
Aku pada akhirnya memilih tetap menunggu dengan berharap dia akan datang kepadaku suatu hari nanti untuk melengkapi tulang rusuknya yang ganjil.
Kurang lebih 6 tahun aku menunggu Fauzi datang dan selama itu aku memilih sendiri tanpa mengizinkan oranglain masuk dalam hatiku. Aku mengunci hatiku rapat-rapat, dan akan kubuka hanya ketika Fauzi datang nantinya. Perkataan Nina malam itu benar-benar memberiku arahan untuk mengambil keputusan yang seperti ini.
Seharusnya aku tidak berharap besar seperti ini karena hanya kekecewaan yang aku dapatkan jika pada akhirnya nanti Fauzi bukanlah jodohku. Tapi aku juga tidak bisa menyerah, aku yang sudah terlanjur memutuskan untuk menunggu Fauzi tidak mudah berhenti begitu saja. Aku juga menyadari, bagaimanapun aku pernah memiliki perasaan pada Farhan, namun pada akhirnya aku akan tetap mengingat Fauzi. Ya, aku pernah lalai pada perasaanku, hatiku pernah goyah tapi pada kenyataannya meskipun begitu aku mudah saja melupakan Farhan dan mengikhlaskannya bersama Nina dengan mudah. Berbeda dengan Fauzi, aku tidak mudah melepasnya dan tidak mudah melupakannya. Dari situ aku menyadari, aku menyukai Farhan hanya karena keberadaannya untuk mengisi kekosongan hatiku saat jauh dari Fauzi, sedangkan Fauzi aku mencintainya bahkan saat aku sama sekali tidak tau keberadaannya saat ini, perasaanku tulus padanya.
Waktu mulai sore, rasa lelah sudah menghampiriku dari tadi. Aku sudah lelah berdiri dan tenggorokanku sudah kering karena terus-terusan menjelaskan obat pada pasien. Aku selalu kelelahan ketika bertugas di depo rawat jalan.
"Masih ada?" Tanyaku pada Izki.
"Satu lagi kak.." Jawab Izki.
"Fighting kak, ini yang terakhir.."
"Sudah gak ada lagi pasien di Poli?"
"Gak ada, Poli udah tutup kak.."
"Ah syukurlah.. Kakiku mulai keram, lelah sekali.." Keluhku
"Tanganku juga sudah pegal sekali menulis terus sedari tadi" Izka yang biasanya selalu kuat, tapi hari ini mengeluh juga. Ya hari ini pasien lebih banyak dari biasanya.
"Ini resep terakhir.." Kata Izki menyerahkan resep beserta obatnya.
Aku kembali berdiri mengeluarkan sisa-sisa tenagaku hari ini dan siap memberikan PIO pada pasien terakhirku hari ini.
"Pasien antrian no 176.." Aku memanggil nomor antrian pasien.
Aku menunggu beberapa saat tapi tidak ada seseorangpun yang datang.
"Pasien dengan nomor antrian 176 atas nama Nona Afifah.." Panggilku sekali lagi. Suaraku mulai serak dan tenggorokanku semakin kering.
"Kemana pasien ini, aku sudah kelelahan tapi tidak muncul-muncul juga" Gerutuku. Aku kembali duduk "Pasiennya akan datang sendiri nanti" Pikirku.
Aku mengambil segelas air untuk menghilangkan dahagaku sambil menunggu pasien itu datang.
"Maaf, permisi.." Terdengar seseorang dari luar.
"Iya?" Jawabku menghampiri di depan loket penerimaan obat.
"Maaf, apa obat saya sudah siap?"
"Pasien antrian no 176 atas nama Nona Afifah?" Tanyaku memperjelas.
"Ah iya betul.."
"Obatnya sudah siap Bu" Jawabku ramah sambil tersenyum manis meskipun aku sudah kelelahann sekali.
"Maaf, tadi habis ke toilet, jadi tadi gak kedengaran waktu nomor antrian saya dipanggil.."
__ADS_1
"Iya tidak apa" Jawabku. "Sudah lama menderita sakit maag?" Tanyaku setelah melihat obat yang diberikan beberapa adalah obat yang diperuntukkan untuk menurunkan asam lambung.
"Iya, cuman sebenarnya sudah lama gak kambuh lagi kak, akhir-akhir ini baru kambuh lagi dan rasanya sakitnya semakin parah" Keluhnya.
