Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
-


__ADS_3

Setahun kemudian..


.


.


Alarmku berbunyi...


Aku meraba-raba meja disamping tempat tidur dengan mataku yang masih tertutup untuk mencari letak ponselku yang berdering karena alarm.


"Hari apa ini??" Gumamku. Sudah dua minggu aku mengambil cuti kerja dan itu membuatku sampai lupa hari.


Aku berbalik. "Ah khamjagiyaa..." Ck, kenapa aku masih saja terus terkejut, sudah tiga hari tapi rasanya aku masih saja belum terbiasa bangun pagi melihat seseorang disampingku.


Sudah tiga hari setiap kali aku terbangun aku akan terkejut, sudah tiga hari juga setiap bangun pagi wajah ini yang pertama kali aku lihat. Yah ini sudah tiga hari dan selama hidupku setiap bangun pagi aku akan melihat wajah ini.


"Selamat pagi suamiku.." Kataku dengan lembut mengelus-ngelus pipinya. Dia yang masih tertidur memperlihatkan wajah polosnya yang rasanya ingin sekali aku unyel-unyel.


Aku membetulkan posisi tidurku dengan menghadapnya agar lebih leluasa memandang wajahnya. Rambutnya yang acak-acakan membuatnya terlihat seperti bayi besar, polos, lucu dan menggemaskan. Kuangkat poninya "Hem.. manisnya kalau jidatnnya terlihat.." PIkirku sambil tersenyum-senyum sendiri. Semakin kupandang semakin besar saja rasa cintaku.


"Kenapa bangunnya pagi sekali?" Tanyanya dengan matanya yang masih tertutup.


"Eh?" Aku terkejut, aku mengira dia masih tertidur lelap. "Kamu sudah bangun??" Tanyaku bingung.


Perlahann dia membuka matanya. "Gimana gak bangun kalau rambutku sedari tadi kamu jambak-jambak, pipiku sedari tadi kamu cubit-cubit"


"Jambak? Aku cuman ngebenerin rambut kamu yang acak-acakan dan kamu bilang aku ngejambak rambutmu?" Kataku sedikit kesal.


Aku kembali baring terlentang "Aku cuman benerin rambutnya dan dia pikir aku ngejambak rambutnya?" Gumamku kesal.


Dia menarikku dengan lembut untuk kembali berbaring menghadapnya.


Dia mengecup keningku dengan lembut "Uwuu.. Istrinya siapa sih ini kok ngambekkan?"


"Gak tau dah ini istrinya siapa?" Jawabku kesal tanpa menatapnya.


Dia menarik wajahku agar pandanganku kembali terarah padanya.


"Hem.. Salwa, kamu marah aja kok tetap cantik? Bangun tidur dengan ilernya yang masih nempel dipipi kok tetap lucu" Katanya menggodaku.


Aku spontan memegang pipiku? Apa iya aku ileran? perasaan aku gak pernah ngiler kalau tidur.


Pffttt.. Dia tertawa kecil. Aku menatapnya serius.


"Udah ah, jangan jaim lagi sama aku. Kamu megang pipimu karena malu kalau aku liat kamu ileran kan?"


"Emangnya aku ileran?" Tanyaku pelan.


Dia menarikku kedalam pelukannya.


"Gak sayang.. Kamu mau sampai kapan jaim terus sama aku ha? Kamu mau ileran atau bagaimanapun muka kamu saat bangun tidur aku akan tetap suka sama kamu, tetap sayang tetap cinta.."


"Ya tapi kan.."


"Udah gak ada tapi-tapian.." Katanya mempererat pelukannya dan mencium keningku. "Ayo tidur lagi, belum jam 6 kan?"


"Kamu mau tidur lagi? Ini udah pagi.." Kataku berusaha mengangkat kepalaku menatapnya.


"Belum jam 6 kan.. Aku masih mau kayak gini dulu sama kamu.."


"Ck, sejak kapan kamu jadi pemalas begini?"


"Sayang.. Masa cuti kita itu harus dinikmati sebaik mungkin, nanti kalau kita udah aktif kerja lagi mana bisa sayang-sayangan pagi-pagi begini.." Katanya tidak ingin melepas pelukannya padaku.

