
Usia kandungan Nina memasuki usia 2 bulan. Nina terus-terusan merasa mual, membuatnya jadi begitu lemah dan tidak bisa makan. Farhan yang khawatir dengan kondisi istrinya, dengan sigap membawa Nina ke rumah sakit untuk periksa.
Langkah Nina dan Farhan menuju parkiran terhenti sejenak saat Salwa menyapa pandangannya. Nina balik menatap Farhan, sorot matanya memperlihatkan dia yang tengah bertanya pada suaminya, perihal keberadaan Salwa yang berdiri kebingungan disana.
Farhan dengan cepat bisa mengerti dengan apa yang terjadi pada Salwa saat ini. Tidak ada lagi hal yang memungkinkan Salwa bisa berdiri mematung tidak jelas disana, selain karena pikirannya yang keluar dari batas normalnya. Penyakit yang di derita Salwa, sepertinya semakin memburuk sekarang.
Suami istri yang baru saja keluar dari rumah sakit itu, menghampiri perempuan yang tengah berdiri kebingungan di sudut jalan. Perempuan yang sangat mereka kenali, yang bersama melalui kehidupan 10 tahun lebih itu.
“Salwa, kamu ngapain disini?” Tanya Farhan, membuat Salwa perlahan berbalik melihatnya.
“Kak Farhan..”
Senyum sumringah Salwa perlihatkan, seolah ia tengah menemukan orang yang sedari tadi dicarinya.
“Kamu ngapain disini Wa?” tanya Nina mengulang pertanyaan suaminya yang tidak mendapatkan jawaban sebelumnya.
Salwa berbalik menatap Nina, masih dengan senyumannya yang manis. Namun tiba-tiba berubah menjadi terkejut.
“Ni-Nina?”
Nina kebingungan melihat reaksi Salwa yang tiba-tiba berubah itu, ada apa dengannya? Hingga Salwa memperlihatkan eskpresi yang berbeda.
Salwa balik menatap Farhan setelah sejenak sempat menatap Nina dengan ekspresinya yang terkejut.
“Apa kakak bilang ke Nina tentang hubungan kita?” Tanya Salwa pada Farhan yang membuat Farhan dan Nina semakin bingung.
“Hubungan? Hubungan apa Salwa?”
“Hubungan kita kak..” Jawab Salwa dengan sedikit penekanan. “Kita kan lagi pacaran sekarang..” Bisik Salwa pada Farhan namun masih bisa terdengar oleh Nina.
Farhan terkejut. Sebelumnya Fauzi pernah mengatakan kalau pikiran Salwa bisa kembali ke beberapa tahun sebelumnya, yang itu berarti bisa saja ingatan Salwa saat ini sedang berada di masa yang terjadi sekitar sembilan tahun yang lalu. Dimana keduanya terikat dalam hubungan spesial sebagai sepasang kekasih dibelakang Fauzi.
Farhan tidak pernah berniat menyembunyikan hubungan antara dia dan Salwa sebelumnya, karena Nina yang tidak pernah peduli dengan masa lalu Farhan dan lebih memilih untuk memikirkan masa depan bersama laki-laki yang sudah menjadi suaminya sekarang.
Namun Farhan merasa khawatir. Pasalnya, istrinya yang tengah hamil muda itu, sekarang juga tengah mengalami perubahan mood yang luarbiasa. Farhan takut jika Nina mengetahui hal ini, dia akan marah, dan itu berdampak pada bayi mereka. Jangankan untuk hal seperti ini yang memang terbilang rumit, masalah sepele pun bisa istrinya itu besar-besarkan karena perubahan moodnya yang tidak menentu.
“Pa-pacaran? Maksud kamu apa Salwa??” Tanya Nina kebingungan dengan pernyataan yang dikatakan sahabatnya itu beberapa menit yang lalu.
Salwa menghela nafas panjang.
“Nin, maafin aku. Sebenarnya aku gak ada maksud buat nyembunyiin ini sama kamu. Ya aku salah karena udah nyembunyiin ini dari sahabatku”
Ekspresi yang memperlihatkan rasa bersalah, mulai terlihat di wajah putih mulus milik Salwa.
“Nyembunyiin apa Salwa??”
“Sayang, Salwa itu pikiranya sedang tidak baik. Dia bisa saja berpikiran yang tidak-tidak, karena dia sering mengalami delusi sekarang..”
Farhan menyela, berusaha menahan istrinya dari pertanyaan-pertanyaan yang bisa saja Salwa jawab dan menyebutkan semua kisah mereka di beberapa tahun yang lalu.
Nina menatap Farhan sejenak, seolah memberi tahu melalui tatapannya agar Farhan tidak menyela pertanyaan yang dia lontarkan pada Salwa.
“Kak Farhan kok manggil Nina sayang??” tanya Salwa kebingungan.
“Gak, dia hanya salah panggil. Jadi kebenaran apa yang kamu maksud Salwa?”
Salwa terdiam sejenak, kemudian berbalik menatap Farhan yang hanya menunduk.
