Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Fauzi..


__ADS_3

Aku tidak mungkin salah mengenali suara meskipun aku sudah lama tidak mendengarnya, aku masih sangat mengingatnya.


Perasaanku bercampur aduk, di sisi lain aku ingin segera melihat orang itu di sisi lain ada kekhawatiran dan ada perasaan was-was.


"Fa Fauzi??" Aku mencoba memastikannya.


"Loh, Salwaa??"


Seperti sebuah alur drama yang sudah ditentukan oleh penulis dan diatur oleh sutradara, aku melihatnya hari ini tepat didepanku. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu seperti ini. Dia yang aku tunggu selama ini, dia yang tidak pernah aku lihat selama kurang lebih 6 tahun, dia yang suaranya terakhir kali kudengar melalui telfon dan terakhir kali mengabariku lewat pesan singkat sekarang ada di depanku.


Aku tidak pernah menjadikan diriku egois untuk meminta dipertemukan lebih awal seperti ini, aku hanya berharap suatu hari nanti dia datang kepadaku dan mengabulkan mimpi-mimpinya yang sudah dia rancang bersamaku dulu. Sayangnya kurasa mimpi itu tinggal mimpi saat ini, mimpi yang tidak akan pernah menjadi kenyataan setelah melihat seseorang ada di sisinya sekaran dan lagi mereka sudah merencanakan pernikahan mereka.


Aku tertegun melihatnya yang sekarang berdiri tepat didepanku, meski aku tidak melihat wajahnya secara keseluruhan karena pembatas loket penyerahan obat yang cukup kecil tapi aku bisa melihat betapa bahagianya dia sekarang.


Sendi-sendi tulangku serasa lemas, andai bukan karena aku yang sedang bekerja dan sekarang sedang didepan pasien, mungkin aku sudah jatuh tersungkur. Tapi aku harus tetap profesional pada pekerjaanku saat didepan pasien dan mengesampingkan perasan pribadiku.


Menyakitkan sekali rasanya, seseorang yang aku harapkan selama ini, seseorang yang selalu aku tunggu sekarang tepat ada didepan mataku tapi sedang bersama orang yang dia sayangi. Yang lebih menyakitkan lagi karena aku harus menyembunyikan perasaanku dan memperlihatkan ekspresiku yang sedang bertolak belakang dengan perasaanku.


"Kamu kerja disini?" Tanya Fauzi dengan tersenyum. Senyuman itu, senyuman yang sangat aku rindukan. Bukan hanya senyuman tapi semua yang ada pada dirinya aku rindukan. Ingin sekali aku menghambur dan memeluknya untuk bisa meluapkan perasaan rinduku yang terbendung hingga sekarang, tapi itu hanya sekedar keinginan yang tidak akan mungkin bisa terwujud.


Sangat banyak yang ingin aku katakan pada Fauzi, sangat banyak hal yang ingin aku sampaikan, banyak pertanyaan yang aku inginkan jawabannya dari Fauzi tapi tidak satupun yang bisa aku ungkapan, hanya sebuah senyuman balasan dari senyumnya yang dia berikan padaku setelah 6 tahun aku tidak melihatnya.


"I Iya kak.." Jawabku mencoba tersenyum.


"Wah Salwa yang kecil sekarang sudah besar, sudah kerja dan terlihat mandiri.." Katanya memuji dengan terus memperlihatkan senyumnya yang manis itu. Ah hatiku serasa mengilu ketika bisa melihatnya tapi tidak bisa melakukan sesuatu bahkan mengatakannya beberapa hal pun aku tidak bisa.


"He he iya.." Jawabku.


"Sudah lama kamu disini? Kata Mama dia gak pernah ngeliat kamu disini?"


Kata Mama? Dia memanggil Ibunya sekarang dengan panggilan Mama? Tunggu? Dia bilang Ibunya tidak pernah melihatku? Apa dia masih mencari tahu tentangku?


"Ma Mama?" Ulangku mencoba memperjelas perkataannya.


"Ah.. Hehehe iya, kebiasaan ngedenger Afifah manggil Mama, jadi sesekali ikut-ikutan. Tapi kalau lama-lama kelamaan nantinya manggil Ibu lagi, hehehe.."


"Kamu akrab sama kakak ini?" Tanya Afifah yang sedari tadi terlihat bingung.

__ADS_1


"Iya, dia adik kelasku sewaktu SMA" Jelas Fauzi pada Afifah.


JLEEBBB.. Hatiku makin terasa sakit mendengar jawaban Fauzi, di depan Afifah dia lebih mengakuiku sebagai adik kelasnya ketimbang sebagai orang yang pernah dia sayangi. Apa segitunya Fauzi tidak ingin menganggapku sekarang? Tapi wajar saja, laki-laki yang mana yang mau mengakui mantan kekasihnya didepan calon istrinya.


