
Karena perasaannya yang sering kalut akhir-akhir ini, Fauzi jadi sesekali sulit tidur dan sulit berkonsentrasi jika bayangan Salwa muncul lagi di kepalanya.
"Loh, kamu belum tidur sayang??" Tanya Ibu Fauzi yang melihat Fauzi menonton Tv sendirian di ruang keluarga.
"Lah ini baru jam sembilan Bu.."
"Ya gak, maksud Ibu kan biasanya kamu dikamar kalau udah jam segini.."
"Males dikamar aku Bu.."
"Hem.. Kenapa?" Tanya Ibu sambil duduk disamping putra tunggalnya.
"Bu.. Anu..." Kata Fauzi memperbaiki duduknya tapi seketika kembali bersandar dengan malasnya
"Apa??"
"Gak jadi.."
"Apa sih Nak??"
"Gak ah Bu.."
"Mau cerita apa sama Ibu??"
"Tapi Ibu jangan ketawa ya.."
"Iya iya.. Ada apa??"
"Bu, cara biar cewek bisa suka sama kita itu gimana sih? Ibu kenapa bisa suka sama Ayah?"
Ibunya terdiam sejenak sambil menatap putranya.
"Tuh kan.."
"Ceritanya ini anak Ibu lagi jatuh cinta? Sama siapa? Anak dimana?"
"Bu, pertanyaanku saja Ibu belum jawab, kok malah Ibu yang nanyain aku sekarang.."
"Anak Ibu.." Ibunya menghambur memeluk Fauzi.
"Apa sih Ibu.."
"Kamu beneran udah dewasa Nak, udah pintar suka-sukaan sama cewek. Ini pertama kalinya Ibu ngeliat kamu kayak gini.."
"Ibuu.. Lepasss..." Kata Fauzi berusaha melepas pelukan Ibunya yang sangat erat.
"Hem oke oke.. Kamu tanya apa tadi??"
"Gak ah.. Gak jadi.." Jawab Fauzi ketus.
"Tentang yang disukai perempuan??"
Fauzi mengangguk.
"Sayang sebenarnya perempuan itu kesukaannya berbeda-beda, ada yang suka di manja terus ada juga yang ngerasa pasangannya alay kalau dia dimanjakan. Ada perempuan yang serba mau dituruti kemauannya ada juga yang lebiih senang kalau kamu nuntun dia buat ngambil keputusan"
"Jadi aku bisa tahu dia tipe yang kayak gimana itu caranya gimana Bu?"
"Ya harus pendekatan dulu.."
"Dulu Ayah ngedekatin Ibu gimana??"
__ADS_1
"Hem.. Jaman dulu kita gak asal suka bisa langsung pacaran sayang, di banding ngedekatin Ibu Ayahmu lebih kuat ngedekatin kakekmu dulu. Jadi target Ayahmu itu Kakekmu, karena dia pikirnya kalau orangtuanya udah ngerestuin urusan anaknya bakal dibantu sama orangtuanya buat ngebujuk"
"Tapi Bu, itu kan kalau sudah siap nikah, aku kan masih sekolah Bu belum ada pikiran kesana untuk dekat-dekat ini.."
"Hem bentar-bentar.." Ibu Fauzi berlari kecil. "Ayaahh.. anak kitaa..."
"Ck Ibu manggil Ayah, hufftt harus siap-siap di bully aku.." Gerutu Fauzi.
"Kenapa Bu?" Tanya Ayah Fauzi yang melihat istrinya berlari kecil menghampirinya.
"Anak kita Yah.."
"Anak kita kenapa?" Tanya Ayah Farhan dengan khawatir.
"Anak kita sudah jatuh cinta Yah.."
"Oh.. Kirain Ayah anak kita kenapa-nap... Eh Ibu bilang apa tadi?? Fauzi jatuh cintaa????" Tanya Ayah Fauzi makin terkrjut.
Ibu Fauzi hanya mengangguk-angguk kegirangan. Ayah Fauzi dengan cepat berlari menghampiri putranya yang sudah siap dibully diruang keluarga.
"Fauzi.. Kamu beneran jatuh cinta nak??" Tanya Ayahnya antusias.
"Apa sih Yah, kok heboh begituuu..." Jawab Fauzi ogah-ogahan.
"Serius kamu lagi suka sama anak orang?? Yang mana??"
"Ada lah pokoknyaa.." Jawab Fauzi tidak sanggup menatap Ayahnya.
"Wah kalau sudah jatuh cinta begini, kamu harus cepat biar dia gak diambil orang..."
"Maksud Ayah??"
"Maksud Ayahmu, kamu harus cepat bilang sama ceweknya sebelumnya dia diambil sama oranglain" Jelas Ibunya.
"Tapi gimana caranya Yah? Ibu bilang perempuan itu macam-macam modelnya.."
"Huss.. ngomong apa kamu?? Perempuan itu bukan barang yang bisa kamu bilang bermacam-macam modelnya..."
"Maksud aku bukan gitu Yah..."
"Bilang karakternya Nak, Tuhan saja memuliakan perempuan masa iya kamu yang cuman ciptaannya mau ngomong sembarangan tentang perempuan.." Jelas Ayah Fauzi.
