Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Mengabaikan Fakta..


__ADS_3

Kesalahpahaman yang semakin berlarut-larut dan aku masih tidak bisa menjelaskan yang sebenarnya. Aku bingung sendiri harus seperti apa saat ini.


Aku berjalan dengan lesuh masuk halaman rumah dan..


"Salwa..."


"Apa yang kamu lakukan disini?"


Entah sejak kapan Fauzi berdiri didepan rumahku, ia terlihat lesuh dan kusut sekali.


"Salwa.. aku bisa jelasin semuanya.." Katanya menghampiriku.


"Pergii..."


"Salwa dengarkan.."


"Aku bilang pergi.. PERGGIIII"


Fauzi menghentikan langkahnya.


"Salwa tolong dengarkan penjelasanku dulu.."


"Penjelasan? Penjelasan atau alasan??"


"Bukan..."


"Aku gak mau dengarkan apapun dari kamu.. pergi.."


"Salwa aku gak akan ngebiarin kamu terus-terusan salah paham"


"Salah paham kamu bilang?? Aku jelas-jelas ngeliat semuanya Fauzi.. Aku melihatnyaa"


"Yang kamu lihat belum tentu benar Salwaa.."


"Lalu apa yang benar?? Mempermainkan perasaanku??"


"Bukan Salwa, aku bisa ngejelasin semuanya.."


"Aku capek, aku mau istirahat.."


"Salwa.. tunggu, dengarin aku dulu.." Kata Fauzi menahanku.


"Lepaskan..." Kataku memberontak.


"Kamu akan terus-terusan salah paham kalau aku gak ngejelasin semuanya sama kamu.."


"Aku malah akan salah paham kalau kamu ngejelasin semua alasanmu itu.."


"Salwa.."


"Pergii.. aku mau istirahat.." Kataku melangkah masuk.


"Aku gak akan pergi sebelum kamu mau dengerin penjelasanku.."

__ADS_1


"Terserah.." Kataku terus melangkah.


"Apa perlu kubawa perempuan itu untuk menjelaskan semuanya sama kamu???"


Aku berhenti.


"Heehh.. Secinta apa perempuan itu sama kamu sampai siap menutup kebohonganmu??"


"Salwa.. aku dengan dia sama sekali bukan seperti apa yang kamu pikirkan"


"Bukan seperti apa yang aku pikirkan tapi seperti apa yang aku lihat.."


"Sudah aku bilangg..."


"Fauzi.. Awalnya aku selalu berfikir, tidak ada perempuan yang bisa menyamai perasaanku terhadapmu apalagi sampai bisa melebihi cintaku ke kamu.. tapi sekarang aku sadar, Cinta yang aku punya tidak sebesar cinta perempuan itu yang sampai mau berbohong hanya demi kamu.."


"Salwa.. kamu ngomong apa sih??"


"Ah.. apa aku asal ngomong?? mungkin saja, kalau begitu pergi... Aku tidak senang melihatmu disini.." Kataku beranjak.


"Aku akan nungguin terus kamu disini.."


"Lakukan sesukamu, Ayah ibuku tidak pulang hari ini jadi tidak akan ada yang menghalangimu berdiri sepuasmu disitu.."


Aku melangkah masuk meninggalkan Fauzi sendiri diluar.


Aku berhambur menghempaskan diriku ditempat tidur, aku menangis lagi. Apa ini karma karena aku selalu mencurigai Fauzi akhir-akhir ini? Apa Tuhan sengaja menjadikan kecurigaanku selama ini jadi nyata agar aku tidak lagi selalu berburuk sangka? Ataukah memang ini jalan Tuhan memisahkan aku dengan Fauzi agar cintaku tidak semakin besar dan berlarut-larut. Aku tidak tau, semua pikiran-pikiran tidak jelas merasuki pikiranku.


"Ozi.. kenapa seperti ini terhadapku? sudah berapa lama aku kamu bohongi? sudah berapa lama aku kamu selingkuhi? apa salahku?? hiksss.. hikss" Aku terus bergumam tidak jelas sambil menangis.


Kenanganku bersama Fauzi seolah olah dengan sengaja singgah dipikiranku untuk membuat hatiku semakin sakit, aku ingat dengan jelas hari itu, hari dimana pertama kali Fauzi menyapaku.


"Virus kecil?? haha emang ada virus yang besar??" Kata Fauzi saat itu sambil memegang name tag yang tergelantung dileherku saat masa Ospek dulu.


Fauzi adalah ketua Osis satu angkatan diatasku. Ia tidak masuk dalam gugus sehingga ia menempati  posko pertama unutk mendata data siswa baru. Ya seperti yang dikatakan Farhan, Fauzi yang tampan, ramah, dengan postur tubuh yang bagus benar-benar menarik perhatian kami Siswa baru, tidak terkecuali aku. Akupun sempat mengaguminya saat itu..


