
Sebuah pertemuan yang begitu tiba-tiba bagi Sasa, dan pertemuan yang terencana bagi Faiq. Meski Faiq sudah menyiapkan diri untuk pertemuan ini, namun tetap saja dia terus-terusan merasa gugup. Mungkin saja lebih gugup dari Sasa.
Begitu sulit bagi Faiq untuk mengalihkan pandangannya dari Sasa. Wanita yang sangat dicintainya itu, entah mengapa masih terlihat muda dan cantik meski waktu sudah berlalu bertahun-tahun. Membuat perasaannya semakin menjadi-jadi dengan ingin kembali memiliki wanita bermata bulat itu, seutuhnya.
Ya, Faiq menyadari kebenaran perkataan Fauzi beberapa hari yang lalu, tentang dia yang tidak akan mudah membatasi perasaannya agar tidak begitu jauh jatuh dalam cinta untuk Sasa. Karena kenyataan yang ia hadapi sekarang adalah, perasaan cinta yang dia miliki semakin berkobar-kobar setelah Sasa hadir di depan matanya.
Fauzi mengambil posisi duduk di samping Faiq, karena akan sangat canggung jika yang berada disamping Faiq adalah Salwa, sedang dia akan membuat Sasa dalam keadaan tak nyaman jika duduk di samping mantan kekasihnya yang sudah lama tidak ia temui. Tapi tetap saja, posisi Faiq yang duduk di depan Sasa, mampu membuat Sasa jadi terdiam membisu dan tanpa gerakan-gerakan menonjol.
“Jadi selama ini kamu dimana?” Tanya Fauzi masih memainkan perannya dalam skenario yang sudah dia susun bersama dengan Faiq.
Faiq yang mendapat pertanyaan dari Fauzi, sontak terkejut dan mengalihkan pandangannya. Dia masih saja curi-curi pandang untuk bisa melihat Sasa yang kini duduk di depannya. Rasanya bola matanya itu memiliki magnet pada Sasa, yang membuatnya tidak bisa melepaskan pandangan dari wanita yang duduk manis di depannya saat ini.
“Tidak jauh, tapi tidak dekat juga” Jawab Faiq, kembali melirik Sasa. Tidak ada reaksi disana, membuat Faiq bertanya-tanya tentang apa yang ada di pikiran Sasa saat ini.
“Kamu ini bicara apa??”
“Haha, intinya aku ada disini sekarang. Kamu sendiri bagaimana kehidupanmu? Ah pasti kamu sangat bahagia ya, karena Salwa sekarang seutuhnya milikmu”
Fauzi hanya tersenyum malu-malu bak kucing yang baru saja di elus lembut kepalanya.
“Salwa, jaga suamimu baik-baik. Dia itu seperti anak kecil dulunya, suka menangis meraung-raung hanya karena dia lagi rindu sama kamu..” Kata Faiq pada Salwa. Ia mencoba terlihat santai, tapi fakta yang ada, jantungnya sekarang tengah bergemuruh.
Salwa hanya tersenyum.
“Istrimu terlihat lebih cantik dari yang sebelumnya, sama cantiknya dengan perempuan yang sedari tadi hanya diam tanpa bersuara, disamping istrimu..” Faiq berkata pada Fauzi dengan senyuman yang tidak bisa di jabarkan maksudnya, namun jelas sekali dari kata-katanya, ia tengah menyinggung mantan kekasihnya yang benar sedari tadi hanya terdiam.
“Kita pernah ketemu sebelumnya?” Tanya Salwa menatap Faiq dengan lekat. Ekspresi bingung jelas sekali terlihat di wajah Salwa.
Faiq menoleh, yang tadi pandangannya terarah pada Fauzi, kini berbalik menatap Salwa.
Faiq menatap Salwa sejenak. Ingatannya bermain dengan apa yang pernah Fauzi ceritakan mengenai istrinya yang memiliki penghapus di kepalanya sehingga dengan mudah melupakan hal-hal yang pernah terjadi pada dia sebelumnya.
“Kamu gak ingat sama aku??”
Meski Faiq tahu kondisi Salwa, namun ia tetap mempertanyakan keberadaannya dalam ingatan Salwa. Dia tahu, sangat kecil kemungkinan Salwa dapat mengingatnya, karena beberapa tahun silam, mereka hanya bertemu sekali saja.
Salwa menggeleng, kemudian mengarahkan pandangan pada suami kesayangannya yang duduk tepat di depannya.
