
Ponsel Fauzi berdering, dia dengan cepat meraih ponselnya. "Ibu.." Gumam Fauzi.
"Iya Bu.." Jawab Fauzi saat panggilannya terhubung.
"Maaf sayang kalau Ibu menganggumu.."
"Tidak kok Bu, aku lagi senggang sekarang. Ada apa??"
"Fauzi, sebenarnya apa yang kamu lakukan sekarang??"
"Yang aku lakukan? Sekarang?? Maksud Ibu??" Tanya Fauzi bingung.
"Ibu baru saja bicara dengan Salwa barusan, dia menangis dan meminta untuk melanjutkan kuliahnya keluar daerah.."
"Kenapa? Salwa mau kuliah lagi??"
"Iya, karena ingin menghindari kamu.."
"Kenapa Salwa mau ngehindari aku??" Tanya Fauzi terus-terusan dan semakin kebingungan.
"Dia bilang kamu mau menikah Fauzi, apa maksudnya itu??"
"Aku?? Mau menikah?? Ah tidak tidak Bu.. Kan aku belum kerumah Ibu untuk melamar Salwa, jadi bagaimana bisa aku menikah.." Jelas Fauzi berusaha meluruskan kesalahpahaman.
"Lalu kenapa Salwa sampai bilang begitu?? Dia sampai ingin melanjutkan pendidikannya diluar untuk mengalihkan pikirannya tentang kamu dan menghindar sejauh mungkin dari kamu.." Jelas Ibu Salwa.
Fauzi berfikir sejenak, dia pun cukup kebingungan.
"Ahhh..." Kata Fauzi setelah mengerti. "Kemarin aku nganter sepupuku ke Rumah sakit Bu dan tidak sengaja bertemu dengan Salwa disana, sepupuku akan menikah bulan ini dan Salwa salah paham tentang itu. Kemarin kami juga bertemu saat aku akan mengurus undangan sepupuku mungkin itu semakin membuat Salwa salah paham.." Jelas Fauzi.
"Nak, Ibu tidak tega melihat Salwa seperti ini. Kamu tahu kan Putri Ibu itu masih sangat mencintaimu, dia tidak mungkin menangis seperti tadi saat tahu kamu akan menikah kalau bukan karena dia yang masih mencintaimu. Sekarang Ibu tidak bisa lagi tahan melihat seperti ini. Ibu bukannya bermaksud memaksamu, jika memang kamu masih menginginkan Salwa tolong jelaskan semua ini sama dia, dan kalau memang tidak tolong lepaskan anak Ibu.."
"Bu bu..." Kata Fauzi terkejut. "Bagaimana bisa aku ngelepasin Salwa Bu.."
"Terus kamu maunya gimana Nak?? Ibu sudah berusaha membujuk Salwa untuk tetap tinggal tahun ini. Tahun depan kalau masih saja kamu seperti ini Ibu tidak akan bisa menahannya lagi untuk dia melanjutkannya kuliahnya biar bisa menghindarimu. Ibu tidak mau jauh dari Salwa lagi.."
Fauzi terdiam sejanak.
"Baiklah Bu.. Aku akan memulainya sekarang. Aku akan mengambil langkah serius sekarang..."
"Maaf Nak jika Ibu terkesan memaksamu, Ibu hanya tidak tahan lagi melihat putri Ibu seperti itu.."
"Ah tidak tidak Bu.. Bukan begitu, aku yang merasa bersalah karena belum juga berani maju sampai saat ini. Tapi sekarang aku akan memulainya semua. Terimakasih Bu karena masih memberiku kesempatan.."
__ADS_1
"Iya Nak.."
Telfon terputus.
Fauzi terdiam, memandangi langit-langit kamarnya dengan pandangannya yang kosong dan pikirannya yang berusaha mencari cari bagaimana harus memulainya lagi dengan Salwa.
Fauzi beranjak, duduk didepan meja samping tempat tidurnya dan mulai menulis kembali pada buku yang entah sudah berapa lembar tertuliskan perasaan-perasaan Fauzi yang berhubungan dengan Salwa.
"Aku siap, aku akan datang.. Kita sudah dewasa dan aku rasa ini adalah waktunya..."
.
.
.
"Kak Fauziii..." Panggil Afifah sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Fauzi.
"Iyaa.." Jawab Fauzi dari dalam.
Semenjak Afifah tinggal dirumah Fauzi, dia bertugas membangunkan Fauzi setiap paginya.
"Kak udah bangun????" Teriak Afifah dari luar.
"Omoo..." Afifah sampai terkejut. "Kok sudah rapi?? Kakak mimpi apa semalam sampai bisa bangun tanpa aku bangunin.." Tanya Afifah terkejut saat melihat Fauzi sudah siap.
"Memangnya kamu saja yang bisa bangunin aku.." Kata Fauzi dengan menyombongkan diri.
"Heleehh.. Baru pertama kali juga.." Ledek Afifah. "Yasudah, aku bantuin Ibu masak dulu. Cepat turun.." Kata Afifah berlalu.
