Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Belajar


__ADS_3

Semalam aku sulit tidur karena terus-terusan memikirkan tentang bagaimana hari ini saat aku bertemu Farhan nanti. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk menjalaninya, mau sampai kapan aku menghindar dari Farhan? Aku yang seperti ini akan terus-terusan menjadi canggung dengan Farhan jika terus-teruskan memikirkan hal itu.


"Hari ini jam sepuluh bisa?" Pesan yang dikirim Farhan.


"Iya bisa kak.." Balasku.


"Kita ketemu disana saja ya, nanti aku share lokasinya.."


"Iya kak.."


Sekarang sudah hampir jam sepuluh, mungkin saja FarhanĀ  sudah ada disana menunggu sedangkan aku masih menunggu Annisa dirumah.


"Nisa mana sih? Sedari tadi ditunggu gak muncul-muncul" Aku mulai kesal menunggu.


Pagi tadi Annisa pulang lebih awal, setelah dia selesai Sholat Subuh dia tidak kembali tidur. Aku sudah mengabarinnya kalau akan bertemu Farhan jam sepuluh dan ia mengiyakan tapi sampai sekarang belum juga ada tanda-tanda Annisa akan datang.


"Nis, udah dimana?" Pesan singkat yang kukirimkan. Aku menunggu beberapa saat tapi tidak ada balasan.


Aku mencoba menghubunginya.


"Halo Wa, kayaknya aku gak bisa ikut kamu" Katanya setelah menjawab telfonku.


"Lah kenapa?"


"Anak-anak dari kelompok lain udah mau beli bahannya sekarang, aku gak bisa kalau nanti harus beli bahannya sendiri"


"Ya tapi ini gimana janjinya sama kak Farhan"


"Kamu gak bisa kesana sendiri? Soalnya ini aku tanya sama anak-anak yang lainnya tentang tugas itu dan mereka juga sedikit kebingungan"


"Jadi aku ketemu kak Farhan sendiri?"


"Iya. Maaf Wa aku gak bisa ikut sama kamu. Tapi kalau beli bahannya cepat selesai nanti aku nyusul deh, tapi kalau gak nanti aku kerumah kamu minta ajar ya.."


"Ogah.."


"Yah Wa.. Jangan marah, aku juga gak ada pilihan lain, kalau besok kita lulus respon pintu tapi bahannya gak ada kan sama aja kita tetep gak bisa ikut praktikum.."


"Hem iya deh.. Tapi kalau beli bahannya udah selesai cepat nyusul ya.."


"Ashiaap.."


"Yaudah, aku udah mau jalan.."


"Hati-hati beb.."


Panggilan berakhir.


Aku pada akhirnya jalan sendiri menuju tempat yang lokasinya sudah dberikan sama Farhan tadi.


"Udah dimana? Kamu gak nyasar kan?" Pesan singkat yang dikirim Farhan.

__ADS_1


"Gak kok kak, maaf aku telat.."


"Gak apa, atau mau aku jemput aja?"


"Gak usah kak, bentar lagi aku sampai kok.."


"Yasudah, hati-hati di jalan."


Untung saja ini akhir pekan jadi aku tidak kedapatan macet. Aku janjian dengan Farhan jam sepuluh dan aku berangkat jam sepuluh kurang tujuh menit, seandainya aku kedapatan macet aku pasti lebih terlambat lagi sampainya.


Aku tiba di cafe yang sudah ditentukan Farhan, aku melihat Farhan berdiri diluar.


"Maaf kak aku telat" Kataku berlari kecil menghampiri Farhan.


"Syukurlah kamu sudah sampai, aku kira kamu kesasar sampai disini"


"Hehe gak kok, aku cuman nyebut alamat ini ke supir taxinya dan aku langsung diantar kesini.."


"Hem, lebih baik kalau lain kali ada janji begini aku jemput kamu saja.."


"Gak apa kak, aku jadi malah ngerepotin nantinya.."


"Malah lebih repot kalau udah khawatir begini Salwa..."


Entah kenapa aku sedikit tersipu mendengar Farhan yang mengkhawatirkanku.


"Aku cuman butuh adaptasi saja kok sama daerah sini, nanti juga akan terbiasa.."


"Ah iya, kalau gak ada tugas kamu bisa jalan-jalan kemana gitu biar bisa tau daerah sini. Nanti aku ajak jalan biar gak muter-muter dulu kalau nyari alamat"


"Aku nungguin kamu, aku kiranya kamu kesasar.."


"Maaf jadi merepotkan kak.."


"Gak apa, yaudah ayo masuk.." Ajak Farhan. Aku melangkah masuk.


Aku membuka catatan dan memperlihatkan tugasku.


"Oh perhitungan dosis, apanya yang kamu gak ngerti?"


"I ini kak.. Sebenarnya udah dijelasin cara perhitungan dosis untuk orang dewasa diatas dua puluh tahun, delapan tahun dan adek bayi, tapi soal yang dikasi sama dosen gak nentuin umurnya kak. Aku jadi bingung gimana ngitung dosisnya"


"Sini coba aku lihat.."


