
Aku adalah putra, yang sayapku telah di potong oleh Ayahku sendiri.
Bakatku dan minatku kini di kubur oleh harapan besar yang Ayah letakkan diatas pundakku..
Aku bukan aku, hanya boneka yang dimainkan..
Pemuas keinginan orangtua dengan ego yang membara-bara..
Tidak ada lagi supermanku, yang ada saat ini hanya monster yang topengnya telah jatuh..
.
.
.
Seperti yang diinginkan Ayahnya, kini Faiq meniggalkan perkuliahan yang disukainya, dan meninggalkan semua apa yang menjadi kegemarannya. Dia mengubur dalam mimpi-mimpi yang sudah dia idamkan beberapa tahun terakhir ini. Apa yang dia usahakan selama ini untuk meraih mimpinya, kini dia tinggalkan begitu saja tanpa bisa melakukan apa-apa. Sungguh, dia tidak memiliki kekuatan untuk tetap mempertahankan apa yang menjadi keinginan dan mimpinya. Baginya saat ini, keselamatan orang-orang yang disayanginya adalah hal yang harus dia prioritaskan, meski dengan mengorbankan apa yang menjadi milik dan keinginannya.
Faiq sesekali mengecam akan takdir yang dia miliki, ia mengumpat dalam hati dengan semua kata-kata kasar yang tidak bisa dia lontarkan pada Ayahnya, benih-benih kebencian mulai tumbuh perlahan.
Faiq kini berada jauh di tempat kelahirannya, dia berada di negeri orang dengan perawakan tubuh yang lebih besar dari warga penghuni belahan bumi di benua Asia yang cenderung berperawakan tubuh lebih mungil jika di bandingkan dengan manusia-manusia dari benua lainnya.
Tidak ada yang Faiq lakukan dengan benar, dia menyia-nyiakan kehidupannya disana. Tidak menempuh pendidikannya dengan benar, dan tidak hidup dengan baik seperti sebelumnya. Dia menjadi seseorang yang tidak memiliki tujuan hidup, tanpa motivasi dan keinginan untuk menjadi manusia yang lebih baik. Yang dia tahu saat ini, yaitu hanya bagaimana cara agar dia bisa merasa senang dan melupakan kenyataan hidup sebenarnya yang dia miliki.
Entah hanya berapa kali Faiq masuk kelas kuliahnya, sisanya dia gunakan waktunya untuk bersenang-senang, menghambur-hamburkan uang Ayahnya dan menikmati apapun yang bisa dia nikmati. Cara hidup tanpa aturan.
Siang hari, Faiq akan bersenang-senang bersama teman-teman baru yang dia temui disana. Pergaulan yang bebas semakin membuatnya tidak terkontrol dalam melakukan sesuatu, tak ada larangan.
Sebelumnya, Faiq menjalankan hidup dengan kelusuhan setiap harinya, dia seperti tidak memiliki semangat hidup. Siang hari yang dia lalui berputar-putar di jalan tanpa tujuan, dan malamnya akan merenung hingga menangis ketika rasa rindu yang dia miliki untuk wanita yang dicintainya merasuk semakin dalam merangkul dan memeluknya.
Setiap malamnya, Faiq akan memikirkan tentang apa yang wanita menjadi pemilik hatinya itu lakukan, apa yang ada dipikiran Sasa dan apakah kekasih hatinya itu juga merindukannya seperti dia yang nyaris mati rasanya karena menahan rindu. Pikiran-pikiran buruk akan kemungkinan Sasa yang membencinya karena telah dia tinggalkan tanpa pesan itu, semakin menjadi-jadi. Malam semakin larut, maka semakin jauh juga pikiran Faiq berkelana disekitar wanita yang kini berada di negara dan benua yang berbeda dengannya itu.
__ADS_1
Sesekali dia ingin sekali menghubungi Sasa, tidak peduli jika wanita itu akan memaki-makinya karena telah pergi tanpa alasan dan tanpa pamit, setidaknya itu melepaskan sedikit rasa rindu yang mengusik dan membuatnya sesak, namun niat untuk menghubungi dan mengabari Sasa akhirnya ia urungkan kembali sebelum memulai. Faiq kembali mengingat akan Ayahnya yang bisa mengekspos ponsel Sasa, dan juga mungkin ponsel Fauzi. ketika ia ketahuan, itu bisa saja membuat kedua orang yang dicintainya itu berada dalam bahaya.