Fauzi tersenyum saat dua mata indah milik istrinya, di arahkan padanya. Fauzi mengerti akan istrinya yang butuh penjelasan lebih darinya, butuh dia untuk memberitahukan mengenai siapa laki-laki yang sekarang sedang berada di meja yang sama dengannya dan berbicara seolah mereka adalah teman akrab.
“Sayang.. Dia ini Faiq, temanku saat aku kuliah dulu. Kamu juga pernah ketemu sama dia”
“Ohh..” Salwa mengangguk paham dengan apa yang dikatakan Fauzi. tidak lagi mempertanyakan lebih panjang perihal Faiq.
Faiq tidak melepaskan pandangannya pada Salwa, ia sedikit terkejut melihat Salwa yang tidak lagi mengingatnya. Meski ia tahu akan kondisi Salwa saat ini, namun tetap saja dia merasa sangat terkejut saat Slawa langsung yang memperlihat keadaan yang dia miliki sekarang pada Faiq.
“Faiq, maafkan Salwa yang tidak bisa mengingatmu. Bukannya dia tidak ingn mengingatmu, hanya saja dia saat ini tengah menderita penya..”
“Fauzi..” Potong Sasa dengan nada yang sedikit tegas, membuat Faiq spontan berbalik menatap Sasa.
__ADS_1
Ada tatapan peringatan di mata Sasa yang ia tunjukkan pada Fauzi.
Bagaimana bisa suami ini melupakan hal penting yang tidak seharusnya dia katakan pada istrinya.
“Jangan mengatakan apapun di sini..” Lanjut Sasa, sembari melirik Salwa yang duduk di sampingnya dengan ekspresi bingung akan penyelaan yang sasa lakukan di tengah-tengah obrolan Fauzi dan Faiq.
“Ada apa Sasa?”
“Tidak ada apa-apa” Jawab Sasa tersenyum.
Ini adalah kalimat pertama yang keluar dari bibir indah milik Sasa. Rasa rindu Faiq semakin tidak beraturan setelah mendengar suara Sasa. Suara yang sudah sangat lama tidak pernah ia dengar.
“Suaramu masih sama, cantikmu masih sama, namun tidak dengan cara bicara dan tingkah lakumu. Ya kamu sudah dewasa sekarang, bukan lagi seorang mahasiswa”
“Ah.. Maaf” Kata Fauzi saat menyadari akan teguran Sasa melalui tatapannya.
Fauzi terlalu larut memerankan perannya dalam drama yang sedang ia jalankan bersama Faiq. Dia bahkan nyaris saja menyebutkan penyakit Salwa tepat di wanita yang sangat dia cintai itu. Dia hampir membuat dirinya dalam kesulitan, andai saja tidak mendapat teguran dari Sasa.
“Ah aku yang minta maaf, sepertinya ada hal yang tidak seharusnya aku pertanyakan” Kata Faiq tersenyum simpul lalu menunduk sejenak.
Suasana menjadi canggung. Faiq terdiam, sedang Sasa yang memang dari awalnya diam semakin tak bersuara. Fauzi bingung harus melerai bagaimana kecanggungan ini, dia sendiripun harus menjelaskan beberapa hal yang istrinya pertanyakan dari tadi, membuatnya tidak sempat memikirkan cara untuk menghentikan kondisi kecanggungan dengan tekanan yang lumayan berat. Suasana yang sangat tidak menyenangkan.
“Direktur dari perusahaan yang sedang bekerja sama denganku itu kenapa datang terlambat ya?”
Fauzi mencoba menghentikan suasana yang sangat tidak mengenakkan ini, dia kembali mencoba menarik keinginan Faiq untuk berbicara. Entah karena apa, sehingga Faiq yang tadinya berbicara baik-baik saja, sekarang menjadi terdiam dan hanya senyum sesekali melihat Salwa yang mengangguk setiap kali mengerti dengan apa yang di jelaskan Fauzi dari pertanyaan-pertayaan yang Salwa ajukan sebelumnya.
“Iya, mungkin dia ada kendala untuk tiba disini..”
Keduanya kembali larut dalam drama yang mereka mainkan. Jelas saja Karin belum tiba saat ini, karena janji yang Fauzi buat pada Karin ialah satu jam yang akan datang dari sekarang. Sebuah trik untuk mengulur waktu lebih lama agar Faiq bisa menikmati saat-saat bisa melihat Sasa.
“Bagaimana kabarmu?” Tanya Faiq memulai pembicaraannya pada Sasa. Ia menatap Sasa dengan dalam, tidak sabar menunggu Sasa untuk merespon pertanyaannya.