Farhan terlihat serius membaca soal yang diberikan dosen.


"Oh, ini kamu harus ngitung dosisnya bukan berdasarkan usianya Salwa, melainkan menggunakan berat badan pasiennya. Kamu tahu kan, usia bukan satu-satunya cara untuk menentukan dosis obat pada pasien. Selain rumus yang berhubungan dengan usia seperti Dilling, Young dan Fried ada rumus Thermich juga yaitu perhitungan dosis berdasarkan berat badan pasien. Seperti yang kamu tahu, kadang ada anak usia tujuh tahun misalnya tapi berat badannya ringan sekali, juga sebaliknya terkadang ada anak usia lima tahun tapi berat badannya berlebih dari berat badan anak pada umumnya." Jelasnya.


Aku menatapnya bingung.


"Kamu gak tau?"

__ADS_1


Aku menggeleng. "Kalau rumus perhitungan dosis berdasarkan usia semua udah dijelasin dan aku udah tau kak, tapi kalau rumus yang terakhir itu aku gak tau.."


"Hehehehe, dosennya minta kamu cari tahu sendiri, buka-buka buku dan pelajari sendiri. Kita kan udah kuliah, udah jadi mahasiswa jadi pelajaran seperti ini harus dicari lagi bukan semuanya diajarkan sama dosen"


"Oh gitu.. aku gak kepikiran sampai kesana kak.."


Farhan menyodorkan sebuah buku. Aku mengambilnya dan menatap buku itu sejenak.


"Itu IReS Ilmu Resep , buku dasar Farmasi. Dibuku itu banyak di jelaskan tentang perhitungan dosis dari obat sediaan puyer sirup dan suspensi. Disitu juga ada beberapa singkatan dalam Farmasi. Selain itu kamu juga bisa beli IMO untuk melengkapinya.." Jelas Farhan.


"A apa tadi? I im?"


"IMO, Ilmu meracik Obat. Tapi punya salah satunya itu udah cukup cuman lebih banyak buku kan lebih bagus bisa lebih banyak literatur"


"Ah iya nanti aku coba cari kak.."


"Iya.. Nah mana tadi soalnya?"


Aku kembali memberikan Farhan buku catatanku.


"Jadi ini rumusnya.." Kata Farhan menunjuk rumus Thermich. "Cara perhitungannya sama dengan rumus yang lain.."


Aku mulai mencoba menghitung dosis obat dari tugasku.


"Nah sekarang coba cari Dosis maksimumnya di Farmakope, kamu punya Farmakope kan?"


Aku mengangguk. Aku meraih buku tebal yang berkisar seribu halaman itu, Farmakope edisi tiga.


Aku terdiam sejenak menatap buku itu.


"Kenapa?" Tanya Farhan.


"Ini kok gak ada dosis maksimumnya kak?"


"Hem iya, gak semua obat ada dosis maksimumnya Salwa, ada obat seperti Paracetamol ini yang hanya memiliki dosis Lazim. Kamu bisa gunakan dosis Lazimnya, bedanya dengan dosis maksimum yang dosisnya gak boleh diatas range, kalau dosis Lazim malah harus melewati dosis Lazim, kayak gini caranya"


Farhan mulai mengerjakan perhitungan dosisnya, dia sangat serius mengerjakannya. Aku menatapnya sesekali, kharismatik sekali.


"Nah gimana? Udah ngerti?" Pertanyaan Farhan membuat lamunanku yang sebentar ini jadi tersadar.


"Eh i iya kak.." Jawabku terbata-bata. Aku nyaris ketahuan sedang memandangnya.


"Kamu kenapa? Ada yang gak kamu ngerti?" Tanyanya yang melihatku sedikit salah tingkah.


"Gak kok kak.." Jawabku mencoba mengendalikan ekspresiku.


"Oke, kalau gitu lanjut. Nah kayak Paracetamol ini Salwa kalau kamu lihat di Farmakope indikasinya pasti menggunakan bahasa yang tidak kamu mengerti jadi kamu harus cari tahu itu"


"Kalau Paracetamol aku tahu kok kak.. Paracetamol untuk demam dan nyeri kan?"


"Iyaps betul, tapi indikasi demamnya lebih dominan dari pada antinyerinya tapi tetap bisa untuk mengatasi nyeri. Jadi kalau lagi sakit kepala, gigi, dan sebagainya bisa gunakan Paracetamol dulu untuk Firstline, Jangan langsung makan obat anti nyeri yang levelnya lebih diatas, gunakan yang paling rendah dulu untuk awal. Toh meskipun Paracetamol anti demamnya lebih kuat dari pada anti nyerinya, tapi anti nyerinya cukup kuat untuk menyembuhkan sakit kepala dan lain-lain asal belum konsumsi anti nyeri yang levelnya lebih diatas"

__ADS_1


"Oh iya kak.. Aku ngerti"


Farhan terus-terusan menjelaskan dengan baik.


__ADS_2