Lagi, Faiq hanya bisa menahan kerinduannya tanpa bisa melakukan apa-apa untuk menebusnya. Sebuah ketidakberdayaan yang sangat pandai membuat hatinya sakit tercabik-cabik jika ia sadari.
Faiq yang sebelumnya menjalani hidupnya dengan setengah hati itu, dipertemukan oleh seseorang yang bisa menariknya keluar dari gemuruh keputusasaan yang dia miliki. Seseorang yang dia sebut teman, yang membuatnya melewati hari-harinya tidak lagi dengan berkeliling dijalan tanpa tujuan.
Pertemuan Faiq dengan Jazz, laki-laki berperawakan tubuh besar itu membuatnya bisa menikmati hidup selama tinggal di benua yang berbeda dari tempat ia dibesarkan 19 tahun terakhir ini. Faiq akhirnya bisa bersenang-senang di setengah harinya di siang hari dan juga di malam hari, tanpa batas.
Hari-hari yang biasanya ia lalui hanya seorang diri, kini berubah menjadi ramai setelah ikut dengan Jazz dan teman-teman yang dimiliki Jazz. Hampir setiap hari mengadakan pesta dan berfoya-foya, dan akan pulang di malam hari atau mungkin dini hari dimana pagi mulai datang.
Nyaris setiap hari seperti itu. Pulang din ihari, tidur hingga sore dan akan memulai lagi aktifitas berpesta dan berfoya-foya di malam harinya. Siklus hidup yang nyaris sama dengan seekor kelelawar. Keseharian yang seperti ini juga, yang membuat Faiq sedikit lepas dari belenggu kerinduan dari kekasih hati yang selalu mengusik perasaannya.
Pertemanan Faiq semakin meluas, begitu banyak jenis teman yang sudah ia temui. Bermacam-macam kriteria, bakat dan pekerjaan dari teman-teman yang dia miliki mampu membuat Faiq bisa mengenal dunia lebih luas lagi, dan itu sangat menguntungkan baginya. Terlebih lagi, teman-teman yang miliki begitu loyal dan memiliki solidaritas tinggi. Sehingga, meski mereka seperti sekumpulan anak muda yang tidak karu-karuan, namun sebenarnya memiliki kebaikan tersendiri dari masing-masing mereka.
Semuanya masih saja sama. Dia masih saja sama menyia-nyiakan kehidupannya dan meninggalkan pendidikan yang sudah Ayahnya siapkan untuknya. Hanya saja, kali ini dia menyia-nyiakan hidupnya dengan bersenang-senang, bukan dengan menyendiri dalam keterpurukannya.
Waktu menunjukkan pukul 3 pm waktu setempat. Faiq masih berbaring malas di tempat tidurnya untuk mengumpulkan kesadarannya setelah meneguk beberapa gelas alkohol semalam hingga membuatnya mabuk dan tertidur. Rasa pahit yang bertengger di tenggorokannya, membuatnya memaksakan diri untuk bangun dan mengambil segelas air untuk menyegarkan sedikit perasaannya. Aroma alkohol yang menyegat masih belum bisa membuatnya terbiasa, sehingga masih saja dia merasa terganggu.
Segelas air diteguknya sekaligus, rasa pahit yang tadinya bertengger di tenggorokan kini ikut larut meski masih menyisahkan rasa-rasa pahit yang tidak mengenakkan.
Faiq kembali menuju kamarnya, dia sudah bisa memperkirakan akan pesan ajakan berpesta malam ini yang masuk di ponselnya. Namun langkah sempoyongannya itu terhenti tatkala sesuatu tersentuh oleh kakinya.
Faiq dengan tenaga yang berusaha ia kumpulkan sebisanya, menunduk dan mengambil sesuatu yang tak sengaja diinjaknya. Sebuah foto yang entah sudah berapa lama tergeletak di lantai seperti itu.