“Baik” Jawab Sasa singkat, menatap lawan berbicaranya sejenak, memberikan senyuman manis dan kembali mengalihkan pandangannya.
“Syukurlah. Aku juga berharap kamu baik-baik terus”
“Terimakasih..”
Meski diiringi dengan senyuman, namun jawaban Sasa yang singkat mampu memberikan rasa sakit tersendiri pada perasaan Faiq. Namun rasa sakit yang Faiq rasakan, tidak mengurungkan niatnya untuk kembali menarik Sasa dalam obrolannya.
“Kegiatanmu apa sekarang??”
“Aku bekerja sebagai perawat di salah satu Rumah sakit disini”
“Syukurlah, kamu bukan lagi hanya sekedar mahasiswa perawat yang sibuk menasehati aku tentang kesehatan” Kata Faiq dengan tersenyum. Perkataannya mengandung keinginan untuk mengenang masa lalu bersama.
Sekali lagi, Sasa hanya menanggapi dengan senyuman, membuat Faiq bingung, harus seperti apa lagi agar obrolannya bisa terus berlanjut dengan Sasa.
“Apa tidak ada sesuatu yang mau kamu tanyakan sama aku?”
__ADS_1
Sasa mengangkat kepalanya, memandangi Faiq yang saat ini menatapnya dengan lekat. Pertanyaan Faiq barusan seolah memberinya kesempatan untuk mempertanyakan semua hal yang menyebabkan mereka berada pada kondisi seperti sekarang ini.
Namun kesempatan yang tidak bisa Sasa gunakan. Dulunya, Sasa memiliki ribuan pertanyaan yang menginginkan jawaban dari Faiq atas apa yang dia lakukan padanya. Tapi sekarang, saat Faiq sudah ada di depan matanya, ia bingung harus menanyakan apa, bahkan untuk mengatakan sesuatu pun, dia bingung.
“Tanyakan apa?” Tanya Sasa balik.
“Apa saja, sesuatu yang mungkin ingin kamu tahu dari aku”
“Sesuatu seperti apa??” Tanya Sasa lagi mengulang pertanyaan Faiq.
Faiq hanya tersenyum dan mengalihkan pandangannya.
“Apa kamu tidak penasaran dengan apapun tentangku? Setidaknya seperti kabarku”
“Melihatmu menggunakan stelan jas dengan wajah tampan seperti itu, kurasa kabarmu baik-baik saja”
Faiq tersenyum kecil, menahan bibirnya agar tidak tersenyum lebih lebar mendengar kata tampan yang Sasa tujukan untuk dirinya. Satu kata itu mampu membuat hatinya seolah berada di musim semi, penuh dengan bunga-bunga.
Namun sejenak ia menyadari, akan ketidaktertarikan Sasa tentangnya. Bayangkan saja, mengenai kabarpun Sasa enggan bertanya dan hanya menilai dengan apa yang dia lihat saat ini.
“Kabarku pun tidak membuatmu tertarik untuk mengetahuinya. Kenapa?”
“Apanya yang kenapa? Aku tidak memiliki alasan untuk tahu kabarmu”
Jleebb.. Jawaban Sasa menohok sekali, memberikan tembakan yang mengenai langsung ulu hati Faiq.
“Kamu benci sama aku?”
Dahi Sasa berkerut mendapat pertanyaan yang tiba-tiba dari Faiq.
“Kamu berpikiran seperti itu tentang aku??”
Percakapan keduanya yang serasa mulai memanas, membuat Fauzi kebingungan harus merespon seperti apa diantara mereka. Hingga Fauzi memilih untuk membiarkan mereka menyelesaikan masalah-masalah yang kiranya perlu mereka bahas empat mata saja.
“Eng.. Anu.. Aku akan membawa Salwa berkeliling di sekitar sini sambil menunggu rekan kerja kita datang. Kalian berbincang-bincanglah dulu..”
“Aku ikut” Sasa beranjak dari duduknya.
“Ah tidak-tidak, kurasa ada hal yang harus kamu bicarakan sama Faiq”
“Tidak ada” Jawab Sasa singkat.
“Tapi aku ada”
Faiq menatap lekat ke arah Sasa.
“Banyak yang ingin aku bicarakan sama kamu. Jadi tolong tetap tinggal disini”
Sasa berbalik menatap Faiq, yang sudah menatapnya terlebih dahulu
__ADS_1