"Kenapa Virus kecil??" Tanyanya.


"Karena aku kecil, dan katanya aku bisa menularkan tawa keorang lain.." Jawabku.


"Oh ya?? Tapi aku gak ketawa tuh??"


Aku terdiam saja, karena seperti biasa kakak panitia MOS akan semakin bertele-tele mempermainkan kita jika diladeni.


"Nama??" Tanya Fauzi sambil memegang kertas yang berisikan daftar nama Siswa baru.


"Virus kecil.."


"Hem... Nama asli dek, emang mau di absennya aku tulis Virus kecil??"


"Salwa.."


"Nama lengkap"

__ADS_1


"Afifah Salwa"


"Gugus?"


"Lima.."


"Oh.. ini toh yang katanya primadona di gugus Lima.. ya Lumayan menarik.." Katanya sambil mengangguk-angguk.


Aku terdiam saja. Sejenak aku berpikir, ini adalah hari pertama ospek setelah kemarin pra ospek. Kemarin aku mendengar teman-teman sekitar berbisik tentang betapa mengangumkannya ketua Osis yang katanya ramah itu. Sesekali aku meliriknya yang sibuk berbincang dengan teman-temannya dan guru-guru mungkin perihal ospek, ya benar terlihat ramah dan tampan. Tapi setelah hari ini aku berbicara langsung dengannya, huffftt kesan ramahnya itu seketika berubah menjadi kakak kelas yang suka cari muka depan siswa baru, membuat kekagumanku pudar saja.


Ya meski aku bukan lagi tergolong adik-adik kelas yang mengangumi Fauzi tapi pada akhirnya aku adalah orang yang dia pilih dari banyaknya yang mengaguminya dan aku benar-benar dibuat menyayanginya. Yah, saat itu hingga sehari yang lalu aku merasa aku adalah perempuan beruntung karena dipilih Fauzi dan Fauzi memperlakukanku dengan sebaik-baiknya, tapi itu hanya yang lalu karena kenyataan yang kutemukan sekarang adalah aku perempuan yang disakiti oleh Fauzi. Kenyataan yang ada sekarang adalah aku perempuan yang menangis sampai lelah karena Fauzi.


**


Mungkin karena terlalu lama menangis membuat tenggorokanku serasa kering. Aku berjalan turun menuju dapur untuk mengambil segelas air.


"Ada apa??" Tanyaku bingung. Kedengaran dari luar sangat ramai sekali.


Aku berjalan keluar.


"Kenapa Bi?" Tanyaku pada tetangga sebelah yang berdiri dekat rumah.


"Itu loh dek, katanya ada tabrak lari.."


"Tabrak lari? Siapa Bi?"


"Itu temen kamu yang sedari tadi nungguin kamu depan pintu, kiranya saya dek Salwa lagi gak dirumah makanya temennya nungguin didepan rumah"


"Temen saya??"


"Iya dek.. siapa sih lagi namanya.. itu yang sering ngobrol sama bapak adek di teras"


"Haa??"


"Katanya Bibi yang sebelah tadi dia mau nyebrang cuman karena keliatannya lagi kurang enak badan jadi gak perhatiin jalan dan.. loh lohh dekk Salwa mau kemana??"


Belum selesai Bibi sebelah rumah menjelaskan aku sudah berlari kejalan mendekati kerumunan warga. Aku tidak ingin menduga-duga, tapi siapa lagi yang di maksud kalau bukan Fauzi, hanya Fauzi yang sering main kerumah dan mengobrol dengan ayah diteras, dan lagi tadi pagi sebelum aku masuk....


Aku tidak bisa berfikir dengan baik, aku berlari secepat yang kubisa ke jalan dimana orang-orang sudah berkerumunan disana. Airmataku perlahan mulai menetes.


"Gak.. gak mungkin.. Fauziii"


Aku menerobos dikerumunan orang-orang mencari celah untuk melihat secara langsung.


"Ozii......" Kataku menghambur mendekatinya.


"Heyy Ozi.. bangun.. apa yang kamu lakukan disini.." Kataku sambil memopangnya.


"Dek.. dek.. tenangg..." Riuhnya warga sekitar.


"Ambulance, ambulancee.... tolong panggil ambulancee...." Seruku.


Semakin banyak orang yang berkerumu. Heehh.. apa yang mereka kerumuni disini, bukannya segera menghubungi ambulance dari tadi mereka malah jadi penonton saling bertanya dan menjawab satu sama lain untuk memuaskan rasa keingintahuannya tentang apa yang terjadi sekarang.

__ADS_1


"Ozii.. heyy banguun.. OZIIII......"


__ADS_2