Dilihat dari wajahnya yang imut dan manis, sepertinya dia memang lebih muda dariku sehingga spontan saja dia memanggilku Kak. Tapi ya itu lebih baik, terkadang jika pasiennya Ibu-ibu dan Bapak-bapak dia memanggilku dengan panggilan Dok, Sus dan bahkan bu Bidan. Ya profesi kami belum seterkenal itu sehingga pasien masih begitu tidak tahu untuk memanggil apa. Haha sebenarnya aku juga bingung, kami ini mau dipanggil apa.
"Mungkin akhir-akhir ini waktu makan dan jumlah makanan yang dimakannya tidak teratur lagi? Atau mungkin jenis makanannya yang teksturnya lebih keras dan masam atau pedas sampai asam lambungnya naik lagi?"
"Gak sih kak, aku tetap ngatur pola makan dan jenis makanan yang aku makan sampai sekarang. Kata orang sih karena pikiran juga"
"Ah iya betul, pikiran memang sangat kuat mempengaruhi asam lambung bisa naik.."
"Ya harus bagaimana lagi kak, lagi sibuk-sibuknya ngurus pernikahan jadi banyak pikiran.."
"Oh, sebentar lagi akan menikah?"
"He he he iya kak.." Jawabnya sedikit malu-malu.
"Wah selamat ya, semoga dilancarkan sampai hari H"
"He he iya kak, makasih.."
Aku juga sering sekali seperti ini, alih-alih ingin memberikan pelayanan informasi obat malah keseret-seret jadi memberikan sedikit konseling sampai mendengarkan curhat pasien. Ya mendengarkan keluh kesah pasien juga bagian dari cara kami untuk membuat pasien merasa nyaman.
"Saya jelaskan dulu obatnya ya.."
"Iya kak.."
"Gak pahit kak?"
"Hehehe gak kok. Selanjutnya ini obat maagnya juga, diminum dua jam setelah makan, jadi pagi dan malam"
"Ini gak dikunyah?"
"Gak, ini langsung diminum seperti kalau minumm obat biasa.."
"Oh iya.. Makasih kak.."
"Satu lagi ya, ini vitaminnya diminum dua kali sehari juga.."
"Oh iya kak"
"Sudah jelas obatnya?"
"Iya.. Boleh nanya gak kak?"
"Iya silahkan.."
"Ini, kata teman-teman saya obat maag gak harus rutin begini minumnya katanya kalau lagi pas sakit saja. Itu benar?"
__ADS_1
"Iya itu benar. Hanya saja itu berlaku untuk orang yang sakit maagnya gak sering. Misalnya cuman sesekali kalau semisal dia telat makan begitu, untuk kasus kali ini karena durasi maagnya sering sekali jadi dikasi terapi rutin seperti ini sampai nanti rasa nyerinya mendingan.."
"Oh gitu.. Makasih kak.."
"Kalau nanti sekiranya lupa aturan minum obatnya, bisa diperhatikan lagi etiket obatnya, disitu dijelaskan tentang cara dan waktu minum obatnya, tapi jika kurang mengerti bisa menghubungi call center instalasi farmasi kami di nomor ini" Kataku sambil menunjukkan nomor yang tertera.
"Oh iya, kemarin saya sempat periksa di Klinik dan dikasi obat juga disana, obat yang dari klinik saya lanjutkan minum atau berhenti dan minum obat ini saja?"
"Tadi obat dari kliniknya diperlihatkan ke dokternya?"
"Gak kak, aku lupa.."
"Obat dari kliniknya dibawa? Bisa diperlihatkan?"
"Ah iya bawa, sebentar kak.."
"Iya.." Jawabku dengan terus tersenyum.
"Kak.. Siniin tasku.."
Kulihat dia memanggi seseorang.
"Kenapa?" Tanya seseorang yang dia panggil.
Tunggu, aku seperti tidak asing dengan suara ini. Ah mungkin hanya perasaanku saja.
"Siniin dulu kak, ada obatku dalam situ mau aku liatin disini.." Katanya merengek manja.
Seseorang berjalan mendekatinya.
"Cepetan, aku makin sakit nih kalau kamu lama-lama. Kamu senang ngeliat orang yang kamu sayang ini sakit.."
"Iya iya bawell.. Ini aku bawain tasnya.."
Gak.. Aku gak salah dengar dan aku gak mungkin salah mengingat. Suara ini...
"Fauzi..??" Panggilku mencoba menyakinkan perkiraanku.
Orang itu menoleh.
"Loh Salwaa??"
GLEEEBBBB.. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu seperti ini. Dia yang aku tunggu selama ini, dia yang tidak pernah aku lihat selama kurang lebih 6 tahun, dia yang suaranya terakhir kali kudengar melalui telfon dan terakhir kali mengabariku lewat pesan singkat sekarang ada di depanku. Dan dia......
.
.
.
__ADS_1
.