“I-itu.. sebenarnya aku pacaran sama kak Farhan. Sudah agak lama dan Fauzi gak tahu masalah ini. Iya aku salah karena sudah seperti ini..”
Nina hanya menatap wanita yang tengah menjelaskan apa yang menurutnya sedang terjadi saat ini, sembari berusaha mencerna apa yang Salwa katakan.
“Tapi Nin, tolong jangan bilang sama Fauzi. itu akan bisa mengganggu kuliahnya disana”
“Kuliahnya?" Tanya Nina memperjelas apa yang baru saja Salwa katakan.
“Iya, kan Fauzi sekarang lagi kuliah di makassar Nin, masa kamu lupa”
Nina mulai bisa menarik kesimpulan. Seperti yang pernah Fauzi katakan padanya juga pada Farhan, kalau Salwa bisa saja berdelusi dengan ingatannya yang terjadi beberapa tahun lalu yang dia rasakan bahwa itu terjadi di masa sekarang. Sebuah pencampur adukkan memori yang membuat orang sekitarnya membutuhkan pemahaman khusus untuk bisa mengerti dengan apa yang tengah di pikirkannya sekarang.
__ADS_1
“Jadi kamu pacaran sama kak Farhan?” tanya Nina melirik Farhan yang berdiri di sampingnya tanpa mengatakan satu katapun.
“Iya.. aku tahu ini salah, tapi kak Farhan selalu ada buat aku akhir-akhir ini, dan lagi kak Farhan terus minta aku buat lanjutin hubungan ini” jelas Salwa dengan ekspresinya yang terlihat merasa bersalah
Nina hanya menunduk, fakta baru yang dia ketahui hari ini sangat membuatnya terkejut, namun ia tahan karena tengah berhadapan dengan sahabatnya yang sedang tidak sehat saat ini.
“Nin, jangan bilang sama Fauzi ya??”
Nina mengangguk, dan hanya tersenyum mengiyakan. Jika hal ini terjadi di waktu itu, jelas Nina akan membantah Salwa dan memaksanya untuk memutuskan Farhan. Bukan karena dia adalah orang yang mengagumi Farhan, melainkan dia yang tidak akan membiarkan sahabatnya mengambil jalan yang salah.
“Jadi kamu disini ngapain Wa?”
“A-aku?? Aku bingung, aku gak tahu kenapa aku ada disini..”
“Sekarang kamu pulang dulu, biar Farhan mengantarmu..”
“Ah iya, sebaiknya aku pulang dulu..”
Nina menatap Farhan, memberi isyarat pada suaminya itu agar segera mengantar Salwa pulang.
“Aku antar kemana? Rumah ibunya?” Bisik Farhan.
“Kerumahnya. Kamu tahu kan, kalau Fauzi tidak pernah membiarkan istrinya meneruskan kesalahan yang ada dalam pikirannya..”
“Jadi kamu gimana?”
“Aku akan pulang naik taxi..”
“Tapi sayang..”
Belum Farhan menyelesaikan kata-katanya, Nina sudah melangkah memberikan pelukan pada sahabatnya.
“Hati-hati di jalan Wa..”
Salwa mengangguk mengiyakan."Kamu juga hati-hati"
Meski fakta yang baru saja ditemuinya sangat menyakitkan, namun rasa persaudaraan yang sudah Nina miliki untuk Salwa, membuatnya mengesampingkan rsa sakitnya, toh keadaan Salwa sedang tidak baik sekarang. Diapun tidak hak untuk marah pada Salwa, mengingat saat itu dia sama sekali tidak memilik hubungan dengan Farhan. Hanya sebatas adik kelas yang mengaguumi seniornya.
Farhan mengantar Salwa pulang, sepanjang perjalanan Salwa hanya terdiam, dan Farhan pun tidak membuka pembicaraan untuk mereka. Yang ada dipikiran laki-laki beranak satu itu, hanya istrinya yang saat ini pulang sendiri, juga tentang bagaimana ia akan menghadapi istrinya dirumah nanti.
“Fa-Farhan?? Kita mau kemana?”
Tanya Salwa setelah berdiam cukup lama.
“Mengantarmu pulang Salwa”
“Mengantarku pulang? Fauzi mana? Kenapa bukan dia yang ngejemput aku..”
Memori Salwa yang sempat berkelana ke masa lalu itu, rupanya sudah kembali. Entah sejak kapan Salwa kembali pada kenyataannya di masa sekarang, yang jelas itu memberi kelegaan pada Farhan.
“Kamu dengan Fauzi menjalin hubungan apa sekarang, Salwa?” Farhan bertanya untuk memastikan kebenaran tentang di waktu mana pikiran Salwa saat ini.
Salwa menoleh menatap Farhan, seolah bertanya mengapa laki-laki yang cukup mengenalinya itu bertanya sesuatu yang tidak seharusnya di pertanyakan.
“Kamu kok tanyanya itu? Fauzi kan suamiku, Farhan” Tegas Salwa.