__ADS_1


"Tapi aku harus masak buat sarapan kita, nanti kamu keburu lapar tapi akunya belum selesai masak.."


"Ah sayangg.. Nanti saja.." Rengeknya manja. "Kamu kalau sama aku gini, giliran sama pasien-pasien kamu, kamunya ramah banget, nurutin maunya pasien, ngedenger curhatan pasien, masa iya aku harus jadi pasien dulu biar bisa dapat perhatian kamu yang kayak gitu.."


"Ck, mulutnya.. Kamu pikir jadi pasien itu bagus?" Kataku sambil mencubit kecil bibirnya.


"Auh sakit.." Katanya melepas pelukannya dan memegangi bibirnya yang sedikit memerah.


Cuppp.. "Udah sembuh kan??" Kataku mengecup sekali bibirnya.


Dia kembali memelukku dengan erat. "Tambah gak mau lepas.." Katanya manja.


"Tapi sayang aku harus masak, kamu tau kan aku butuh waktu lama kalau masak karena harus sambil ngeliat resep. Satu menu aku harus ngulang-ngulang beberapa kali biar rasanya agak mendingan buat bisa dimakan. Kamu gak capek makan masakanku yang aneh-aneh terus?"


"Baring-baring aja sama aku dulu, biar nanti aku yang masak.."


"Emang kamu bisa masak?"


"Bisa.."


"Sejak kapan?"


"Sejak aku berniat nikah sama perempuan yang gak bisa masak.."


"Maaf.."


"Maaf? Untuk apa sayang?"


"Aku gak bisa jadi istri yang baik buat kamu, masak aja aku gak bisa" Ah aku merasa bersalah.


"Hemm.." Dia tersenyum. "Kamu udah mau belajar masak buat aku itu udah lebih dari cukup sayang, kamu bukannya gak bisa masak, cuman belum bisa saja.."


"Tapi aku gak tau sampai kapan aku baru bisa masak makanan yang enak.."


"Ya sampai nanti kamu bisa, aku akan makan masakan kamu bagaimanapun rasanya sampai nanti kamu benar-benar bisa buat masak makanan yang enak. Hari ini biar aku yang masak nanti, jadi sekarang kamu temanin aku baring-baring aja dulu.."


"Tapi sayang.."


"Hemm??"


"Kan kamu bisa masak? Kenapa gak kamu saja yang masak setiap harinya? Hehehe" Kataku nyengir.


Dia memberiku pukulan manja di jidatku. "Aku maunya makan masakan istriku, bukannya masakanku sendiri.." Jawabnya.


"Ya tapi kan ya bisa masak itu kamu sayang.."


"Hem, ngapain aku nikah kalau ujung-ujungnya makan masakan sendiri.."


"Jadi kamu nikahin aku cuman untuk jadi tukang masaknya kamu??"


"Bukan cuman itu.."


"Maksud kamu??" Aku sedikit terkejut mendengar jawabannya.


"Aku mau kamu masakin aku, nyiapin bajuku, masangin dasiku, nungguin aku pulang kerja, nyiapin coklat panas buat aku, ngera.."


"Kamu nikahin aku buat jadi istri kamu buat atau buat jadi pembantu?" Tanyaku memotong perkataannya dan sedikit kesal.


"Yah sayang, kalau pembantu mana bisa disayang-sayang, mana bisa dipeluk kayak sekarang, mana bisa dikecup keningnya tiap mau berangkat kerja, mana bisa ngebuat aku bahagia ngeliat dia setiap saat"


"Terus tadi.."


"Sayang.. Aku senang makan makanan yang kamu masak, aku senang make baju yang kamu siapkan, aku senang ngeliat wajah kamu tiap masangin dasiku, perasaan capekku pulang kerja bakalan langsung hilang kalau ngeliat kamu yang nungguin aku, dan.." Dia tidak melanjutkan kata-katanya. Aku menatapnya, bingung karena dia tidak melanjutkan kata-katanya. "Sayang pipimu merona?" Katanya tersenyum dan mulai tertawa kecil. Aku sedikit dibuat salah tingkah.

