Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Review 30


__ADS_3

Fauzi makin memantapkan hatinya setelah membicarakan semuanya pada orangtuanya.


"Faiq, besok pindahan yo.."


"Pindahan? Maksud Lu??"


"Ya pindah dari sini??"


"Lah kenapa?? Tunggu tunggu.. Maksud Lu, Lu ngusir gue??"


"Ck gue bilang pindahan, bukan Lu pindah markonahh..."


"Tapi mau pindah kemana??"


"Udah, itu gue yang urus. Pokoknya sekarang packing-packing aja dulu.."


"Tapi ini kenapa mau pindah? Ada apa??" Tanya Faiq kebingungan.


"Gak papa, kepengen pindah aja.."


"Ngapain pindah kalau cuman kepengen doang, disini udah deket dari kampus, nyaman pula.."


Fauzi beranjak dan duduk disamping Faiq.


"Gue gak mau kejadian yang kemarin terjadi lagi.."


"Kejadian yang mana??"


"Salwa nyusul gue.."


"Kenapa?? Lu marahan lagi sama Salwa??"


"Gue mau putus dari Salwa.." Kata Fauzi tertunduk


"What??? Kenapa???"


Perlahan Fauzi menceritakan semuanya. Awalnya Fauzi tidak ingin masalah ini diketahui oleh orang lain, Fauzi berfikir cukup dia, salwa dan Ibunya Salwa saja yang tahu, namun pada akhirnya Fauzi juga menceritakan semuanya pada Faiq. Toh Faiq bukan lagi oranglain baginya, dan lagi Faiq akan terus-terusan bertanya jika dia tidak tahu yang sebenarnya.


"Keputusan Lu udah bulat? Lu yakin??" Tanya Faiq memperjelas.


Fauzi mengangguk mengiyakan. "Gue pikir ini adalah jalan yang terbaik buat gue dan Salwa.."


"Hmm.." Faiq menghela nafas lalu bersandar dipunggung sofa. "Gue bukannya bilang kalau keputusan Lu ini salah, kalau gue di posisi Lu mungkin gue juga bakal ngambil jalan yang sama. Gue cuman kasian aja ngebayangin gimana Salwa nanti, dia bisa saja datang kesini buat nyariin Lu lagi kayak dulu.."


"Iya, maka dari itu gue kepengen pindah, gue gak mau Salwa tahu tentang gue lagi.."


"Caramu in kejam sekali.."


"Iya gue tahu, tapi dipikiran gue cuman ini cara agar gue bisa ngendaliin amarah gue.."

__ADS_1


"Ya semoga ini yang terbaik buat Lu.."


.


Fauzi terus menatap layar ponselnya, dia sendiri bingung harus seperti apa mengatakannya pada Salwa. Beberapa kali dia mengetik pesan, kemudian menghapusnya dan berfikir ulang kata-kata seperti apa baiknya yang dia kirim. Entah berapa kali Fauzi mengetik kemudian menghapusnya dan mengetiknya lagi secara berulang-ulang sampai akhirnya dia mengirimkannya pada Salwa.


"Aku sudah memikirkannya beberapa kali dan aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita.."


Pesan yang dikirim Fauzi pada Salwa di jam tiga dini hari.


Perlahan airmata Fauzi menetes, dia sendiri juga merasa sakit sekali harus mengambil tindakan seperti ini, Fauzi juga merasa tersiksa namun dia tidak punya pilihan dan cara lain lagi.


Fauzi beranjak dan membuka buku yang biasa dia luangkan perasaannya, buku yang pada akhirnya menjadi buku favorite yang dia bawa kemana-kemana, karena selain mengabari Salwa, cara Fauzi untuk menebus rindunya adalah dengan membaca kembali tulisan-tulisan tangannya pada buku itu karena dengan membacanya Fauzi bisa mengingat kembali masa-masa dimana dia merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya pada Salwa.


"Maaf, aku tidak bisa menahannya lagi. Maaf karena aku tidak bisa membuat perasaanku menjadi lebih kuat, maaf karena aku tidak bisa berpura-pura untuk baik-baik saja dan maaf karena aku tidak bisa bertahan di sisimu Salwa, ini semua salahku karena membuatmu bisa mencintai oranglain selain aku. Aku permisi dari kehidupanmu sejenak, aku akan kembali jika waktunya tiba.."


Fauzi menulis itu dengan airmatanya yang terus mengalir.


"Hiksss hiksss... Maaf..." Fauzi tidak bisa mengendalikan perasaannya lagi.


.


.


.


Fauzi menitipkan kunci rumahnya pada security penjaga kompleks, yah itu bagian dari rencana Fauzi karena jika perkiraannya benar, Salwa akan datang menyusulnya kesini dan akan bertanya pada security mengenai dirinya. Security akan memperlihatkan kunci rumahnya yang akan membuat Salwa yakin bahwa Fauzi benar-benar sudah tidak tinggal disitu lagi.


"Lu baik-baik aja??" Tanya Faiq sambil menyetir.