Ya, jawaban yang Salwa berikan adalah pembuktian bagi Farhan tentang ingatannya yang sudah kembali pada masa sekarang. Sebuah misteri dalam otak Salwa yang benar-benar membingungkan.
“Ah tidak apa-apa. Fauzi lagi sibuk di kantor, jadi dia minta aku buat ngejempu kamu..”
“Oh gitu..”
Farhan hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan.
.
.
.
__ADS_1
.
Farhan tiba dirumahnya setelah mengantar Salwa pulang. Sebelumnya dia berniat untuk mengatakan tentang kejadian yang baru saja ia alami bersama Salwa dan Nina pada Fauzi, sekiranya sahabatnya itu bisa membantunya untuk menjelaskan hal yang sudah membuat istrinya saat ini salah paham. Namun, melihat keadaan Fauzi yang sangat sedih setelah mendapat surat seperti itu dari istrinya, Farhan akhirnya mengurungkan niatnya.
“Apa benar yang Salwa bilang tadi?” Tanya Nina saat Farhan baru saja menginjakkan kakinya masuk kedalam rumah.
Farhan terdiam, dia bingung harus menjawab apa.
“Jawab aku, apa benar yang Salwa bilang tadi?”
Farhan mengangguk tanpa bisa menatap wajah istrinya. Dia yang dari awal memang tidak pernah berniat menyembunyikan hal ini pada istrinya, sekarang malah terjebak dengan hal yang sama dalam situasi yang berbeda,
“Jadi kamu pernah pacaran sama Salwa?” Tanya Nina memperjelas. Kerut di dahinya memperlihatkan dia yang sedikit tidak percaya.
Farhan hanya mengangguk.
“Kamu jadi orang ke tiga pada hubungan sahabatmu sendiri??” Penekanan suara dari pertanyaan Nina, terdengar sedikit menyudutkan bagi Farhan.
“Bukan begitu sayang” Farhan mencoba melakukan pembelaan diri.
“Jahat.. Kamu jahat..” Airmata Nina mulai menggenang di pelupuk matanya. Emosinya yang tidak stabil perlahan muncul ke permukaan.
“Waktunya saat itu sangat rumit sayang. Aku sama sekali gak ada niat buat seperti itu..”
“Apa kamu balas dendam karena Salwa udah nolak kamu sebelumnya? Dan memilih untuk pacaran sama sahabatmu sendiri?”
“Bukan.. bukan seperti itu..”
“Sekarang jujur sama aku.. Apa kamu masih suka sama Salwa??”
“Sayang, kamu ini ngomong apa sih? Itu kejadian 10 tahun yang lalu, dan sekarang..”
“Jawab saja. Apa kamu masih ada perasaan sama Salwa?”
“Gak ada..”
“Bohongg..”
“Aku gak bohong sayang.. Aku beneran udah gak ada perasaan lagi sama Salwa..”
“Terus kenapa tadi kamu menyela pertanyaanku. Kamu gak mau Salwa mengatakan semuanya kan? Makanya kamu ngehalang-halangi Salwa buat cerita”
“Bukan seperti itu sayang, aku cuman khawatir kalau kamu jadi kepikiran sama ini nantinya..”
Farhan berusaha menjelaskan keadaan yang dia miliki pada istrinya yang mulai di banjiri airmata.
“Kamu jahat..”
Airmata Nina tumpah semakin banyak, dia tidak lagi bisa menahan perasaannya.
Farhan berhambur memeluk istrinya, mencoba menenangkan perasaan istrinya yang kalut setelah mengetahui kenyataan yang ada.
“Lepas.. Jangan peluk aku..”
Berontak Nina dengan tenaganya yang tidak seberapa itu.
“Sayang, maafin aku karena gak pernah jujur kalau wanita yang aku maskud dari ceritaku sebelumnya itu adalah Salwa. Aku benar-benar gak ada maksud lain..”
“Bohong.. Kamu pasti masih sayang sama Salwa, kamu pasti masih cinta..”
Nina yang emosinya semakin tidak stabil di karenakan sedang ngidam berat, mulai memenuhi pikirannya dengan hal yang tidak-tidak.
“Gak sayang... Aku cintanya sama kamu, bukan orang lain”
Nina hanya menangis, tidak lagi membantah apa yang dikatakan Farhan.
“Sayang, jangan seperti ini, kasian bayi kita. Dia juga akan sedih kalau Ibunya sedih.. kamu jangan berpkiran yang tidak-tidak. Cintaku, perasaanku dan rasa sayangku, semuanya punyamu, semuanya milikmu. Aku hanya cinta sama kamu saja..”
Farhan berusaha menenangkan istrinya. Dia tahu, istrinya yang mempermasalahkan hal ini karena ia tengah hamil muda dengan emosi yang tidak stabil. Dia tahu betul seperti apa masa bodohnya istrinya itu akan masa lalu yang dia miliki. Selama ini, Nina tidak pernah peduli akan masa lalunya, dan hanya fokus pada masa depan yang mereka miliki bersama.
__ADS_1