Rindu kembali menyerangnya tatkala wajah cantik milik wanita yang pernah ia miliki sebagai kekasihnya, berhias manis dalam selembar foto yang kini di peganganya. Foto yang dia bawa sebelum meninggalkan tempat dimana ia hidup selama ini sebelum terbang ke benua lainnya.
Faiq kembali ke kamar dengan selembar foto yang dipegangnya. Matanya mulai berkaca-kaca, perasaannya kembali berkecamuk dengan rindu yang membara-bara serta keinginan untuk menghubungi tapi tak dapat ia lakukan.
Ia duduk di tepi tempat tidurnya, memandangi foto Sasa yang terlihat begitu manis dengan senyuman yang berhias dibibirnya. Pikiran Faiq kembali berkelana pada masa dimana mereka dulunya melewati waktu bersama-sama, dan menikmati tiap saat dengan kebahagiaan meski pertengkaran kecil mewarnai hubungan mereka.
Sebuah notif di ponselnya mengalihkan pandangannya yang sedari tadi tertuju pada selembar foto yang dipegangnya. Airmata yang menggenang di pelupuk matanya sehingga membuat dua bola mata itu tampak berkaca-kaca, ia seka. Fauzi beranjak dengan malas meraih ponselnya yang berada di tepi tempat tidur lainnya. Sebuah pesan masuk dari Jazz. Seperti biasanya, ajakan berpesta untuk malam ini, sekaligus lokasi yang sudah dikirim oleh Jazz.
__ADS_1
Faiq hanya menatap pesan singkat yang dikirim untuknya. Berbeda seperti sebelumnya, ia akan dengan cepat mengirim pesan balasan untuk Jazz dengan persetujuannya untuk ikut. Tapi kali ini, dengan perasaannya yang melow seperti sekarang ini, itu tidak akan mungkin bisa membuatnya menikmati pesta malam ini.
“Sorry Jazz, heute kann ic nicht gehen” Pesan balasan yang Faiq kirim pada Jazz. Memberitahukan pada temannya itu akan dirinya yang tidak bisa ikut dalam pesta malam ini.
“Why? R U okay now?” balasan pesan yang cepat Faiq terima dari Jazz. Sebuah pertanyaan yang menanyakan keadaannya. Dilihat dari pesan yang dikirimnya, sepertinya Jazz tengah mengkhawatirkannya saat ini. Pasalnya Faiq tidak pernah menolak ajakan berpesta dari Jazz.
“I’m okay. Mach dir keine sorgen, mir geht es gut” Balas Faiq memberitahu Jazz bahwa dia baik-baik saja dan tidak perlu mengkhawatirkannya.
“Kontaktieren sie mich, wenn sie etwas brauchen” Sekali lagi Jazz memperlihatkan kepeduliannya pada Faiq, dengan meminta Faiq menghubunginya jika Faiq butuh sesuatu.
“Okay, thanks Jazz”
Faiq kembali meletakkan ponselnya, dan kembali memandangi foto Sasa yang tampil cantik dengan senyum manisnya.
“Aku rindu Sa, apa kamu rindu sama aku juga? Bagaimana kabarmu? Apa yang sedang kamu lakukan sekarang? Bagaimana hari-harimu? Apakah menyenangkan??”
Faiq tertunduk sejenak setelah melontarkan semua pertanyaan yang tidak akan mendapatkan jawaban.
“Sa, apakah kamu sudah lupa sama aku sekarang?? Ataukah kamu.... kamu benci sama aku??”
Kembali ingatan Faiq pada waktu dimana ia meninggalkan kotanya begitu saja tanpa pamit pada Sasa. Ia kembali memikirkan, berapa lama Sasa menunggunya hari itu, hari dimana mereka janjian untuk makan diluar merayakan desain miliknya yang diterima. Apa yang Sasa rasakan saat dia tidak juga datang meski Sasa sudah menunggu lama dan apakah Fauzi sudah mengatakan pada Sasa akan kepergiannya.
“Maafkan aku..” Airmatanya mengiringi permintaan maaf yang tidak sampai pada pemiliknya itu.
.
.
.
.
__ADS_1
Huhu maafkan Lina kalau ada salah-salah bahasanya. Itu dapat bantuan dari google translate. Huhu jika ada yang lebih paham, mohon kritikkan dan bimbingannya