"Iya.." Jawab Fauzi singkat.


"Yakin?" Tanya Faiq memastikan. Wajah Fauzi yang murung, mata yang bengkak dan ekspresi yang seperti tidak punya gairah hidup itu membuat Faiq khawatir melihatnya.


Fauzi berusaha tersenyum. "Aku baik-baik saja.." Katanya.


Tingtongg..


Satu notifikasi pesan masuk di ponsel Fauzi dari Salwa, sepertinya Salwa sudah membaca pesan yang dikirimkan Fauzi padanya.


Fauzi menerima pesan penolakan dari Salwa untuk mengakhiri hubungan mereka, namun Fauzi juga terus-terusan membalas pesan Salwa dengan tetap meminta mengakhiri hubungan mereka dengan kuat. Perlahan airmata Fauzi menetes seiring dia membalas pesan Salwa, hati dan tindakannya sedang bertolak belakang sekarang. Hatinya masih sangat menginginkan Salwa untuk tetap menjadi kekasihnya namun yang dia lakukan sekarang adalah berusaha keras mengakhiri hubungan mereka. Ya Fauzi menyingkirkan perasaan cintanya pada Salwa untuk menghindari benih-benih kebencian yang akan tumbuh jika Fauzi memaksakan dirinya bertahan dengan rasa sakitnya tentang pengkhianatan Salwa.


Faiq terdiam saja melihat Fauzi yang seperti itu, Faiq tahu betul bagaimana Fauzi mencintai Salwa, Faiq sendiri sempat kaget dan bingung saat Fauzi memberitahu niatnya untuk mengakhiri hubungannya, tapi meski begitu Faiq tahu bahwa keputusan yang Fauzi ambil adalah yang terbaik untuk keduanya karena Faiq sadar bahwa ada hal yang Faiq tidak tahu tentang hubungan keduanya. Faiq sangat ingin menenangkan Fauzi meski pada akhirnya hanya bisa terdiam karena tidak tahu harus berbuat apa.


Fauzi mematikan ponselnya, meletakkannya didalam tas kemudian menatap keluar dengan airmatanya yang terus menetes meski ia seka berkali-kali. Faiq diam saja melihatnya, berusaha memberi Fauzi waktu untuk menenangkan perasaannya sendiri.


.


.

__ADS_1


.


Fauzi tiba ditempat barunya dan sudah selesai merapikan barang-barangnya.


"Aku sudah disini sekarang.." Gumam Fauzi.


Fauzi berbaring mencoba berdamai dengan perasaannya. Baru empat jam lalu Fauzi memblokir nomor telfon Salwa tapi sekarang dia sudah sangat rindu pada Salwa, dia sudah sangat ingin menghubungi Salwa namun menahannya sebisanya. Dia tidak ingin semua usahanya sia-sia hanya karena dia yang tidak bisa menahan diri.


"Zi.. Gue masuk ya.."


Kata Faiq dari luar kamar yang disusul langkahnya menghampiri Fauzi sambil membawa sepiring makanan.


"Lu belum makan kan??" Tanya Faiq.


Fauzi hanya mengangguk.


"Lu makan dulu gih, sempat perasaan Lu bisa baikan nantinya.."


"Makasih ya Faiq.."


"Sip.. Lu kalau butuh sesuatu panggil gue aja.."


"Iya.." Jawab Fauzi.


Faiq melangkah keluar dan tidak lupa menutup kembali pintu kamar Fauzi.


Fauzi hanya terdiam menatap makanan yang dibawakan oleh Faiq, nafsu makannya benar-benar hilang.


Fauzi meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Ibu Salwa, dia benar-benar tidak tahan lagi untuk ingin mengetahui kabar Salwa.


"Halo.." Jawab Ibu Salwa dari seberang telfon.


"Halo Bu, maaf kalau aku ngeganggu Ibu.."


"Gak apa Nak.."


"Bu, bagaimana kabar Salwa Bu? Apa dia baik-baik saja??"


"Ya seperti umumnya orang yang sedang putus cinta, Salwa sedari tadi menangis terus dan tidak ingin keluar kamarnya.."


Fauzi terdiam, ada perasaan sakit dihatinya. Dulu dia berjanji untuk tidak akan membiarkan Salwa menangis, namun hari ini yang membuat Salwa menangis adalah dirinya.


"Maafkan aku Bu.." Kata Fauzi lirih dan suaranya mulai serak karena menahan tangisnya.


"Jangan minta maaf, Ibu tahu yang kamu lakukan ini adalah yang terbaik buat kalian. Sudah jangan pikirkan tentang Salwa, Ibu yang akan menjaganya disini, kamu jaga kesehatanmu juga disana.." Kata Ibu Salwa mencoba mengerti perasaan Fauzi. Ibu salwa tahu bahwa Fauzi pun sangat terluka saat ini, terdengar dari suaranya yang serak.


"Makasih Ibu..."


Telfonnya berakhir.

__ADS_1


__ADS_2