Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Review 37


__ADS_3

Hari ini Fauzi menemani Afifah untuk periksa di rumah sakit. Fauzi terus mengekor dari saat Afifah mendaftar di rekam medik sampai akhirnya diperiksa oleh dokter dan yang terakhir menebus obatnya di Apotek. Fauzi sempat deg-degkan saat dia dan Afifah tiba di Apotek. Fauzi hanya duduk di kursi tunggu agak jauh dari loket pemberian obat agar Salwa tidak melihatnya saat Salwa memberikan obat pada Afifah nanti.


Karena Afifah yang sempat makan siang dulu sebelum mengantar resepnya ke Apotek membuat mereka menjadi pasien terakhir yang mengantar resepnya di Apotek.


"Kak, titip tas ku dulu, aku mau ke toilet sebentar" Kata Afifah setelah menyetor resepnya di loket penerimaann resep dan meletakkan tasnya di pangkuan Fauzi lalu berlari kecil menuju Toilet.


"Pasien dengan nomor antrian 176 atas nama nona Afifah.."


Dag dig dug... "Itu adalah suara Salwa.." Gumam Fauzi.


Entah kapan kali terakhir Fauzi mendengar suara Salwa, setelah sekian lama itu baru sekarang lagi dia mendengar suara Salwa dan itu membuat jantungnya berdetak tidak karuan.


"Woo woyy santaii santaii..." Kata Fauzi pada dirinya sendiri sambil memegang tubuh yang dekat dengan jantungnya.


Afifah kembali dari toilet dan menghampiri Fauzi.


"Nama kamu udah dipanggil.." Kata Fauzi memberitahu.


"Lah.. Kenapa gak maju aja sih kak ngambilin aku obatnya.." Gerutu Afifah.


"Yang ada mereka kaget nanti masa iya nama Afifah tapi yang muncul cowok.." Alasan Fauzi.


"Ck.. Gak bakal dipermasalahin juga sama Apotekernya.."Kata Afifah mendengus kesal pada Fauzi.


Afifah menghampiri ke loket penerimaan obat. Fauzi bisa mendengar dengan jelas bagaimana profesionalnya Salwa dalam bekerja, decak kagum Fauzi melihat Salwa yang sekarang. "Dia benar-benar udah berubah.." Gumam Fauzi. "Ck itu bocah ngambil obat aja pake acara ngerumpi ngebahas pernikahannya.." Dumel Fauzi mendengar Afifah yang memberitahukan Salwa bahwa sebentar lagi dia akan menikah.


"Kak.. Siniin tasku..." Panggil Afifah.


"Whaat ini bocah kenapa pake manggil sih?? Ngambil tasnya sendiri kesini kan bisa.." Gerutu Fauzi dengan nada sangat pelan sambil merapatkan giginya. "Kenapa??" Tanya Fauzi. "Apa Salwa masih mengenali suaraku??"


"Siniin dulu kak, ada obatku dalam situ mau aku liatin disini.." Rengek Afifah dengan manja sambil melambai-lambaikan tangannya.


"Ck.. Bisa ketahuan kalau begini.." Gerutu Fauzi dalam hati tapi tetap beranjak dari tempat duduknya berjalan dengan ogah-ogahan menghampiri Afifah membawakan tasnya.

__ADS_1


Melihat Fauzi yang berjalan sangat lamban membuat Afifah kembali menegurnya. "Cepetan, aku makin sakit nih kalau kamu lama-lama. Kamu senang ngeliat orang yang kamu sayang sakit.."


"Huffftt Afifah bilang begitu di depan Salwa dan aku akan datang kesana menampakkan wajahku.. Salwa bisa saja salah paham.." Keluh Fauzi dalam hati. "Iya iya baweelll.." Fauzi berusaha mempercepat langkahnya. Toh tetap aja bakal ketahuan sama Salwa nanti.


Menutup wajahnya tidak mungkiin, tidak ada lagi cara yang bisa digunakan Fauzi untuk menghindar sekarang. Mau tidak mau dia akan berbicara dengan Salwa sekarang.


"Fa Fauzi.." Salwa memanggilnya lebih dulu.


"Aku harus bagaimana? Aku harus memasang ekspresi seperti apa?? Apa yang harus aku lakukan sekarang??" Batin Fauzi. "Ah pokoknya yang penting terlihat alami saja.." Kata Fauzi memutuskan tindakan yang akan diambilnya. "Loh Salwa??" Fauzi berpura-pura tidak tahu bahwa Apoteker yang sedari tadi memberi informasi pada pasien adalah Salwa.


Setelah sekian lama ini adalah kali pertama lagi bagi Fauzi melihat Salwa secara langsung, dan ekspresi Salwa yang pertama dia lihat adalah ekspresi terkejut. "Fix, dilihat dari ekspresinya Salwa pasti salah paham sekarang tentang aku dan Afifah.."


"Kamu kerja disini??" Fauzi bertanya berusaha terlihat senatural mungkin.