__ADS_1


"Ya ya ha habisnya ka kamu..." Aku terbata-bata.


"Aku memilihmu untuk menjadi istriku agar aku bisa bahagia setiap harinya. Aku mau kamu yang selalu ada disampingku, menyiapkan segala kebutuhanku, memberiku pelukan hangat, dan sampai waktunya nanti ngasih anak buat aku.."


"Eh??" Aku terkejut mendengar permintaan terakhirnya. Dia melihatku dengan terkejut juga.


"Kamu kok kayak kaget begitu? Kamu bukannya gak ada niat buat punya anak kan sayang???" Tanyanya melepas pelukannya dan dengan ekspresinya serius.


"I itu.. Bu bukannya aku gak kepikiran buat punya anak, ta tapi aku takut gimana ngebesarinnya nanti.."


"Kamu kok mikirnya gitu? Kan ada aku, aku akan ngebantu kamu buat ngurusin buah hati kita sampai dia besar nanti. Kamu beneran gak ada niat buat nunda kan??" Tanyanya dengan nadanya yang serius disertai ekspresinya yang makin serius.


"A aku..."


"Sayang..." Dia menatapku lekat, dia seperti sangat terkejut melihat responku yang seperti tidak ada kesiapan. Aku merasa bersalah melihatnya yang sampai menatapku seperti itu karena jawabanku.


"Sayanngggg..." Aku memeluknya untuk melepaskan ketegangan diwajahnya. "Aku bukannya gak mau kita punya anak, aku cuman masih takut aja mikirin gimana nantinya" Kataku penuh rasa bersalah dan mempererat pelukanku.


Dia balas memelukku. "Jangan takut sayang, dan jangan memikirkan hal yang bisa membuatmu takut, ada aku disini sama kamu, kita akan ngelewatin semuanya sama-sama dan aku akan selalu ada buat nenangin kamu tiap kamu merasa gelisah dan khawatir"


"Maafin aku udah ngejawab seperti itu tadi.."


"Gak apa" Dia mengecup keningku. "Maafin aku juga yang nuntut kamu padahal kamunya belum siap, aku akan nunggu sampai kamu siap jadi Ibu, dan kita akan menghadapi semuanya sama-sama"


"Aku sayang sama kamu..." Kataku dengan manja.


"Aku juga.." Jawabnya sambil tersenyum manis. "Heemm.. sepertinya acara baring-baringnya udahan dulu, matahari udah terang dan aku harus masak buat kamu.."


"Tapi akunya masih mau baring-baring sama kamu.."


"Loh kok jadi kamu yang malas bangun sih sayang.."


"Ya habisnya aku mau bangun dari tadi kamu nahan aku terus.."


"Ya tadi kan masih agak subuhan sayang, sekarang beneran udah pagi, tuh llihat matahari udah terang.."


"Ah sayang.. Tapi aku masih malas bangunn.."


"Sayang jangan mancing-mancing aku deh, aku baring seharian sama kamu gak makan-makan aku tahan. Tapi aku gak akan tahan kalau ngeliat kamu telat sarapan.."


"Aissss..." Keluhku.


"Ayo ah bangun.. Nanti kalau aku telat masak kamu telat sarapannya.." Katanya beranjak dari tempat tidur.


"Gendoonggg.." Rengekku dengan manja.


Dia hanya menggeleng-geleng melihatku. "Istrinya siapa sih ini, kok manjanya kelewatan.." Katanya sambil menggendongku.


"Istri kamu.. Cupp.." Jawabku sambil memberi kecupan di pipinya, dia hanya tersenyum melihatku.


Dia menggendongku sampai kedapur, aku duduk melihatnya yang mulai sibuk memasak..


.


.


.


.


.


Uwwuuu.. Aku ngetik ceritanya sambil baperaaannn 😣😂

__ADS_1


Yuhuu.. Ayo main tebak-tebakan siapa Suami Salwa 😁😁


Nextt ceritanya masih panjang 😁


__ADS_2