"Nah itu Nak yang ngebuat Ibu dulu gampang banget luluh sama Ayahmu. Ayahmu itu sangat menghargai perempuan.." Tambah Ibunya.
"Iya iyaaa.. Jadi aku harus gimana Yah??" Tabya Fauzi sedikit mendesak.
"Ya mulai sekarang kamu harus pedekate, itu bekal pengetahuan yang bisa kamu dapatkan dari perempuan, biar kamu tahu dia seperti apa..."
"Ini juga udah pedekate.."
"Udah berapa lama??"
"Kenalnya udah sekitar lima bulanan Yah..."
"Astagfirullah Nak, sudah lima bulan dan sampai sekarang kamu gak maju-maju?? Kamu ini lamban sekali ternyata..."
"Ya gak apa Yah, dari pada buru-buru nanti ceweknya malah ngira kalau Fauzi itu gak serius.." Tegur Ibu Fauzi.
"Tapi Bu, lima bulan itu kelamaan. Ini bisa saja udah ada oranglain yang ngedekati ceweknya.."
"Ah iya bener juga kata Ayah.. Nah sekarang kamu sudah harus bilang Nak.."
__ADS_1
"Tapi aku kan gak tau dia karakternya kayak gimana, aku jadi gak tahu harus gimana ngehadapinya.."
"Nak, kamu itu gak harus berkelakuan sesuai karakter ceweknya dan gak harus ngikutin karakter apa yang di suka sama cewek itu, jadi diri sendiri itu lebih baik Nak. Kamu tidak harus berubah jadi oranglain agar perempuan itu bisa suka sama kamu, mencintai bukan berarti mengubah jati dirimu menjadi seperti apa yang dia sukai. Cinta tidak menyuruh orang untuk membuang jati diri mereka.."
Sejenak Fauzi berfikir, ada betulnya juga yang Ayahnya katakan.
"Kalau dia beneran cinta sama kamu, dia pasti nerima kamu apa adanya dan berusaha mencintai kekuranganmu. Tapi ya jangan kamu yang malas bangun pagi ini minta di mengerti, jangan sampai nanti kamu ngerasa dia gak bisa nerima kamu apa adanya karena dia gak suka kamu yang telat bangun. Kalau yang dia minta itu hal-hal positif maka berusaha lah merubah dirimu menjadi lebih positif karena itu satu poin baik bagimu dimatanya, tapi kalau dia sudah minta kamu ngerubah hal-hal yang seharusnya itu gak harus diubah ya jangan kamu turuti.." Jelas Ayahnya panjang lebar.
"Jadi aku harus gimana sekarang Yah??"
"Bilang sama dia, ungkapkan perasaanmu biar dia tahu seperti apa perasaanmu ke dia. Jangan takut di tolak, jangan karena takut di tolak kamu malah nunda-nunda buat ungkapin perasaanmu, anak Ayah harus gentle dongg..."
"Kalau bisa besok pagi ungkapkan langsung perasaanmu.. Ajak dia ketemu langsung" Saran Ibu Fauzi.
"Nah betul itu yang dikatakan Ibu mu.."
"Gak bisa besok pagi Yah, Bu.."
"Lah kenapa mau ditunda-tunda lagi.."
"Ya kan bentar lagi kita mau ujian semester ganjil, nanti malah gak konsen.."
"Loh gak papa, punya pacar baru itu bisa bikin semangat belajar..."
"Ayah.. Nanti belajarnya mereka bisa terganggu kalau lagi masa-masa kasmaran, lah ini juga kita gak tau anak kita diterima apa gak, kalau gak bisa makin gak bisa fokus dia buat belajar.."
"Ah iya betul juga.. Kamu nembaknya pas udah ujian saja, ya kan habis ujian kalian libur tuh jadi kalau jadian bisa puas-puasin kasmaran di masa liburan, ya kalau di tolak bisa puas-puasin galau selama libur.."
"Ayah kok ngomongnya santai banget kalau aku di tolak.."
"Bukannya santai nak, Ayah cuman gak mau kamu gak mempersiapkan diri untuk di tolak. Ya namanya ngungkapin perasaan ya gak mungkin diterima semua kan?? Positif thingking di terima itu baik, tapi kamu gak boleh mengesampingkan perihal di tolak, kamu harus mempersiapkan diri untuk itu juga.."
"Benar yang dibilang Ayahmu Nak, mempersiapkan diri untuk di tolak itu bisa meminimalisir rasa sakitmu.."
Fauzi terdiam sejenak, lalu perlahan mengangkat kepalanya menatap Ibu dan Ayahnya.
"Makasih Yah, Bu.. Aku bakal ngungkapin perasaanku secepatnya.."
"Semoga diterima Nak, jangan sampai bikin malu kalau di tolak.." Kata Ayahnya sambil menepuk-nepuk pundak Fauzi.
"Ayah..."
"Ha ha ha.. Ayah hanya bercanda..."
.
.
.
.
.
"Salwa besok mau jalan gak???" Pesan yang dikirim oleh Fauzi dengan penuh pertimbangan..
.
.
.
__ADS_1
Maaf telat Up.. Asam lambung lagi level up 😢