
"Jangan sekali lagi kamu sentuh putriku, dia sudah bersuami, tadi aku membiarkan kalian berdua untuk menyadarkan diri saja, jika sekali lagi aku melihat kalian terlalu dekat, entah apa yang akan aku lakukan , terutama untukmu Jino, aku akan mengatakan pada Kisya bagaimana Vano bisa lahir."
Bunda Nisya berkata dengan wajah kecut dan sama sekali tidak memandang wajah Jino.
Tubuh Jino bergetar mendengar ucapan bunda Nisya. Tak bisa dia bayangkan bahwa bunda Nisya akan berkata seperti itu. Sebuah bayangan hitam dan suram datang ke dalam pikiranya. Hal yang sangat dia takutkan adalah hal itu. Saat dimana Kisya mengingat kembali masa suram yang kelam. Dan itu akan membuatnya merasa terkekang seolah terpenjara dalam bayangan hitam.
"Apa maksud bunda?" Kisya berkata dengan penuh kecurigaan. Menatap bundanya dengan mata yang sayup. Bunda Nisya duduk di kursi dekat ranjang kesakitan sang buah hati. Dia dengan santai membuka bungkusan bubur yang dia bawa. Sebuah toples kotak berisi bubur dia buka. Bunda Nisya mulai mengambil sendok hendak menyuapi sang putri. Wajah bunda Nisya datar sama sekali dia tidak menjawab pertanyaan sang putri.
Seolah dia tak mendengar apapun saat itu. Dan bunda Nisya hanya pokus pada bubur ayam di tangannya.
"Makan dulu!" Bunda mulai menyodorkan sendok berisi bubur ayam pada sang putri. Kisya merubah posisi tidurnya menjadi setengah duduk. Dan kisya menerima suapan dari sang bunda. Jino masih berdiri mematung dengan degupan jantung yang tidak stabil. Ucapan bunda Nisya tadi membuat hatinya tidak tenang. Sebuah bayangan semu membuatnya seolah kembali ke dunia hitam yang kelam.
Jino menatap Kisya dengan tatapan tak tentu arah. Sebuah kegelisahan kini menyelimuti hati dan pikirannya. Dia tak mampu berkata apapun untuk membela diri. Sungguh dia sangat takut bunda Nisya membongkar semua kejahatanya. Apa yang akan terjadi pada Kisya tentu saja sudah bisa dia bayangkan. Kita pasti akan sangat membencinya , kecewa dan mungkin saja Kisya akan membunuh dirinya.
Hal itu adalah paling dia takuti . Jino menatap Kisya dan kisya membalas tatapan Jino dengan mata sendu.
"Semoga cepat sembuh ya Kis, aku permisi." Jino berkata dengan pelan. Matanya memerah dan dia melangkah mundur menjauhi Kisya dan dia berjalan menuju ke luar ruangan instalasi gawat darurat. Jino merasakan dadanya sesak. Tak kuasa untuk mengelak. Dia merasa sangat tidak nyaman dengan perasaanya.
Terlihat Jeff sudah bersiap untuk masuk ke dalam. Jino melihat Jeff masuk ke dalam ruangan instalasi gawat darurat itu. Jino duduk di samping sang papa dengan wajah yang menekuk. Papa Geovandra menatap Jino dengan rasa iba. Sepertinya papa merasa kasihan melihat nasib putranya. Tetapi apalah dayanya sebagai seorang ayah. Dia tidak boleh memihak kepada salah satu anak.
"Minumlah!" Papa menyodorkan satu buah minuman kaleng hangat pada sang putra . Jino menoleh pada sang papa dan mengambil minuman tersebut.
."terimakasih!"
__ADS_1
"Iya, habiskan lalu kita pulang!" Ucap papa datar.
Jino sebenarnya tidak ingin pulang lebih dahulu. Dia masih ingin menemani Kisya sepanjang malam. Namun apalah dayanya. Dia hanya bisa menatap Kisya dari kejauhan. Karena pada kenyataanya hanya Jeff yang pantas untuk menemani kisya. Dadanya yang terasa sakit mencoba untuk bernafas dengan normal. Namun sangat sulit dia lakukan.
Sesaat dia baru teringat pada buah hatinya . Dia lalu menantap sang buah hati dan berdiri untuk melangkah menuju tempat duduk sang mama. Jino lalu mengambil alih Menggendong sang buah hati. Dia memang harus segera pulang ke rumah. Dia melihat bayinya sudah kedinginan berada di udara luar di saat tengah malam seperti ini.
"Pa, ayo kita pulang!" Jino berkata sambil berjalan meninggalkan ruang tunggu IGD. Papa dan mama pun mengikuti Jino. Jino masih ingin bersama dengan kisya. Namun dia takut sang buah hati masuk angin. Karena itu Jino memutuskan untuk pulang ke apartemen dan meninggalkan Kisya . Mereka pulang dengan menggunakan kendaraan masing-masing.
Jino masih terdiam sambil memeluk sang buah hati. Dia tak menyadari bahwa dia sudah sampai di depan gedung apartemenya. Sampai 10 menit pak supir menunggu namun Jino masih dalam bayang semunya.
"Pak sudah sampai."
Supir itu mencoba memberitahu Jino. Namun Jino tidak merespon sama sekali.
"Iya ." Jino merasa terkejut.
"Sudah sampai pak."
"Oh iya, terimakasi!" Jino lalu keluar dari mobilnya. Dia berjalan menuju apartemenya. Baby Vano masih tertidur dengan nyenyak. Sampai ke dalam apartemen Jino di sambut oleh bibi yang sudah khawatir tentang keadaan baby Vano.
"Kenapa tuan muda pulang begitu larut?" Bibi bertanya dengan kegelisahanya.
"Tadi kita habis dari rumah sakit bi." Jino menaiki anak tangga hendak masuk ke dalam kamarnya
__ADS_1
"Siapa yang sakit?"
"Mommy nya Dede bi."
"Ko bisa?"
"Asam lambungnya naik."
Jino masih berjalan menuju ke dalam kamarnya .
"Ya Tuhan, semoga non Kisya cepat sehat , eh Tuan muda ada telepon dari Australia."
"Benarkah?"
"Iya non Rosaline."
Ucap bibi lantang. Karena Jino kini sudah berada di lantai dua.
"Oh, baiklah nanti aku telpon balik bi." Jino berkata lantang agar bibi bisa mendengarkan suaranya dibawah. Jino menidurkan anak buah hati dengan lembut di blok bayi. Lalu dia tersenyum menatap betapa lucunya buah hatinya.
"Entah apa yang akan terjadi ,jika Daddy tanpamu, hidup Daddy terasa lengkap dengan kehadiranmu, kamu bukan sebuah kesalahan kamu adalah takdir tuhan untuk menemani hidup Daddy yang sepi." Jino tersenyum sambil mengusap lembut rambut sang buah hati yang masih jarang. Jino lalu beranjak untuk berganti pakaian.
Setelah mengganti pakaiannya, Jino lalu segera merebahkan tubuh lelahnya di ranjang king size nya. Dia melihat ke arah jam dinding terlihat sudah lebih dari jam satu dini hari. Jino mencoba untuk memejamkan matanya. Dan ingin segera membuang kekalutanya. Dia ingin bermimpi indah dan sejenak melupakan rasa cemas yang kini sudah melanda hati dan pikirannya. Dia merasa sangat lelah harus menahan ketakutan sepanjang perjalanan pulang. Karena itu dia harus tidur untuk melupakan rasa kalutnya sesaat.
__ADS_1
Bersambung ❤️