
Jino dan Kisya sudah duduk di depan Papa. Mereka sangat penasaran dengan apa yang akan Papa beri tahu.
"Ada apa Pa?" tanya Jino.
"Jino, kamu harus bantu Papa, besok kamu harus pergi ke luar negri untuk melakukan perjalanan bisnis." ucap Papa Geovandra dengan wajah kacau
"Kemana Pa?" tanya Jino.
"Pergilah Ke Belanda lagi, tolong bantu Papa untuk membereskan masalah yang Jacob buat." Papa terlihat kecewa.
"Si Jacob itu berbuat apalagi?" Jino merasa sangat geram, Jino sudah lama tidak mengurus perusahaan Papa Geovandra semenjak dia mengurus perusahaan Kisya. Dia benar-benar merasa terkejut dan marah ketika melihat ekpresi Papanya seperti itu. Dia harus segera berangkat ke belanda untuk menyelesaikan permasalahan dikantor cabang Belanda.
Si Jacob itu adalah tangan kanan Papa Geovandra. Namun kini dia berbuat ulah dengan menggelapkan beberapa uang perusahaan sehingga kantor cabang sampai mengalami pailit. Sedang si Jacob sendiri tidak mengakui. Kali ini Jino benar-benar harus turun tangan karena ini menyangkut hal yang sangat besar.
Uang yang di gelapkan oleh si Jacob jumlahnya tidak sedikit. Bahkan itu berjumlah sangat banyak. Karena itu Papa Geovandra sangat pusing dan geram di buatnya. Papa meminta bantuan Jino untuk menyelesaikan masalah disana. Karena Jino sangat pandai. Papa sendiri tidak bisa berangkat ke sana dikarenakan kondisi Papa yang mudah sakit beberapa hari ini. Sehingga papa tidak bisa berangkat ke belanda. Papa tidak bisa bepergian jauh tanpa Mama Murni.
Usia Papa sudah tidak muda lagi. Banyak yang di rasakan oleh tubuh Papa. Karena itu Jino mau tidak mau harus menbantu Papa meyesaikan semuanya dengan cepat. Karena kalau tidak segera di selesaikan. Semuanya akan berdampak buruk bagi perusahaan.
"Banyak sekali ulahnya selama ini, kamu berangkat besok dan sebelum kamu menyesaikan masalahnya jangan pulang, kalau sudah mendapatkan semua barang bukti, maka jebloskan dia ke dalam penjara!" ucap Papa Geovandra dengan harapan yang besar. Papa sangat yakin bahwa Jino bisa menyelesaikan semua masalah disana dengan lancar dan tuntas.
__ADS_1
Papa sangat percaya dengan keahlian Jino mengelola dan mengurus masalah seperti itu.
"Baiklah Pa, Jino akan bersiap untuk berangkat pagi besok. Jacob brengsek itu harus mendapatkan ganjaran!" Jino sangat geram pada pria yang bernama Jacob.
Mendengar pembicaraan Papa mertuanya dan sang suami. Kisya begitu sedih. Apa yang membuat kisya begitu sedih. Yaitu karena Jino harus pergi jauh meninggalkan dia sendiri di Indonesia. Jino akan pergi ke belanda sampai semua masalah di kantor cabang selesai dengan tuntas.
Dia sebenarnya ingin sekali ikut ke Belanda. Namun dia harus kuliah dan merawat Baby Vano di sini. Kisya merasakan dadanya sesak. Dia tidak berani berkomentar apapun. Sembilan bulan usia pernikahan Jino dan kisya. Baru satu bulan ini mereka mengecup indahnya madu pernikahan. Karena selama delapan bulan ke belakang Jino dan Kisya menikah tetapi seperti orang asing dan mereka tidak menyatu.
Karena itu Kisya merasa dirinya masih pengantin baru. Karena baru sebulan ini Jino dan Kisya bisa bermesraan selayaknya pasangan suami istri. Kini baru sebulan mengecup indahnya cinta. Kisya baru pertama kali mau di tinggalkan perjalanan bisnis. Dia merasa sedih karena sang suami harus pergi jauh. Bagaimana malam-malamnya tanpa sang suami. Pasti akan terasa sangat dingin.