Sangat jelas terlihat dimata Fauzi ekspresi Salwa yang terkejut saat ini. "Ya mungkin saja dia terkejut karena setelah sekian lama tidak melihatku akhirnya hari ini melihatku tapi lebih dari terkejutnya dia saat melihatku dia pasti lebih terkejut lagi dengan kesalahpahamannya tentang aku dan Afifah" Pikir Fauzi.


"I iya kak.." Jawab Salwa terbata-bata.


"He he I iya kak.." Jawab Salwa masih saja terbata-bata.


"Sudah lama kerja disini? Kata Mama dia gak pernah ngeliat kamu disini??" Tanya Fauzi masih terus-terusan berusaha terlihat santai padahal dia sendiri juga cukup gugup. "Ck, ngapa aku jadi ngebawa-bawa Mama sih? Begini nih kalau gak ada persiapan terus asal ngomong aja.." Gerutu Fauzi dalam hati karena kesal pada diri sendiri.


"Ma Mama??" Tanya Salwa kebingungan karena Fauzi sebelumnya tidak pernah memanggil Ibunya dengan panggilan Mama dan memang baru beberapa bulan ini memanggil Ibunya dengan panggilan Mama karena terbaisa mendengar Afifah.


"Haiisss... Kenapa aku manggil Mama sih.. Keceplosan gara-gara keseringan ngedengar Afifah nih.." Gerutu Fauzi makin kesal. "Ah.. He he he Iya, kebiasaan ngedengar Afifah manggil Mama, jadi sesekali ikut-ikutan. Tapi kalau lama kelamaan nantinya manggil Ibu lagi he he he"


Afifah yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara setelah mendengar Salwa yang tahu mengenai Fauzi yang terbiasa memanggilnya Ibunya dengan panggilan Ibu.


"Kamu akrab sama kakak ini? Tanya Afifah penasaran.


Fauzi menatap Afifah. "Iya, dia adik kelasku sewaktu SMA" Jawab Fauzi spontan. "Gak mungkin aku bilang sama Afifah kalau Salwa itu mantanku, dia bisa heboh seheboh-hebohnya disini dan akan terus-terusan menggodaku saat sampai rumah nanti.."


"Akrab ya? Kok dia tahu kamu manggil Mama dengan panggilan Ibu?" Tanya Afifah masih penasaran.

__ADS_1


"Ya begitulah.." Jawab Fauzi tersenyum sambil menatap Afifah memberi kode agar Afifah tidak bertanya-tanya lagi tapi Afifah tidak mengerti dengan kode yang diberikan Fauzi.


Fauzi mengalihkan pandangannya dari Afifah dan berbalik melihat Salwa. Makin kesini makin tidak baik ekspresi Salwa. "Ck, kalau dia salah paham sekarang makin susah nih aku nantinya.." Pikir Fauzi.


"Oh iya selama ini kamu dimana? Ma, eh maksudku Ibu bilang dia gak pernah ngeliat kamu disekitar sini??" Fauzi berusaha mencairkan suasana, berusaha mengajak Salwa mengobrol dengan santai agar Salwa tidak terus-terusan bermain dengan kesalahahamannya.


Fauzi terus-terus bertanya ala kadarnya pada Salwa, meski jantungnya berdetak tidak karuan tapi dia berusaha terlihat santai saja. Salah sedikit gerak-geriknya Afifah bisa bertanya yang aneh-aneh lagi nanti.


Salwa kembali menjelaskan obat yang dibawa Afifah dari klinik. Fauzi terus memandangi Salwa, melepaskan semua rindunya selama ini meski dia tahu seberapa lamapun dia memandangi Salwa rindunya tidak akan tertebus begitu mudah.


Setelah Salwa selesai memberikan informasi pelayanan obat akhirnya Fauzi dan Afifah undur diri.


"Ck gak ada puas-puasnya kalau ngeliat Salwa, rasanya kayak gak mau pulang.." Gumam Fauzi dalam hati. "Ah masa iya aku pisah begini saja sama Salwa setelah sekian lama gak pernah ketemu?" Pikir Fauzi. Fauzi menghentikan langkahnya.


"Engg Salwa.." Kata Fauzi kembali berbalik.


"Iya kak??"


"Kapan-kapan ayo kita ketemu sekedar makan bersama, sudah lama sekali kan kita tidak ketemu.." Ajakan Fauzi yang terdengar ringan padahal dia sangat berharap Salwa akan merespon ajakannya ini.


"Sudah 6 tahun kak..."


"Ah iya, benar-benar sudah lama sekali. Kapan-kapan ayo kita ketemu.." Ajak Fauzi sambil tersenyum. "Tolong bilang iyaaa Salwa, tolong bilang iyaa..." Batin Fauzi.


"I Iya kak.." Jawab Salwa.


"Yesss.. Awas saja kalau kata 'Iya'mu ini kamu ingkari.."


Fauzi akhirnya berlalu bersama Afifah, jantungnya masih saja berdetak tidak karuan, bagaimana tidak setelah sekian lama tidak bertemu akhirnya hari ini dia bisa berbicara lagi dengan Salwa.


.


.

__ADS_1


__ADS_2