Fauzi kembali masuk kedalam kamarnya tanpa menutup pintu. Menyiapkan beberapa berkas yang akan dia bawa untuk bekerja hari ini. Fauzi meraih ponselnya, "Yah, aku akan memulainya hari ini" Gumam Fauzi dengan penuh keyakinan. "Ah Salwa suka sama...." Bola mata Fauzi berputar berusaha mengingat nama Idola Salwa. Yah, nama yang asing bagi orang Indonesia sehingga bukan hal mudah bagi Fauzi untuk bisa mengingatnya. "Ahh BTSS.." Seru Fauzi saat mengingatnya. "Aahh tidak tidaaakkkk..." Kata Fauzi kemudian sambil bergeleng-geleng. "Ya BTS, tapi siapa namanyaa... Heemmm Kenapa namanya susah sekali diingat.." Keluh Fauzi. "Tekun, tekurr, teriyaki??? Ck, teriyaki mah saosss.." Tegur Fauzi pada dirinya sendiri. "Ck siapa sih....Perasaan Salwa pernah bilang kalau nama lainnya cuman satu huruf, hufftt tapi aku juga gak ingat huruf apa" Fauzi mulai kesal karena kesulitan mengingat nama idola Salwa.. "Tekhyuunn??" Meski kesal Fauzi masih berusaha mengingatnya. "Hem cari saja di google personil BTS Tekhyuun, kali aja ada yang muncul.." Gumam Fauzi.
Fauzi membuka search google di ponselnya dan melakukan pencarian dengan kata kunci "Tekhyun BTS"
"Ohh Taehyung.." Gumam Fauzi sambil mengangguk-angguk setelah melihat hasil penelusuran google yang menjelaskan mungkin yang di maksud adalah "Kim Taehyung BTS"
Fauzi dengan cepat membuka foto-foto Kim Taehyung di google picture. "Hem.. Laki-laki mulus begini?? Ini mah kalau datang kesini bisa lebih cantik dari Salwa.." Gumam Fauzi saat menemukan beberapa foto Tehyung yang terlihat cute.. "Astagfirullah.." Fauzi terkejut. "Manly sekali ternyata.." Kata Fauzi setelah menemukan beberapa foto Taehyung yang memperlihatkan sorot mata Taehyung yang tajam dengan hiasan bandana dikepalanya. "Warna rambut kayak gulali, jari-jari yang udah kayak penjual cincin berjalan.. Hem unik juga tipe Salwa yang satu ini.." Fauzi terus-terusan sibuk mengomentari foto Idola Salwa itu. "Wooww.. Box smile.. Tampan, lucu, manly, manis dalam satu wajah. Luarbiasa memang..." Kata Fauzi mulai mengagumi wajah Kim Taehyung setelah scroll-scroll pencarian gambar cukup jauh.
"Kak Fauzi.. Sarapaannn..." Teriak Afifah dari bawa menyadarkan Fauzi.
"Iyaa sebentarr..." Jawab Fauzi.
Fauzi kembali menatap layar ponselnya. "Ini saja..." Kata Fauzi menyimpan satu foto Kim Taehyung di ponselnya.
__ADS_1
Fauzi mengubah foto display picture WhatsAppnya dengan foto Kim Taehyung yang dia temukan dari hasil pencariannya di google sebelum mengirim pesan pagi ini pada Salwa. Fauzi ingin membuat Salwa tersenyum pagi ini hanya dengan melihat pesannya saja. Fauzi tahu, cukup dengan melihat foto Kim Taehyung, Salwa akan tersenyum lebar.
"Hari ini kamu kerja?? Bisa keluar denganku sebentar??" Pesan singkat yang dikirim Fauzi.
"Kak..." panggil Afifah dari balik pintu.
"Astaagaaa...." Fauzi sampai terkejut. "Kamu ini suka sekali bikin kagett.." Kata Fauzi kesal.
"Ya habis kakak dari tadi dipanggil sarapan tapi gak turun-turun juga.."
"Kan aku bilang sebentar.."
"Sebentar?? Aku udah manggil kakak dari lima menit yang lalu. Lagian ngapain lagi sih dikamar lama sekali?? Perasaan waktu aku mau bangunin kakak udah siap..."
"Ya nyiapin peralatan kantor lah.."
"Nyiapin peralatan kantor apaan yang mau se jam begini??" Tanya Afifah dengan muka dongkol.
"Haisss.. Jangan banyak tanya.. Ayo turun.." Kata Fauzi menuju ruang makan sambil mendorong kecil Afifah jalan bersama.
Fauzi terus menatap layar ponselnya, menunggu balasan pesan dari Salwa.
"Makan dulu Nak, main Hapenya nanti lagi.." Tegur Ayah Fauzi yang melihat putranya menyuapi makanannya namun matanya terus-terusan tertuju pada layar ponselnya.
"Bentar Yah..." Jawab Fauzi tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.
"Makan dulu.. Ini nanti saja.." Kata Ibunya sambil mematikan layar ponsel Fauzi.
"Ib..."
Ibunya hanya menatapnya, melebarkan sedikit pupil matanya.
"Ah iya.. Fauzi makan.." kata Fauzi mengalihkan pandangannya dari Ibunya.
Ya sebaiknya dia makan saja, karena jika dia memaksa untuk terus-terusan memainkan ponselnya saat makan mungkin saja akan ada puisi tanpa susunan kata kiasan yang Ibunya serukan pagi ini.
.
.
.
.
__ADS_1
Spesial Kim Taehyung day.. Mau ngebahas Taehyung sepuas-puasnyaa 😁😁💜💜