Semuanya begitu berat Kisya rasakan. Kisya hanya bisa terdiam tidak bisa berkomentar apapun. Karena memang masalah perusahaan itu begitu penting. sampai-sampai Papa sendiri terlihat begitu sedih. Karena itu tidak mungkin Kisya melarang Jino untuk berangkat ke belanda. Karena kepergian Jino ke belanda itu menyangkut dengan masalah besar yang sangat erat kaitanya dengan keungan perusahaan. Karena itu kepergian Jino begitu penting bagi perusahaan Papa.
Namun Kisya tetap saja merasa sangat berat karena harus di tinggal di rumah. Sehari saja tidak berjumpa mereka sudah sangat rindu. Apalagi jika Jino pergi selama berhari-hari atau berminggu-minggu. Tidak terbayangkan apa yang akan terjadi dengan rasa rindu itu.
Jino dan yang lain belum menyadari perubahan mood Kisya. Karena masih emosi menceritakan si Jacob. Papa dan Jino terus bercakap membahas tentang rencana dan trik yang akan Jino lakukan selama di sana. Pokonya Jino harus bisa menyelesaikan semua masalah dengan secepat mungkin. Jino harus memberi orang itu pelajaran. Bahkan jeruji besi saja tidak akan cukup untuk orang seperti itu.
Karena itu Jino harus membahas rencana dan strategi dengan Papa sampai matang. Sementara Papa dan Jino sibuk bercakap membahas strategi. Mama juga di buat sibuk dengan batita yang berlari-lari kesana dan kemari tidak bisa diam. Mama mengikuti kemanapun Baby Vano berlari. Mama bahkan sekarang harus. Mengejar Baby Vano hanya sekedar untuk memberi makan saja.
Dulu Baby Vano begjtu imut ketika makan. Dia duduk dengan manis. Tapi sekarang dia sudah tidak mau diam. Dia menjerit kesana dan kemari. Membuat Mama kewalahan dibuatnya. Baby itu sudah bukan bayi kecil lagi sekarang. Bahkan kini usianya sudah lima belas bulan. Dan berat badanya sudah mencapai tiga belas kilogram. Sungguh berat jika terus menerus di gendong. Tetapi sekarang Baby Vano bahkan lebih senang berlari dan berjalan daripada di gendong.
__ADS_1
Baby Vano hendak menaiki tangga. Sepertinya dia ingin menyusul sang Mommy. Dengan perlahan Mama Murni menuntun sang cucu untuk menaiki anak tangga satu persatu. Perlahan tetapi pasti akhirnya Baby Vano bisa sampai ke lantai atas. Setelah itu dia langsung berlari menuju ke kamar sang Mommy.
"Mama." Ucap Baby Vano sambil membuka pintu dan masuk ke kamar Kisya. Terlihat Kisya sedang tertidur di kasurnya. Kisya benar-benar sangat malas dibuatnya.
"Baby." ucap Kisya terkejut sang buah hati bisa masuk ke kamarnya. Kisya bangun dan langsung duduk di kasurnya. Baby Vano sekarang mulai berlari dan naik ke atas kasurnya Kisya. Dia sekarang sudah mulai belajar naik dan memanjat.
"Kamu sakit sayang?" uanya Mama Murni kepada Kisya. Kisya terseyum dan menggelengkan kepalanya.
"Ko jam segini tidur?" Tanya Mama Murni.
"Kisya hanya ingin bermalas-malasan saja ma, di hari libur."
"Syukurlah, Mama pikir kamu sakit Kis, Mama cemas kalo kamu sakit." Mama duduk di kasurnya Kisya.
"Engga ko Ma, Kisya hanya ingin menikmati hari libur saja." Kisya terseyum dengan manis.
"Nikmati saja sayang, tidurlah biar Baby Vano Mama yang manjaga!" ucap Mama mertuanya dengan manis.
"Tidak apa-apa ko Ma, biarkan Baby Vano di sini saja, mungkin dia rindu Kikis juga, seharian kemaren Kikis kuliah." Ucap Kisya sambil menatap sang buah hati dengan senyuman manisnya.
__ADS_1
🌺 Bersambung 🌺
Hai sahabat Jino dan Kisya. jangan lupa like ya.