dihubungi.. kakak tau kan nomornya gak aktif" Cegahku..
Aku masih saja menangis, rasanya sangat sulit menahan tangisanku.
Farhan meraih dan memelukku, mencoba menenangkanku.
__ADS_1
"Udah Salwa, jangan nangis lagi.. semua baik-baik saja meskipun Fauzi gak ada disini sekarang.. Jangan pikirkan lagi.." Katanya sambil mengelus rambutku.
Perasaanku sedikit tenang..
"Semoga ini kali terakhir Fauzi seperti ini, jangan terlalu dipikirkan.."
"Ayah sama Ibuku gak ada, hanya Fauzi yang aku harapkan datang untuk menyemangatiku kak.."
"Teman-teman yang lain juga menyemangatimu, ada aku juga disini.. Sudah, jangan menangis lagi.."
Aku melepaskan diri dari pelukan Farhan, aku juga secara tidak sadar berada dalam pelukan Farhan.
"Kamu gak seharusnya nangis kayak gini.. kamu ngebuat teman-temanmu khawatir, ngebuat aku khawatir dan makin ngebuat perasaanmu jadi gak enak. Iya.. kamu harus melampiaskan perasaanmu dengan menangis, tapi jangan berlebihan. Kasian teman-temanmu, mereka jadi bingung harus berbuat apa"
Iya, aku egois.. Aku melampiaskan sakitku dengan menangis sejadi-jadinya tanpa menghiraukan bagaimana perasaan teman-temanku. Aku terus menangis seolah aku sangat terluka padahal ini bukan hal yang harus aku tangisi seperti ini. Ya benar, aku membuat teman-temanku jadi bingung.
Aku terdiam sejenak.. Perlahan perasaanku mulai tenang dan tangisku mulai berhenti. Sesekali aku cegukan karena pernafasanku tidak lancar yang membuatku menjadi tersedat-sedat akibat menangis terlalu lama.
"Udah enakan?" Tanya Farhan sambil menyodorkan air kepadaku.
"Sedikit.." Jawabku.
"Tenangin dulu perasaanmu, nanti aku antar pulang.."
Aku menoleh melihat Farhan, "Makasih kak.." Kataku tersenyum. Farhan balas tersenyum.
Aku sama sekali tidak ingin membuat pilihanku menjadi salah. Aku tidak ingin membanding-bandingkan dua manusia dengan kepribadian berbeda. Jujur saja, aku sangat sulit mengakui bahwa akhir-akhir ini Farhan lebih bisa aku andalkan dibandingkan Fauzi. Tapi, sekuat apa aku menolak untuk mengakui, pada akhirnya kenyataan yang menunjukkan bahwa benar Farhan lebih memahamiku.
Sesekali kata-kata Nina terngiang-ngiang dibenakku. Kurang dari seminggu yang lalu, perasaanku dipenuhi oleh Fauazi, aku seperti kekasih yang terus-terusan jatuh cinta pada kekasihnya sendiri. Tapi hari ini, perasaanku yang seperti itu seolah hilang.
"Ayo aku antar pulang.." Ajak Farhan.
Aku berdiri, ya kurasa aku harus istirahat hari ini untuk menenangkan perasaanku.
"Oh iya, temen-temenmu tadi pada kemana?"
"Oh.. Astaga.. Aku lupa.." Aku benar-benar lupa, mungkin saja teman-temanku sudah mati kelaparan menungguku.
"Lupa apa?" Tanya Fauzi bingung.
"Tadi kita mau makan bareng selepas ini, tapi karena tadi persaanku lagi gak baik jadi aku nyuruh mereka buat jalan duluan.."
"Lah.. ini udah dari tadi.."
"Kak aku gak bisa ikut pulang sama kakak, aku harus nyusul mereka dulu.."
"Yaudah ayo aku antar.."
"Emh.. gak usah, deket kok aku jalan lebih cepat.. Aku duluan kak.." Kataku jalan tergesa-gesa.
__ADS_1
"Salwaa tunggu.."
Aku menoleh..
"Diluar gerimis.." Kata Farhan sambil menyodorkan payung.
"Kakak gimana?"
"Aku bawa mobil.."
"Makasih kak.."
"Hem.. kalau ada apa-apa telfon aku.. Kalau mau pulang tefon saja nanti aku jemput, Ayahmu kan lagi gak ada"
"Iya.. makasih kak.. aku duluan.."
"Hati-hati.."
Aku hanya tersenyum lalu bergegas keluar.
Mereka pasti sudah menungguku, aku terlalu lama berlarut-larut dalam perasaanku sampai aku lupa pada teman-temanku.
Betul yang dikatakan Farhan kalau diluar sedang gerimis kecil, mendung mulai terlihat dibeberapa bagian langit tapi beberapa bagian lainnya masih terlihat terang.
Aku berlari kecil di trotoar, beberapa pejalan kaki juga berlarian kecil mencari tempat berteduh.
"Ah, Rok bagian bawahku jadi basah.." Kataku sambil menepis-nepis rokku yang sedikit basah. "Bajuku juga kurang nyaman, apa aku ganti pakaian dulu?"
Aku berjalan melewati Cafe dimana teman-temanku berada, aku lanjut ke Mall sebelah sebentar untuk membeli beberapa pakaian ganti yang lebih nyaman untuk dipakai.
Mall terlihat ramai, entah para pengunjung yang sedang ingin berbelanja atau hanya numpang berteduh dari gerimis hujan diluar. Yah mungkin sebagian juga sepertiku, singgah sejenak unutk mengganti pakaian.
Aku berjalan dengan cepat mencari pakaian sekiranya langsung pas, aku tidak punya waktu untuk sekedar pilih-pilih mengingat teman-temanku menunggu. Tapi ya namanya perempuann ditempat perbelanjaan, ada-ada saja yang menarik perhatiannya. Niat hati hanya berganti pakaian tapi mata melirik jadi tertuju dideretan toko Accesories.
"Cuman liat-liat aja sebentar, cuman sebentar doanggg.. iya cuman sebentar doang.." KatakuĀ bergumam meyakinkan diri sambil memasuki toko acccesories.
Langkahku terhenti, ini pemandangan yang buruk. Sedikitpun aku tidak pernah menyangka akan melihat hal yang seperti ini. Aku terkejut dan tak bisa berkata apa-apa.
"Ozii..." Panggilku pelan.
Kulihat Fauzi menoleh kearahku disertai perempuan yang sedang berdiri disampingnya.
Diantara banyaknya toko Accesories, mengapa ditoko ini? Kenapa aku sangat tertarik dengan toko ini meskipun niat awalku hanya berbelanja pakaian. Apakah ini memang naluri yang membawa langkah kakiku masuk ke toko ini untuk menyaksikan pemandangan yang menyakitkan itu??
.
.
Selamat Hari Raya Idhul Adha untuk teman-teman yang menjalakannya :)
__ADS_1