"Akrab ya? Kok dia tahu kamu manggil Mama dengan panggilan Ibu?"


"Ya begitulah.." Jawab Fauzi tersenyum sambil mengusap rambut Afifah.


Aku sudah hampir sampai pada batasku melihat semua ini, aku sudah sangat kesusahan menahan perasaanku, dan airmataku?? Tidak lama lagi akan ada hujan diwajahku.


"Oh iya selama ini kamu dimana? Ma, eh maksudku Ibu bilang dia gak pernah lihat kamu disekitar sini?"


"Baru beberapa bulan yang lalu aku kembali kesini, aku kuliah di Makassar selama ini dan baru pulang setelah bekerja"


"Wah Salwa sudah jadi wanita hebat sekarang.."


"Hehe gak juga kak. I itu, kenapa Ibu nanyain aku?"


"Gak tau juga, mungkin sekedar nyari pembahasan aja sama aku.." Jawabnya yang terlihat santai saja.


"Oh gitu, hehe.."


"Kapan-kapan main kerumah, mungkin Ibu rindu sama kamu"


"I iya kak..."


"Astaga, aku jadi ngeganggu kamu kerja.."


"Gak apa kak, Nona Afifah pasien terakhir hari ini..."


"Oh syukurlah, hehe karena lama gak ketemu jadinya ngobrol padahal kamu lagi kerja.."


"Iya gak apa kak.. Oh iya bagaimana dengan obat lainnya tadi Nona Afifah?" Aku ingin cepat mengakhiri percakapanku ini dengan Fauzi, aku sudah tidak tahan lagi.


"Oh iya, ini kak obatnya.." Dia mengeluarkan beberapa obat dari tasnya.


Obat yang diberikan dari Klinik tempatnya periksa adalah obat yang sama diberikan dari dokter hari ini hanya saja karena diproduksi dari pabrik obat yang berbeda sehingga memiliki nama dagang dan tampilan yang berbeda.

__ADS_1


Aku kembali menjelaskan obat yang diberikan Afifah. Ingin sekali aku menjelaskannya dengan cepat agar semua ini berakhir dengann cepat. Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi, aku tidak bisa terus mempertahankan keprofesionalanku saat ini karena benar-benar perasaanku mulai sulit ku kendalikan.


"Bagaimana sudah jelas Nona Afifah?"


"Iya kak, makasih.."


"Wah Salwa terlihat profesional sekali, aku jadi ingin tahu bagaimana bisa seperti sekarang ini.." Puji Fauzi.


"Hehe, semua karena terbiasa saja kak.."


"Yasudah aku permisi dulu, masih banyak yang harus aku urus hari ini.."


"Iya, hati-hati dalam perjalanan"


"Oke terimakasih, selamat bekerja kembali Salwa.."


"Iya kak.."


Fauzi melangkah pergi sambil merangkul bahu Afifah, tapi langkahnya tertahan.


"Engg Salwa.."


"I Iya kak.."


"Kapan-kapan ayo kita ketemu sekedar makan bersama, sudah lama sekali kan kita tidak ketemu.."


"Sudah 6 tahun kak.."


"Ah iya, benar-benar sudah lama sekali. Kapan-kapan ayo kita ketemu.." Ajaknya dengan senyumannya yang semakin membuatku rindu.


"I iya kak.."


Fauzi berlalu.


Bertemu katanya? Aku tidak akan menyiapkan waktuku untuk bertemu dengan Fauzi karena dengan bertemu dengannya aku akan semakin sakit.


Melihat Fauzi yang berbicara denganku dengan santai bahkan mengajakku keluar, sepertinya dia sudah melupakan semua yang terjadi di masa lalu, atau lebih tepatnya mengikhlaskan karena tidak mungkin dia bisa melupakan hal terpahit seperti itu. Masih teringat sekali di benakku bagaimana Fauzi mengirimiku pesan dan memblokir panggilanku sampai akhirnya dia juga memblokir pesanku agar aku tidak bisa menghubunginya lagi, dia bahkan pindah dari rumah yang dia tempati dulu agar tidak bisa kutemukan. Seingin itu dulu memutuskan hubungan denganku, entah karena dia benci padaku atau karena hal lain. Kenapa aku harus berfikir tentang hal lain sedangkan sangat jelas tidak ada alasan lain Fauzi melakukan itu selain karena sudah membenciku. Itu hal wajar yang terjadi padanya mengingat bagaimana aku menyakitinya dulu.

__ADS_1


__ADS_2